
Semua kaisar dan sesepuh telah kembali ke tempat masing-masing.
"Kalian dari mana?" tanya sesepuh Muran.
"Dari kekaisaran Wang?" jawab sesepuh Zan.
"Untuk apa?" tanya sesepuh Muran.
"Telah di putuskan kalau tiga hari lagi adalah acara pertunangan Yuan, Anchi, Fan dan Xian. Mereka menggunakan tradisi pertunangan kekaisaran iblis, karena dengan menggunakan tradisi itu mereka akan aman dari pria atau wanita yang berusaha mendekati mereka. Jadi, mereka akan bertunangan menggunakan tradisi kekaisaran iblis atas usulan dari Queen Kim Mona sang ratu dari kekaisaran bulan" jawab sesepuh Zan.
"Apa, ratu dari kekaisaran bulan" terkejut sesepuh Ying.
"Ya" jawab sesepuh Mao, Zan dan Hun kompak.
"Bukankah tiga hari lagi adalah waktu yang begitu cepat?" tanya sesepuh Ying.
"Memang, tapi inilah yang menjadi solusi terbaik pada saat itu, dan semuanya yang bersangkutan juga sudah setuju dengan mudahnya tanpa kami harus memaksa mereka beberapa kali" jawab sesepuh Mao.
"Benarkah?" tanya sesepuh Muran.
"Ya" jawab sesepuh Mao, dan Zan kompak.
Semua orang sibuk dengan acara pertunangan yang akan terjadi tiga hari lagi. Padahal mereka belum tahu acara pertunangan itu akan di adakan di mana. Yang penting bahwa mereka telah melakukan tradisi sesuai adat mereka. Berbeda dengan dua orang yang saat ini berada di luar kekaisaran mereka.
Aku dan Fan pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk keperluan memancing. Selama di perjalanan, Fan tidak pernah mau melepaskan genggaman tangannya dari ku, membuat kami menjadi pusat perhatian orang-orang di sepanjang perjalanan kami. Aku bisa mendengar suara bisik-bisik mereka yang kebanyakan mengatakan siapa kami, apakah kami sepasang kekasih yang sedang mengembara, dan lain sebagainya. Hal itu membuat aku risih. Jadi, aku pernah mengajukan pernyataan apakah dia tidak risih memegang tangan ku agar dia melepas tangan ku. Tapi aku malah mendapatkan pelototan mata yang begitu mengerikan darinya. Jadi, aku hanya bisa menerima saja apa yang ingin dia lakukan.
Setelah membeli perlengkapan memancing, kami berdua pergi ke kedalaman hutan guna mencari sungai yang bisa untuk memancing. Bukan hanya sungai yang kami temukan di dalam hutan. Tapi, kami juga menemukan tempat yang begitu indah. Di sungai, kami meletakkan dua pancing kami. Setelah satu jam kami meletakkan pancing, akhirnya kami berhasil menangkap dua ikan yang lumayan besar. Setelah kami menangkap ikan, lalu kami membakarnya. Sambil menunggu ikan matang, aku mengajak Fan mengobrol.
"Apakah kau tidak akan mencari wanita lain?" tanya ku memulai pembicaraan.
"Tidak akan pernah" jawab Fan yakin.
"Bukankah kau nantinya akan menjadi seorang kaisar. Jadi, tentunya kau akan memiliki lebih dari satu wanita bukan?" tanya ku.
"Tidak akan pernah ada yang lain, karena aku hanya akan ada untuk mu, dan kau hanya akan ada untuk ku" jawabnya sambil menatap ke arah ku.
"Masa depan tidak bisa kau teb,,,mmm" celetuk ku, tapi terhenti karena ulah nya.
"Apa yang kau lakukan, kemari kau Gong Ming Fan. Aku akan membunuh mu" teriak ku kesal, saat dia sudah pergi karena dia takut aku marah atas apa yang dia lakukan, mungkin.
Aku berusaha mengejar dirinya, tapi aku baru ingat kalau kami sedang memanggang ikan, membuat aku tidak jadi mengejar dirinya.
"Ikannya sudah matang?" tanya Fan yang tiba-tiba.
"Urusan kita belum selesai" selidik ku ke arah nya.
