Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Mencuri Kesempatan


__ADS_3

Aris masuk kembali di ruangan Dinda. Kebetulan si kecil sudah ada di sampingnya Dinda.


"Eh, dedek!" panggil Aris pada anaknya. Anaknya masih pake baju bayi cowok. Aris belum sempat membelikannya. Mungkin setelah infusnya dicopot, dia akan langsung gerak cepat buat membelikan semua barang-barang kebutuhan si kecil.


"Gak boleh disusuin selama 3 jam, Mas," kata Dinda seraya memberitahu Aris.


"Em, berarti kita perlu susu formula ya?" tanya Aris yang belum mengerti cara mengurus bayi.


"Bisa minum asi mas," jawab Dinda sambil mengumbar senyum. Aris terlihat lucu kalau sedang bingung.


"Asi-mu?" tanya Aris sedikit takut bertanya.


Dinda mengangguk. "Iya mas, tapi nunggu 3 jam."


"Dedeknya masih bobo ya? Kulitnya bersih ya," puji Aris pada anaknya itu.


Dinda hanya ikut menatap dari atas. Kulitnya emang bersih sih, karena Aris sendiri aslinya juga putih bersih.


"Oiya, aku suapin ya? Ini minum dulu," kata Aris yang kini bergantian merawat Dinda. Tadi pas dia yang sakit, Dinda yang ngerawat. Sekarang saatnya gantian.


"Iya Mas." Kali ini Dinda nurut aja. Badannya lemas, gak mungkin dia menolak saat disuapin Aris. Karena dia butuh tenaga dan gizi buat menyusui anaknya.


"Kamu butuh susu gak?" tanya Aris tiba-tiba.


"Aku harus banyak makan daging mas, sayur sama telur. Buah juga. Biar ASI-nya lancar, terus luka ku biar cepet kering," jelas Dinda.


Aris hanya mengangguk saja. Sepertinya dia harus segera menemui salah seorang perawat, agar infusnya dilepas saja. Lagian Aris sudah sehat bugar. Kalau dipasang infus kayak gini terus, aktifitasnya makin terganggu.


Ternyata Dinda kelaparan. Nasi sebungkus pemberian Jo langsung habis dia makan. Saat Aris usai membuang sampah. Terdengar dari luar, pak Bambang dan Bu Lastri sudah datang. Mungkin sebaiknya Aris titip Dinda pada mereka. Karena Aris ada urusan lain. Gak mungkin dia mesan online, ini sudah terlambat. Kalau online harus menunggu beberapa hari. Jadi lebih baik cari di toko perlengkapan bayi saja.


"Oiya Din. Di luar ada ayah sama ibu. Kamu dijaga mereka dulu gak apa-apa kan?" tanya Aris memastikan.


Namun siapa sangka, Dinda memilih bungkam. Dijaga sama Bu Lastri? Yang benar saja, mereka lagi cek cok gara-gara masalah yang tak biasa. Dinda belum cerita ke Aris, jadi Aris masih belum tahu apapun soal perang batin yang Dinda rasakan.


"Kok diam? Kenapa, hm?" tanya Aris yang kini mendekat ke arah Dinda. Dia mengelus dan membenarkan rambut Dinda yang berantakan pasca melahirkan tadi.

__ADS_1


Perlakuan Aris yang begitu perhatian malah membuat Dinda menangis. Dia ingin bercerita tentang kejadian kemarin, tapi dia takut. Takut kalau Aris gak bisa jaga rahasia, apa lagi mengontrol amarahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Aris sambil terus mengelus rambut Dinda dengan sayang.


"Kamu kenapa? Bilang sini sama Mas," pinta Aris dengan sabar.


"Apa karena sakit? Nanti mas mintain obatnya ke Bu perawat ya? Biar gak sakit lagi," kata Aris yang berusaha menenangkan istrinya.


"Aku gak apa-apa kok Mas. Emang mas mau kemana?" tanya Dinda sambil menghapus air matanya. Aris pun juga membantu menghapus air mata Dinda. Aris merasa dia sangat bersalah atas kesedihan Dinda barusan.


'Sebenarnya kamu menyembunyikan apa dariku Din? Kenapa kamu terlihat begitu sedih? Apa semua ini karena aku?' Aris mulai menduga yang tidak-tidak. Kebungkaman Dinda lah yang membuat Aris merasa serba salah.


"Din, mas gak maksa kamu buat cerita. Tapi kalau ada apa-apa, jangan sungkan bilang ya. Misal kamu butuh dibeliin apa gitu, langsung bilang aja sama mas. Biar mas gak bingung," terang Aris kemudian.


