Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Dibuntuti


__ADS_3

Di dalam kamar. Mbak Nesa terus menerus mengajakku bicara. Menanyakan keadaanku, ada yang luka apa tidak? Dan dia terkejut saat mendapati luka merah di tanganku.


"Ya Allah Dinda, tanganmu kenapa?" Terlihat raut wajahnya begitu khawatir denganku.


"Ini pasti sakit banget ya Din. Biar mbak Nesa obatin," katanya sambil mengambil kapas dan obat merah.


Aku hanya bisa diam. Sesekali ku kedipkan mata tanda iya.


"Bajingan si Aris. Dari dulu sikapnya gak berubah. Dia udah nyakitin kamu Din, mbak Nesa gak bisa maafin dia," ujarnya sambil mengobati tanganku.


Sebenarnya aku tertarik dengan perkataan mbak Nesa ini. Aku ingin tahu masa lalu Aris itu seperti apa? Kenapa dia bisa sejahat itu jadi manusia? Aku jadi takut menikah dengannya. Pasti tiap hari aku akan disiksa olehnya. Ya Allah, kenapa cobaan ini terlalu berat buat hamba?


"Jangan nangis Din." Mbak Nesa mengusap air mataku yang tiba-tiba menetes tak tertahankan.


"Assalamu'alaikum," terdengar bunyi salam dari luar.


"Wa'alaikumussalam." Ayahku keluar dan melihat siapa yang datang.


"Nak Briyan!"


Air mataku semakin mengalir dengan derasnya saat nama Briyan disebut. Dia pacarku saat ini. Dan aku, aku udah kotor. Masih pantaskah aku bersama dengan Briyan? Aku takut dia gak bisa menerima kekuranganku lagi.


Author POV


Sebenarnya Briyan tidak pulang. Dia hanya duduk di warung yang dekat dengan rumah pak Bambang. Saat dia kembali untuk menengok rumah pak Bambang, dia sedikit terkejut saat mendapati mobil Jo terparkir di depan rumah itu. Jadi Briyan berinisiatif untuk bertamu lagi. Siapa tahu Dinda sudah diketemukan.


"Om, Dinda apa kabar? Apa Dinda udah ketemu?" tanyanya khawatir. Ini seperti bukan Briyan. Biasanya Briyan selalu tampil rapi, namun kali ini tidak.


"Alhamdulillah, Dinda udah ketemu," jawab pak Bambang.


"Alhamdulillah. Bisa gak om, Briyan nemuin Dinda?" tanyanya ijin.


"Maaf nak Briyan. Dinda harus istirahat dulu. Sementara ini, tolong jangan temuin dia ya?" larang pak Bambang.


"Iya om."


"Ya udah, om mau istirahat dulu ya nak. Silahkan masuk!" Setelah berucap seperti itu, pak Bambang segera meninggalkan Briyan. Pak Bambang juga sedang sedih sekarang. Dia perlu waktu untuk bisa menerima kenyataan pahit ini.


Tak berapa lama kemudian. Jo datang.


"Yan," panggil Jo.


"Ya," sahut Briyan. Penampilannya terlihat kacau. Apa Briyan sudah tahu? Fikir Jo kemudian.


"Jo, bantu gue Jo. Bujuk Dinda nemuin gue," pinta Briyan seraya memohon.


Jo menautkan alisnya. Dinda harus banyak istirahat.


"Sabar Yan. Kalau Dinda udah baikan, dia pasti nemuin loe," kata Jo mencoba memberi pengertian pada Briyan.


"Tapi Jo," elaknya. Briyan merasa bersalah karena telah meninggalkan Dinda waktu itu.

__ADS_1


"Sudah Yan, percaya ama gue. Dinda pasti mau kok menemui loe. Tapi nanti, kalau Dinda udah baikan. Sekarang Dinda perlu istirahat." Jo mencoba meyakinkan Briyan. Tak mungkin di saat Dinda trauma seperti ini mereka saling ketemu. Jo takut Briyan malah melukai batin Dinda.


"Ya udah deh kalau begitu, gue balik dulu ya. Kabarin kalo Dinda udah baikan. Gue mau ketemu sama dia," pamit Briyan dan langsung membalikkan badannya meninggalkan Jo.


Jo hanya balas mengangguk, kemudian kembali ke dalam. Jo melihat Dinda dan Nesa saling menangis. Jo menghela nafas sebelum menghampiri mereka berdua.


