
"Gimana? Udah mendingan kan?" tanya Dinda setelah dia meletakkan gelasnya tadi ke dapur.
Aris menggeleng. Baru saja dia keluar masuk kamar mandi. Tapi tak berujung apapun. Perutnya masih sering mules. Dan sekarang jaraknya makin cepet.
"Pinggangku rasanya juga gak nyaman banget mas, aku coba rebahan juga ya?" pamit Dinda sambil berjalan memegangi perutnya. Benar-benar rasanya kurang nyaman.
Dinda ingin memejamkan matanya, tapi sangat sulit. Apalagi dia melihat Aris yang tiada henti bolak-balik kamar mandi.
"Mending kamu rebahan di sini aja Mas. Kasihan kamu, jarak dari ruang tengah ke kamar mandi cukup lama," suruh Dinda dan diangguki lemah oleh Aris. Tenaganya sudah mulai terkuras. Jadi lebih baik Aris menerima tawaran Dinda. Lagian dituduh pun Aris gak masalah, sebab dia gk akan ngapa-ngapain Dinda.
"Kamu apa yang sakit?" tanya Aris sambil menatap Dinda. Sunggu baru kali ini Aris merasakan hal yang tak lumrah. Dari jam 11 malam sampai jam 1 dini hari, sakitnya gak berkurang-kurang. Yang ada malah makin sering gak tertahan.
"Aku cuma pinggang Mas. Terus ini rasanya si dedek udah jarang gerak," kata Dinda menjelaskan.
"Apa mau lahiran ya?" duga Aris pada akhirnya.
Dinda hanya menggeleng. Dia tak tahu. Cuma pinggangnya aja yang keju linu.
"Kamu bisa bobok?" tanya Aris lagi.
"Gak bisa," jawab Dinda singkat.
"Kenapa?" tanya Aris sambil menahan sakit lagi.
"Aku butuh kipas," kata Dinda dan Aris segera menancapkan kabel kipas ke colokan listrik.
"Bentar ya." Aris langsung bangun dan ngibrit ke kamar mandi.
"Apa kamu akan lahir ke dunia nak?" tanya Dinda sambil mengelus perutnya.
Aris keluar sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Huh, huh, hah!"
"Kenapa mas? Kalau masih sakit, kita ke rumah sakit aja," saran Dinda akhirnya.
Aris setuju aja sih dengan saran Dinda. Masalahnya siapa yang akan bonceng dia? Pak Bambang? Maukah dia? Wawan? Orang itu gak mungkin bakalan mau.
"Oiya, kita belum siapin semua perlengkapan baby nya, gimana dong?" panik Aris yang tiba-tiba kepikiran baju bayi yang sama sekali belum disiapkan.
Dinda juga bingung. Tapi jauh-jauh hari dia pernah minta tolong pada Nesa.
Flashback
Saat Nesa hendak keluar kamar, Dinda langsung mencegahnya. Saat itu adalah malam pertama Dinda jadi istrinya Aris. Karena Aris tidak boleh tidur bareng, jadilah Dinda tidur dengan Nesa. Jadi kebetulan sekali kan, di saat Raskha sudah hampir 8 bulan, tentu baju bayinya masih bagus-bagus. Disitulah Dinda meminta Nesa buat nyiapin baju bayi Raskha untuk anaknya nanti. Lagian Dinda memang belum menggunakan uang dari Aris lagi selain hanya 2 juta kemarin itu.
"Em, aku minta mbak Nesa buat nyiapin baju bayinya Raskha," jawab Dinda agak ragu.
__ADS_1
"Ya udah gak pa-pa. Moga besok perutku sembuh, jadi biar aku belikan nanti semua keperluannya," jawab Aris dengan pasti. Mana mungkin Aris membiarkan bayinya memakai baju bekas semua? Seenggaknya dia masih punya uang. Uang dari dia menjual mobilnya juga masih ada. Aris mampu buat beli semua perlengkapan bayinya. Tapi kalau belum ada kayak gini, ya tak apa sih, menerima baju bekasnya Raskha.
"Iya Mas," balas Dinda. Kini posisinya tengah duduk bersandar di kepala ranjang.
Aris menyusul Dinda dan langsung meletakkan kepalanya di paha Dinda.
"Ah Mas," pekik Dinda tiba-tiba. Dia meringis seperti menahan sakit juga.
"Eh maaf sayang," kata Aris meminta maaf. Dia langsung bangun dan duduk di samping Dinda. Tangannya Aris reflek mengelus paha Dinda yang dikiranya sakit.
"Bukan situ Mas, tapi perutku mendadak sakit," ucap Dinda sambil menahan desisan.
Aris memegangi perutnya sendiri. Biasanya jarak segini dia kesakitan. Tapi kok sekarang Dinda? Sebenarnya ini karena keracunan makanan atau tanda-tanda mau melahirkan?
"Kok kita sakit perutnya gantian ya?" tanya Aris dengan polos.
"Ya mana aku. Yang melahirkan aku, kenapa mas Aris ikut-ikutan sakit?" jutek Dinda sambil mengelus-elus perutnya.
"Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang." Aris yakin, kalau di rumah sakit, pasti Dinda dan bayinya akan mendapat perawatan yang terbaik.
