Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Digrebek


__ADS_3

Ternyata gerak-gerik mereka berdua tak luput dari intaian warga dan beberapa petugas satpol PP. Karena petugas satpol PP (pamong praja) akan menggelar razia. Takutnya ada hal-hal yang tak diinginkan.


Tapi kedua orang ini masih saja asik bercanda. Tak lama kemudian, keduanya sudah berada di dalam kamar.


"Dinda, aku sayang kamu," bisik Aris sambil mengunci pintu kamar hotelnya.


Tak lama kemudian, dia mengecup bibir Dinda. Dilanjutkan dengan saling bertukar saliva.


Dinda menyambutnya bahkan mengalungkan kedua tangannya di leher si Aris. Ini adalah momen panas yang Dinda rasakan setelah dia menjanda.


Dinda sudah pernah menikahkan? Itu tandanya dia juga ingin merasakan sesuatu yang lebih dari ini. Sudah lama dia tak merasakan itu. Terakhir bersama Briyan sebelum tragedi kehamilannya. Ngomong-ngomong, apa kabar dengan Briyan?


Dinda menepis tentang Briyan. Dia justru memejamkan mata. Menikmati setiap tarikan yang Aris berikan. Hingga tanpa sadar, Aris sudah membawa Dinda ke tepi ranjang. Hampir saja Aris menindihnya. Tapi hal itu tak sampai terjadi.


Ah, Aris merasa sesuatunya sudah mengeras. Ingin sekali dia mengajak Dinda enak-enak. Tapi... mereka belum menikah.


"Din," panggil Aris kemudian.


Terlihat wajah Dinda yang memerah. Dia sangat ingin, tapi itu tadi. Mereka sadar, mereka belum sah.


"Kamu istirahat duluan ya? Aku mau mandi," lanjut Aris. Dia hanya ingin melemaskan sesuatu yang mengeras tadi.


Sedang di luar kamar itu. Beberapa orang sudah kasak-kusuk. Salah satu diantara petugas satpol PP sudah memegang kunci cadangan. Persiapan untuk membuka pintu itu. Suasana mendadak tegang dan ramai.


Setelah Aris memastikan kalau Dinda sudah nyaman di posisinya, Aris segera beranjak menuju kamar mandi. Sebenarnya Dinda gelisah. Dia tadi sudah hampir pasrah kalau Aris memintanya lebih.


'Ya Allah, ada apa dengan diriku? Kenapa aku jadi begini?' Dinda merutuki dirinya. Sebab dia sudah tak bisa menahan hawa nafsunya sendiri.


Saat Dinda hendak memejamkan mata. Tiba-tiba suara gaduh dari luar kamarnya membuat niatannya itu batal.bSuara riuh dari beberapa orang membuat Dinda jadi ketakutan.


"Din, tenang ya. Gak usah takut," ucap Aris menenangkan. Baru saja Aris hendak mandi. Tapi malah ada keributan. Entah apa yang terjadi? Aris segera membuka pintu kamarnya. Dilihatnya ada petugas yang sempat ia temui tadi. Dengan seragam yang berwarna khaki tua ke hijau-hijauan dengan lambang lengkap satpol PP. Jelas Aris tahu, mereka adalah petugas razia yang akan menggerebek dirinya. Benarkah begitu?

__ADS_1


Sial sekali nasibnya. Dia kena grebek malam ini. Beruntung sekali, mereka berdua tidak jadi enak-enak. Andai Aris tak kuat iman, pasti dia sama Dinda kegrebek dalam posisi yang tak ia duga.


Dinda langsung duduk menatap orang-orang yang berkerumun di depan kamar Aris. Ada apa? Fikir Dinda heran.


"Ada apa ya Pak?" tanya Aris memberanikan diri. Tak masalah kalau dia kena pasal kumpul kebo atau gimana. Dia sadar diri kalau dia salah membawa Dinda tidur berdua dengannya. Ya meskipun gak melakukan apa-apa sih, selain ciuman. Tapi sama saja itu namanya tidur bareng tanpa ada hubungan yang sah.


Para aparat dan warga menatap Aris dari atas sampai bawah. Aris bernafas lega, untung punyanya sudah tak mengeras lagi seperti tadi. Dia masih senam jantung gara-gara kaget.


Beberapa mata menatap Aris dan Dinda dengan intens. Dinda hampir saja menangis gara-gara ditatap petugas satpo PP kayak gitu. Wanita memang mudah rapuh. Apalagi dengan sadar Dinda merasa kalau dia juga kelewatan. Tak sepatutnya dia berduaan dengan Aris kayak gini, ditambah statusnya yang janda.


Dinda takut kalau dia akan ketangkap. Apa yang akan ia katakan pada keluarganya? Bikin malu lagi kah?


