
Saat ini, acara perayaan kelahiran tiga penerus dilaksanakan dengan meriah bagi semua orang. Tapi, tidak untuk Yuan, karena dia merasa sangat bosan berada di acara ini. Hingga seluruh acara telah selesai barulah Yuan bernafas lega.
"Ahhh, akhirnya selesai. Aku pergi, byeee semuanya" ujar Yuan sambil melambaikan tangannya ke semua orang membuat yang lainnya bingung.
"Byeee, itu apa" ujar beberapa orang membuat Dera, Joun dan Nana tersenyum.
Sedangkan Yuan, saat ini dia sedang pergi ke beberapa daerah perkotaan dan pedesaan. Sebenarnya entah apa yang dia cari, yang pasti dia melangkah tanpa tujuan. Hingga sampailah dia di sebuah tempat yang sangat indah. Sekeliling tempat itu ada hamparan taman bunga yang sangat indah dengan berbagai macam bunga yang warna-warni.
Yuan yang datang kesana sendirian. Meskipun tempatnya indah. Tapi, dia merasakan antara senang dan sepi karena sendirian. Yuan disana selama dua jam lalu dia kembali. Namun, saat kembali, tanpa sadar dia melangkah ke kekaisaran kegelapan.
Saat sampai di kekaisaran kegelapan, Yuan melihat di kekaisaran kegelapan hanya ada tanaman-tanaman yang berwarna hitam. Jadi, dia menggerakkan tangannya ke berbagai arah. Lalu, tumbuhlah beberapa tanaman-tanaman yang berwarna keemasan.
Yuan, juga menuliskan kata-kata dengan kekuatannya, dimana tulisan itu mengambang di udara tepat di depan beberapa kursi singasana. Setelah itu dia pergi ke sebuah desa. Saat dia sampai disana, dia melihat desa itu sangat tandus dan banyak rumah disana yang sudah tidak layak huni.
"Paman, kalian mau kemana" tanya ku saat aku melihat ada lima orang dari berbeda usia seperti ingin pergi.
"Nak, kami adalah satu keluarga. Kami ingin pindah ke daerah yang lebih bagus. Daerah ini sangat panas dan tidak ada air untuk kami bercocok tanam. Bagaimana kami hidup" ujar pria itu.
"Paman, berapa tahun kalian tinggal di sini" ujar ku kepada mereka.
"Sudah dari aku kecil. Mungkin, sudah empat puluh tujuh tahun" ujar pria itu.
"Paman, aku tidak memiliki rumah untuk aku tinggali. Jadi, bisakah malam ini aku tinggal di rumah kalian. Paman, rumah itu adalah rumah orang tuamu bukan. Jadi, cobalah untuk tinggal beberapa hari lagi. Aku akan membantu kalian untuk berubah menjadi lebih baik. Aku jamin itu, percayalah paman" ujar ku berusaha meyakinkan mereka. Namun, mereka masih ragu-ragu untuk percaya pada ucapan ku.
"Paman, jika paman tidak percaya. Maka mari kita bertaruh" ujar ku.
"Apa taruhannya" ujar pria itu.
"Tinggallah selama sebulan lagi disini Paman. Jika tidak ada perubahan juga pada desa ini. Maka paman dan keluarga paman akan aku bawa ke daerah yang lebih baik dari ini" ujar ku.
"Baiklah, satu bulan bukan masalah" ujar pria itu.
"Baik paman, bisakah beri tau aku yang mana rumah paman. Paman, bisakah paman mengumpulkan semua orang di suatu tempat" ujar ku.
"Baiklah, istriku antarkan dia kerumah. Aku akan mengumpulkan semua orang di depan rumahku, nak" ujar pria itu.
"Baik" ujar ku.
Yuan diantar kerumah mereka oleh istrinya. Sedangkan pria itu mengumpulkan semua orang di desa itu. Tidak selang berapa lama, akhirnya semua orang telah berkumpul di depan rumah pria itu. Yuan merasa terkejut karena desa ini sepertinya memiliki daerah yang cukup luas. Tapi, kenapa hanya ada cuma lima puluh delapan orang.
"Apa hanya segini penduduk di sini" tanya ku.
"Ya, nak" ujar pria itu.
"Siapa namamu paman" ujar ku.
