
Saat darah kaisar dan permaisuri Yu diambil dari mereka dengan paksa. Semua orang yang mengenal siapa yang akan datang jika menggunakan kedua darah itu menjadi begitu memberontak dan berusaha mencegah darah itu sampai kepada orang pintar itu.
"Kenapa kalian bereaksi saat darah kaisar dan permaisuri Yu diambil?" tanya kaisar siang dengan nafa mengejek. Semua orang tetap saja memberontak hingga kaisar siang hanya fokus pada pangeran Ming Fan.
"Kenapa kau begitu bereaksi terhadap hubungan darah keluarga Yu. Aku hanya ingin memanggil Wang Yuan bukan An,,,," ucapan kaisar siang terhenti karena dia baru menyadari sesuatu.
"Tunggu dulu, saat kau menggunakan darah keluarga Wang maka yang muncul adalah sang putri dari kekaisaran Yu. Jadi, mungkinkah mereka telah tertukar?" pertanyaan kaisar siang membuat semua orang juga ikutan berpikir.
"Itu mungkin saja yang mulia, karena hamba pernah mendengar kalau para putri dan pangeran tenggelam sebentar di acara Kurol. Mungkin disanalah mereka tertukar" ucap jenderal kaisar siang.
"Oh, begitukah?" senyum kaisar siang.
"Aku jadi tidak sabar, jadi cepatlah panggil saja dia" semangat kaisar siang.
"Dengan menggunakan kedua darah ini, aku memanggil putri pertama mereka kesini. Tidak peduli kau berada di manapun baik itu di ruang dimensi atau di dalam tanah, maka tetaplah datang ke dekat darah kedua orang tuamu" ucap orang pintar itu sambil melempar darah kaisar dan permaisuri Yu ke tengah-tengah aula kekaisaran bintang yang bersebelahan dengan orang-orang dari kekaisaran Yu yang sedang di rantai.
Setelah pria itu mengucapkan kata-katanya, lalu datanglah asap hitam di dekat darah kekaisaran Yu yang telah di campak di sana. Setelah asap hitam itu menghilang, terlihatlah wanita yang wajahnya mirip dengan permaisuri Yu, dengan rambut berwarna emas, wajahnya pucat, dengan pakaian yang serba putih dan dikelilingi oleh bunga mawar putih di sekitar tubuhnya. Wanita itu terbaring kaku di atas sebuah tempat yang seukuran dengan tubuhnya.
"Tidak" terkejut semua orang yang mengenali siapa wanita itu.
"Tidak, Yuan kau telah berjanji pada jijie untuk selalu menemani jijie" lirih Yu Yan saat dia tahu bahwa wanita itu adalah adiknya.
"Queen, kau pernah bilang bahwa kau akan menjadi penghalang utama dari kaisar siang untuk menguasai dan menghalangi jalannya menguasai seluruh dunia. Maka kini bangunlah" lirih Nana dan Dera.
"Apapun keputusan yang kau ambil kakak laki-lakimu akan selalu bersamamu. Karena adikku selalu memiliki seribu satu macam cara dia menciptakan kejutan untuk dunia. Jadi, lanjutkan apapun yang ingin kau lakukan" senyum getir Joun saat melihat adiknya yang terbaring kaku di tengah-tengah aula. Setelah ucapan Joun, bunga-bunga berguguran dan berterbangan mengelilingi tengah-tengah aula. Semua bunga-bunga itu terus berterbangan disana.
"Putri pertama permaisuri Yu yang diramalkan selama ini ternyata benar, ya" ucap kaisar siang sambil berjalan ke arah Mona yang terbaring kaku dengan di kelilingi bunga mawar putih dan bunga-bunga yang berterbangan.
