
***
Ke-esokan paginya.
Di sebuah perumahan. Seorang pria tengah mual-mual. Entah apa penyebabnya. Hidup sebatang kara tak ada yang menganggapnya, membuatnya sangat kesulitan di saat sakit seperti ini.
Dulu saat dirinya masih menjadi penjahat, jauh dari agama. Penyakit sepertinya enggan mendekat. Saat dirinya sudah taubat seperti ini, segala kesulitan terus menimpanya.
Pria itu adalah Aris. Setelah namanya didepak dari KK (kartu keluarga). Jadilah kini Aris hidup seorang diri. Tinggal di rumah yang pernah menjadi saksi bisu atas perlakuan tak senonohnya pada gadis yang tak bersalah. Rumah itu dibeli Aris dengan uang hasilnya ia mengajar waktu dulu, dan uang menjadi guru privat sebelum dia masuk ke penjara. Sesal memang selalu datang belakangan. Kini Aris tengah menyesali semua kelakuan di masa lalunya.
"Ya Allah, aku sakit apa ini?" gumamnya sambil bersandar di dinding kamar mandi. Memejamkan mata sambil meremas perutnya yang sakit. Rasa mualnya begitu aneh, tak seperti orang masuk angin. Sudah hampir seminggu ini, setiap paginya Aris muntah-muntah. Hingga badannya menjadi lemah tak bertenaga. Ia tak semangat melakukan apapun. Rasa lapar di pagi hari ia tahan. Bahkan mulutnya seperti enggan menerima setiap makanan yang hendak ia makan.
"Ya Allah, aku kenapa?" gumamnya lagi. Setelah sekian lama tak mengenal Tuhan. Kini Aris berusaha bangkit dan kembali mendekat pada ajaran islam.
***
Dinda POV
Hari ini hari Minggu. Aku dan mas Briyan mau mengunjungi rumah mbak Nesa. Tapi sedari kemarin rasa gelisahku tak kunjung sirna. Sudah hampir sebulan lamanya, tamu bulanan ku tak kunjung datang. Aku takut kalau kenapa-kenapa. Tapi tetap, aku harus berfikiran yang positif. Tidak mungkin kan aku hamil? Aku masih dua minggu menikah, jadi tak mungkin secepat itu? Dan yang ku tahu, orang hamil pasti muntah-muntah seperti mbak Nesa.
Untuk tanda-tanda mual atau muntah, aku belum pernah mengalaminya. Bahkan tubuhku sehat-sehat aja seperti biasanya. Hanya saja, nafsu makanku agak sedikit bertambah. Mungkin aku sedang bahagia. Makanya nafsu makanku makin bertambah. Ya, aku bahagia hidup dengan Briyan.
"Mbak Nesa enaknya dibawain apa ya Bang," tanyaku pas di tengah perjalanan.
"Orang hamil biasanya makan buah Ay," balasnya. Ay itu ayang maksudnya.
"Oh, oke deh. Nanti kita mampir di kios buah yang ada di depan sana ya Bang," ujarku sambil menunjukkan letak warung kios yang ku maksud.
Author POV
Briyan memang selalu menyayangi Dinda. Ya, mungkin saking polosnya Dinda. Sampai-sampai Dinda tak pernah tahu kelakuan Briyan saat di luar rumah itu gimana. Meski begitu, Dinda selalu percaya dengan Briyan. Orang yang mau menerima dia apa adanya pastinya.
"Apel, jeruk sama melon ya Bang," usul Dinda saat mereka berdua sudah sampai di kios buah.
__ADS_1
"Iya Ay, biasanya Teh Nesa kan suka sama jeruk," ucap Briyan keceplosan. Dulukan memang pernah berusaha ngedeketin Nesa, meskipun gagal pada akhirnya.
"Eh, abang tahu?" Tadinya Dinda sempat heran. Tapi sedetik kemudian Dinda ingat, kalau Nesa dan Briyan sudah lama berteman.
"Oiya, Dinda inget. Mbak Nesa kan temennya abang kan?" tanyanya yang dibalas anggukan Briyan tanda mengiyakan.
Saat Dinda memilih buah, tiba-tiba Dinda tergiur dengan buah anggur yang letaknya sangat lurus dengan pandangannya. Dinda yang belum bekerja sampai sekarang. Otomatis dia tak punya penghasilan, uang yabg diberikan pak Bambang pun juga udah habis. Akhirnya ia meminta Briyan untuk membelikannya.