Dengan tangan gemetaran, Dinda berpura-pura duduk santai. Tangannya mencengkram seprei dengan kuatnya. Ia tak boleh menangis. Jika sampai menangis, orang akan berpikir dia dan Aris telah berbuat sesuatu yang tidak-tidak. Dinda tak mau ketangkap. Jadi dia perlihatkan semua pakaian yang ia kenakan masih utuh.


Aris, dia masih menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi. Sebagian orang yang Aris yakini warga asli sini tampak kecewa. Entah apa yang mereka pikirkan tentang Aris dan Dinda. Namun Aris tetap bersikap biasa saja, layaknya tak ada apa-apa.


Masih ingatkah tentang peribahasa tidak ada asap kalau tidak ada api, begitulah pribahasa Indonesia yang artinya tidak ada akibat tanpa sebab. Mungkin adanya bisik-bisik dari warga yang curiga, makanya Aris dan Dinda digrebek sekarang ini. Tapi tak apalah, semua memang salahnya.


"Sepertinya kami salah informasi. Saya mendengar ada skandal di sini. Tapi ternyata kami salah kamar. Maaf mengganggu istirahat kalian," ujar salah seorang bapak-bapak aparat.


Seorang bapak yang emosi tadi segera menyela. "Ini benar Pak, kita harus menggeledahnya." Sepertinya kompor akan meledak, jika orang yang dihasut-nya gampang percaya. Tapi sayang, yang kena hasutan para aparat. Jadi agak susah membujuk.


"Tidak Pak, kami tidak boleh sembarangan dalam bertugas."


Aris mengangguk lega. Setidaknya mereka tak menginterogasinya lebih lanjut. Atau bahkan menanyakan status mereka yang nota bene belum sah di mata agama dan negara. Alhamdulillah. Aman.


"Iya, tidak apa-apa Pak," balas Aris.


Semburat kelegaan juga terlihat di wajah Dinda. "Alhamdulillah," ucap Dinda lega. Sepertinya Dinda akan balik ke kost-an aja setelah ini. Dari pada ada razia dan ujungnya bikin malu.


"Mas, antar aku ke kost-an," pinta Dinda setelah orang-orang tadi sudah pergi.

__ADS_1


"Yakin? Kamu gak jadi bobo sini?" tanya Aris kecewa.


"Aku takut," jujur Dinda sambil gemetaran.


"Gak usah takut Dinda sayang. Ada aku di sini," kata Aris meyakinkan.


"Aku takut digrebek lagi kayak tadi," ungkap Dinda jujur.


"Ya udah, kalau gitu ayok kita menikah!" ajak Aris sungguh-sungguh. Memang terdengar sangat enteng. Tapi ini jalan keluar satu-satunya untuk mereka. Jika Dinda sayang anaknya, pasti Dinda mau menerima Aris.


Dinda menatap Aris dengan tatapan ragu. Benarkah dia menerima Aris? Secara logika, Dinda belum ada rasa cinta. Hanya sebatas membuka hati belum lebih.


"Sayang, ayolah. Ini demi anak kita. Sebentar lagi kamu juga bakalan melahirkan. Siapa yang akan mengadzani anak kita kalau bukan aku?" bujuk Aris lagi.


"Tapi aku gak ada rasa sama kamu," jujur Dinda lagi. Dia memang sudah gak percaya tentang cinta. Tapi pernikahan tanpa cinta? Sepertinya juga tidak masalah. Sebab pernikahan yang didasari dengan cinta seperti yang kemarin itu, malah hancur lebur tak bersisa.


"Cukup aku yang cinta sama kamu Din. Tolong terima lamaranku Din. Menikahlah denganku demi anak kita," mohon Aris dengan menggenggam erat tangan Dinda. Bahkan lagi-lagi Aris berjongkok di depannya.


Dinda bimbang. Haruskah dia berkata iya?


'Maafkan ibu ya Nak. Kalau ibu menikah dengan ayahmu karena terpaksa, semua ini demi kamu Nak. Maaf kalau ibu belum ada cinta sama ayahmu,' batin Dinda. Ternyata dia menitikkan air matanya.


"Aku siap kalau kamu menikahiku," jawab Dinda kemudian.


BYAR!


Semuanya langsung ambyar seketika. Dinda mau dinikahinya? Ini sangat-sangat di luar dugaannya. Tentu Aris berjingkrak senang. Segera ia memeluk tubuh Dinda dengan eratnya.


"Asik! Makasih sayang. Besok aku akan mencari penghulu untuk pernikahan kita," kata Aris senang.


Dinda mengangguk. Dia tak yakin akan bahagia. Tapi melihat respon Aris yang terlihat tulus itu, semoga Dinda bisa menerima kehadiran Aris dalam hidupnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2