Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Wawan Menikah


__ADS_3

***


"Istirahat dulu Yah," ajak Dinda pada pak Bambang.


"Silahkan masuk Pak." Kali ini Aris yang menyuruh.


Setelah ijab kabul usai, Aris dan Dinda mengajak pak Bambang untuk mampir ke tempatnya. Karena pak Bambang gak sempat ijin sama Bu Lastri. Memang sengaja, kalau pernikahan ini dirahasiakan lebih dulu. Rencananya nanti setelah pulang dari Sidoarjo, pak Bambang akan memberi tahu kepada semuanya.


"Panggil aku ayah juga. Meskipun aku gak suka sama kamu, tapi kamu itu sekarang udah jadi mantuku. Gak enak kalau didengar orang lain, kalau panggilanmu masih Pak," tegas pak Bambang sambil masuk ke tempat kost-an Dinda.


Aris di sini paham betul. Dia memang anak mantu. Atau ini adalah karmanya. Jadi dia dicoba sedemikian rupa.


"Iya ayah, saya paham. Saya minta maaf kalau saya udah jahat pada keluarga ayah. Insya Allah, saya udah gak begitu lagi," sahut Aris.


"Harus. Karena image-mu di luar sana itu jelek. Kalau kamu masih bersikap keras, yang ada udah jelek makin jelek. Ayah begini karena ayah percaya, kamu pasti berubah. Jo aja yakin kok, kalau kamu bisa berubah. Jadi jangan sia-siakan kepercayaan yang udah kami berikan."


"Iya Ayah. Insya Allah," jawab Aris sambil menunduk. Dia kemudian menatap wajah Dinda. Kecantikan Dinda hari ini mampu menutupi semua lukanya. Meskipun Dinda seperti tak suka padanya. Bagi Aris, Dinda tetaplah nyawanya. Aris tak bisa hidup tanpa Dinda. Semua sudah ia janjikan tadi setelah mereka usai ijab kabul.


Trilili Tralala...


Ponsel pak Bambang berdering dengan kencangnya. Segera dia merogoh ponselnya.


"Assalamualaikum." Pak Bambang mengucap salam. Dan terdengar menyebut nama Jo. Mungkin Jo yang menelepon.


Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Apa yang terjadi? Pikir Aris penasaran.


"Astaghfirullah, ya udah ayah akan segera ke sana," jawab pak Bambang. Dan kemudian telepon pun terputus.


"Ada apa Yah?" tanya Dinda penasaran.


"Mas Wawan Din..." ucap pak Bambang terputus.


"Ada apa dengan dia Yah?" tanya Aris seraya mendekat. Dia juga penasaran, sebenarnya apa yang terjadi? Sampai pak Bambang syok berat seperti ini.


"Wawan kena grebek warga," terang pak Bambang.


"Astaghfirullah," ucap Aris dan Dinda secara bersamaan. Aris langsung menatap Dinda. Begitu juga sebaliknya. Mereka teringat kejadian semalam. Mereka juga hampir kegrebek. Tapi Alhamdulillahnya, mereka berdua selamat.


"Habis sholat Maghrib, kita langsung on the way ke sana ya," ajak pak Bambang pada Aris dan Dinda.


"Siap Yah," sahut Aris dengan lantang. Apakah ini tandanya akan ada pernikahan lagi? Kalau benar, berarti pak Bambang mendapatkan 2 menantu sekaligus dalam sehari.

__ADS_1


***


"Jo, gimana?" tanya pak Bambang risau.


"Sudah siap Yah. Mereka mau dinikahkan," kata Jo.


"Mana ibu?" tanya pak Bambang mencari istrinya. Dia khawatir Bu Lastri akan sedih gara-gara kejadian ini.


"Ada Yah. Ada didekat Wawan."


"Ya udah, ayah ke sana," jawab pak Bambang. Kemudian dia menatap Aris.


"Ris, jaga Dinda!" kata pak Bambang.


Aris hanya mengangguk sambil menggenggam tangan Dinda. Tangan Dinda sangat dingin, mungkin akibat terkena udara malam.


Padahal yang sebenarnya bukan begitu. Dinda sedang terkejut dengan semua hal yang begitu mendadak ini. Andai Dinda tahu, kalau Wawan bakalan menikah. Dinda gak akan kabur dan menikah dengan Aris. Tapi semuanya sudah terlambat. Dinda dan Aris sudah menikah.


Argh!


Rasanya Dinda ingin teriak sejadi-jadinya. Tapi dia tidak bisa. Sekarang yang Dinda harapkan hanya hatinya. Semoga hatinya bisa menerima Aris.


'Aku benci sama suamiku sendiri. Ya Allah,' batin Dinda sambil memejamkan mata.


