The Switched Daughter

The Switched Daughter
Berkencan 2


__ADS_3

Setelah menyembuhkan Sima, aku dan Fan melanjutkan perjalanan ke tempat yang ingin dia perlihatkan pada ku. Selama dalam perjalanan, kami bisa melihat beragam aktivitas yang dilakukan oleh semua orang. Kami memilih untuk melewati hutan saja. Tapi, pada saat kami ingin melewati hutan, lalu Fan berhenti karena melihat beberapa orang.


"Bukankah mereka sangat bahagia?" tanya Fan sambil menunjuk ke arah seorang wanita dan dua anaknya yang sedang mengantar seorang pria yang sepertinya adalah suaminya.


"Hemm,,," balas ku jutek.


"Aku memimpikan keluarga yang seperti itu. Tapi, sayangnya aku terlahir dari keluarga kaya dan keluarga yang sangat kaya di dua kehidupan ku" sendunya sambil terus menatap kedepan, dimana sepertinya satu keluarga sedang saling melambaikan tangan tanda mengucapkan salam perpisahan.


"Seharusnya kau bahagia, karena kau bisa membantu mereka yaitu dengan memberi mereka koin. Karena tidak semua keluarga sama seperti dirimu yang bisa mendapatkan apapun sesuka hatimu. Contohnya seperti mereka yang harus berpisah karena suaminya atau ayahnya harus pergi bekerja untuk mendapatkan koin untuk membeli keperluan mereka sehari-hari. Memangsih sebagian keluarga ada yang tidak ingin di berikan koin dengan cuma-cuma, karena mereka menghargai kerja keras. Tapi, kau bisa memberikan pekerjaan untuk merekakan. Jadi, lakukan saja hal itu" senyum ku kepadanya, saat dia menatap ke arah ku.


"Ah, benar juga" balasnya tersenyum menatap ku.


"Apakah masih lama, haruskah aku menggunakan kekuatan ku untuk membawa kita ke tempat yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya ku.


"Kekuatan apa?" tanya Fan balik.


"Bawa kami ke hutan kekaisaran malam" cahaya emas datang, lalu kami tiba di hutan kekaisaran malam.


"Kau memiliki jurus yang seperti ini?" tanyanya.


"Sudah lama" jawab ku.


"Kenapa tidak menggunakannya dari tadi?" tanyanya.


"Untuk Apa?" bingung ku.


"Ya, untuk berpindah seperti barusan" jawabnya.


"Mana aku tahu kalau itu perlu. Jika aku melakukan hal itu, bukankah akan menyinggung diri mu. Jadi, aku memilih untuk diam saja" jujur ku.


"Seharusnya kau. Ah, sudahlah" pasrahnya.


Fan menarik tangan ku ke suatu tempat yang katanya sangat indah di kekaisaran malam.



"Sangat indah" aku terpana melihat pemandangan di depan ku.


"Memang sangat indah" balas Fan.


"Ini sangat indah karena berbentuk seperti taman kunang-kunang saja. Aku yakin kalau tempat ini kau yang buat, iyakan?" tanya ku.


"Kurang lebih iya" jawabnya.


"Apa maksud mu?" tanya ku.


"Awalnya, aku hanya melihat beberapa kunang-kunang di beberapa tempat saat aku dulu sendirian tanpa banyak yang menemani ku. Aku berpikir bahwa kehidupanku tidak akan pernah memiliki warna. Namun, saat aku melihat satu kunang-kunang bisa bersinar di gelapnya malam. Itu membuat aku berpikir bahwa aku pasti juga memiliki harapan di dalam hidup ku, meskipun dulu aku tidak tahu kapan harapan itu datang. Walaupun harapan itu datangnya hanya sekecil cahaya kunang-kunang, tapi jika dia datang maka aku tetap akan berusaha menggapainya. Jadi, setelah aku bertemu dengan diri mu saat aku berumur sepuluh tahun. Aku berpikir bahwa harapan cahaya yang selama ini aku impikan telah datang. Tapi, aku berpikir kembali bahwa akankah kau menjadi cahaya dalam hidup ku karena kita sangat jarang bertemu karena selalu saja ada hambatan. Jadi, untuk mengubah rasa bosan ku, aku mengumpulkan kunang-kunang itu kemari untuk mu, karena kaulah orang yang telah memberikan setitik cahaya dalam kehidupan gelap ku. Sama persis seperti kunang-kunang ini. Jadi, Kim Mona sang Queen mafia di zaman modern, dan sang ratu dari kekaisaran bulan. Di depan rembulan yang menjadi saksinya, maukah kau menjadi ratu kunang-kunang dalam kegelapan ku. Maukah kau menjadi wanita pertama yang akan memarahi ku saat aku berusia dua puluhan. Will you marry me, Kim Mona?" tanya Fan sambil bersimpuh satu kaki di depan ku dengan memegang satu tangan ku.


