
Bingung mencari. Akhirnya Aris memutuskan memilih mencari penginapan terdekat. "Huah," desahnya pelan. Dirabahkannya tubuhnya di atas ranjang yang bersepreikan serba cream itu.
Dia merogoh ponselnya, menyentuh tombol call di sebuah nama yang bertuliskan Dinda di sana. Ponsel itu berdering, tandanya aktif. Ada secuil harapan. Agar telponnya diangkat oleh Dinda. Bunyi sambungan tuuut, terus terdengar. Belum ada tanda-tanda kalau Dinda ingin menjawab. Hingga tak lama kemudian, sambungan telpon terputus.
"Mungkin Dinda udah tidur," gumamnya.
Aris membolak-balikkan badannya. Ia tak tenang. Kembali ia menghubungi nomor yang sama. Berharap Dinda mengangkatnya. Meskipun gak diangkat, Aris akan terus menghubungi Dinda sampai diangkat. Beratus kalipun tak diangkat, dia akan terus menghubunginya.
Dinda POV
Sebenarnya aku sengaja menarik uang Aris mau ku pakai buat bayar kost-an. Ayah juga sudah memberikanku uang. Hanya saja, uang ini buat jaga-jaga. Aku malas, jika harus keluar untuk mengambil uang. Makanya aku mengambil banyak sekalian. Biar tak kerepotan bolak-balik ATM maksudku. Toh Aris udah sering menyuruhku untuk memakai duitnya. Jadi gak masalah kan kalau aku memakainya dulu?
Sudah masuk dini hari, mendadak aku terbangun. Bunyi berisik dari ponselku yang membangunkanku. Ku lihat Aris yang tengah menelepon.
Jam segini? Ngapain gitu, fikirku.
Ku elus perutku sambil berfikir. "Diangkat gak ya?"
Saat hendak ingin mengangkat, sambungan telepon itu terputus. Ada rasa sedikit kecewa, namun beberapa detik kemudian ponselku kembali berdering. Aris, dia gak menyerah rupanya.
Tak tahu kenapa, kali ini aku gak mau menyia-nyiakan kesempatan. Segera ku geser warna hijau ke atas.
"Hallo, assalmu'alaikum," ucapku agak jutek.
"Wa'alaikumussalam," balas Aris dengan nada sumringah di sana. Sepertinya dia senang.
Belum juga aku bertanya ngapain dia jam segini meneleponku? Eh dianya udah bicara lagi.
"Din, kamu tahu gak aku di mana?" tanyanya.
Lagian mana aku tahu di mana. Tapi tanpa ku jawab, dia lanjut bicara sendiri.
"Aku di Sidoarjo Din, nyari kamu!" katanya yang membuatku terbelalak.
DEG
'Nyari aku? Benarkah? Kok dia bisa tahu, kalau aku lagi di Sidoarjo? Tahu dari mana?' batinku bertanya-tanya.
"Dari mana kamu bisa berfikir kalau aku lagi di Sidoarjo?" pancingku penuh selidik.
"Feeling Din, aku kan ayah dari anakmu. Jadi aku bisa merasakan sinyal-sinyal yang diberikan anak kita," jawabnya. Namun aku tidak percaya. Gak mungkin dia tahu begitu saja.
__ADS_1
"Gak usah bohong," protesku.
"Gak bohong Dinda sayang. Nih ya, aku kirim lokasi ku gimana?" tantang Aris kemudian.
Ck, panggilan sayang. Bisa-bisanya.
"Kirim aja coba." Aku menerima tantangannya.
Ting!
Aku segera membuka lokasi yang ia kirimkan. Gawat! Cuma berjalan saja, Aris bisa menemuiku. Bahkan sekarang pun juga bisa. Jarak kami sekarang hanya sekitar 100 meteran.
'Ya Allah, kenapa dia begitu dekat denganku?'
"Din, aku gak bohong kan?" ucapnya mengagetkanku.
Author POV
Dinda kelimpungan. Dia harus jawab apa soal itu? Berfikir, berfikir. Dinda menjawab sekenanya. Kalau Aris cinta, dia akan tetap menerima Dinda apapun keadaannya kan? Lagian hubungan mereka tak sedekat itu.
"Emang sih, terus maumu apa?"
"Mencarimu Dinda... aku yakin kamu gak jauh dari sini. Kita akan bertemu sebentar lagi," jawab Aris dengan yakin.
"Dinda, tunggu aku ya. Besok aku akan mencarimu lagi. Sekarang boboklah kamu, mimpi indah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," balas Dinda lirih.
"Benar-benar si Aris. Dia sangat nekat," gumam Dinda khawatir.
Kalau Aris ada di sini. Itu tandanya dia tak boleh keluar dari tempatnya. Kenapa bisa semudah itu? Kenapa Aris mengetahui keberadaannya begitu cepat? Apa ada yang bersekongkol dengannya?
Ah, sepertinya tidak mungkin. Jo dan pak Bambang bukanlah orang yang suka berkonspirasi. Mereka berdua gak mungkin mengkhianati Dinda. Jadi kesimpulannya, Aris memanglah beruntung.
Dinda menengadahkan kedua tangannya ke udara. Berdoa kepada Allah.
"Ya Allah, benarkah ini pertanda kalau Aris jodoh hamba?"
***
Di tempat lain. Wawan tengah sibuk mencari Dinda. Tapi kayaknya hari ini dia tengah kesialan.
