
***
Sesampainya di taman kota. Terlihat Aris menggandeng tangan Dinda. Begitu mesra dan perhatian pada istrinya yang tengah hamil tua.
Di taman kota, banyak orang jualan. Berjajar-jajar, sampai Aris bingung mau beli apa. Tapi sebagai pria, Aris langsung menawari istrinya.
"Sayang, kamu mau minum apa?"
Dinda langsung menatap ke arah pedagang kaki lima.
'Banyak banget yang jualan. Enaknya aku minum apa ya?' Dinda saja sampai bingung pengen apa.
"Minum es boleh?" tanya Dinda pada Aris. Rupanya trauma Dinda tadi sudah hilang. Aris lega melihatnya.
"Boleh dong?" jawab Aris. Dia tidak akan melarang apapun buat Dinda. Kalau Dinda mau, Aris akan membelikan semuanya.
"Ya udah, aku mau es degan," jawab Dinda riang.
Harusnya Dinda bisa menikmati masa remajanya dengan baik. Tapi sayang, Aris sudah menghancurkannya. Tapi sampai kapanpun, Aris akan tetap berusaha untuk membuat Dinda bahagia.
"Itu aja? Yang lain mau gak?" tawar Aris lagi.
"Emang boleh?" tanya Dinda lagi. Soalnya dulu pas dia masih sama Briyan. Semuanya serba kekurangan. Mau beli camilan aja Dinda gak berani. Pas ditawari Aris seperti ini, membuatnya jadi tidak percaya kalau dia bisa jajan di luar.
"Ya boleh dong? Kamu mau martabak, kentang goreng, pizza, kebab, cilok, cimol, atau apa aja yang kamu pinginin... Mas akan belikan," kata Aris dengan pasti.
"Ya udah deh, aku mau cimol, cilok, kebab, sama bapao," kata Dinda yang kebetulan melihat ada penjual bapao di sana.
"Ada lagi?" tanya Aris dengan wajah tanpa keberatan.
Dinda menatap Aris sambil setengah berpikir. 'Seriuskah dia nawarin aku? Atau jangan-jangan, dia cuma akting biar aku klepek-klepek sama dia,' batin Dinda curiga.
"Kenapa Dinda?" tanya Aris heran.
"Emm, gak ada kayaknya. Itu aja dulu," kata Dinda sambil membelakangi Aris. Kali ini dia sibuk menatap ramainya taman kota.
"Ya udah, aku beli dulu ya? Kamu jangan jauh-jauh perginya," nasehat Aris sebelum dia meninggalkan Dinda.
__ADS_1
Sementara Dinda, dia malah asik jalan-jalan. Lagian Bu Bidan juga menyarankannya agar banyak gerak.
"Kita jalan-jalan Nak. Sayang kamu belum lahir, jadi kamu gak bisa lihat ramainya di sini," gumam Dinda sambil mengelus perutnya.
"Nanti kalau kamu udah lahir, ibu sama ayah akan ajak kamu main sini," sambung Dinda yang tanpa sadar menyebutkan ayah di sana. Ayah berarti Aris. Apakah hal itu akan terjadi? Jika Dinda mau menerima Aris, pasti semua itu akan kesampaian.
Dinda menatap ke arah penjual, ternyata Aris masih belum selesai order. Jadi Dinda putuskan untuk duduk di bangku. Capek dan haus juga.
Di tempat Aris. Aris sudah selesai membelikan Dinda es degan, cimol, cilok, kebab. Sekarang tinggal bapao yang belum.
"Pak, bapao satu ya?" pesan Aris pada si penjual.
"Mau rasa apa dik?"
"Emm, adanya apa ya Pak?" tanya Aris yang gak tahu tentang varian rasa apa yang Dinda suka.
"Ada kacang ijo, coklat, strawberry, blueberry," kata si penjual memberi tahu.
"Em, beli semua rasa aja deh Pak," jawab Aris. Karena dia bingung, kesukaan Dinda apa? Tadi dia juga gak sempet nanya. Jadi dari pada ribet, mending diorderin semuanya saja.
Setelah membayar, Aris langsung berjalan mencari keberadaan Dinda.
"Dinda," gumam Aris kebingungan. Dia takut Dinda kabur.