"Dia cantik, berambut emas, dan telah menjadi Queen dari kekaisaran bulan" ucap kaisar siang ingin mendekat ke arah Mona. Namun, kelopak bunga yang tadinya berterbangan pelan berubah menjadi cepat, saat kelopak bunga itu mengenai tubuh kaisar siang tubuhnya langsung terluka dan mengeluarkan darah.
"Lakukan apapun, buat dia berada tepat di depanku karena aku akan membuat dia hidup kembali dengan menggunakan darahku di bagian lukanya" teriak kaisar siang sambil menunjuk ke arah orang pintar yang tadi membaca mantra ikatan darah anak dan orang tuanya.
"Sudah cukup" teriak pria itu.
"Apa maksudmu?" tanya kaisar siang.
"Sudah cukup selama ini kau memerintah dan meneriakiku dengan berbagai perintah, tapi tidak untuk kali ini. Selama ini aku tidak bisa memiliki seorang putri, padahal aku terus bermimpi memiliki seorang putri yang begitu cantik. Kini aku mendapatkannya, disaat dia tidak bisa mendapatkan perlindungan dari keluarga kandungnya maka aku yang akan melindunginya dengan nyawaku. Soal luka yang dia alami, dia begitu hebat karena memilih mengorbankan jiwanya demi melahirkan anak kembarnya" jawab pria itu membuat semua orang terkejut.
"Anak kembar?" terkejut semua orang.
__ADS_1
"Ya, dia telah menikah dengan pria yang dia cintai dan berkorban nyawanya demi anak kembar mereka" ucap pria itu.
"Jadi, kau ingin membangkang perintah dariku hah, apa kau bisa melawanku?" marah kaisar siang.
"Dia memang tidak bisa, tapi kami bisa" suara menggema di seluruh kekaisaran bintang. Lalu, keluarlah semua hewan kontrak Mona, baik itu tiga harimau putih, dua singa berbulu keemasan, empat naga dan beberapa lainnya.
"Kalian?" terkejut semua orang saat melihat semua hewan kontrak itu adalah hewan kontrak yang begitu hebat-hebat.
"Kami adalah hewan kontraknya" jawab Dragon.
Setelah ucapan dari Dragon, lalu awan yang tadinya begitu cerah berubah menjadi sangat hitam seperti dahulu saat para kaisar melawan kaisar iblis. Di tengah-tengah awan yang menghitam, muncullah portal yang berwarna hitam yang menyedot masuk semua orang yang memiliki hati yang jahat seperti kaisar siang. Setelah semua orang yang memili hati jahat masuk ke dalam portal itu, awan yang tadinya terdapat portal di dalamnya berubah menjadi awan mendung yang menurunkan hujan rintik-rintik. Kini seolah-olah hujan ini juga mewakili kesedihan yang dialami semua orang yang disana. Seiring dengan hujan itu, tubuh Mona perlahan-lahan memudar.
"Darling, terima kasih telah melahirkan anak kita, tapi kenapa harus dengan mengorbankan nyawamu?" tanya Ming Fan sambil menghampiri Mona yang terbaring kaku di tengah-tengah aula saat rantai yang mengikatnya telah lepas.
"Ada apa dengan kalian" suara Mona menggema di seluruh kekaisaran bintang. Lalu, muncullah wajah Mona di atas mereka semua, disana wajah Mona begitu cantik. Tapi, itu hanyalah ilusi rekaman Mona sebelum dia tiada, dia melakukan rekaman itu saat di rumah pohonnya di kekaisaran Yu.
"Darling, terima kasih karena telah mencintaiku dengan tulus dan terima kasih karena telah menjadikanku ibu dari anak-anakmu. Jika boleh aku meminta sesuatu padamu, tolong pastikan anak-anak kita tidak kehilangan sosok ayahnya. Karena sudah cukup mereka kehilangan sosok ibu mereka. Kumohon, darling".
"Ying Wie dan lainnya dari kekaisaran kegelapan, tolong pastikan bahwa dia melakukan tugasnya sebagai seorang ayah, dan tolong didik anak-anakku menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat, kekaisarannya, dan orang tuanya".