"Ya kau benar, aku akan menghabiskan sisa hidup ku bersama mu. Jadi, kau bisa menghukum ku kapanpun kau mau, termasuk ketika aku berada di atas mu. Ah, kau juga boleh berada di atas ku" canda nya membuat aku memelototkan mata ku ke arahnya.
"Aku suka tatapan itu, aku yakin tatatan mu akan lemah di bawah kuasa ku" senyumnya smirk.
"Pria gila, jauhkan pikiran kotor mu itu dari pikiran mu tentang diriku" kesal ku.
"Aku tidak bisa jika menyangkut dengan diri mu, my sweety" keluhnya dengan semakin mendekati ku, lalu memeluk ku dari belakang.
"Menjauh lah" geram ku.
"Tidak mau, aku tidak mau kau marah pada ku. Jadi, tolong jangan seperti ini pada ku, ku mohon" mohonnya sambil mencium tangan ku yang sebelah kiri karena tangan ku yang sebelah kanan sedang memegang kayu bakar untuk aku singkirkan ke samping.
"Sweety,,,," panggilnya namun aku tidak menjawab.
"Yuan,,," panggilnya lagi namun aku masih tidak menjawab.
"Kim Mona,,," panggilnya.
__ADS_1
"Ya" jawab ku.
"Apakah kau masih kesal pada ku?" tanya nya sambil mencium samping mata kiri ku.
"Jikapun aku masih kesal pada mu, kau tetap tidak akan melepas pelukan mu bukan?" tanya ku sambil melirik ke arahnya yang di samping wajah ku.
"Ya, jadi" jawab nya sambil menatap ku.
"Tidak, aku tidak kesal lagi pada mu. Jadi, bisakah kau melepaskan pelukan mu. Kita harus makan bukan" senyum ku ke arahnya.
"Tentu" balasnya tersenyum pada ku, lalu melepas tangannya yang memeluk ku.
Kami berdua akhirnya makan ikan bakar, kami makan dalam keheningan. Namun, Fan makan sambil menatap ke arah ku membuat sesekali aku juga menatapnya. Setelah kami makan, dia mengajak ku ke atas bukit.
"Bolehkah hamba ini membawa sang ratu dari kekaisaran bulan ke suatu tempat yang menjadi pavorit hamba saat hamba sendirian?" tanya Fan sambil bersimpuh satu kaki di tanah dengan mengankat tangan nya ke depan sejajar dengan diri ku yang sedang berdiri.
"Apakah itu tempat yang indah?" tanya ku.
"Ya, menurut hamba itu adalah tempat yang sangat indah" jawabnya sambil mencium tangan ku yang sudah ku berikan pada tangannya.
"Baiklah, mari pergi karena waktu sungguhlah berharga. Terutama waktu ku" perintah ku.
"Perkataan mu adalah perintah untuk ku" senyumnya sambil memeluk pinggang ku, lalu membawa ku dengan jurus peringan tubuhnya.
"Apakah tempatnya jauh?" tanya ku di pelukannya.
"Tempatnya antara kekaisaran malam dan kekaisaran kegelapan. Jadi, jika dari sini maka agak jauh" jawabnya.
"Mmm baiklah" balas ku.
"Apakah malam ini kau memiliki waktu ratu ku?" tanya nya.
"Sejak kapan aku menjadi ratu mu, aku adalah ratu dari kekaisaran bulan" canda ku.
"Kau terlalu pandai merayu, prajurit ku. Entah berapa wanita yang akan kau rayu seperti ini kedepannya" canda ku, tapi membuat dia sedikit kesal karena terasa dari tangannya yang menggenggam pinggang ku dengan sedikit keras.
"Tidak akan ada yang lain. Ah, ada yang lain, karena aku hanya akan merayu ratu dari kekaisaran bulan, Kim Mona, kakak perempuan dari putri Gong Ying Wie, wanita yang di zaman ini dikenal oleh seluruh benua dengan nama Wang Yuan, dan putri kandung pertama dari kaisar dan permaisuri Yu. Hanya wanita itulah yang akan aku rayu" balasnya sambil menatap ke arah ku.
"Bisa tolong turunkan aku di tempat sepi sebentar. Karena aku harus segera berada di lingkaran Yin & Yang saat ini" pinta ku padanya.