__ADS_1
Bodoh atau gimana. Si Wawan yang ngeyel itu malah ke sasar ke tempat yang tak terduga. Bertemu dengan perempuan ketus di pagi hari. Perempuan itu agak enggan memberikan pertolongan.
"Mbak-Mbak! Orang ditanya kok gak mau jawab," keluh Wawan dengan raut wajah yang sedih. Dia hanya ingin tahu alamat yang ia pijaki saat ini. Sebab, dari semalaman Wawan belum pulang. Mencari Dinda membuatnya kelelahan. Siapa suruh mencari Dinda? Dinda juga tak ingin dicarinya.
"Emang kamu tadi nggak baca?" ketus perempuan itu yang tak lain adalah--- Mega. Mega adalah teman sekantor Jo Dia juga tengah menyukai Jo. Tapi jangan harap, Jo tak akan pernah sekalipun menduakan Nesa.
Karena di jam setelah subuh ini, belum ada banyak nyawa yang bangun. Dan kebetulan sekali, Wawan yang sedang melintas di jalanan tak sengaja melihat Mega yang tengah membuang sampah di tong besar. Tempat khusus untuk membuang sampah dan akan diangkut di sore hari, guna dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Lantas, dengan keberanian diri yang tinggi. Wawan ingin bertanya agar tak tersesat, yang ada malah jawaban ketus berkali-kali dari mulut si Mega.
"Gelap Mbak, gak kelihatan," balas Wawan. Sedikit enteng tapi terkesan menyebalkan di telinga Mega.
"Lah, kalo kamu ke sini gak tagu tujuan. Ngapain datang di mari?" tanya Mega dengan lengan yang bersidekap di dada.
Fiuh. Wawan menghela nafas agak berat. Ngeselin banget cewek yang satu ini. Batinnya mulai geram. "Aku kesasar Mbak. Aku lagi nyari adik aku. Dia kabur dari rumah," jelas Wawan pada akhirnya.
"Oh kabur. Mas-nya aja begini, jadi pantes kalau adiknya kabur," sindir Mega dengan senyuman yang mengejek.
"Maksud Mbak apa ya? Kalau gak mau ngasih tahu ya udah. Jangan pake nyindir-nyindir segala."
Wawan terbawa emosi sendiri menghadapi perempuan yang tak ia kenal ini. Mendadak darahnya mendidih. Ada ya, ditanya baik-baik malah diketusin seperti ini?
"Selow aja kali Mas. Tadinya aku mau kasih tahu. Tapi enggak jadi, gara-gara kamu marah," cetus Mega dan langsung meninggalkan Wawan yang masih dalam kadar emosi. Menyebalkan sekali wanita itu. Awas saja kalau ketemu kembali. Akan Wawan buat menyesal kembali nantinya.
"Din Din, niatku nyari kamu. Tapi malah ketemu cewek gila," keluh Wawan pada pagi itu.
***
Di tempat yang berbeda. Aris mulai menjalankan misinya. Ya, setiap masalah harus dicari jalan keluarnya. Biar semuanya akan berbuah indah jika berhasil. Dan tak terlalu rugi jika hasilnya buruk. Jika masalah hati? Itu akan berbeda lagi hasilnya. Karena hati dan perasaan gak bisa dipaksa. Aris tahu, tapi kali ini dia tetap menikahi Dinda meskipun Dinda merasa terpaksa.
Misi Aris yang pertama adalah mencari penginapan atau kost-an terdekat dari sini. Mengintai penghuninya dari kejauhan. Siapa tahu, salah satu penghuninya adalah Dinda.
Sedikit pengetahuan Aris tentang Dinda. Aris hampir hafal semua baju yang Dinda punya. Mungkin dengan begitu, ia tak akan terlalu kesulitan dalam pencariannya itu.
Kenapa Aris bisa tahu jenis model baju apa mengenai Dinda? Itu karena Dinda sedang hamil, apa lagi akhir-akhir ini, Dinda senang sekali menggunakan daster bahan spandek import dengan motif kartun. Hampir semua baju yang dikoleksinya bergambar kartun. Jadi memudahkan Aris bukan?
Aris selalu detail dalam penilaiannya terhadap wanita yang dicintai. Ingatkan dengan kisah percintaannya dulu dengan Nesa. Bagaimana dia begitu terobsesi, sampai-sampai Nesa ketakutan dibuatnya.
Saat ini Aris tengah mengintai kost-an yang berjejer 5 di belakang hotel yang ia tempati semalam. Kebetulan sekali bukan? Hanya saja, Dinda sudah bertekad. Hari ini ia tak akan keluar kos. Padahal, kemarin itu dia jalan-jalan. Ya, Dinda butuh jalan-jalan agar selalu sehat dan lancar waktu persalinannya nanti.
Persalinan ya? Mungkinkah 2 bulan lagi? Atau sebulan lagi? Mengingat itu, tiba-tiba Dinda ingin menangis. Hatinya terlalu rapuh. Dia ingin melahirkan ditemani orang yang mencintainya. Dia iri dengan mbak-nya yang selalu setia ditemani oleh Jo. Jo memang pria yang kelewat perhatian.
__ADS_1
Gabut dan bosan. Akhirnya Dinda putuskan untuk keluar. Mencari hiburan. Dia berharap, Aris tak berkeliling di tempatnya berada. Lagian Sidoarjo itu luas. Jadi belum tentu Aris secepat itu menemukannya.
Bersambung.