"Mas yakin bisa boncengin aku?" tanya Dinda yang khawatir kalau Aris akan kesakitan pas di jalan.
"Eh bentar." Baru ditanya begitu aja Aris langsung ngacir ke kamar mandi. Apalagi nanti pas dalam perjalanan, bisa lebih bahaya kan?
Ini penyakit yang rumit. Di saat Aris yang sakit, Dinda justru tak kenapa-kenapa. Tapi pas Dinda sakit, Aris pun merasa baikan. Ini sebenarnya siapa yang akan melahirkan? Aris atau Dinda?
Semalam keduanya tak jadi tidur gara-gara sakit perut dan tak bisa tidur.
"Aku pernah sih seperti ini, pas mules gitu. Tapi ini rasanya lebih sering," timpal Dinda ikut bercerita. Kalau dilihat-lihat, pasangan ini seperti pasangan suami istri pada umumnya. Saling cerita satu sama lain. Tapi sebenarnya di antara mereka masih terhalang adanya cinta.
"Kamu masih kuat gak?" tanya Aris ke Dinda.
"Masih kok Mas. Soalnya aku udah gak ngerasa sakit perut lagi. Tapi kalau pinggang rasanya makin berat," jawabnya.
"Duh Din, perutku sakit lagi!" Aris balik lagi ke kamar mandi. Dan seperti itu seterusnya hingga menjelang subuh barulah Aris benar-benar tak tahan.
"Din, aku telepon Jo ya? Minta tolong dia buat anterin aku ke rumah sakit. Aku bener-bener gak kuat lagi, rasanya aku mau pingsan," kata Aris yang wajahnya kini terlihat memucat.
Dinda akhirnya gak tega dengan keadaan Aris. "Ya udah iya Mas. Aku ikut ya?" kata Dinda. Karena Dinda sudah gak merasakan sakit perut lagi. Cuma sekali saja tadi. Tapi Aris? Sudah tak terhitung lagi. Berapa kali sudah dia bolak-balik kamar mandi, sampai-sampai wajahnya memucat.
Aris mengambil ponselnya dan menelepon nama Jo di sana.
Di tempat Jo dan Nesa. Sekeluarga kecil ini ternyata masih asik molor. Tiba ponsel Jo berdering berkali-kali membuat si kecil Raskha jadi terbangun.
Tangisan Raskha yang super duper kencang. Membuat Nesa jadi terbangun.
__ADS_1
"Mas, siapa tuh yang telpon? Ganggu orang tidur aja," marah Nesa sambil membawa Raskha kegendongannya.
Mendengar omelan sang istri, Jo langsung terbangun dan melihat siapa pengganggunya di pagi buta ini.
"Aris Bun yang telpon," jawab Jo sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Ngapain dia nelpon? Ganggu orang aja. Mending gak usah diangkat deh Mas," pinta Nesa kesal. Ya, siapa tahu saja Aris masih seneng gangguin keluarganya, pikir Nesa.
"Jangan gitu Bunda, takutnya ini penting," balas Jo sambil keluar dari kamarnya.
"Assalamualaikum, ada apa Ris?"
Di tempat Aris dan Dinda.
"Wa'alaikumussalam Jo. Jo, gue minta tolong sama lu. Tolong anterin gue dan Dinda ke rumah sakit," pinta Aris dengan suara memburu.
"Lu kenapa Ris? Lu sakit?" tanya Jo curiga.
"Iya Jo. Gue dah gak kuat lagi. Kayaknya Dinda mau melahirkan," kata Aris lagi.
Dinda yang melihat Aris seperti ini jadi ingin mengambil alih ponselnya. "Biar aku aja," serobot Dinda. Sebab Aris sepertinya sudah sangat lemas, tak mampu untuk mengeluarkan tenaga lagi.
"Iya mas Jo. Dari semalam pinggang Dinda rasanya mau copot. Mas Jo bisa cepetan kesini kan? Sama satu lagi, Dinda minta tolong bawakan peralatan bayi yang udah disiapkan sama mbak Nesa," kata Dinda dan Jo akhirnya paham.
"Oke Din. Mas Jo akan segera ke sana. Tunggu ya?"
Klik. Sambungan terputus.
Di tempat Jo. Jo segera bersiap diri dan menghampiri sang istri. "Baju bayi yang udah kamu siapin mana Bun?"
"Ada tuh, di samping box Raskha. Emang ada apa Mas?" tanya Nesa heran dengan gerak-gerik Johan.
"Dinda mau melahirkan Bunda, jadi ayah harus cepet ke sana. Buat nganterin Dinda dan Aris ke rumah sakit," jelas Jo.
"Kok cepet ya mas. Perkiraan masih 2 Minggu lagi," sahut Dinda yang dijawab gelengan oleh Jo.
Jo langsung berhambur ke kamar mandi, dan setelahnya dia melaksanakan sholat subuh. Terakhir dia mau otw ke rumah mertuanya.
"Ayah berangkat dulu ya Raskha. Bunda, ayah berangkat dulu," pamitnya.
"Iya ayah, hati-hati. Kabarin kalau udah lahiran."
"Iya bunda, assalamualaikum," pamit Jo.
"Wa'alaikumussalam," balas Nesa.
__ADS_1
Bersambung...
Wah, Dinda mau melahirkan. Kira-kira anak Dinda cewek apa cowok ya?