Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Tetap Berusaha


__ADS_3

'Dia lagi? Sebenarnya mau dia apa sih?' geram Aris dalam hati saat dia melihat orang yang mengganggunya adalah Wawan.


"Aku cuma mau ngingetin, kalian belum menikah lagi. Jangan macem-macem di rumah ini!" ujar Wawan setengah mengancam.


"Yaelah, aku juga tahu kali mas. Gak usah khawatir," jawab Aris kesal.


Wawan hendak menengok ke dalam kamar, tapi langsung diusir oleh Aris. "Kalau udah gak ada keperluan lagi, ya udah silahkan pergi mas!" usir Aris sambil menutup pintu kamarnya.


"Kenapa mas?" tanya Dinda sambil melihat wajah kesalnya Aris.


"Mas Wawan, Din. Kenapa sih dia gangguin kita terus?" tanya Aris setengah frustasi.


Dinda terdiam. 'Itu karena mas Wawan suka sama aku mas. Makanya aku kabur dari rumah dulu. Tapi kalau sekarang, Dinda gak tahu lagi. Moga dia gak ada perasaan lagi sama Dinda, karena dia juga udah menikah,' batin Dinda sedikit khawatir.


"Aku gak tahu mas," balas Dinda murung.


'Sebenarnya aku tahu Din, Wawan itu suka sama kamu. Tapi sebagai suamimu, aku gak akan pernah biarin orang lain merusak rumah tangga kita. Kamu akan tetap menjadi milikku Din, sampai kapanpun, sampai maut memisahkan kita,' batin Aris. Yang tadinya tulus berubah jadi obsesi.


"Ya udah, jangan murung gitu dong? Mau lanjut yang tadi gak?" ajak Aris sambil mengedipkan matanya nakal.


Dinda hanya tersenyum. Ya maulah, siapa sih yang nolak kalau dienakin sama suami sendiri, pikir Dinda.


Dan kemudian dua sejoli yang tengah dimabuk asmara ini melanjutkan aktifitas ciuman mereka.


...****************...


"Ayah dengar, tadi ada ribut-ribut? Emang ada masalah apa sih Bun?" tanya Jo pada istrinya.

__ADS_1


Keduanya sudah pulang dari rumah pak Bambang. Ntah kenapa, setiap kali berada di rumah pak Bambang, auranya terasa berbeda. Engap dan bawaannya pengen marah mulu. Tapi kalau sudah di rumah sendiri, rasanya lega banget. Mendadak Nesa jadi gak krasan alias gak betah sama rumah masa kecilnya.


"Itu Yah, biasalah Aris. Selama Aris menjadi suaminya Dinda, keluarga kita jadi gak tenang," cerita Nesa pada Jo.


Jo mendelik. Gak suka dengan perkataan isterinya barusan.


"Astaghfirullah. Aris itu suami Dinda lho Bun. Suami adikmu, masa iya kamu bisa berkata seperti tadi? Gimana kalau perkataan bunda tadi di balik?" tanya Jo memperingatkan Nesa. Nesa memang seperti ini orangnya.


"Maksud ayah?" tanya Nesa yang belum mudeng.


"Coba kalau Bunda ada di posisi Dinda. Terus Dinda itu berkata kayak yang bunda maksud, gimana perasaan bunda? Apa bunda gak marah kalau Dinda bilang aku ini adalah orang yang membuat keluarga ini jadi gak tenang? Marah gak bunda kalau suamimu ini dijelek-jelekkan sama keluarga bunda sendiri?" tanya Jo mencoba memberikan pengertian pada Nesa.


Bagi Jo, keluarga tetaplah keluarga. Kalau ada yang salah, solusinya bukan seperti yang Nesa katakan. Lagian kalau bisa, menikah itu cuma sekali. Tapi ini karena kecelakaan itu, si Dinda jadi 2 kali menikah. Disayangkan memang, tapi bagaimana lagi. Semoga Aris adalah jodoh terakhir Dinda. Apapun masalahnya, jika masih bisa diatasi kenapa harus berpisah?


Mendengar penuturan dari suaminya, Nesa langsung bungkam. Dia memang merasa berdosa pada Dinda dan Aris. Tadi dia sudah minta maaf, hanya saja kalau minta maaf ke Aris? Rasanya sangat sulit bagi Nesa. Karena sampai sekarang Nesa gak percaya dengan ketulusan Aris kepada keluarganya. Bisa jadi itu hanyalah pura-pura.


