
Semua orang hanya menatap ke arah keluarga Mona yang saling melempar candaan "Ehem,,,siapa yang kalian sebut dengan singa betina?" permaisuri Yu menatap mengintimidasi ke arah dua orang ayah dan anak yang saat ini sedang saling menatap.
"Nak, kau harus membawaku lari bersamamu" pinta kaisar Yu sambil berbisik di telinga Mona.
"Aduh ayahanda, jika diriku, tadi sudah kukatakan kalau kami akan ke kekaisaran kegelapan dan bulan. Lalu, apa yang menjadi alasan untuk ayahanda ikut?" bisik Mona sambil sesekali menatap wajah wanita cantik yang hampir berubah menjadi singa betina.
"Entahlah, yang penting jauhkan ayahanda dari singa betina gila jika sudah marah".
"Baikl,,,," sebelum bisikan Mona selesai, permaisuri Yu telah berada tepat di depan mereka berdua.
"Kalian membisikkan apa?" permaisuri Yu bertanya dengan penekanan yang luar biasa.
"Ayahanda bilang, agar aku membawa ayahanda lari dari amukan ibunda, ayahanda juga bilang ibunda adalah singa betina gila" Mona mengatakannya sambil berlari ke arah Ming Fan.
Seiring dengan jawaban dari Mona, ada berbagai ekspresi wajah yang ditampilkan oleh semua orang. Permaisuri Yu menampilkan wajah intimidasi sambil menatap ke arah kaisar Yu, kaisar Yu menampilkan wajah kesal kepada Mona yang menjauh darinya, sedangkan yang lainnya menampilkan ekspresi wajah terkejut namun ingin tertawa.
"Oh,,, benarkah itu?" permaisuri Yu bertanya sambil menatap ke arah kaisar Yu. Kaisar Yu yang merasa bulu kuduknya dingin, dia membalikkan tatapannya ke arah wanita yang dibelakangnya yang menatap dirinya dengan tatapan mengerikan.
"Hehehe,,,apakah kau percaya pada ucapannya" kaisar Yu tersenyum canggung ke arah permaisuri Yu sambil dirinya menunjuk ke arah Mona yang tersenyum smirk ke arah ayahnya.
"Tentu saja aku percaya pada putriku, ehh,,," permaisuri Yu menghentikan ucapannya saat dia menatap wajah Mona yang sedang tersenyum penuh arti ke arah mereka berdua.
"Kenapa kau tersenyum?" kaisar Yu bertanya ke arah Mona karena saat dia melihat permaisuri Yu terhenti berbicara saat dia melihat ke arah Mona. Kaisar Yu juga melihat ke arah Mona, jadi dia bertanya saat melihat Mona sedang tersenyum aneh.
"Ibunda, mau kukatakan satu rahasia lagi tentang ayahanda?" pertanyaan sekaligus pernyataan dari Mona sukses membuat semua orang bingung, terutama kaisar Yu yang sedikit takut kalau apa lagi yang akan dilaporkan putrinya ini akan benar-benar sukses membuat istrinya marah.
"Apa itu?" permaisuri Yu bertanya dengan nada kesal namun lembut kepada Mona. Mona menarik tangan Ming Fan sambil berjalan ke arah ibundanya, dia membisikkan sesuatu ke telinga ibundanya. Lalu, dia menghilang dari sana bersama dengan Ming Fan.
Setelah kepergian Mona, perubahan ekspresi dan juga aura dingin keluar dari tatapan mata permaisuri Yu, ketika dia menatap kaisar Yu.
"Aduh, sebenarnya apa yang dia bisikkan hingga bisa membuat ibundanya begini" kaisar Yu berusaha menyelamatkan nyawanya dengan berjalan meninggalkan semua orang di ruangan itu dengan menggendong Airi di depannya.
"Kakek, kenapa kita malah kelual, lihatlah nenek juga mengikuti kita?" Airi menunjuk ke arah permaisuri Yu yang mengikuti kaisar Yu dari belakang.
"Aduh sayang, tentu saja kakek berusaha untuk menyelamatkan nyawa kakek".
"Lalu, kenapa kakek juga membawaku belsama kakek?".
"Tentu saja kau adalah perisai kakek dari amukan nenekmu itu".
__ADS_1
"Sebenalnya kesalahan apa yang kakek lakukan hingga membuat nenek begitu mulka?".
"Kakek sendiri juga tidak tahu, entah apa yang dibisikkan ibundamu hingga membuat nenekmu begitu sangat mengerikan seperti itu".
"Jadi, bagaimana ini?".
"Kita hanya bisa lari dari nenekmu".
Kaisar Yu berjalan cepat sambil membawa Airi bersamanya, sedangkan permaisuri Yu hanya sendirian mengikuti mereka dari belakang. Ketiganya hanya menjadi tontonan bagi semua orang yang juga telah keluar dari aula utama kekaisaran Yu.
"Sebenarnya apa yang dibisikkan oleh Jijie kepada ibunda, hingga membuat ibunda begitu marah?" Anshi bertanya entah kepada siapa sambil menatap pemandangan langka namun juga indah yang terjadi di depannya saat ini.
"Jijie bertanya pada siapa?" Sima juga bertanya sambil menatap ke arah dua orang dewasa yang saling mengikuti.
"Kita semua sama disini, kita sama-sama tidak tahu apa yang dibisikkan oleh jijie. Jadi, ya begitulah" Xian mengkode kepada keponakan dan juga adik kecilnya agar mengikuti dirinya.
