Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Dinda Melawan


__ADS_3

"Din, tolong sadar Din. Ilengo (Sadarlah)! Kayaknya emang bener deh kata mas Wawan, kalau Aris udah guna-guna kamu. Sebelumnya, kamu itu gak pernah lho kayak gini. Kenapa tiba-tiba kamu maneni semua orang?" kata pak Bambang setengah berfikir.


Maneni \= melawan


Tapi Dinda gak terima. Dia malah beringas sekarang. "Terusin Yah! Terusin aja ayah nuduh mas Aris kayak gitu. Emang ayah ada buktinya? Ada? Kalau ada sini, kasih ke Dinda," tantang Dinda dengan berani.


"Din, udah. Kamu gak boleh melawan keluargamu," kata Aris yang kini sudah berada di belakang Dinda. Tangannya mengelus pundak sang istri agar tenang.


"Tapi Mas, mereka udah menuduh mas macem-macem."


"Gak apa Din. Biarin mereka bicara apa saja soal Mas. Tapi mas mohon, jangan ngelawan mereka." Aris menjeda perkataannya.


"Din, dengerin mas. Mas sayang banget sama kamu, mas cinta sama kamu. Mas juga menyayangi Zahra seperti mas menyayangimu. Kalau kehadiran mas membuat keluarga ini hancur... Gak apa-apa, mas rela ninggalin rumah ini. Tapi tidak dengan kamu atau anak kita. Kamu masih dibutuhkan sama mereka Din, dan anak kita juga. Aku di sini udah bagai orang asing yang membuat semuanya jadi berantakan," lanjut Aris sambil menahan air matanya.


Apakah ini pertanda Aris menyerah?


"Ck, pengecut. Lihat tuh Din, begini saja dia udah menyerah!" sindir Wawan yang berdiri tak jauh dari mereka.


Aris diam saja. Semua keluarga Dinda sepertinya tengah menguji kesabarannya.


"Maksud mas apa?" Dinda balik bertanya. Dinda sudah bela-belain melawan keluarganya demi Aris, tapi apa balasan Aris? Dia menyerah? Jadi hanya sampai di sini kah perjuangannya.


"Jawab dengan jujur Din," kata Aris setengah menuntut kejujuran dalam hati Dinda.


"Ikhlas gak kalau mas pergi dari rumah ini?"


Pertanyaan itu? Pertanyaan itu seperti pertanyaan perpisahan. Dinda benci perpisahan seperti ini. Sebab Dinda tahu Aris gak bersalah. Tapi keluarganya? Tega sekali mereka yang ingin menghancurkan pernikahannya. Senangkah mereka melihat Dinda menjanda 2 kali?

__ADS_1


'Gak. Ini gak boleh terjadi. Aku masih butuh mas Aris, jadi aku gak akan ijinin dia pergi!' batin Dinda gak ikhlas.


Dinda menggelengkan kepalanya sambil menatap Aris. "Gak mas. Aku gak akan pernah ikhlas," jawab Dinda dan Aris tersenyum. Berarti Aris akan terus memperjuangkan pernikahannya dengan Dinda.


"Kalau gitu, kita menikah besok aja. Mau kan?" tawar Aris. Rupanya Aris tidak menyerah. Dia tadi hanya menguji ketulusan Dinda. Andai Dinda mengijinkan Aris pergi, mungkin Aris akan pergi. Tapi faktanya Dinda gak ikhlas. Jadi di sinilah dia akan berjuang untuk mempertahankan keluarganya.


Dinda mengangguk.


'Gak apa-apa nikah siri lagi. Yang penting mereka diam dan gak mengusirku lagi. Karena setelah ini, aku akan langsung membawa Dinda pergi,' batin Aris yang sudah berencana untuk meninggalkan rumah pak Bambang selamanya.


'Sial. Bukannya nyerah, tapi malah nekat. Ini gak boleh dibiarin, aku harus segera bertindak. Kalau besok Aris menikah dengan Dinda, berarti mereka udah sah dan bisa tidur bareng. Arrgh! Kenapa rencanaku jadi berantakan gini sih?' batin Wawan yang gak terima dengan aksi nekad Aris. Lebih baik sebulan Aris tinggal di sini, dari pada besok Aris menikahi Dinda.


"Gak! Kalau kalian menikah besok, berarti sama aja Aris akan membawa Dinda pergi dari rumah ini," sahut Wawan dan Nesa jadi berfikir. Begitu pula dengan pak Bambang yang membenarkan ucapan Wawan barusan.