"Sayang, biarkan Dindanya istirahat. Dinda perlu waktu untuk sendiri. Jangan ditanya-tanya dulu ya," bisik Jo pelan.


Nesa diam tak menanggapi. Kali ini Jo menatap Dinda iba. Jo coba membujuk Dinda, bukan bermaksud mengusir. Dinda memang harus istirahat. Fisik dan jiwanya tak baik-baik saja paska kejadian itu.


"Dinda... Dinda istirahat ya. Ayo mas antarkan ke kamarmu," ajak Jo dan Dinda hanya nurut saja. Dia sudah tak punya tujuan hidup. Jadi di dorong di jurang pun, Dinda juga gak akan menolaknya.


"Mas akan ambilkan makanan dan minuman buatmu. Bentar ya?" kata Jo lagi.


Jo menoleh ke arah sang istri. "Temani Dinda ke kamarnya hon, aku akan ke dapur," ujar Jo yang langsung berjalan ke arah dapur.


"Ini makanlah Din," ucap Jo.


Terlihat Dinda menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Sedang Nesa duduk di tepian ranjang. Jo mendekat ke arah mereka. Meletakkan nampan itu di atas laci kecil persegi. Di atasnya hanya ada lampu tidur dan charger hp.


Jo mengambil teh hangat untuk Nesa. Nesa hanya menerimanya saja. Jo berjongkok di samping Dinda. Berniat untuk membujuk sang adik. Agar mau makan atau sekedar minum.


"Dinda, makan gih. Atau minum teh hangat dulu?" tawar Jo sambil meraih gelas yang satunya.


Dinda masih betah diam. Tatapannya sangat kosong. Kalau begini terus, Dinda tak boleh sendirian. Dengan terpaksa, Nesa harus sering-sering mengajak Dinda bicara. Agar Dinda tetap selalu sadar dan ingat kalau dia sedang tak sendirian.


Jo mencoba membujuk Dinda lagi. Jo tak boleh menyerah. "Dinda, mau mas suapin gak?" tawarnya lagi. Bukan apa-apa sih. Jo tahu Nesa tak mungkin cemburu hanya karena menyuapi adik iparnya. Sebab, kondisi Dinda saat ini sangat tak memungkinkan. Kalau dibiarkan saja, yang ada nanti bertambah parah.


Dinda hanya mengangguk tanpa berucap sepatah katapun. "Minum dulu." Jo menyodorkan teh yang ada di tangannya. Dinda meraihnya. Jo bersyukur, akhirnya Dinda mau meminum.


"Biar Dinda makan sendiri aja mas," ucap Dinda dingin. Bagaimanapun juga, Jo adalah kakak iparnya. Sedekat apapun mereka berdua, Dinda tetap harus menjaga perasaan kakaknya.


"Alhamdulillah." Kelegaan menyelimuti rongga dada Jo. Akhirnya, Dinda mau makan sendiri.


"Din, kamu harus kuat ya... Mbak akan nemenin Dinda mulai hari ini," ujar Nesa sambil mengelus lengan Dinda.


"Mas..."


Jo yang merasa dipanggil akhirnya menatap lekat sang istri. Pasti ada yang ingin Nesa sampaikan padanya. Dan benar saja, beberapa detik kemudian Nesa sudah membuka mulutnya.


"Aku mau vakum dulu, nanti kalau si dedek udah lahir. Akan ku fikirkan lagi buat ngajar lagi apa enggak."


Jo mengangguk mengerti, semua sesuai keinginannya. Hanya saja, Jo harus melamar pekerjaan lagi.


"Jaga Dinda ya hon. Aku mau ngajuin lamaranku," ucap Jo.


"Pasti aku jagain, Dinda adik aku mas."


Jo tersenyum tipis. "Kalau ada apa-apa, panggil aku aja. Aku pergi gak lama kok."


"Via online nglamarnya?" tanya Nesa ingin tahu. Dan diangguki singkat oleh Jo. Kemudian Jo menatap Dinda yang sedang makan. "Dihabisin Dinda, setelah itu kamu boleh tidur. Nanti biar aku panggilkan dokter langganan Papa," ujar Jo sebelum pergi.

__ADS_1


"Dokter? Buat apa mas?" tanya Nesa ingin tahu.


"Buat meriksa Dinda. Mas takut Dinda kenapa-napa."


"Aku gak apa-apa mas," tolak Dinda.


"Kenapa Dinda? Semua demi kesehatanmu."