"Ya Allah, di mana Dinda?" Aris semakin takut. Tapi dia segera berlari menyusuri taman itu. Kalau Dinda hilang, pasti semua orang akan menyalahkan Aris. Sebab Dinda pergi bareng dia, terus lagi Aris adalah suaminya.
"Dasar aku suami gak becus!" maki Aris pada dirinya sendiri.
"Mas!" panggil Dinda dari belakang Aris.
Sontak Aris menoleh ke sumber suara itu. "Dinda," panggil Aris setengah berlari. Saking senangnya, Aris langsung memeluk Dinda. Betapa khawatirnya dia tadi saat belum menemukan Dinda. 'Alhamdulillah.'
"Kamu kenapa?" tanya Dinda yang langsung melepaskan pelukan Aris. Ini tempat umum. Meskipun sudah menikah, rasanya kurang pas main peluk-pelukan.
"Gak Din. Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa," jujur Aris. Dia langsung duduk di bangku yang ditempati Dinda tadi. Mengatur nafasnya yang naik turun akibat berlari.
"Aneh tahu gak?" curiga Dinda kemudian.
__ADS_1
"Gak kok sayang. Yang penting kamu gak kenapa-kenapa, aku udah seneng. Makanya aku peluk kamu," kata Aris.
Dinda terdiam. Tapi matanya melirik barang bawaan yang Aris pegang. 'Banyak banget. Dia beli apa aja sih,' batin Dinda penasaran.
"Oiya, kamu haus ya? Ini es degannya." Aris mengeluarkan 2 cup gelas plastik yang isinya es degan.
"Em, ada 2 rasa. Original sama sirup. Kamu mau yang mana?" tanya Aris menatap Dinda.
"Aku mau dua-duanya," jawab Dinda dengan wajah tanpa dosa.
Aris mengangguk. "Iya, tapi jangan sekali minum ya?" cegah Aris. Karena kalau dihabisin sekaligus, takutnya Dinda batuk atau bakalan kenapa-kenapa gitu.
Dinda tersenyum. 'Yakin gak sih dia kayak gini? Kenapa dia gak bilang, satunya buat dia?' batin Dinda lagi. Entah kenapa, dia jadi suka jailin Aris. Apa ini bawaan bayinya? Oh, bayinya benar-benar kurang ajar. Masa ayah sendiri dikerjain?
"Yakin dua-duanya buat aku?" pancing Dinda lagi.
"Yakin sayang. Kalau kamu mau, ambil aja buat kamu. Tapi minumnya harus dijeda, takutnya nanti bikin batuk," terang Aris.
Dinda manggut-manggut. Tapi matanya masih melirik bawaan Aris. Aris paham maksud Dinda. 'Huh, gak sabaran. Bikin gemes aja,' batin Aris. Hampir saja dia mencubit hidung Dinda. Tapi segera ia urungkan. Pasti Dinda menepis tangannya nanti.
"Oiya, ini cimol. 1 pedes 1 gak. Terus ini cilok, sama 1 pedes 1 gak. Ini kebab, 1 kebab sayur 1 satunya daging. Terus ini, bapao..."
"Jangan bilang semua rasa," tuding Dinda memotong pembicaraan Aris.
"Eh, kok kamu tahu?" tanya Aris setengah salting.
Dinda mengumbar tawa lebar. "Hahaha, ada-ada aja kamu. Untung gak kamu borong serombongnya," tawa Dinda yang membuat Aris terpana. Baru kali ini dia melihat Dinda tertawa bahagia seperti ini. Tapi Aris langsung pura-pura bersikap seperti dipermalukan oleh Dinda.
"Malah diketawain. Emang gak boleh gitu beli semua rasa?" ucap Aris pura-pura terintimidasi oleh Dinda.
Dinda menyomot seplastik cimol. Dia langsung mengunyah tanpa sabar. "Bukannya gak boleh sih. Emang kamu ikhlas beliin ini semua buat aku?" tanya Dinda tiba-tiba.
Tiba-tiba wajah keduanya langsung serius. Kali ini Dinda mengajak bicara Aris dengan hati ke hati. Biasanya meskipun sudah menikah, ada kok suami yang pelit sama istrinya. Siapa tahu Aris juga seperti suami yang ada di luaran sana. Pelit sama istri.
Bersambung...
Tunggu nextnya di jam 2. Novel ini update setiap hari.
__ADS_1