"Iya, ayah gak setuju."


Aris menatap Dinda. Lalu keduanya menatap ketiga orang yang ada di depannya dengan jengah.


"Jadi mau kalian apa? Mengusirku? Menjauhkan kami? Atau memisahkan kami?" tanya Aris. Ini bukan maksud melawan. Hanya saja kalau dibiarkan begitu saja, mereka semakin nganyi-nganyi. Menindas Aris tanpa perasaan dan rasa bersalah.


"Ayah mutusin, kamu tinggal di sini kayak biasanya. Untuk nikah lagi, mending sebulan lagi sesuai rencanamu," kata pak Bambang yang sudah pasrah. Mending begini ketimbang Dinda dibawa pergi oleh Aris. Itu akan membuat pak Bambang kehilangan. Jadi lebih baik seperti biasanya saja.


"Alhamdulillah." Aris lega. Jadi kesempatan ini akan Aris pergunakan dengan sebaik mungkin. Aris akan berbuat lebih baik dari yang sebelumnya. Biar Dinda gak kepikiran yang macam-macam soal rumah tangganya.


Nesa berdecih sebal. Tapi kemudian dia juga mengalah. Dia adalah saudara tertua, jadi dia mencoba untuk minta maaf duluan. Gak enak rasanya bermusuhan lama-lama dengan saudara kandung seperti ini.


"Din, soal tadi... mbak Nesa minta maaf ya?" Nesa mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Dinda menatap Aris, bermaksud meminta persetujuan. Aris paham, dan dia mengangguk pelan tandanya gak masalah Dinda memaafkan Nesa.


"Iya mbak. Tapi Dinda gak suka mbak kayak gitu lagi," ucap Dinda sambil menjabat balik tangan Nesa.


"Iya Din. Mbak Nesa khilaf," kata Nesa menyesal. Dinda memeluk Nesa tanda dia sudah benar-benar memaafkannya.


'Dahlah, biarin aja mereka begini. Susah banget rasanya mengusik rumah tangga mereka. Ditambah lagi si Dinda, kenapa dia jadi makin lengket sih sama Aris? Jadinya susah kan buat misahinnya?' gerutu Wawan dalam hati. Dia udah muak melihat drama yang sok manis itu. Jadi dia putuskan untuk balik ke kamarnya.


"Gimana mas? Apa ayah berhasil mengusir Aris?" tanya Mega sedikit takut. Masalahnya wajah Wawan gak ada berseri-serinya, sepertinya emang lagi gak baik-baik aja.


"Gagal!" katanya emosi.


Mega jadi berfikir. Kok bisa gagal? Apa masalahnya?


"Kok bisa mas?" tanya Mega yang kini sudah memanggil Wawan dengan sebutan mas. Sebab, Mega sudah melupakan cintanya pada Jo. Itu karena Jo sudah membuatnya ilfil dan gak srek lagi.


"Kayaknya dukun Aris emang manjur," kata Wawan yang terus menuduh. Meskipun hidup di kota, tapi otak Wawan masih tertinggal di desanya. Terlalu percaya hal-hal tahayul seperti itu.


"Masa sih mas?" tanya Mega kurang yakin. Sebab Mega ini orang kota, jadi kalau soal dukun-dukun dia kurang ngerti.


"Iya, buktinya Dinda belain Aris banget," curhat Wawan ke Mega. Karena Wawan gak punya pilihan lain selain cerita ke Mega.


"Kok aneh sih Mas. Dinda kenapa segitunya ya sama Aris? Apa dia gak takut diapa-apain sama Aris?" Mega memang merasa janggal akan sikap Dinda yang begitu membela suaminya. Padahal jelas-jelas Aris itu saiko. Pertanyaannya, apa Dinda gak takut berdekatan dengan Aris setiap waktu?


"Dia udah diapa-apain kali. Dinda hamil itu, karena diperkosa oleh Aris. Harusnya sekarang ini Aris mendekam di penjara, bukannya malah enak-enak hidup bareng Dinda," ucap Wawan yang terus merasa iri dengan Aris. Entah kenapa dengan Wawan, sepertinya iri hatinya sudah mendarah daging. Tak bisakah dia membuka matanya lebar-lebar lalu menerima semua kenyataan yang ada?


"Hah! Diperkosa?" Mulut Mega menganga. Soal aib yang satu ini dia memang belum pernah mendengarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2