"Baiklah" jawabnya, lalu dia membawa ku ke kedalaman hutan terdekat dengan kami saat itu. Saat kami menemukan gua, dia langsung membawa kami ke dalam sana. Setelah dia menurunkan ku, aku langsung membuka lingkaran Yin & Yang. Sedangkan dia langsung menggunakan kekuatannya untuk membuat perisai pada pintu gua. Perisai itu adalah perisai pendeteksi jika ada yang masuk, dia tidak menggunakan perisai pelindung karena itu bisa menimbulkan kepenasaran dari mereka yang memiliki ilmu tinggi. Jadi, Fan membuat perisai pendeteksi agar dia tahu bila ada yang masuk, dan agar tidak memiliki efek apapun dari luar.
Saat di dalam gua itu, Fan hanya terus memandangi Mona yang saat itu sedang berada di dalam lingkaran Yin & Yang dengan rambutnya yang kembali berwarna emas, dan sedang memejamkan matanya sambil terduduk.
'Kau terlalu berharga untuk ku miliki. Tapi, aku tidak mengizinkan diri mu di miliki oleh orang-orang yang tidak bisa menghargai diri mu. Jadi, aku akan berusaha semaksimal ku agar menjadi orang yang layak untuk memiliki mu' gumam Fan di dalam batinnya sambil terus memandang ke arah Mona.
Hanya ada kesunyian di dalam gua itu, karena Mona sedang fokus di dalam lingkaran Yin & Yang. Sedangkan Fan juga hanya memandang Mona tanpa bergumam sedikitpun di dalam batinnya karena pastinya Mona mendengarnya karena mereka telah bertukar darah. Setelah satu jam mereka di dalam gua, akhirnya Mona keluar dari lingkaran Yin & Yang.
"Apakah sudah selesai?" tanya Fan saat melihat aku telah keluar dari lingkaran Yin & Yang.
"Sudah" jawab ku sambil merubah warna rambut ku.
"Kau yakin, hanya butuh waktu kira-kira baru sekitar satu jam?" tanya Fan.
"Ya, ini sudah cukup" jawab ku.
"Mari pergi ke tempat yang kau bilang" perintah ku.
"Baik" jawabnya.
"Tunggu dulu" perintah ku saat dia ingin pergi membawa ku.
"Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Kita akan ke tempat Sima terlebih dahulu" jawab ku, lalu datanglah cahaya emas menyelimuti tubuh kami, lalu kami muncul di kamar Sima. Saat kami sampai di sana, kami bisa melihat ada para keluarga kekaisaran Yu dan para sesepuh di sana.
'Ada apa dengannya?' tanya Fan pada ku. Saat kami telah bersembunyi dengan menggunakan jurus penghilang jiwa yang waktu itu ku dapat saat bersama Green.
'Entahlah, mungkin dia hanya jatuh pingsan karena tergigit ular dan efek bisa ular itu' jawab ku.
"Maaf yang mulia, pangeran terkena gigitan ular tepat di nadinya. Jadi, itu mempercepat penyebaran racun ular itu karena tepat di bagian vitalnya. Hal itu akan sedikit sulit untuk menghilangkan racunnya" jelas seorang tabib.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengeluarkan racunnya?" tanya kaisar Siang.
"Ada yang mulia, tapi bunga itu sudah lama tidak pernah hamba lihat" jawab tabib itu.
"Bunga apa?" tanya semua orang kompak.
"Bunga teratai emas yang mulia" jawabnya.
"Berapa lama dia bisa bertahan tabib?" tanya Anshi.
"Hanya sampai delapan jam ke depan tuan putri" jawab tabib.
"Obati dia sekarang tabib" ujar ku dengan mengubah rambut ku berwarna merah dengan memakai cadar yang senada dengan bajuku yang berwarna putih.
"Maaf kau siapa?" waspada mereka kecuali para sesepuh.
"Kim Mona, ratu dari kekaisaran bulan" jawab ku.