"Bun... Ayah minta tolong kali ini aja, jangan ikut campur urusan Dinda dan Aris! Kalau mereka berantem atau gimana-gimana, biarin diatasi sendiri. Kecuali kalau Dinda minta tolong, baru kita tolong. Tapi ingat! Dinda ada yang lebih berhak!" nasehat Jo pada Nesa. Karena Jo hapal betul sikap istrinya itu seperti apa? Pasti Nesa tadi sudah ikut campur dan menyalahkan Aris. Tebaknya.


***


Keesokan paginya. Usai menjemur pakaian tadi, Aris langsung bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Ini sudah hampir kesiangan. Jadi dengan terpaksa Aris harus meninggalkan Dinda dan Zahra. Untuk sarapan, karena mereka sudah berkeluarga sendiri, akhirnya Aris dan Dinda memutuskan untuk masak sendiri. Gak gabung dulu dengan mereka semua. Selain biar mandiri, Aris juga gak bisa membiarkan istrinya sakit hati gara-gara Bu Lastri atau Mega.


"Mas berangkat dulu ya Din, nanti soal sarapan atau mau belanja, uangnya ada di lemari. Pakai aja sepuasmu ya," kata Aris sambil mendekat.


Mendengar itu, Dinda bagai istri yang dihargai dan disayangi oleh suaminya. Sungguh luar biasa baiknya Aris, tentu Dinda gak menolak.


"Makasih ya mas. Nanti Dinda belanja online aja. Mas juga, jangan lupa sarapan. Kalau mau beli sarapan, jangan yang sembarangan!"

__ADS_1


"Iya sayang," jawab Aris sambil mengelus pipi Dinda. Lalu tangan itu turun ke bibir Dinda.


'Ah, bibir canduku. Ingin banget mengecupnya, tapi ini udah mepet,' batin Aris merutuki dirinya sendiri. Sebab kalau udah kissing, pasti Aris lupa segalanya. Mana cukup cuma semenit? Aris butuhnya jam-jaman untuk berduaan dengan Dinda.


"Mas! Katanya udah telat!" tegur Dinda yang melihat Aris melamun sambil menatap bibirnya.


"Eh iya sayang. Maaf!" Aris langsung bersalaman, kemudian mengecup pipi anaknya.


"Assalamualaikum," pamit Aris meninggalkan istri dan anaknya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Dinda sedikit sedih.


Sementara itu, waktu Aris keluar kamar. Dia melihat Bu Lastri dan pak Bambang yang tengah duduk di ruang TV. Sepertinya Bu Lastri hanya menemani pak Bambang yang sedang bersiap untuk ke kantor.


Meskipun ada konflik batin, Aris tetap bersikap baik seperti sebelumnya. Dia tetap mendekati orang tua istrinya dan berpamitan.


"Yah, Bu! Aris berangkat duluan ya? Assalamualaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumussalam," jawab pak Bambang dan Bu Lastri secara bersamaan.


Ya, mereka masih belum bisa menerima Aris. Tapi gak masalah, Aris akan tetap berusaha menjadi yang terbaik. Sabar dan terus belajar untuk membuktikan kepada mereka semua, bahwa Aris tak sejahat yang mereka bayangkan.


"Semangat! Kamu harus tetap berusaha untuk membuktikan kalau kamu gak jahat Ris!" gumam Aris mendukung dirinya sendiri.


Saatnya dia tancap gas. Kerja, cari nafkah buat menghidupi keluarganya. Kalau dia sudah sukses, pasti semua orang akan mendekat dengan sendirinya. Tanpa perlu Aris ngoyo untuk mencuri hati mereka. Toh di mata mereka, Aris tetaplah seorang penjahat yang gak pantas dijadikan saudara. Tapi karena ejekan mereka, Aris malah jadi semangat untuk membuktikan kalau dia bukan orang yang seperti itu.


"Tunggu aja, aku akan buktikan nanti. Siapa sebenarnya yang jahat di antara kita?" gumam Aris dengan yakin.

__ADS_1


Bersambung...


Sebenarnya siapa yang jahat di dalam rumah itu? Terus pantengin ya. Dan jangan lupa tinggalkan jejaknya. Makasih.


__ADS_2