"Maaf Fan, sayangnya aku bisa melihat sedikit gambaran masa depan. Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak ingin ada wanita lain bukan. Jadi, bagaimana kau bisa meyakinkan diriku bahwa tidak akan ada wanita lainnya dalam hidup mu?" tanya ku balik.


"Kau bisa melihat sedikit gambaran di masa depan. Jadi, apakah gambaran itu adalah gambaran bahwa aku memiliki wanita lain?" tanya Fan.

__ADS_1


"Bukan" jawab ku sambil mengelak dari pandangan matanya dengan cara aku melihat pemandangan di sekitar ku.


"Ya sudah, lalu apa masalahnya jika bukan?" tanya Fan sambil berdiri, lalu dia menarik ku pelan agar menatap ke arahnya.


"I,,,itu" gagap ku sambil tetap tidak mau menatap matanya.


"Ada apa?" tanyanya sambil mencepit pipiku dengan tangan kanannya, dan membuat aku menatap ke arah matanya.


"Itu, aku melihat semua orang akan bersedih karena kehilangan diriku dari dunia ini termasuk dirimu. Tapi, aku tidak tahu kapan, apa penyebabnya dan siapa yang melakukannya. Yang jelas kalian semua akan sangat terpukul dan bersedih" jawab ku sambil menatap matanya. Saat mendengar ucapan ku, dia langsung melepaskan tangannya dari bahu dan juga pipiku.


" Kau menganggap aku adalah cahaya mu. Tapi, jika kau berhubungan dengan ku, maka aku akan menjadi kegelapan dalam hidup mu suatu hari nanti" lirih ku sambil memegang tangannya, dan tanpa aku sadari bahwa air mata ku juga tiba-tiba jatuh tepat di atas tangannya. Hal itu membuat dia menatap ke arah ku.


'Takdir yang Engkau berikan, sungguh aneh Tuhan. Kau membuat aku mati di tangan orang yang aku cintai ketika aku berada di zaman modern. Sedangkan di sini, Kau membuat aku tiada demi melindungi keluarga ku yang sangat aku cintai. Sepertinya takdir ku selalu terikat dengan kepedihan dalam merasakan cinta dalam kehidu,,,,,' gumam ku di dalam batin ku terpotong karena Fan memelukku.


"Aku akan membuat mu merasakan bahwa cinta itu ada, dan cinta ku tidak akan pernah mengkhianati mu" hiburnya sambil memelukku.


"Aku percaya cinta itu ada Fan. Hanya saja, aku tidak ingin kau bersedih karena diri ku jika nanti aku pergi. Jadi, lebih baik jangan dimulai dari pada harus tersakiti" sendu ku sambil mengeratkan pelukan ku padanya.


"Mungkin aku memang bersedih karena kehilangan dirimu. Tapi, memangnya kau tidak akan kembali lagi?" tanyanya.


"Mungkin iya dan mungkin tidak. Karena kau pernah mendengar atau tidak, tentang ramalan ku yang akan memiliki adik berambut berwarna seperti perak. Maka jika ramalan itu benar, mungkin saja aku bisa kembali. Kau sudah tahu jika rambut ku berwarna emas bukan. Ramalan itu mengatakan bahwa permaisuri Yu akan memiliki putri berambut emas dan putri berambut perak. Suatu hari nanti, putri berambut perak akan menjadi obat dari putri berambut emas. Aku hanya berharap, jika ramalan itu benar, maka adikku tidak akan kenapa-kenapa hanya demi mengobati ku" jawab ku.


"Bukankah permaisuri Yu saat ini sedang hamil lima puluh hari. Jadi, mungkin saja dia adalah adik mu yang berambut perak. Bagiku tidak masalah jika kau nantinya akan pergi. Tapi, bisakah mulai dari sekarang aku menjadi kekasih mu, dan kau adalah kekasih ku" tanyanya.


