Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Semoga Bahagia


__ADS_3

Dinda POV


Sepulang bertemu dengan Briyan, rasanya aku bahagia banget. Sepertinya Briyan memanglah yang tepat untukku. Padahal aku udah sekotor ini, tapi dia masih mau menerimaku untuk dijadikan istrinya.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." Rasanya aku lega banget.


"Ah syukurlah kamu udah pulang Din."


Baru saja aku menginjakkan beberapa langkah kaki di halaman rumah. Mas Jo sudah mengejutkanku.


"Iya mas. Urusannya udah selesai. Jadi Dinda langsung pulang," balasku.


"Kenapa Briyan gak ikut masuk?" tanya mas Jo menginterogasiku.


"Mas Briyan mau menelepon orang tuanya, jadi dia langsung pulang," celetukku dengan spontan.


"Orang tua? Maksudnya?" tanya mas Jo lagi.


Ah, aku keceplosan. Tapi lebih baik aku mengatakan yang sebenarnya sama mas Jo. Biar urusanku sama Aris segera selesai. Biar dia gak mengganggu hidupku lagi.


"Mas Briyan mengajakku menikah," ujarku kemudian.


"Hah!" Mas Jo kaget mendengarnya.


"Iya mas, insya Allah 3 Minggu lagi," ucapku lagi.


"Dia udah tahu semuanya Din? Masalahnya kalau belum ta..."


"Udah mas," potongku. "Mas Briyan udah ku kasih tahu semuanya tentang kejadian kemarin. Tapi katanya dia masih mau menerimaku," kataku menjelaskan.


"Alhamdulillah kalau begitu. Nanti biar aku bilang ke Aris. Kalau kalian tidak berjodoh," sahut mas Jo dan ku angguki dengan semangat.


Huh, Alhamdulillah. Semua urusanku kembali lancar.


***

__ADS_1


Author POV


Jo menemui Aris di sebuah warung makan. Jo ingin mengatakan sesuatu soal Dinda.


"Gue tahu apa maksud loe Jo," ujar Aris. Sudah cukup dia sedih. Jadi dia tak mau mendengar lagi masalah penolakan Dinda untuknya.


"Yakin loe udah tahu Ris?" Jo memastikan. Takut kalau setelah menikah, Aris akan mengganggunya.


"Gue udah tahu Jo. Dinda menolak gue kan?" ujar Aris dengan menahan rasa sesak di dadanya.


Jo menatap Aris sedih. Tapi ini sudah jalannya Aris. Meskipun sangat mau menikahi Dinda, kalau bukan jodoh gimana lagi.


"Iya, sorry Ris. Gue rasa kalian gak berjodoh. Jadi gue mohon, tolong jangan ganggu Dinda lagi," ucap Jo menasehati.


Aris terdiam. Tapi demi kebahagiaan Dinda, dia pun mengangguk setuju. Aris tak akan menggangu Dinda lagi. Tapi dia hanya ingin melihat kondisi Dinda, meskipun itu dari kejauhan.


"Thanks Ris. Gue percaya sama loe," kata Jo lagi sebelum meninggalkan Aris sendiri.


'Ya Allah, sakit banget rasanya,' batin Aris sambil menatap kepergian Jo dengan mata yang berkaca-kaca.


***


Jadi hari ini mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Terlihat Dinda dan Briyan sangat bahagia. Dinda memang sangat bersyukur. Apalagi yang jadi suaminya adalah orang yang sangat ia cintai. Jadi apapun akan Dinda lakukan buat Briyan.


Dikejauhan, seorang pria mantan nara pidana itu tengah menatap kediaman pak Bambang dengan sendu. Kakinya lemas di tempat.


Dia kesini bukan karena undangan. Niatnya ingin mengetahui kabar Dinda tengah hamil atau tidak. Namun sayang, ia ke sini justru menyaksikan pernikahan antara Dinda Briyan. Sakit... sungguh sakit rasanya saat mendapati secara langsung bahwa harapan satu-satunya sudah menikah dengan orang lain. Pupus sudah harapannya, gak ada celah lagi buat Aris untuk mendekati Dinda.


Aaaargh!


Aris tidak tahu saja. Briyan mau menikahi Dinda karena Dinda tak lagi hamil. Maka dari itulah, Briyan segera menikahi Dinda. Perempuan yang paling betah dan terlama menjadi pacarnya selama ini. Lagian kalau seumpamanya Dinda hamil, mana mungkin Briyan mau menikahinya.