"Maaf yang mulia ratu, tapi itu tidak mungkin selama tidak ada bu,,,,," ucapan tabib terpotong karena dia terkejut karena dengan mudahnya aku menumbuhkan teratai bunga emas di dalam kolam ikan di halaman depan kamar pangeran Sima. Jaraknya hanya sekitar lima meter dari kamar. Hal itu membuat semua orang terkejut dan mematung.
"Jika kau hanya mematung seperti itu, maka kau akan membuat pangeran semakin keracunan" celetuk ku mengingatkan tabib itu. Sebenarnya aku bisa langsung menyembuhkan Sima dengan kekuatan ku. Tapi, itu akan memakai energi ku, jadi aku memilih untuk menumbuhkan bunga teratai emas saja.
"Ah, benar maaf yang mulia ra,,," ucapannya terpotong karena ucapan ku.
"Queen, kau bisa memanggil ku dengan begitu. Jangan memanggil ku dengan embel-embel yang mulia" potong ku.
"Baik, Queen" ujarnya sambil mengambil bunga dari tangan dayang yang di luar yang sudah mengambil bunga teratai itu tanpa menunggu di suruh terlebih dahulu. Dia langsung meunbuk bunga itu, lalu merendamnya ke dalam air yang akan di minum kan untuk pangeran Sima. Tapi, saat air itu di masukkan ke dalam mulut pangeran Sima, dia langsung memuntahkannya membuat semua orang terkejut.
'Tuan ku, kau tidak bisa meminum kan air itu selama aku ada di tubuhnya selama dia belum sadar' telepati ulat yang ada di tubuh Sima.
'Oh, terima kasih' balas ku.
'Sama-sama, tuan ku' balasnya.
"Bagaimana ini, kenapa dia memuntahkannya?" khawatir permaisuri Yu.
"Hamba tidak tahu yang mulia, karena pangeran tidak sadar. Tapi, bisa memuntahkan air ini" bingung tabib.
"Berikan pada ku, bunga teratai yang sudah di tumbuk sisa dari air itu" pinta ku.
"Ini, Queen" tabib menyerahkan bunga teratai yang di tumbuk kasar, lalu aku menumbuknya halus. Setelah itu aku letakkan pada bekas gigitan ular. Semua orang hanya menatap bingung dengan apa yang akan aku lakukan. Setelah aku meletakkan bunga teratai itu ke bekas gigitan, aku menotot beberapa organ vital pangeran Sima.
Secara perlahan, tubuh pangeran yang tadi sedikit pucat karena efek racun ular berubah dengan warna emas seperti merambat ke seluruh tubuh pangeran. Setelah itu, saat aku membuka bubuk itu, lalu keluarlah cairan darah berwarna kehitaman dari bekas gigitan ular. Hal itu membuat semua orang lega karena tubuh pangeran Sima telah kembali hangat.
"Baiklah dia sudah sehat, aku harus pergi" ucap ku sambil mengkode mata ke arah Fan yang masih ku sembunyikan aura tubuhnya.
"Ji,,,,,jie,,,," panggil lirih Sima sambil memegang kelingking kiri ku saat aku mau pergi. Panggilan itu membuat semua orang takut kalau Queen akan tersinggung.
"Jijie harus pergi sayang, jijie akan kembali lain waktu ya. Kau harus berhati-hati dalam bermain" ucap ku sambil mencium keningnya.
"Jan,,,,ji,,," ucapnya.
"Jijie, janji sayang, jadi istirahat saja. Sampai jumpa sayang" balas ku sambil membetulkan selimutnya.
"Ini hadiah untuk pangeran Sima" ucap ku sambil mengerakkan tangan ku membuat bunga teratai emas yang tadi di kolam berubah menjadi teratai biasa.
__ADS_1
"Khasiatnya akan tetap sama seperti yang barusan, aku melakukannya karena itu aman untuk paviliumnya agar tidak memancing keserakahan orang-orang yang ingin memilikinya. Ingat tabib, gunakan itu untuk kepentingan orang banyak. Jika kalian berani membongkar masalah ini, maka kalian akan tahu akibatnya" peringat ku sambil mengeluarkan sepuluh persen kekuatan ku untuk menekan semua orang yang di pavilium milik Sima sampai-sampai mereka memuntahkan sedikit darah keluar dari mulut mereka semua termasuk para sesepuh yang juga merasa lemah.