"Keluargaku dari kekaisaran bulan, tolong tetap seperti saat aku ada bersama kalian. Kalian telah menjadi keluargaku saat aku berumur lima tahun. Jadi, tolong tetap menjalankan apa yang selama ini kita jalankan. Aku minta maaf karena aku selalu membuat kalian kerepotan selama ini".
"Keluargaku dari kekaisaran Wang, aku akan selalu mencintai kalian seperti aku mencintai keluargaku sendiri. Entah kalian sudah tahu atau tidak, tapi aku bukanlah putri kandung kalian. Namun, aku tetap akan mencintai kalian dengan setulus hatiku. Jadi, tolong maafkan aku atas kekacauan yang telah aku buat selama ini. Selama ini, sebenarnya aku tahu siapa keluarga kandungku tapi aku begitu egois dengan tetap mengharapkan mendapatkan kasih sayang dari kalian. Sungguh maafkan aku".
"Xian, Sima, dan Gui, kalian adalah pedang-pedangku yang sangat aku andalkan. Jadi, tolong bantu aku melindungi ibunda permaisuri Yu dan juga ibu Wang untukku. Sima sayang, tolong lindungi adik kecilmu untuk jijiemu ini".
"Kim Jountae, aku sangat berterimakasih kepadamu karena telah menjadi pria yang selalu mendukungku. Entah brother merasakannya atau tidak, tapi aku merasa kalau hanya brotherlah yang tidak akan pernah meragukan keputusan yang aku ambil. Brother, tolong cintai wanitamu sampai ajal menjemput kalian berdua".
"Kim Dera, Kim Nana, dan Kim Jountae tolong bantu aku agar mendidik ketiga anakku dengan penuh kasih sayang. Tolong bantu aku agar memberikan mereka kasih sayang dari pihak ibunya agar mereka tidak kekurangan kasih sayang dari keluarga ibunya".
"Ibunda permaisuri Yu, ibu permaisuri Wang, dan ibu mertuaku, kalian adalah tiga Dewi yang di berikan untukku. Aku memiliki tiga orang bayi, jadi tolong beri nama kepada mereka dan didik mereka dengan nilai-nilai dan tata Krama dari kalian bertiga".
"Aku sangat mencintai kalian semua dengan setulus hatiku, kalian memiliki tempat tersendiri di dalam lubuk hatiku. Jadi, maafkan aku, aku harus pergi". Suara dan gambaran wajah Mona menghilang di tengah-tengah aula bersama dengan menghilangnya tubuh Mona yang di tempat bunga mawar putih. Seluruh hewan kontrak Mona juga satu persatu menghilang menyatu dengan udara.
Kini kesedihan benar-benar terasa di hati semua orang, mereka terduduk lemas tidak berdaya setelah melihat kata-kata terakhir Mona yang di khususkan untuk mereka semua.
Uwek,,, uwek,,, uwek,, uwek.
Suara empat bayi saling bersahutan disaat semua orang sedih karena kepergian Mona. Keempat bayi itu muncul di tempat yang tadi di tiduri oleh Mona. Keempat bayi itu memiliki warna rambut, dan mata yang berbeda-beda. Saat mendengar teriakkan keempat bayi itu, para permaisuri dari kekaisaran Yu, Wang, dan kegelapan turun ke tengah-tengah aula.
__ADS_1
"Ibunda, bayi perempuan yang memiliki benang putih di tangannya adalah adikku. Sedangkan tiga lainnya mungkin adalah keponakanku" ucap Sima yang juga ikutan berjalan ke tengah-tengah aula untuk melihat adiknya dan keponakan-keponakannya yang begitu menggemaskan.
"Ming Fan, berikanlah nama untuk anak-anakmu" perintah ketiga permaisuri kompak.
