
"Ka-kalian!" ucap Aris setengah teriak.
Kaki dan tangannya gemetaran saking tak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya.
Orang yang diteriaki Aris langsung menoleh ke belakang. Terlihat seorang gadis perawan memicingkan matanya. Dia mengenali suara itu, hanya saja dia tak percaya dengan sosok yang ada di depannya. Terakhir dia melihat Aris seperti tak terawat, berewokan. Tapi sekarang, wajah itu terlihat begitu bersih. Sangat terawat dari biasanya.
"Ibu! Lia!" panggil Aris sambil berjalan mendekat. Ini first momen bertemu dengan ibunya setelah sekian lamanya Aris mendekam di penjara sampai bebas, bahkan sudah dikaruniai seorang anak.
"STOP! Jangan mendekat mas!" larang Lia saat dia tahu Aris akan mendekati ibunya yang tengah membersihkan rumput di samping rumahnya.
Mendengar ada yang memanggilnya, Bu Rukmini (nama ibunya Aris) langsung menoleh. Dia merindukan anak sulungnya itu. Sudah lama sekali dia tak bertemu. Bahkan Bu Rukmini sakit-sakitan begini juga gara-gara memikirkan Aris.
Sejahat-jahatnya Aris, ibu Rukmini tetap menganggap Aris sebagai anaknya. Memikirkannya dan mendoakannya tanpa sepengetahuan Aris. Hanya saja, ibu Rukmini dan Lia memang memutuskan untuk tidak mengusik Aris lagi. Terserah Aris mau ngapain aja gak akan dilarang oleh mereka. Karena Bu Rukmini tahu, putranya itu susah sekali diatur. Jadi dia angkat tangan. Tapi setelah sekian lamanya, takdir mempertemukan mereka kembali. Akankah Bu Rukmini menghindari Aris lagi?
"Kenapa Lia? Mas kangen sama ibuk," jawab Aris sambil terisak. Dari pertama kali dia memasukkan kakinya di halaman rumah masa kecilnya itu, air matanya sudah mengalir sampai-sampai matanya terlihat sembab sekarang ini.
"Lia gak mau mas Aris nyakitin perasaan ibuk lagi. Udah cukup penderitaan kami gara-gara kelakuan mas Aris yang gak ada tobat-tobatnya," ucap Lia dengan emosi.
Jujur saja, Lia sebenarnya juga rindu sama masnya ini. Hanya saja, mengingat kelakuan Aris yang seenak hatinya. Selalu berbuat jahat tanpa memikirkan kondisi ibunya, membuat Lia jadi benci. Dia merasa lebih bebas tanpa Aris. Tak ada yang menggangu hidup mereka. Saking jahatnya Aris waktu dulu, Lia sampai-sampai tak bisa menerima kedatangan Aris dari hidupnya.
"Maafin kesalahan mas, Lia. Tapi percayalah, mas Aris udah mencoba berubah jadi yang terbaik."
"Buk! Tatap Aris Buk. Adakah ibu kangen sama Aris meskipun itu sedikit? Aris tahu, selama ini Aris tak pernah perduli pada keadaan ibuk. Sumpah Aris gak bermaksud kayak gitu Buk?"
Air mata itu terus mengalir.
BUGH!
__ADS_1
Aris berlutut dan bersimpuh di depan ibu dan adiknya. Sungguh Aris sangat menyesal dengan kelakuannya di masa lalu. Kalau boleh diulang, Aris akan berbuat baik. Akan selalu perhatian pada orang tua dan adiknya. Tapi semua itu tak bisa diulang, hanya sisa waktu yang ada dan Aris akan mencoba memperbaiki sikap dan kelakuannya.
"Buk! Maafin Aris Buk!"
Bu Rukmini menatap Aris, air mata Aris juga tertular di matanya. Ibu mana sih yang tega melihat anaknya menangis seperti ini di depannya.
"Buk, mau ngapain?" cegah Lia saat tahu ibunya akan mendekat ke arah Aris.
"Dia masmu Lia. Bagaimanapun juga, mas Aris anak ibuk juga."
"Buk, jangan terpengaruh sama mas Aris Buk. Mas Aris pasti minta maaf, terus bakalan nyakitin ibuk lagi!" larang Lia sambil mengingatkan.