"Apakah aku boleh menganggap ini sebagai kau menyatakan cinta mu pada ku?" tanya ku.


"Sudah berapa kali aku mengatakannya perasaan aku padamu. Walaupun tidak dengan kata-kata langsung bahwa aku mencintaimu" selidiknya menatap ku.


"Ahh, hhehehe" cengir ku.


"Kau menginginkan jawaban apa?" tanya ku dengan nada bercanda.


"Jangan menguji kesabaran ku, Kim Mona" kesalnya.


"Baiklah, aku hanya bercanda dengan mu. Jawaban ku, ok sekarang kita sepasang kekasih" balas ku membuat senyuman terukir di bibirnya.


"Terima kasih" ucapnya sambil memelukku sebentar. Setelah dia melepaskan pelukannya, lama dia menatap wajahku membuat tatapan kami saling bertemu. Aku merasa perlahan-lahan wajahnya sudah mendekati wajah ku karena jarak di antara wajah kami semakin dekat.


"Jika kau tidak ingin cepat mati, maka sebaiknya jangan berani macam-macam Gong Ming Fan" ucapku sambil mendorong badannya dengan satu jari telunjuk ku yang sebelah kanan, membuat dia terdorong mundur satu meter dari ku.


"Ais,,,,, padahal aku sudah hampir merasakan nikmatnya buah chery. Ngomong-ngomong kau mendorong ku hanya dengan satu jari telunjuk saja bisa membuat jarak sejauh ini. Jadi, bagaimana jika kau mendorong ku dengan sepuluh jari mu. Sejauh apa itu?" tanyanya.


"Apakah kau ingin mencobanya?" tanya ku tersenyum smirk ke arahnya.


"Oh tidak, terima kasih kembali. Simpan saja itu untuk orang lain" balasnya sambil menjauh dari ku dengan menggeleng-gelengkan kepala dan juga tangannya.


"Padahal enak lo, ayo kemarilah, cobalah" ujar ku sambil mengejarnya dengan menggerakkan tangannya.


"Tidak terima kasih" larinya menjauh. Aksi kejar-kejaran antara kami berdua akhirnya terjadi di taman kunang-kunang itu. Terkadang Fan bersembunyi di balik pohon, dan aku mengejarnya. Lama-kelamaan pengejaran kami bagaikan parodi tarian india yang bersembunyi di balik pohon.


"Kemarilah Fan" teriak ku sambil mengejarnya.

__ADS_1


"Tidak mau, kejarlah aku jika kau bisa" balasnya berteriak.


"Sebenarnya jika aku mau, aku bisa berada langsung di depan mu" teriak ku.


"Tidak boleh melakukan kecurangan" balasnya. Aku berlari sekuat tenaga ku untuk menggapainya. Aku fokus berusaha mendekat ke arahnya, sedangkan dia berusaha terus mengelak agar tidak aku dapat aku jangkau. Kami terlalu fokus hingga tanpa kami sadari kalau di depan kami ada jurang. Saat jangkauan ku hampir sampai, kami berdua malah jatuh ke dalam jurang dengan berguling-guling sampai ke bawah jurang. Fan memeluk tubuh ku agar tidak terlalu mengalami luka.


"Ah, sakitnya, bodohnya aku, karena seharusnya aku menggunakan jurus ku di saat seperti ini. Ini salah mu, karena aku kan bisa pergi kemanapun yang aku mau dengan jurus ku. Tapi, sekarang, aku merasakan sakit gara-gara jatuh ke jurang bersama mu. Mau di taruh dimana wajah ku jika orang lain tahu kalau sang Queen mereka yang sangat cerdik, jatuh berguling ke jurang bersama kekasihnya" kesal ku kepada Fan.


"Ya, ini memang salah ku, apapun akan aku lakukan untuk mu. Tapi, itu berarti ada masanya dimana kau akan terlihat lemah juga" canda nya.


"Jangan mengejekku" kesal ku.


"Hahhaha, sekali-kali tidak apa-apa kan. Ngomong-ngomong Ini sudah malam, tidakkah kau ingin istirahat?" tanya Fan.


"Bukankah disini memang selalu malam. Memang kapan di sini ada siang?" tanya ku.


"Ah, iya juga sih" jawabnya.