Semua orang kembali ke pekerjaan mereka masing-masing, sedangkan keluarga kaisar Yu mengikuti kemana perginya kaisar dan permaisuri Yu. Namun, setelah berada tepat di depan paviliun milik putri mahkota kekaisaran Yu yang dulunya di tempati oleh Anchi yang mereka anggap sebagai putri mahkota kekaisaran mereka. Permaisuri Yu yang tadinya sedang mengikuti kemana perginya kaisar Yu dan Airi, langsung membelokkan arah tujuannya ke paviliun itu.
Anggota keluarga kekaisaran Yu lainnya menjadi bingung ketika mereka melihat permaisuri Yu memasuki paviliun yang selama tiga tahun telah kosong karena tidak ada yang menempatinya. Meskipun tidak ada yang menempati, paviliun itu tetaplah terlihat bersih dan indah, karena selalu di rawat oleh para pelayan.
Melihat permaisuri Yu masuk ke sana, semua anggota keluarga lainnya juga ikut masuk ke paviliun. Mereka melihat permaisuri Yu yang berdiri tegak tepat di tengah-tengah taman paviliun.
Bukan hanya permaisuri Yu saja yang mengingat kenangan-kenangan itu. Tapi, Xian, kaisar Yu, Anchi, Anshi dan Sima juga mengingat kejadian-kejadian yang terjadi di sana.
"Nenek,,,,," panggil Nene saat dia melihat semua orang dewasa bersama mereka malah mematung setelah berada di taman paviliun.
"Nenek,,,," Nene memangil sekali lagi karena tidak hanya permaisuri Yu, tapi semua orang dewasa bersama mereka masih tidak bergeming sedikitpun karena panggilannya.
"Eh,,,,iya sayang ada apa" permaisuri Yu sadar setelah panggilan kedua dari Nene.
"Apakah nenek baik-baik saja?".
"Tentu saja nenek baik-baik saja, memangnya kenapa sayang?" permaisuri Yu berusaha tersenyum kepada Nene. Tapi bila di perhatikan lebih teliti, semua orang pasti tahu bahwa di dalam senyuman permaisuri Yu terdapat rasa kesedihan.
"Nenek tidak terlihat baik-baik saja".
"Maaf, tapi semua orang juga sepertinya sedang sedih, bukan hanya nenek saja. Jadi, sebenarnya ada apa?" Nyoko bertanya sambil menatap satu persatu wajah keluarganya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak ada apa-apa sayang" kompak semua orang dewasa kecuali Sima yang memilih diam, karena dia tidak ingin berbohong. Jadi, dia memilih diam saja agar dia berada di tengah-tengah.
__ADS_1
"Paman Sima,,," Nene memastikan jawaban dari Sima yang selama ini selalu berkata jujur.
"Ya".
"Ada apa paman?".
"Tidak ada apa-apa, hanya teringat kenangan pada masa dimana kami semua saling bercanda bersama bibi Anchimu ketika dia dulu disini".
"Lalu, kenapa bersedih?" pertanyaan Nene sukses membuat Sima bungkam, karena dia tidak ingin karena ucapannya akan membuat beberapa orang menjadi sakit hati nantinya.
"Kenangan ibunda ada di rumah pohon milik ibunda" pernyataan dari Aina sukses membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Aku menyukai ketenangan, mungkin ibunda juga begitu. Paviliun yang luas ini akan ribut karena banyaknya pelayan, sedangkan di rumah pohon maka hanya beberapa orang yang muat. Jadi, aku lebih memilih rumah pohon dibandingkan paviliun begini, karena rumah pohon tidak membutuhkan banyak pelayan yang membersihkannya" Semua orang terkejut saat mendengar Aina berbicara panjang lebar.
"Lupakan soal diriku, namun aku penasaran apa yang sebenarnya yang ibunda bisikkan pada nenek?" sambung Aina. Saat mendengar pertanyaan itu sukses membuat permaisuri Yu menatap ke arah semua orang terutama kaisar Yu.
"Hahahaha,,,," tawa permaisuri Yu saat dia menatap ke arah kaisar Yu.
"Ada apa, kenapa ibunda tertawa?" tanya Xian.
"Karena,,,," permaisuri Yu menjeda ucapannya membuat semua orang yang mendengarnya menjadi penasaran termasuk para pelayan dan prajurit yang di dekat mereka.
********
Mona dan Ming Fan telah tiba di kamar milik pangeran Ming Fan di kekaisaran kegelapan. Mereka memilih muncul di kamar, untuk mengganti pakaian mereka dan ingin memberikan kejutan ke kedua orang tua Ming Fan setelah mereka berdua pergi tanpa kabar selama beberapa bulan belakangan ini.
"Apa yang kau bisikkan pada ibunda permaisuri Yu?" tanya Ming Fan sambil memeluk Mona di dalam dekapannya di atas kasur. Setelah mereka berganti pakaian, mereka memilih beristirahat sejenak.
"Tidak ada" jawab singkat Mona.
"Apa, suamimu ini serius bertanya, tidak mungkin tidak ada namun bisa membuat ibunda sangat mengerikan seperti tadi".
"Aku telah menjawabnya" Mona memejamkan matanya.
"Mona,,,," Ming Fan merasa semakin penasaran.
"Tidurlah, ini rahasia ibu dan anak" gumam Mona.
"Ais,,, sudahlah, tidak penting juga bagiku jika aku mengetahuinya".
__ADS_1
'Memang tidak penting bagimu, karena aku hanya bilang kalau aku dan ibunda adalah satu tim, dan ayahanda hanya perlu di kerjai dengan sedikit kejahilan tim kami' batin Mona sambil tersenyum membayangkan wajah kaisar Yu tadi.