"Sayang, kamu pusing? Ya udah, sini duduk!" suruh Aris sambil mengajak Dinda duduk di kursi.


Sementara dari kejauhan sana. Wawan yang melihat kemesraan Dinda dengan Aris langsung memanas. Hingga dia mau melangsungkan ijab kabul ini. Semua gara-gara Dinda, jadi dia mau menerima perempuan yang bernama Mega ini menjadi istrinya.


Sedang Jo. Dia sebagai kakak iparnya Dinda, langsung mendekat ke arah Dinda.


"Apa kabar kalian?" tanyanya.


"Alhamdulillah, baik Jo," jawab Aris. Dia belum terbiasa memanggil mas ke Johan.


"Oya, selamat ya atas pernikahannya. Semoga selalu bahagia," kata Jo sambil menjabat tangan Aris dan Dinda secara bergantian.


"Aamiin, makasih ya."


"Makasih mas Jo. Maaf gak ngabarin," sahut Dinda merasa bersalah.


"Gak apa Din. Mas maklum kok. Yang penting kalian udah sah, mas udah seneng," ucap Jo.

__ADS_1


"Dan ya Aris, aku nitip Dinda ya. Pesanku satu, sabar!"


Aris mengangguk. 'Iya Jo. Aku akan sabar. Sabar dalam semua hal, terutama menunggu Dinda menyambut cintaku,' sahut Aris dalam hati.


Tak lama kemudian, mereka mendengar kata sah. Dan kemudian dilanjutkan dengan doa.


Terlihat sekali kalau Wawan tak menyukai Mega. Tapi kalau di depan Dinda, jangan tanyakan lagi. Wawan langsung berpura-pura bersikap romantis pada istrinya.


"Selamat ya Mas, semoga langgeng dan bahagia," kata Dinda sambil tersenyum. Dinda bahagia, akhirnya dia terbebas akan cinta Wawan kepadanya.


'Sebenarnya aku maunya menikah sama kamu Din. Ini semua gara-gara wanita sialan ini yang ngejebakku. Ditambah lagi, kamu makin mesra dengan Aris. Bikin darahku mendidih aja,' batin Wawan kesal.


"Selamat ya Mbak. Jaga mas Wawan dengan baik," pesan Dinda pada Mega.


"Iya makasih," jawab Mega dengan malas. Pernikahan ini rasanya bagai mainan buatnya. Karena Mega sama sekali tak punya rasa ke Wawan. Selain hanya benci. Persis seperti Dinda yang membenci Aris. Hanya saja, sekarang Dinda mengandung anak Aris. Jadi kebenciannya itu gak labil kadarnya.


"Lu, di saat gue kayak gini. Lu malah deketin Dinda," bisik Wawan ke Aris. Wawan gak tahu kalau Dinda dan Aris sudah menikah. Padahal sama-sama menikah di hari yang sama. Bedanya pernikahan Aris dan Dinda belum diumumkan di keluarganya. Tunggu saja, setelah ini pak Bambang pasti akan memberitahukan pada semuanya. Tapi tidak di sini, melainkan di rumah.


Setelah acara selesai. Pak Bambang mengajak semua anggota keluarganya untuk pulang.


"Aris, bonceng Dinda hati-hati ya? Terus Wawan, ajak Mega ke rumah. Untuk sementara, kalian semua tinggal di rumah ayah!" terang pak Bambang dan Wawan melongo.


"Tapi Yah, siapa Aris?" protesnya tak terima dengan perkataan pak Bambang. Dia gak setuju.


"Nanti ayah akan memberi tahu kalian semua," ucap pak Bambang.


"Sabarlah Mas. Nanti ayah juga cerita," timpal Jo sambil menepuk pundak Wawan.


"Keluargamu banyak drama," bisik Mega yang membuat Wawan jadi geram.


Sementara Aris, dia terlihat sangat perhatian pada Dinda. "Kalau capek bilang ya? Nanti kita berhenti ke warung, beli nasi. Pasti kamu laper kan?" duga Aris dan Dinda mengangguk. Dia memang lapar, sedari tadi belum sempat makan.


"Atau mau ke warung dulu. Sekalian bungkus buat mereka," tawar Aris.


"Terserah kamu aja Mas," jawab Dinda yang terlihat malas berbicara dengan Aris.


Ya, Aris tahu kok. Perlu banyak waktu buat dia untuk membuka hati Dinda.


"Ya udah, pegangan ya. Kita beli makan dulu," kata Aris.


Dinda hanya diam saja. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Semuanya terasa hambar buatnya.

__ADS_1


Bersambung...


Akankah ada kebahagiaan antara Aris dan Dinda?


__ADS_2