The Switched Daughter

The Switched Daughter
Tidak semua hubungan berdasarkan dengan ikatan darah saja


__ADS_3

Mona turun dari pohon, lalu dia melangkahkan kakinya ke tempat perjamuan makan itu. Saat Mona melangkah semakin mendekati mereka semua, semua orang terdiam membeku dengan dua ekspresi wajah. Yaitu sebagian ada yang kagum dan sebagian lagi ada yang meneteskan air matanya.


Mona terus berjalan ke arah permaisuri Yu dengan punggungnya masih memiliki sayap seperti sayap kupu-kupu. Saat Mona telah sampai di depan ibunya, dia menusuk ibu jari tangan kanan permaisuri Yu hingga mengeluarkan sedikit darah. Lalu, dia menggerakkan tangan ibunya ke arah tengah keningnya.


Setelah darah permaisuri Yu melekat di kening Mona, sayap Mona menghilang tiba-tiba. "Terima kasih, ibunda, sayap itu membuat punggungku berat" ucap Mona sambil mencium punggung tangan ibunya.


Mona berjalan ke arah permaisuri Wang, setelah itu dia berjalan ke permaisuri kegelapan. Mona mencium punggung tangan keduanya sambil mengucapkan terima kasih karena telah menjadi ibunya.


"Ehem,,,,,ehem,,,apa ada yang aneh dengan wajahku, kenapa kalian menatapku begitu" tunjuk Mona ke arah wajahnya sendiri karena dia melihat semua orang menatap ke arahnya dengan tatapan diam tanpa berbicara.


"Mona, aku merindukan dirimu" teriak kompak Kety dan Dera heboh.


"Diam" Mona menjentikkan jarinya lalu membuat semua orang terikat rambat hijau miliknya. Mona berjalan ke arah Ming Fan dan lima anaknya sambil tersenyum. Namun, tiba-tiba Mona menghentikan langkahnya saat tiga meter lagi mendekati Ming Fan.


"Kau bau" ucap Mona sambil menatap dingin ke arah Ming Fan.


"Bau?" kompak bingung lima malaikat kecil Mona.


"Aku tahu, aku akan membersihkan kembali tubuhku" ucap Ming Fan.


"Tidak perlu" Mona menjentikkan jarinya, lalu kupu-kupu mengelilingi tubuh Ming Fan.


"Tidak ada yang berubahpun, aku tetap melihat ayahanda seperti tadi?" bingung Ming Nyoko.


"Yang ibundamu maksud aku bau adalah aku tidak memakai pewangi yang biasanya aku gunakan saat bersama ibundamu. Sejak dia pergi dulu, aku mengganti pewangi tubuhku" jawab Ming Fan sambil menatap ke arah Mona.


"Benarkah?" bingung semua orang.


"Asam, pedas, aku datang" celetuk Mona ketika dia melihat menu masakan Mayumi kebanyakan adalah makanan kesukaannya.


"Sayang, siapa yang membuatnya?" tanya Mona kepada Mayumi sebelum dia makan.


"Ibu" jawab Mayumi.


"Oh" Mona memberikan senyumannya. Lalu, dia mulai makan.


'Dia tetap sama, makan duluan tanpa menunggu' batin semua orang yang mengenal tingkah laku Mona.


"Ibunda" panggil Airi ke arah Mona yang memilih duduk di meja Mayumi yang tepat di samping meja Ming Fan dan anak-anaknya. Mona tidak menjawab dan berbicara sepatah katapun, dia hanya menggerakkan tangannya ke arah Airi untuk tanda agar mendekatinya.


"Yee,,,," teriak semangat Airi sambil berjalan ke arah ibunya.


"Ibu, atu ingin ini" tunjuk Airi ke makanan pedas di meja Mona. Mona hanya memindahkan makanan yang di tunjuk oleh Airi semakin menjauh dari Airi.


"Ah,,,,atu mau i,,mmm" ucapan protes Airi terpotong karena Mona menyumpal mulut Airi dengan nasi dengan lauk yang tidak pedas.


"Iunda, au maua iyu (ibunda aku maunya itu)" gumam Airi sambil mengunyah nasi di mulutnya. Saat Mona mendengar gumaman Airi, dia memberikan tatapan tajam untuk Airi.


