
Xian yang menghilang dari dunia mimpi kembali ke dunia nyata yaitu di istana bintang. Saat bangun, dia hanya memandangi wajah Yu Anchi. Namun, peramal datang tiba-tiba membuat semua orang menjadi was-was.
"Kenapa kau datang lagi" ujar sesepuh Ying.
""Aku hanya ingin meramal untuk terakhir kali" ujar peramal.
"Maksudmu" ujar sesepuh Zan.
"Aku meramalkan bahwa setiap putri pertamamu berumur lima, sepuluh, lima belas, dua puluh dan seterusnya saat umurnya kelipatan lima dia akan menghadapi situasi antara hidup dan mati. Hal itu karena dia adalah keturunan mu Zan. Ingatlah Zan, kau memiliki salah satu dari keturunanmu memiliki kekuatan yang sangat hebat. Namun, pada usianya kelipatan lima tahun dan lima hari setelah hari kelahirannya yang sesungguhnya dia akan merasakan sakit yang sangat hebat. Namun, jika dia bisa melewatinya dia akan semakin kuat, kuharap pada saat itu tiba kau ada disana. Ramalan untukmu kaisar dan permaisuri Yu, bahwa akan ada putrimu yang memiliki rambut emas dan ada yang perak. Keduanya adalah kombinasi kekuatan yang sangat hebat, dan putrimu yang berambut perak adalah obat untuk putrimu yang berambut emas pada saat usianya dua puluh lima tahun. Hanya itu ramalan yang kudapat, terserah pada kalian ingin mempercayainya atau tidak. Sampai jumpa semuanya" ujar peramal itu lalu menghilang menjadi abu.
"Ini tidak mungkin, tidak mungkin, sungguh tidak mungkin" ujar sesepuh Zan dengan ekspresi syoknya yang membuat semua orang bingung.
"Ada apa ayah?" ujar permaisuri Yu.
"Bukan apa-apa" ujar sesepuh Zan dengan suara bergetar seolah-olah sedang menahan tangisnya sambil berlalu pergi.
"Sebenarnya ada apa" ujar sesepuh Ying.
"Sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan ramalan tadi. Mungkin saja, dia sudah mendapat gambaran sedikit tentang masa depan dengan menggunakan kekuatan matanya" ujar sesepuh Mao.
"Mungkin saja" ujar semua orang.
"Baiklah, ini sudah sore hari sebaiknya kita sudahi dulu acaranya dan kita lanjutkan nanti malam" ujar sesepuh Mao.
"Baik sesepuh Mao" ujar semua orang sambil berlalu pergi. Namun, mereka antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan kaisar iblis.
"Karena tidak ada hal yang keren lagi, aku akan pulang" ujar kaisar iblis sambil menghilang.
"Ahhhh akhirnya lega" ujar semua rakyat sambil mengelus dada mereka.
Semua orang bubar ke kediaman masing-masing, berbeda dengan Yuan yang masih berada di dunia mimpinya atau masih tidur.
"Aisssss, kakek tua, kau yang pertama kali kulihat dari para wanita tadi yang kau bilang kalau dia nenekku. Tapi, malah kau yang belum pergi" ujarku.
"Ini juga karena mu" ujarnya.
"Kenapa karena diriku?" tanya ku.
"Karena kau tidak mau menerima kekuatanku" ujarnya kesal.
"Aku sudah mengatakannya tadi bukan. yakinkan aku agar menerima kekuatan yang anda miliki" ujar ku.
"Aissss, apa yang saat ini kau inginkan" ujarnya.
"Tidak ada" ujar ku.
"Emas mungkin, tahta atau awet muda" ujarnya.
"Tidak semuanya" ujar ku.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Aku tidak butuh emas, tahta dan awet muda" ujarku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku sudah memiliki emas, aku sudah memiliki tahta milik ayahku dan semua orang akan tua, jadi untuk apa awet muda. Lebih baik tampil apa adanya dari pada harus membohongi orang lain dengan wajah cantikmu. Semua hal di dunia ini yang berbentuk yang hal itu milikmu sendiri, tidak akan ada gunanya ketika kau pergi. Hal yang akan kau bawa saat tiada yaitu sedekah atau bantuan yang kita berikan ke orang lain " ujarku.
"Hahaha" ujarnya.
"Kenapa?" tanya ku.
"Tidak ada, ahhhh mereka sudah pada pergi" ujar serigala itu membuat aku bingung.
"Siapa?" tanya ku.
"Keluarga pihak ayahmu dan juga peramal itu" ujar nya sendu.