"Namaku Piolo nak. Lalu siapa namamu" ujar nya.
__ADS_1
"Tidak tau" ujar ku.
"Apa" ujar mereka semua terkejut.
"Aku tadinya berada di samping sungai. Sepertinya aku terjatuh ke sungai" ujar ku.
"Jadi, kau tidak ingat namamu" ujar mereka.
"Tidak" ujar ku.
"Bagaimana kalau namamu kami panggil Yumi" ujar bibi yang mengantar ku.
"Namamu bibi" ujar ku.
"Mikoso" ujarnya.
"Maaf, bibi. Tapi, namamu sangat aneh" ujar ku.
"Aku tau. Tapi, orang tuaku memberi nama itu" ujar nya.
"Ahhh, maaf bibi, aku hanya ingin berkata jujur saja. Aku tidak ingin berbohong" ujar ku.
"Tidak apa-apa. Umurmu lebih muda dari anak terakhir kami yang berusia sepuluh tahun. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, nak. Jadi, katakan saja apa alasan kau mengumpulkan mereka" ujar bibi Mikoso.
"Baiklah, paman dan bibi sekalian. Jika kalian ingin mendapatkan air untuk minum itu mudah" ujar ku.
"Paman, apakah ada benda yang tidak menyerap air selain kendi-kendi dari tanah liat" ujar ku.
"Tidak ada nak" ujar semua orang.
"Baiklah, kalau begitu carilah kayu untuk membentang kain-kain yang bersih. Buatlah empat kayu tegak dari tanah untuk mengikat setiap ujung dan buatlah agar kain itu tidak sampai terkena tanah. Karena kain itu bisa menahan sedikit air embun di malam hari. Lalu ketika sebelum mata hari terbit maka remaslah kain itu untuk mengeluarkan sedikit air untuk kalian minum. Letakkan juga di luar rumah kalian, semua kendi kalian yang kosong. Mudah-mudahan itu bisa menampung sedikit air juga" ujar ku. Namun, mereka masih ragu.
" Maaf, kalian bukankah sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi bukan. Lalu, kenapa tidak melakukan apa yang aku suruh. Jadi, mari buktikan apakah ucapanku benar atau tidak" ujar ku berusaha meyakinkan mereka.
"Baiklah, kami akan mencobanya" ujar mereka semua.
Mereka semua melakukan apa yang Yuan suruh. Mereka meletakkan semua kendi yang kosong di halaman rumah mereka dan mengikat banyak sekali kain bersih di luar rumah mereka. Semua orang dewasa pada malam itu tidak bisa tidur.
Keesokan harinya sebelum matahari terbit. Sekitar jam lima pagi, mereka semua merasa bahagia karena mereka mendapatkan sedikit air. Meskipun itu sedikit, tapi itu bisa melepas dahaga mereka. Berbeda dengan Yuan yang masih tidur. Bahkan anak-anak di desa itu juga sudah pada bangun. Tapi, mereka tidak ingin membangunkan Yuan karena mereka tidak ingin mengganggu tidurnya.
Mereka mengumpulkan air dari kendi-kendi yang di letakkan diluar halaman rumah mereka di satu guci di rumah keluarga Piolo. Air itu khusus untuk Yuan. Sedangkan mereka minum dari air yang mereka peras dari kain yang mereka bentang.
Saat ini, semua orang sedang berada di rumah keluarga Piolo menunggu Yuan bangun. Saat Yuan bangun dan keluar ke halaman depan rumah keluarga Pioli, dia dibuat sangat terkejut " Ahhhhhh".
"Kenapa kalian semua disini?" tanya ku.
"Kami, menunggu dirimu bangun" ujar Piolo.
__ADS_1
"Ohhh, dimana air yang kalian tampung paman" ujar ku.
"Di sini, khusus untukmu. Kami, sudah minum air dari perasan kain" ujar Piolo.
"Langsung kalian minum, air dari perasan kain?" ujar ku.
"Ya, langsung" ujar Piolo yang diangguki kepala oleh semua orang.
"Aduh, jika kalian yang orang dewasa mungkin tidak masalah. Tapi, mereka yang anak-anak, tubuh mereka masih belum terlalu kuat. Jadi, masaklah dulu, baru kalian minum. Apa kalian mengerti?" tanyaku.
"Ya, kami mengerti" ujar mereka semua.