"Saat makan ibumu sangat keras, tidak boleh ada yang berbicara saat makan" ucap Alex, Kety, Dera, Nana, dan Joun kompak. Kelimanya sangat terkejut karena mereka kompak dalam berbicara.


Mona menatap ke arah empat anaknya lainnya masih dengan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


"Kami akan mengingatnya ibunda" senyum Nyoko mewakili semua adik-adiknya. Mona tersenyum ke arah kelima anak-anaknya. Lalu, dia mengkode empat anaknya yang lainnya untuk berjalan ke arahnya. Tapi, hanya Nyoko dan Nene yang mendekati Mona, tidak dengan Jun dan Aina yang menatap ibunya dengan tatapan tajam, tapi tatapan itu bukan tatapan kebencian melainkan tatapan kerinduan.


"Hah" Mona menyelesaikan suapan makanannya.


"Ibu tahu kalian adalah orang yang hebat, tapi tidakkah kalian ingin membantu ibu. Ibu ingin menyuapi kalian makan" senyum Mona ke arah dua anaknya yang masih tidak mendekatinya dan tidak menyentuh makanan mereka.


"Tentu" dingin keduanya sambil berjalan ke arah Mona.


'Aduh, sepertinya gen dinginmu dan gen dinginku menurun kepada keduanya' telepati Mona kepada Ming Fan.


"Hahahaha" tawa Ming Fan tiba-tiba membuat semua orang bingung kenapa dia tertawa dengan tiba-tiba. Namun, saat mereka melihat kalau Ming Fan tertawa sambil melihat ke arah Mona, sedangkan Mona hanya tersenyum.


'Apa mereka sedang berbicara' batin para keluarga kaisar kegelapan.


"Kenapa belum ada satu orangpun yang akan memanggilku bibi selain anak-anak dari kakak pertamanya Ming Fan" celetuk Mona tiba-tiba sambil menyuapi anaknya karena dia melihat semua orang belum menyentuh makanan mereka.


Setelah mendengar ucapan Mona, semua orang langsung mulai memakan makanan mereka agar tidak bisa menjawab pertanyaan Mona.


"Aku ingin nantinya kalian memberikan jawaban yang memuaskan" celetuk Mona sambil melihat mereka yang mengelak dengan cara langsung makan makanan mereka. Semua orang makan dalam keadaan hening tanpa suara.


Semua orang hanya sesekali menatap Mona yang sedang tersenyum ke arah anak-anaknya sambil menyuapi mereka makan. Semua orang merasa kebahagiaan mereka telah datang mulai hari ini karena kedatangan Mona.


"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting dalam pikiran kalian" celetuk Mona sambil tetap fokus kepada menyuapi makanan untuk anak-anaknya.


'Aduh' terkejut semua orang di dalam hati.


"Aku harus pergi dulu, aku akan kembali nanti. Sayang, makan sendiri dulu ya" Mona melangkahkan kakinya meninggalkan semua orang yang menatapnya dengan tatapan sedih.


"Apakah lama ibu?" tanya Nyoko penuh harap.


"Tidak sayang".


"Boleh Nyoko ikut?"


"Sayang, ibu harus adil. Jika ibu membawamu, maka harus yang lainnya juga. Tapi, jika tidak maka tidak satupun" tegas Mona.


"Baiklah" tunduk Nyoko, setelah mendengar jawaban patuh dari Nyoko, Mona langsung pergi.


"Nyoko sayang, tidakkah kau bahagia dengan pulangnya ibundamu?" hibur Dera yang telah selesai makan. Nyoko hanya menatap Dera dengan tatapan sedih.


"Ibundamu adalah orang yang sangat hebat, tapi dia lebih suka mencegah terjadinya peperangan. Dulu, ibundamu menjadi penghalang terjadinya peperangan kekaisaran aliran hitam dan putih, ibundamu juga yang menjadi penghalang terjadinya pertumpahan darah saat kaisar siang terdahulu ingin menguasai seluruh dunia, dan ibundamu juga yang kini menjadi penghalang terjadinya peperangan kekaisaran benua atas dan benua bawah. Jadi, tetaplah bersabar, dan percayalah bahwa ibunda kalian adalah orang yang lebih mementingkan anak-anaknya dari pada pekerjaannya. Tapi, demi mewujudkan keamanan kalian, dia harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu" cerita sesepuh Ying.


"Nenek sesepuh tidak bohong kan?".