Sekarang Aris gak mau egois. Dia paham betul traumanya Dinda seperti apa gara-gara ulahnya itu. Kalau dipikir-pikir, harusnya Aris sudah mendekam di penjara dan dikenai hukuman berlapis. Tapi ini karena kemurahan hati Dinda dan keluarganya, jadi dia bisa menikah dengan Dinda sekarang.


"Oiya, mas harus keluar Din. Buat beli perlengkapan anak kita. Kasihan, dia anak cewek kan? Masa iya pake baju cowok terus, entar dikiranya cowok lagi? Iya kan?"


Dinda tersenyum. "Ya udah kalau gitu, jangan lupa popok bayi, handuk bayi, tas bayi, kasur bayi, pokoknya semuanya mas. Karena di rumah gak ada," jawab Dinda akhirnya.


Aris hanya meringis menampilkan deretan giginya. Istrinya lucu banget sih, pengen deh ngecupin dia. Ah, bentar lagi kan? Sebentar lagi dia akan menikah lagi dengan Dinda, jadi dia pasti bisa berduaan terus dengan Dinda.


"Mas? Sehat kan?" tanya Dinda sambil menatap Aris curiga.


"Eh, sehat kok sayang." Aris garuk-garuk kepalanya gara-gara salting ditanyai begitu sama Dinda.


"Terus kenapa cengengesan? Emang ada yang lucu?" Dinda penasaran.


"Kamu yang lucu. Bikin gemes kalau pas mau sesuatu gitu," jawab Aris sambil merenges.


Dinda pura-pura sebal. "Ya udah, apalagi? Buruan beliin sana!" Ternyata ini bukan pura-pura. Tapi Dinda beneran ngambek mau ditinggal Aris belanja.


"Kok gitu? Kamu titip apa? Buat kamu sendiri, cemilan atau apa?" tawar Aris sebelum dia meninggalkan Dinda.


"Emang boleh makan camilan?" tanya Dinda memastikan.

__ADS_1


"Kalau gak ada keluhan, kenapa tidak?"


"Mau deh, roti tawar. Sama itu..." ucapan Dinda terjeda.


"Sama apa?" tanya Aris. Aris sabar kok, dia akan berusaha sesabar mungkin ngadepin sikap Dinda yang masih kekanak-kanakan.


"Mas mau beliin aku pembalut gak? Kan aku nifas," kata Dinda setengah manyun.


"Ya Allah, sayang. Itu aja? Ya pasti mas beliin dong. Gak usah khawatir, pokoknya nanti mas beliin lengkap," kata Aris dan Dinda pun tersenyum.


"Ya udah, mas keluar dulu ya? Mmuah." Aris curi-curi mencium kening Dinda. Kapan lagi dia dapat restu kalau bukan dengan cara yang begini?


"Ih mas," protes Dinda pura-pura ngambek. Tapi aslinya seneng banget.


"Bye dedek, yang pinter ya," pamit Aris pada si kecil. Lalu dia benar-benar meninggalkan Dinda bersama bayinya.


"Ayahmu bener-bener, mencuri kesempatan dalam kesempitan!" curhat Dinda pada anaknya yang belum mengerti apa-apa itu.


Tak lama kemudian, Bu Lastri dan pak Bambang masuk ke ruangannya.


Jo? Dia tadi pamit untuk pulang. Ada pekerjaan dadakan yang tak bisa dia tinggalkan. Jadi dia akan datang lagi nanti bareng Nesa mungkin.


"Nak, selamat ya. Ayah seneng banget denger kamu udah lahiran. Mana cucu ayah?" ucap pak Bambang begitu antusias. Dia segera mendekat dan melihat cucu kecilnya.


"Selamat ya nak Dinda," ucap Bu Lastri takut-takut. Bu Lastri merasa bersalah pada Dinda. Tapi gimana lagi, mulut memang tak bisa terkontrol.


Dinda langsung menoleh. Dia tidak dendam, hanya saja dia masih sakit hati mendengar namanya dijelek-jelekkan.


Melihat respon Dinda yang sedemikian rupa, membuat Bu Lastri langsung menjauh dan mendekat ke arah pak Bambang.


"Cantik banget ya Yah. Mirip Aris," celetuk Bu Lastri.


Dinda langsung menatap ke arah Bu Lastri. Begitu juga dengan pak Bambang.


Seketika itu juga, Bu Lastri langsung menciut.

__ADS_1


'Aku salah ngomongkah?'


Bersambung...


__ADS_2