Dinda kembali diam. Yang kenapa-napa jiwanya, bukan raganya. Tapi ya sudahlah, sepertinya Dinda juga perlu obat.


"Udahlah Din, nurut aja ya." Kali ini Nesa yang ngomong. Kemudian Dinda mengangguk pasrah.


***


Kata pak dokter kemarin, Dinda terkena stres ringan. Jo dan Nesa sedikit khawatir. Tadi Nesa minta dicarikan mangga muda. Jadi sebelum dia berangkat, dia mau menengok keadaan Dinda lebih dulu.


Jo membuka sedikit pintu kamar Dinda. Ternyata Dinda sudah sibuk dengan laptopnya. Lalu membuka daun pintu itu sedikit lebar seraya bertanya, "Dinda, ada yang kamu inginkan gak? Mas mau ke pasar kota."


Dinda mendongak. Keadaannya hari ini terasa lebih segar dari pada kemarin. Tentu Dinda tak mau terus berlarut dalam kesedihan. "Aku mau ikut mas, boleh gak?" tanyanya penuh harap. Sebab cara inilah yang mungkin bisa menghibur kesedihan hari ini.


Jo mengangguk mengiyakan keinginan Dinda itu. Biar Dinda gak terlalu mikirin tentang Aris jugakan? Kata dokter kemarin, Dinda harus sering diajak healing. Dan yang pasti, Dinda gak boleh bertemu dengan Aris dulu. Karena kalau itu terjadi, trauma Dinda akan datang lagi.


Dinda terlihat senang. Segera dia menyisir rambutnya yang kusut itu. Nesa yang tak sengaja melihatnya sempat cemburu. Tapi dia tahu suaminya itu gimana. Lagian ini demi pemulihan psikis Dinda. Jadi sebagai kakak, Nesa harus bisa mengerti dengan keadaan adiknya.


"Ya udah hati-hati. Mangganya jangan sampai lupa."


Dinda mengangguk saja. Padahal dia juga gak akan ingat nanti. Yang penting dia gak sedih lagi hari ini.


***


Di sepanjang perjalanan, Dinda tak berucap sepatah katapun. Dia hanya diam membisu. Jo tak tahu harus berbuat apa. Hanya saja, untuk menghindari kegalauan Dinda yang lebih dalam. Sesekali Jo melontarkan pertanyaan, dan Dinda meresponnya hanya dengan sepatah atau dua patah saja. 'Iya dan Iya mungkin' cuma itu jawaban yang keluar dari mulut Dinda.


Ternyata dari kejauhan, ada sepasang mata tengah mengawasinya dari balik kaca mobil. Orang itu tampak murung, wajahnya yang kurus terlihat sedang tak baik-baik saja. Dialah Aris, yang harusnya menjadi tersangka pemerkosaan. Karena atas kebaikan hati Dinda, maka sampai sekarang Aris masih bisa menghirup udara dengan bebasnya.


Terlihat Dinda dengan wajah yang datar, tak sesumringah saat Aris pertama kali melihat wajahnya dulu. Aris jadi tak tega untuk mengancam Dinda lagi. Mungkin Aris akan merelakan Dinda, jika Dinda tak memilih dirinya untuk jadi imamnya.


Tapi Lia? Apakah Lia akan tetap nekad mendekati pak Wahyu? Entahlah. Aris sendiri hanya berharap, Lia tak senekad itu. Apa lagi menjual dirinya, jangan sampai.


Kemanapun Dinda pergi, disitulah Aris akan mengikutinya. Aris tak punya tujuan. Mendekat takut menyakiti Dinda. Namun menjauhi Dinda, itu bukan pilihan yang tepat.


Saat turun dari mobil. Dinda merasa tengah diawasi oleh seseorang. Dia menoleh ke belakang, tapi tak ada siapa-siapa selain orang yang berlalu lalang.


"Kamu kenapa Din?" tanya Jo yang curiga dengan tingkah aneh Dinda.


Dinda hanya menggeleng. Mungkin itu hanya firasat dia saja. Dia masih trauma dengan kejadian penculikan kemarin itu.


'Aku lakuin ini semua hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik aja Din,' batin Aris.


Bersambung.


Apakah Aris akan jatuh cinta pada Dinda? Bagaimana keadaan Dinda selanjutnya? Apakah dia bisa terbebas dari bayang-bayang Aris?

__ADS_1


__ADS_2