"Ah, aku benar-benar lelah" gumam ku sambil berbaring di tanah karena badan ku sakit semua. Walaupun tidak ada luka yang serius, tapi itu tetap saja sakit.


"Kemarilah, tidurlah, jadikan tangan ku sebagai bantalnya" pintanya sambil menarik diriku.


"Terima kasih Fan. Bawa kami ke taman kunang-kunang" ucap ku, lalu kami tiba kembali ke taman kunang-kunang yang tadi dengan menggunakan jurus ku. Awalnya aku hanya menjadikan tangannya sebagai bantal ku dengan masih ada sedikit jarak antara kami. Namun, dia menarik ku supaya berada di dalam dekapannya. Aku bisa mencium bau bunga mawar hitam dari tubuhnya.


"Malam ini begitu indah, berada di taman kunang-kunang yang begitu indah dengan di temani oleh orang yang menjadi motivasi ku membuat taman ini" gumamnya sambil mencium kening ku.


"Fan, ada bintang jatuh" ucap ku saat membuka mataku mendengar ucapannya. Tapi, disaat yang bersamaan aku juga melihat bintang jatuh.


"Aku berharap menjalin hubungan keluarga kecil bersama mu. Jadi, berjanjilah bahwa kau tidak akan tergoda dengan laki-laki lain yang jauh lebih tampan dari ku" ucapnya ketika kami saling menatap.


"Aku berjanji. Fan berjanjilah padaku juga, bahwa kau akan mendapatkan kebahagian mu" senyum ku.


"Aku berjanji bahwa kebahagian ku hanya ada ketika bersama mu. Jika suatu hari kau tiada dengan tujuan dan niat baik. Maka aku percaya kau akan kembali, karena tidak mungkin Tuhan akan mengambil orang yang berani berkorban demi keluarganya. Jadi, dimanapun kau berada, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun. Aku pasti akan menantikan mu dan juga menunggu dirimu. Aku berjanji bahwa saat kau tiada, maka keluargamu adalah tanggung jawab ku. Karena keluarga wanita ku adalah keluarga ku juga. Aku akan terus menunggumu hingga kau datang kembali padaku. Mari lupakan tentang gambaran yang belum tentu terjadi. Fokuslah pada yang sekarang ini terjadi" ucapnya menatap ku.


"Aku berharap bahwa ucapanmu bukanlah hanya kata-kata saja" senyum ku.


"Aku akan pastikan bahwa itu bukanlah hanya sebuah kata-kata yang keluar dari mulut ku. Melainkan itu adalah sebuah kenyataan yang akan aku wujudkan di masa depan" balasnya.


"Aku juga berharap begitu" senyum ku.


"Jangan tersenyum seperti itu pada ku. Senyuman mu itu justru membuat ku ingin merasakannya" ucap Fan sambil membasahi bibirnya dengan lidahnya karena kekeringan.


"Aku sangat menjaganya dari dahulu saat di zaman modern. Jadi, jika kau hanya ingin merasakannya sekarang, maka tinggalkan aku. Karena aku bukanlah wanita murahan seperti yang di rumah-rumah penghibur" balas ku.


"Maaf, aku hanya mengatakan jangan sering-sering tersenyum seperti itu pada ku, dan pria lain. Aku tidak akan macam-macam dengan mu sebelum waktunya sudah sah" ucapnya sambil menatap mata ku. Jarak di antara wajah kami hanya berjarak lima anak jari, jarak yang sedekat itu membuat aku bisa mendengar suara nafasnya yang sedikit berat. Seperti sedang berusaha menahan hasratnya. Saat mendengar ucapannya, aku mendekatkan wajah ku dengan wajahnya membuat dia terkejut.


"Terima kasih telah mengerti, ini bayaran untuk mu" ucap ku sambil mencium bibirnya sekilas, lalu aku meletakkan telapak tanganku antara bibir ku dan dirinya. Dia mencium telapak tanganku, sedangkan aku mencium punggung tanganku.


'Kau telah mencurinya dari ku tadi. Jadi, aku mengambilnya kembali' batin ku.


'Hahaha, mengambilnya kembali ya, baiklah tidak apa-apa' balasnya sambil mengeratkan pelukan tangan kirinya pada pinggangku. Karena tangan kanannya menjadi bantal ku.

__ADS_1


'Selamat beristirahat my sweety' batinnya.


'Thanks, my dear' balas ku


__ADS_2