Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Masih Trauma


__ADS_3

***


Usai sarapan bersama tadi. Aris segera mandi. Kemudian disusul oleh Wawan. Kalau Jo, dia sudah berpamitan untuk pulang bareng Nesa dan Raskha. Kini tinggal 3 keluarga yang tinggal di rumah ini.


Aris bingung, dia mau berbuat apa di rumah ini. Rencananya, dia akan bekerja mulai besok. Biar ada kegiatan lagi. Rasanya sudah semingguan dia tidak bekerja. Sekarang dia akan bekerja, demi menghidupi keluarga barunya.


"Mas, aku dah siap!" kata Dinda yang kini sudah rapi dengan pakaiannya. Menggunakan daster dan rambut dikucir kuda. Benar-benar wajahnya masih kekanakan.


"Mau berangkat sekarang?" tanya Aris menawarkan.


Dinda mencelos. "Kenapa harus sekarang? Besok aja sekalian," ucap Dinda sambil berjalan ke luar lebih dulu.


Aris jadi bingung sendiri. Sepertinya dia salah ngomong tadi.


"Dinda sayang, mas anterin sekarang!" ucap Aris sambil mengejar Dinda.


Wawan yang keluar dari kamar mandi langsung kepo. "Kenapa tuh Buk?" tanya Wawan pada Bu Lastri yang beres-beres dapur.


"Mana ibuk tahu. Ibuk sibuk di dapur kok nanya ke ibuk," kata Bu Lastri dengan cuek.


Wawan menuju ke kamarnya yang dulu bekas kamar Nesa. Dilihatnya si Mega tengah asik melihat drama di ponselnya.


"Ck. Ibukku sibuk, elunya malah main hp?" protes Wawan pada Mega.


"Kenapa? Gak suka? Asal lu tahu aja ya, ibuk yang nyuruh aku buat istirahat. Jadi gak usah nyalahin orang," tegas Mega. Dia kembali menonton drama di ponselnya.


"Lu, bisa gak sih hormat pada suami?" erang Wawan emosi.


"Suami? Harusnya gue sekarang menikah dengan Jo. Bukan sama lu!" teriak Mega pada Wawan. Dia gak suka sama sekali dengan Wawan, tentu dia berani melawan Wawan.


"Heh nenek lampir! Sekali lagi lu ungkit-ungkit soal Jo, gue akan laporin jebakan lu kemarin ke semua orang. Biar lu malu, gak punya muka," ancam Wawan dan membuat Mega jadi luluh.


"Iya iya, mentang-mentang mas Wawan tahu rahasiaku. Sekarang main ancam-mengancam. Emang mas Wawan mau apa?" tanya Mega yang akhirnya mengalah.


"Gue mau...." Wawan membisikkan sesuatu ke telinga Mega. Sontak Mega memukuli dada Wawan.

__ADS_1


"Dasar cowok gila gak tahu diri! Gue gak akan pernah mau nurutin ide gilamu itu! Gak, gue gak akan mau!" Mega mematikan ponselnya dan segera keluar kamar.


***


Di tempat bidan langganan Dinda periksa. Aris menemani Dinda masuk ke dalam. Jadi dia melihat proses pemeriksaan yang Dinda jalani dengan detail.


"Kepalanya di bawah ya?" ucap Bu Bidan memberi tahu Dinda.


"Di USG ya Dik?" tawar Bu Bidan lagi.


Dinda hanya mengangguk saja. Sementara Wawan, dia sudah siap melihat gambar anaknya dari layar.


"Apa masih bisa melihat jenis kelaminnya Bu?" tanya Aris penasaran.


"Untuk usia kandungan segini, biasanya udah gak bisa Pak. Tapi biar saya coba dulu," kata Bu Bidan sambil menyiapkan alat-alatnya.


"Maaf ya Dik," ucap Bu Bidan sambil menaikkan daster Dinda ke atas. Lalu bagian bawahnya ditutup selimut garis-garis khas rumah sakit.


Lalu Bu Bidan mengolesi perut Dinda. Tak lama kemudian diletakkan sebuah alat di atasnya.


Terdengar oleh mereka semua. Aris langsung berbinar. Ada rasa haru dan bahagia saat mendengar suara itu.


"Itu bunyi detak jantungnya ya Dik, Pak!" kata Bu Bidan pada Dinda dan Aris.


Dinda juga terharu, sampai-sampai ingin menitikkan air mata.