"Tapi, bukankah dia mengatakan kalau kalianlah yang akan memberikan nama untuk mereka" sendu Ming Fan.
"Airi, Aina, Jun, dan Mayumi" ucap bayangan seorang pria dan wanita datang menghampiri mereka semua.
"Ayah/ayah mertua" kompak sesepuh Zan dan sesepuh Ying.
"Itu adalah nama-nama yang di berikan ibu mereka untuk mereka" ucap keduanya kompak. Lalu, pria itu menggerakkan tangannya ke arah tengah-tengah aula, dan lagi-lagi wajah Mona yang terlihat disana. Namun, kali ini wajahnya terlihat sangat tua dan lemah. "Itu?" terkejut semua orang karena disana terlihat wajah Mona yang lebih tua dari wajah permaisuri Yu sekarang.
"Kau bisa memilih ingin melahirkan anak-anakmu atau kehilangan mereka. Pilihannya berseberangan dengan pertahanan tubuhmu. Jika kau memilih menyelamatkan anak-anakmu, maka nyawamulah yang menjadi korbannya. Begitupun jika kau memilih pilihan yang sebaliknya" ucap Green.
"Aku telah mengandung mereka selama sebelas bulan dan kau ingin aku memilih nyawaku dengan mengorbankan mereka" marah Mona sambil melemparkan tatapan kebencian kepada Green.
"Ayolah aku hanya mengatakannya, karena akan sulit bagimu melahirkan bayi kembar tiga di usiamu yang baru delapan belas tahun" green berusaha membela dirinya.
"Kau bilang apa?" terkejut Mona.
"Apa?" tanya green balik.
"Kau mengandung tiga anak kembar, dua diantaranya adalah wanita dan satu diantaranya pria" ucap dragon. Saat dragon mengatakan hal itu, ekspresi wajah Mona menjadi berubah.
"Ada apa?" tanya keempatnya saat melihat wajah kesakitan Mona terlukis di wajah Mona.
"Argh,,," erang kesakitan Mona karena perutnya berkontraksi.
"Bisa tolong bantu aku, jika aku benar-benar tiada maka tolong pakaikan aku pakaian yang diberikan oleh kaisar Yu kepada permaisuri Yu di saat aku dilahirkan dulu" pinta Mona sambil menahan ekspresi kesakitan di wajahnya.
"Dari mana kau tahu?" tanya White.
"Aku mengingat semua ingatan dari aku kecil, aku sangat ingat kalau dulu ibuku memakai pakaian putih pada saat kelahiranku bukan kelahiran Xian".
"Baiklah, kami akan mengambilnya untukmu" ucap dragon.
"Tidakkah kau ingin menamai ketiga anakmu?" tanya Rain.
"Aina, Airi, Jun, dan adik kecilku Mayumi. Tapi, aku tidak ingin mengambil alih penamaan mereka karena ada yang lebih berhak menamai mereka".
__ADS_1
Setelah gambaran penamaan itu terlihat di tengah-tengah aula. Lalu, digantikan dengan saat dimana Mona berjuang sendirian untuk melahirkan anak-anaknya secara normal. Tepat setelah tiga malaikat kecil telah dilahirkan ke dunia ini. Mona menutup matanya dengan mengukir senyuman saat dia menatap tiga anaknya selamat dan bergerak di dalam dekapannya. Lalu, memperlihatkan dirinya yang telah di pakaikan pakaian serba putih milik ibunya setelah tubuhnya di bersihkan.
Setelah gambaran Mona terbaring barulah kakek buyutnya Mona mengatakan "segala pilihan ada pada tangannya, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa saat dia memilih melahirkan anak-anaknya dibandingkan nyawanya sendiri. Jadi, rawatlah dengan baik-baik mereka yang dianggap olehnya adalah para malaikat kecilnya" ucap kedua orang itu sambil menghilang di depan semua orang seperti Mona dan hewan kontraknya menghilang.