"Tidak Nyoko sayang" sesepuh Ying tersenyum ke arah Nyoko.


'Terima kasih karena telah mengkhawatirkan diriku. Tapi, bagi seorang ayah atau ibu, obat yang paling mujarab dalam kehidupannya adalah senyuman dan pelukan dari buah hatinyakan. Jadi, kenapa aku harus berlama-lama menyelesaikan tugas-tugasku, jika aku memiliki pilihan untuk bisa melakukannya dengan sedikit lebih cepat, kenapa aku tidak mengambilnya. Karena lima buah hatiku sedang menungguku di benua bawah. Jadi, aku harus cepat menyelesaikan semua tugasku yang muncul saat ini' tiba-tiba gambaran Mona ketika dia membungkam pertanyaan di benua atas, muncul di depan semua orang. Semua orang menatap ke arah Mona yang di sana.


"Ibundamu sangat mencintai kalian semua cucuku, jadi jangan pernah meragukan cinta kasihnya. Walaupun memang kalian berdua bukanlah darah dagingnya, tapi ibunda kalian mengatakan lima buah hatinya bukan tiga. Yang itu berarti dia memiliki lima anak" ucap seorang wanita dengan di dampingi seorang pria.


"Mom & dad/ uncle & aunty" teriak kompak Dera, Joun, Nana, Kety dan Alex.

__ADS_1


"Anda,,,,," terkejut sesepuh Ying.


"Aku adalah putri dari Dewi embun dan ini adalah suamiku putra dari raja kupu-kupu. Suatu kejadian terjadi, dimana kami membuat bayangan diri kami dengan di tubuh mereka terdapat setengah kekuatan kami tersegel di tubuh mereka. Karena demi keamanan mereka, kami memindahkan mereka ke zaman modern hingga mereka mendapatkan kalian berdua" tunjuk ibu Dewi Mona ke arah Nana dan Joun.


"Pada suatu ketika kami mendapat gambaran kalau dia akan menjadi incaran semua orang, jadi kami memilih memindahkannya ke zaman modern bersama kalian agar hidupnya aman. Tapi, siapa sangka kalau saat kalian berenam tiada adalah dimana waktu zaman modern dan zaman ini saling terhubung, hingga membuat kalian hidup sebagai penduduk di zaman ini setelah kematian kalian. Tapi, seolah-olah takdir membuat semuanya mudah, putriku yang terlahir asli dari rahimku telah kembali lahir dari rahim permaisuri Yu yang telah terikat janji denganku, dan Mona juga yang menjadi putriku yang terikat pernikahan dengan pangeran yang telah kuselamatkan nyawanya. Jadi, kalian pasti tahu maksud ucapanku bukan?" sambungnya lagi sambil menunjuk keduanya kembali.


"Jadi, kami dan dia bukanlah saudara kandung?" gumam Nana membuat Joun menatapnya.


"Lalu, kenapa jika dia bukanlah adik kandungku, dia tetaplah akan menjadi adikku yang begitu cantik dan aku sayangi. Aku tidak peduli kami terikat darah atau tidak, sama seperti Dera, keduanya adalah adikku meskipun tanpa satu ikatan darah" Joun mengatakan itu sambil menatap ibu dewinya Mona dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau harus menatap kami dengan tatapan seperti itu, mungkin benar bahwa di zaman modern kalian menganggap kalian memiliki ikatan darah. Karena itulah kalian menyayanginya, tapi disini kalian berbeda darah dan terlahir sebagai tiga keluarga yang berbeda. Mona sebagai keluarga kekaisaran Yu, Dera dengan darah yang sama dengan gegenya yaitu Mofan, dan kalian dengan darah keluarga lainnya. Lalu, apakah kalian saling membenci, jawabannya tidakkan?" ucap pria di samping ibu dewinya Mona.


"Ziwiera dan Ying Wie adalah dua orang wanita yang baru dia kenal dengan statusnya sebagai orang yang berkuasa. Lalu, apakah keduanya membenci Mona yang telah melumpuhkan ayahnya, tapi jawabannya tetaplah tidak. Keduanya justru menjadi orang pertama yang sangat kesal saat di kekaisaran milik mereka ada yang mengata-ngatai bahwa mereka adalah wanita yang akan menjadi pengganti Mona di sisi Ming Fan. Itu berarti tanpa hubungan darah sekalipun, kalian sudah terikat dengannya dengan kalian hanya melihat kepribadian sehari-harinya, bukan karena kastanya dan ikatan darah. Bukankah ucapanku benar kedua putri" sambungnya sambil menatap ke arah Ziwiera dan Ying Wie yang sudah selesai makan.