Aris menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Senyuman hambar dan kesedihan menjadi satu. Susah memang kalau sudah terkenal jahat, sampai-sampai keluarganya juga takut padanya.
Tapi Aris tak akan menyerah, ini juga demi kebahagiaan semuanya. Kalau gak begini, kapan lagi Aris tenang saat menikah dengan Dinda? Aris juga ingin keluarganya menyaksikan pernikahannya. Jadi dibencipun Aris tetap akan ikhlas. Asal dia bisa bersatu lagi dengan ibu dan adiknya.
Firasat ibu pasti tak akan salah. Karena dari sini Bu Rukmini melihat perubahan yang berbeda dari Aris. Wajah amarahnya.
"Apa-apaan ini Buk. Dasar punya ibu gak berguna, penyakitan. Lebih baik Aris pergi dari sini!"
Sekilas, ucapan Aris di masa lalu terngiang di otak Bu Rukmini. Wajah emosi Aris, mata merah. Semua itu sudah tak Bu Rukmini dapati pada wajah sedih Aris.
"Aris!" panggil Bu Rukmini seraya menyuruh Aris berdiri.
"Ibuk," jawab Aris yang dengan spontan langsung memeluk ibunya. Rasa kangen dan rindu menggerogoti hatinya. Dan sekarang dipertemukan lagi dengan keadaan yang.
'Alhamadulillah Ya Allah,' batin Aris senang. Pelukan hangat, kasih sayang dari ibunya tak akan pernah tergantikan. Sungguh ini nikmat yang luar biasa dari Aris. Pernikahannya dengan Dinda, membawakan dia pada momen yang begitu berharga seperti ini. Rasa syukur terus Aris ucapkan dalam hatinya. Dia benar-benar bahagia, sampai air matanya tak bisa berhenti menetes.
__ADS_1
"Gimana kabarmu?" tanya Bu Rukmini saat melihat Aris sudah tenang.
Di tempat yang berbeda.
Wawan dan Mega sudah sampai rumah lebih dulu. Suara mereka yang begitu heboh membuat Dinda dan Zahra tak nyaman.
Dinda langsung keluar kamar dan melihat keduanya yang baru sampai.
"Hai Din, hai Zahra," sapa Mega tak enak hati. Mereka tadi ribut gara-gara baju Wawan ketinggalan di rumah Mega. Padahal bukan hal yang penting, tapi sikap Wawan yang begitu lebay, jadi hal kecil langsung berubah jadi masalah yang besar.
"Ibu sakit. Kalian gak bisa ya gak usah ribut kayak gitu?" tegur Dinda tanpa sungkan-sungkan lagi. Entah kenapa, Dinda jadi tak suka dengan kehadiran sepasang suami istri ini.
"Ya ampun, sejak kapan adikku bersikap judes kayak gini? Pasti..."
"Gak usah nuduh-nuduh suamiku mas. Dia gak ngerti apa-apa, jadi Dinda mohon jangan sangkut pautkan sikapku ini dengan mas Aris," jawab Dinda yang memotong ucapan Wawan yang mungkin ingin menyalahkan Aris.
"Dih, parah banget. Untung itu kamu yang bilang Din, kalau orang lain, mungkin udah beda cerita lagi," gumam Wawan yang gak didengar Dinda tapi gak jelas.
"Ngomong apa mas? Tuh ibu sakit nyariin kalian, buruan ditengok gih!" suruh Dinda lagi sambil masuk ke dalam kamar, tentunya sambil menggendong Zahra.
"Ibu makin lama makin gak betah Ra. Ibu mau bilang ke ayahmu aja, biar cepet nikahin ibu dan ngajak pindahan entah kemana," curhat Dinda pada Zahra. Sekilas, Dinda memikirkan perumahan Aris yang kosong terbengkalai. Mungkin lebih baik Dinda minta Aris buat jual rumah itu agar bisa dibelikan rumah baru. Entah rumah jelek-jelekan juga gak apa-apa, asal Dinda bisa keluar dari rumah ini.
Rumah yang tadinya adem ayem, sekarang bagai neraka buat Dinda.
"Kenapa sih mereka datang lagi? Padahal kemarin-kemarin aku merasa bebas gak ada mereka," keluh Dinda kesal.
...****************...
__ADS_1
Bersambung...