"Detak jantungnya normal. Oiya, jenis kelaminnya sudah tertutup pak. Jadi saya gak tahu pasti jenis kelaminnya apa," ucap Bu Bidan sambil menggerakkan alat USG nya.


Lalu Dinda dan Aris menatap layar hitam putih. Belum terlalu jelas wajahnya. Hanya terlihat wajah bulat. Mirip siapa ya kira-kira? Tebak Aris sudah tak sabar.


"Oiya Bu, perkiraan lahirnya kapan ya?" tanya Aris begitu antusias. Sebab Dinda sendiri, dia hanya pasif dan sama sekali tidak mengerti tentang ini. Selain umurnya yang masih muda, pengalamannya pun juga masih kurang. Untung pasangan Dinda sangat cekatan, jadi Dinda merasa aman saat di posisi seperti ini.


"Kalau dilihat dari terakhir menstruasinya, perkiraan sekitar 20 hari lagi akan lahir. Kadang bisa maju atau mundur," terang Bu Bidan.


"Hasilnya sudah bagus semua. Ibu dan janin sehat. Tapi saya sarankan, dik Dinda harus banyak olahraga. Jalan pagi atau melakukan senam ibu hamil."

__ADS_1


"Iya Bu," sahut Dinda mengangguk setuju.


"Ini beberapa vitamin, diminum sehabis makan. 3 kali sehari," ucap Bu Bidan lagi. Tak lama kemudian, Aris dan Dinda berpamitan.


"Alhamdulillah, kamu dan anak kita sehat," ucap Aris saat sudah diparkiran.


Dinda hanya mengangguk saja. Dia bingung mau bicara apa. Soalnya waktu di dalam tadi, rasanya Dinda seneng banget ditemani periksa oleh Aris. Aris orangnya cekatan, beda jauh dengan Briyan dulu. Kalau Briyan, dia cuma pinter ngegombal. Kalau masalah beginian, soal anak. Briyan juga sama seperti Dinda, pengetahuan kosong.


"Oiya Dinda, kayaknya besok aku udah mulai kerja lagi," kata Aris.


Dinda sempat kecewa. Namun kemudian dia merasa biasa. Sebab, waktu yang dia punya tidak ia habiskan bersama Aris saja. Itu berarti, ia akan ketemu Aris hanya beberapa jam saja. Tidak seharian penuh seperti kemarin dan hari ini.


"Iya, terus?" tanya Dinda kemudian.


"Em, aku mau ngajak kamu ke rumah sebentar. Buat ambil baju," kata Aris lagi.


"Ru-rumah?" mendadak Dinda gemetaran. Traumanya akan rumah itu kembali hadir diingatnya.


"Enggak!" ucap Dinda sambil menggeleng kuat.


"Dinda! Sayang, kamu kenapa." Aris panik melihat respon Dinda yang tak biasa.


"Enggak! Tolong jangan bawa aku ke sana!" teriak Dinda yang ingin lari dari Aris.


"Dinda!" Aris langsung menangkap lengan Dinda. Aris takut Dinda akan kenapa-kenapa. Jadi secepat kilat dia memeluk Dinda.


'Setrauma inikah kamu sama rumah itu?'


"Maaf Din, maafin aku. Kita gak jadi ke rumah itu kok, tapi aku akan bawa kamu jalan-jalan. Kita lihat taman kota aja, gimana?" tawar Aris saat merasakan debaran jan tung Dinda sudah berdetak secara normal.


Aris tahu, Dinda tak mudah melewati ini semua. 'Ya Allah, jahatnya aku sampai membuat Dinda jadi seperti ini. Ampunilah dosaku ya Allah, apapun akan aku terima. Asal Dinda gak tertekan lagi seperti ini,' batin Aris sambil menuntun Dinda ke sepeda motornya.


Aris memastikan kalau Dinda sudah duduk dengan tenang. Setelah itu, barulah dia melajukan kendaraannya dengan pelan. Dia menyusuri ramainya jalanan kota. Demi ketenangan jiwa Dinda, jadi dia putuskan untuk pergi ke taman kota. Siapa tahu, dengan begitu Dinda lupa akan rumah tempat pertama kali dia dinodai oleh Aris.


Masalah baju? Mungkin Aris akan mengambilnya lain waktu. Sekarang ketenangan Dinda yang lebih penting. Sebab 20 hari lagi Dinda akan melahirkan. Jadi Aris akan memastikan kalau Dinda tidak akan kenapa-kenapa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2