"Ya" kompak keduanya.


"Jadi, Nyoko, bolehkah kakek tua ini bertanya darimu, pelajaran apa yang bisa kau ambil dari ucapan yang begitu panjang yang barusan kau dengar?" tanyanya kepada Nyoko putra pertama putrinya.


"Ibunda di sayangi semua orang karena dia sangat baik, bukan karena mereka memiliki hubungan darah dengannya" jawab Nyoko sambil menatap mata pria yang bertanya dengannya.


"Jadi?".


"Nyoko tetaplah putra ibunda, Nyoko memiliki empat orang adik. Jadi, setiap apapun yang Nyoko miliki maka mereka harus memilikinya juga. Maka, benar seperti kata ibunda, jika ibu membawa Nyoko maka yang lainnya juga harus ikut. Jika tidak, maka lebih baik tidak semuanya, karena kami adalah putra dan putrinya ibunda dan ayahanda" jawab Nyoko membuat kedua orang itu tersenyum.


"Baiklah" pria itu berjalan ke arah lima cucunya. Dia meletakkan jari telunjuknya di setiap kening kelima cucunya.


"Apa yang kakek lakukan?" tanya Nene.


"Memberikan sedikit kekuatan kakek kepada kalian semua, agar kalian menjadi kesatria berani dan pintar ibunda kalian. Ini adalah hadiah yang bisa kakek berikan kepada lima cucu kakek" jawabnya sambil mencium kening kelima cucunya.


"Apakah kakek akan pergi, kenapa ciuman kakek bagaikan ciuman perpisahan?" tanya Nyoko.


"Bisa dibilang seperti itu sayang. Kakek dan nenek akan pergi selamanya dari kehidupan ini. Bahkan bersama dengan bayangan kami" jawabnya sambil menatap ke arah Nana dan Joun yang terkejut saat mendengar ucapan dari dirinya yang mengatakan bersama dengan bayangan mereka.


"Apakah ibunda tahu?" tanya Nyoko.


"Ibunda kalian tahu kami akan tiada, tapi kami tidak mengatakan kami akan pergi sebentar lagi. Ming Fan, aku adalah seorang ayah yang memiliki salah satu putriku kini menjadi istrimu. Tolong lindungi dan jaga dia dengan sepenuh hatimu. Putriku meminta agar kami memberikan hadiah pernikahan untuk kalian, tapi kami tidak tahu apakah kalian akan suka dengan hadiah yang kami berikan. Aku memberikan pedang ini sebagai hadiah untuk kalian berdua" pria itu menyerahkan dua pedang kepada Ming Fan.


" Aku memberikan hadiah ini untuknya, ini adalah benda pertama yang dihadiahkan kakeknya kepada neneknya. Neneknya memberikan kepadaku, kini kuberikan ini untuk putriku. Akan lebih sakit jika kami pergi dengan melihat dirinya, karena kami belum sempat memberikan kehangatan sebuah keluarga untuknya. Jadi, biarkan ini menjadi hukuman kami karena tidak memberikan kasih sayang untuknya dari kami. Tolong jaga putriku dan cucu-cucuku Ming Fan, terima kasih telah memilih putriku menjadi wanitamu" dia mengatakan hal itu sambil memberikan sebuah panah kepada Ming Fan.


"Kenapa kalian seperti ini, kalian justru akan kuanggap egois jika aku di posisi Mona" lirih Nana sambil menatap dua orang yang mirip wajah kedua orang tuanya.


"Pergilah, ayah, ibu, serahkan mereka padaku. Aku yakin ucapan yang sama juga akan di ucapkan adikku jika dia disini" senyum Joun ke arah keduanya.


"Terima kasih Joun sayang" tubuh keduanya perlahan-lahan menghilang. Namun, sebelum tubuh keduanya benar-benar menghilang, mereka mendengar suara lantunan musik seruling seperti sebuah keikhlasan melepaskan.


visual Pedang yang dibekan



Visual hadiah panah

__ADS_1



__ADS_2