"Dinda mau anggur Bang, boleh?" tanya Dinda sedikit takut. Mengingat Briyan juga masih mengandalkan orang tuanya.
"Ambil sesukamu Ay. Kebetulan uang abang masih banyak," sombongnya. Padahal uang aja masih minta.
Untung si Briyan anak sulung yang di sayangi keluarganya. Jadi minta ini itu masih diturutin. Ya meskipun Dinda tahu, seluk beluk keluarga Briyan itu seperti apa. Ah, lupakan aja soal mereka. Yang penting Briyan itu tetaplah menjadi idola hatinya.
****
Rumah Nesa.
Terlihat Jo dan Nesa sedang bermesra-mesraan. Membuat Dinda yang baru datang langsung tersenyum geli.
"Eh, Dinda." Nesa terkejut.
"Assalamualaikum," ucap Dinda sambil masuk ke dalam rumah Nesa. Dinda sudah terbiasa di rumah Nesa. Jadi sudah kayak rumah keduanya.
"Nih buat mbak," sambungnya sambil menyodorkan bingkisan buahnya.
"Makasih ya Din, emang adik Mbak yang paling pengertian kamu itu. Oya, btw gimana Bandung?" tanya Nesa yang membuat Dinda sedikit kaget. Tapi dia harus bersikap seperti biasanya. Biar semua orang tak curiga.
"Ramai mbak, banyak saudara di sana," balasnya dengan tenang. Konflik rumah tangga seperti ini kayaknya sudah biasa. Jadi Dinda gak boleh mengungkitnya barang sedikitpun. Agar tak ada penyakit hati untuk ke depannya.
"Enak dong kalo gitu?" Nesa agak iri. Soalnya Jo gak punya saudara. Terus papa mertuanya juga hidup sendirian.
"Tapi bang Briyan gak mau berbaur sama mereka. Dia milih tinggal di rumah neneknya yang kosong," jujur Dinda bercerita. Iya, memang beberapa hari kemudian Briyan mengajak Dinda tinggal di rumah neneknya. You know lah, apa maksud Briyan seperti itu? Karena biar honeymoon mereka berdua gak ada yang mengganggu.
__ADS_1
"Ckckck. Dasar tuh anak, mesumnya masih gak ketulungan," ujar Nesa yang gak heran dengan kelakuan Briyan.
Dinda terkekeh mendengarnya. "Ya gitulah mbak, kayak mas Jo enggak aja," serang Dinda balik.
"Dinda ih," ucap Nesa malu-malu. Karena memang Dinda sering memergoki dirinya sering bermesraan beberapa kali dengan Jo. Jadi patutlah kalau Dinda berkata seperti itu.
"Gak usah malu mbak, Dinda kan udah nikah sekarang. Oya, kata dokter kapan waktunya keponakan hadir?" tanya Dinda sambil mengelus perut buncit Nesa.
"Bulan depan Din, doain lancar ya persalinannya."
"Pasti mbak. Oya mbak, aku pengen makan anggur nih. Lidahku meronta-meronta dari tadi, gak sabar ingin segera melahapnya," canda Dinda yang segera membuka bingkisan anggur punyanya.
Nesa terkekeh. "Tumben pengen anggur, biasanya juga gak doyan," celetuk Nesa. Tapi terlihat kalau Dinda gak perduli. Dia malah asik menikmati buah anggur yang ia makan.
Meskipun Nesa melontarkan kata seperti itu. Namun Nesa tak mencurigai apapun tentang Dinda. Karena Dinda terlihat baik-baik saja. Tak ada yang mencurigakan.
"Nih makan mbak. Enak tahu!" suruh Dinda sambil menyodorkan sedompol buah anggur.
"Ih mau. Kayaknya emang manis," balas Nesa sambil duduk di samping Dinda.
"Din? Yakin buah ini enak?" tanya Nesa sambil membuka matanya lebar.
"Iya mbak. Ada yang aneh?" tanya Dinda sambil terus memakannya.
"Gak gitu Din..."
"Terus?" tanya Dinda yang terlihat sangat cuek.
'Ini kecut Din,' ucap Nesa dalam hati.
"Gak Din. Ya udah, lanjut aja makanmu," suruh Nesa.
"Mbak mau bikinin kalian minum," pamit Nesa sambil ngacir ke dapur. Sempat berfikir aneh, tapi Nesa menepis fikiran buruknya itu.
__ADS_1
Bersambung...
Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Aris dan Dinda?