Ya, mungkin inilah karma si Aris. Saat dia mulai mencintai seseorang dengan tulus. Maka di situlah Tuhan mengujinya dengan tidak menyatukan mereka berdua. Mungkin Tuhan sedang menguji kesabaran Aris saat ini. Apakah Aris mampu melewatinya atau tidak?


Dengan lesu Aris meninggalkan rumah pak Bambang. Tak sengaja saat dia akan pergi, Jo sudah berdiri di sampingnya. Ya, Jo mencurigai keberadaan Aris sedari tadi. Takut kalau Aris bakalan mengacaukan pernikahan adik iparnya. Meskipun kecurigaan Jo tidak terbukti.

__ADS_1


"Ris, ngapain loe ke sini?" tanya Jo was-was. Sebab Aris tidak diundang. Jo pun tidak memberitahukan pernikahan ini pada Aris maupun Lia. Tapi kenapa Aris bisa datang ke sini?


Mendengar pertanyaan Jo, Aris tersenyum kecut. Sekali jahat selamanya cap itu akan terus melekat pada dirinya. Padahal Aris ke sini tak bermaksud apa-apa, selain hanya ingin tahu tentang kabar Dinda.


"Jangan su'udzon Jo, gue tadi gak sengaja lewat. Pas ada rame-rame, makanya gue singgah. Ternyata Dinda udah nikah ya... Berhubung gue ketemu ama loe, gue mau titip salam buat Dinda. Semoga rumah tangganya samawa, selalu bahagia di mana-pun ia berada. Dan segera diberi momongan." Berat, sungguh berat berkata seperti itu. Tapi bagaimana lagi, Aris bukan Tuhan. Jadi setuju tidak setuju, dia tetap tak bisa merubah takdirnya.


Setelah berucap seperti itu, Aris hendak meninggalkan Jo. Tapi Jo menahannya sebentar.


"Loe udah berubah banyak Ris? Gue yakin, loe pasti akan mendapatkan jodoh yang sangat baik buat loe. Jangan patah semangat Ris, loe juga berhak hidup bahagia."


Aris mengangguk lemah. Pandangannya teduh. Semuanya mendadak kosong.


"Gue pergi dulu Jo," pamitnya kemudian.


"Iya hati-hati," balas Jo prihatin melihat kondisi Aris saat ini.


'Kau benar-benar menikah dengan orang lain Dinda? Gimana denganku sekarang? Ya Allah... Aku terima jika ini cobaan yang Engkau berikan. Semoga dia bahagia,' batin Aris yang kini sudah menjauh dari rumah Dinda.


***


Setelah menikah, Briyan langsung membopong Dinda menuju ke rumah orang tuanya. Tinggal di Sunda untuk beberapa saat, menikmati momen bulan madu mereka. Bukan itu saja. Sebab, Briyan banyak mantan di Jawa. Takutnya, jika Briyan tetap tinggal di jawa. Keluarga Dinda akan tahu kedoknya yang ia tutupi selama ini. Jadi untuk sementara ini, Briyan akan mengasingkan dirinya bersama Dinda. Menikmati rumah tangga mereka di tempat yang baru.


"Beneran kalian ninggalin Ayah?" tanya pak Bambang dengan berat hati. Padahal pak Bambang berharap, Dinda dan Briyan tinggal dengannya. Tapi ternyata dia gak bisa mencegah kemauan anak-anaknya ini.


"Iya Yah, cuma beberapa waktu aja," balas Dinda. Lihatlah, betapa bahagianya Dinda setelah dinikahi oleh Briyan. Tanpa paksaan dan suka saling suka.


"Tapi ayah sendirian? Ayah pasti kangen kalian," kata pak Bambang sedih.


"Kalau ada waktu, kami akan main ke sini kok Yah. Ayah jangan khawatir," ucap Briyan menenangkan.


"Ya udah. Ayah titip Dinda ke kamu ya Yan. Tolong jaga Dinda, jangan sakitin dia sedikitpun. Bahkan semut gigit dia aja ayah bunuh semutnya. Apalagi kamu. Meskipun Dinda ada kekurangan, Ayah harap kamu bisa menerimanya dengan sepenuh hatimu," pesan pak Bambang sebelum keduanya pamit ke Bandung.


"Kita akan memulai hidup baru Din," ujar Briyan yang diangguki senang oleh Dinda.


Bersambung...

__ADS_1


Akankah rumah tangga Dinda dan Briyan akan bahagia? Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, terimakasih.


__ADS_2