"Peramal pergi, kapan?" tanya ku.
"Barusan" ujarnya.
"Kok bisa?" tanya ku.
"Itu takdir kami" ujarnya.
"Takdir, apa penyebabnya?" tanya ku.
"Lalu, kenapa anda belum pergi bahkan kedua wanita tadi sudah pergi" ujar ku
"Kau masih bertanya kenapa" ujarnya kesal.
"Ahhhhh hahaha, sudahlah kakek tua, aku hanya bercanda denganmu tadi" ujarku.
"Jadi, kau mau menerima kekuatan ku" ujarnya.
"Tidak" ujar ku.
"Kenapa?" ujarnya.
"Bukan aku yang akan menerima kekuatan mu. Tapi, andalah yang harus menerima kekuatan ku" ujarku membuatnya bingung.
"Maksudmu?" ujarnya.
"Aku tidak tau apa masalahnya, tapi yang aku yakini yaitu memiliki mata dengan warna berbeda itu bagus karena memiliki kelebihan kekuatan. Namun, aku juga yakin pasti ada sesuatu yang menjadi imbalannya. Jadi, lebih baik berjaga-jaga, sudah cukup aku memiliki tiga warna berbeda di mataku yaitu emas diawal lalu biru dan hijau. Jadi, jika aku menerima kekuatan mu otomatis mata merahmu itu juga akan aku miliki bukan kakek tua" ujar ku.
"Ya, memang" ujarnya.
"Hal itulah yang tidak aku inginkan. Namun, sedikit keistimewaan kekuatan mu, aku mau" ujar ku.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti maksudmu" ujarnya.
"Begini" ujar ku sambil mengeluarkan cahaya emas dari tubuhku dan mengarahkannya ke serigala itu.
Ketika cahaya emas milikku memasuki tubuhnya. Awalnya dia diam tidak merasakan apapun tapi lama kelamaan cahaya emas milikku seperti berada di seluruh badannya yang membuat dia mengaduh kesakitan.
"Kau,, apa warna bakat aslimu?" tanya dirinya.
"Emas" ujar ku santai.
"Apaaaa" ujarnya.
"Kenapa?" tanya ku.
"Di umurmu baru lima tahun kau telah sampai warna emas" ujarnya.
"Aku tau di umurku dua tahun lebih" ujar ku membuatnya terkejut.
"Jangan bercanda, auhhggh" ujar nya.
"Kenapa?" tanya ku.
"Ini sangat sakit, warna bakat ku masih putih" ujarnya.
"Kenapa tidak bilang dari awal" ujar ku.
"Mana aku tau warna bakat kekuatanmu emas" ujarnya.
"Aissss, aku juga tidak tau anda belum mencapai level emas. Lalu bagaimana anda di juluki simbol penjaga" ujarku.
"Warna bakat yang kalian lihat di batu pengukur memanglah warna bakat alamimu bila kau tidak menahan kekuatanmu. Namun, warna itu bukanlah warna yang saat itu kalian ukur" ujar nya membuat aku bingung.
"Maksudnya?" tanya ku.
"Aisss, maksudnya warna yang kalian lihat pada saat pengukuran. Maka warna itulah warna terakhir bakat kalian bukan warna bakat saat kalian mengukur waktu itu" ujarnya.
"Ohhhhh" ujarku.
"Kau sudah mengerti" ujarnya tersenyum.
"Belum" ujar ku membuat senyuman di wajahnya hilang.
"Kalau kau belum mengerti, kenapa mengatakan ohhh seolah-olah kau sudah mengerti saja" ujarnya kesal. Namun, setelah itu sakit di tubuhnya semakin parah, aku mengetahui dari suara mengaduhnya. Aku yang merasa tidak enak hati menyuruhnya meminum darahku.
" Maaf, bukan maksudku ingin mengontrakmu kakek. Tapi, sebaiknya kau meminum darahku" ujarku dengan menyodorkan jari telunjukku kepadanya. Dia meminumnya dan terjadilah perubahan pada tubuhnya yaitu bagian sebelah kiri yang bulunya berwarna biru dengan mata merah. Berubah menjadi warna emas.
"Lebih indah" ujar ku.
__ADS_1
"Ini" ujarnya terkejut saat dia melihat pantulan dirinya dari mataku. Lalu lama kelamaan dia berubah menjadi dua cahaya yaitu merah dan biru. Lalu menjadi sebuah kalung yang didasari warna hitam dengan corak merah dan biru berbentuk Yin dan Yang.
"Selamat jalan kakek" ujarku.