"Ahhh" teriak Yuan membuat yang lainnya terkejut.
Yuan berteriak karena di pikiran nya terlintas seperti sebuah mantra. Yuan mengucapkan mantra itu dan menambah hutan di ujungnya. Saat Yuan tiba-tiba menghilang membuat semua orang terkejut dan anak-anak takut. Namun, tiba-tiba Yuan kembali lagi yang membuat mereka semakin terkejut.
"Ahhhh, maaf semuanya. Aku menemukan jurus baru dan barusan aku mencobanya. Jadi, semuanya bersiap-siaplah karena kita akan ke luar desa dengan sangat cepat" ujar ku.
"Bagaimana caranya" ujar semua orang.
"Bersiap-siaplah dulu, nanti kalian akan tau juga" ujar ku.
Semua orang menuruti ucapan Yuan. Saat ini, semua orang sedang bersiap-siap. Sedangkan Yuan hanya menunggu mereka sambil memejamkan matanya.
'Yuan, aku Dragon naga emasmu. Kau memiliki beberapa hewan kontrak. Bolehkah aku menjelaskannya' telepati Dragon melalui pikirannya.
'Ya, tentu' balasku.
'Baik, kau memiliki aku sebagai hewan kontrak pertama mu. Dua singa yang bulunya agak keemasan kau beri nama Leon dan Cici. Kau memiliki dua naga lagi yang berwarna satu hijau dan satu putih yang kau beri nama Green dan White. Kau memiliki cincin dan kalung berdimensi, dan juga mahkota yang kau dapatkan karena telah berhasil menjawab pertanyaan yang belum ada yang bisa menjawabnya. Jadi, semua itu milikmu" ujar Dragon.
'Begitukah' ujar ku.
'Ya, cara kau memasuki cincin dan kalung dimensimu yaitu hanya fokuskan saja pikiranmu' ujar Dragon.
'Banyak sekali emasku' ujar ku saat memfokuskan pikiranku.
'Ya' ujar Dragon.
Setelah telepati Yuan dan Dragon. Akhirnya semua telah selesai bersiap-siap. Ketika semua berkumpul Yuan menyuruh mereka seperti yang biasanya dulu dia lakukan yaitu menyuruh mereka berpegangan tangan.
Saat ini, mereka semua sedang berada di pasar. Yuan meminta para wanita dewasa untuk membeli beberapa bahan makanan yang siap untuk dimasak. Yuan menyuruh para pria dewasa untuk membeli semua bibit yang bisa diolah untuk menjadi bahan makanan. Baik itu buah-buahan atau bahan makanan pokok mereka beli semua. Yuan juga menyuruh mereka untuk membeli beberapa bahan yang bisa menampung air tanpa menyerapnya. Sedangkan anak-anak, Yuan menyuruh mereka untuk memilih beberapa pakaian dan makanan yang sudah siap dimakan yang di jual di pasar. Mereka semua sangat senang karena mereka bisa membeli beberapa bahan yang menurut mereka itu sangat susah mereka miliki.
Awalnya memang mereka ragu ingin mengambil koin Yuan. Tapi, mereka menurutinya saat dia mengatakan kalau dia akan memotongnya dari hasil panen mereka nanti. Jadi, semua orang menuruti ucapan Yuan untuk menerima uang itu. Saat ini mereka semua sedang berada di hutan untuk mencari kayu bakar untuk menghidupkan api.
Sedangkan di kekaisaran bulan, bintang dan Wang dibuat cemas karena Yuan tidak pulang. Berbeda dengan kekaisaran kegelapan, dimana mereka dibuat terkejut karena perubahan di kekaisaran mereka. Perubahannya yaitu ada beberapa bunga-bunga dan ukiran-ukiran berwarna emas. Bukan hanya itu, mereka juga di buat terkejut karena tulisan itu bertuliskan 'Maaf. Tapi, kekaisaran anda sangat lemah dalam penjagaan'.
"Sebenarnya siapa lagi orang ini" ujar kaisar kegelapan sambil melihat ke sekelilingnya. Namun, dia begitu terkejut saat melihat bahwa putrinya tidak ada.
__ADS_1
"Dimana Ying Wie" ujar kaisar kegelapan membuat yang lainnya juga melihat ke arah sekeliling untuk mencari Ying Wie.