
Semua orang di kekaisaran kegelapan pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh mereka dari keringat karena berada di bawah pancaran matahari. Mereka semua telah terlebih dahulu membersihkan lumpur yang melekat di kaki mereka dengan menggunakan air sungai yang mengalir yang berada di halaman belakang dekat dengan paviliun milik pangeran Ming Lan.
Di saat semua orang sibuk membersihkan diri mereka, berbeda dengan Mona dan Ming Fan. Karena sedangkan di dalam kamar milik Ming Fan, Mona dan Ming Fan membahas sesuatu yang membuat semua orang nantinya akan terkejut jika mendengar ucapan Mona.
"Aku dan beberapa temanku termasuk adikmu juga ada di antaranya. Kami akan pergi ke gunung Sinai yaitu gunung yang di penuhi dengan energi seperitual yang sangat banyak di dalamnya. Jadi,,,," Sebelum Mona menyelesaikan ucapannya, Ming Fan telah memotongnya dengan pertanyaan beruntun dan cepat sehingga membuat Mona sedikit terkejut.
"Kau akan pergi lagi? Kau akan meninggalkan kami lagi kah? bagaimana dengan anak-anak? Untuk apa kalian kesana? berapa lama kau pergi? Bolehkah aku ikut?" Ming Fan bertanya sambil menggoyang-goyangkan bahu Mona secara lembut namun cepat.
"Sabarlah, jika kau bertanya secepat dan sebanyak itu, maka bagaimana aku menjawabnya. Jadi, tanyakan satu persatu saja" Mona memegang kedua tangan Ming Fan yang sedang memegang bahunya Mona.
"Ini sangat penting, jadi kami harus pergi" Mona berusaha merayu Ming Fan agar mengizinkannya pergi. Karena Mona tahu kalau Ming Fan pasti tidak akan mudah mengizinkan dirinya pergi.
"Aku akan ikut denganmu" Ming Fan bangun dari duduknya. Dia berjalan ke arah lemari pakaian sepertinya dia ingin menyiapkan pakaian.
"Kemarilah dulu, dengarkan dulu penjelasan dariku" Mona menarik tangan Ming Fan, lalu menariknya duduk ke kursi yang ada di depan cermin. Lalu Mona duduk di pangkuannya Ming Fan.
"Apakah ini caramu menyogokku? itu tidak akan mempan lagi" Ming Fan mulai curiga dengan sikap Mona yang mulai mendekatkan tubuh mereka berdua.
"Tidak, ini bukan sogokan. Tapi, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Mona bertanya kepada Ming Fan sambil menatap pantulan wajah Ming Fan dari cermin.
"Bertanya tentang apa?" hal yang sama juga dilakukan oleh Ming Fan yang menatap Mona juga dari pantulan cermin.
"Apa yang kau lihat dari sana?" tanya Mona sambil menunjuk ke arah pantulan mereka berdua.
"Pantulan kita berdua tentunya".
"Selain itu?" tanya Mona membuat Ming Fan bingung.
"Seisi kamar ini".
"Selain itu?" tanya Mona lagi membuat Ming FN semakin mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, memangnya apa yang kau lihat selain yang telah kulihat?" tanya balik Ming Fan kepada Mona yang tersenyum lembut ke arah pantulan mereka.
"Aku melihat dunia lain".
"Dunia lain?" bingung Ming Fan sambil mengulangi jawaban Mona.
"Dunia yang kita tempati saat ini adalah dunia yang nyata menurut kita, tapi senangnya itu dipenuhi dengan kebohongan. Kita pura-pura baik, senang dan berbagai ekspresi lainnya yang kita tunjukkan sebagai panutan sebagai seorang pemimpin dari sebuah daerah kekaisaran. Tapi, saat kita di depan cermin, kita bisa melihat bahwa begitulah dunia kita selama ini, dunia lain yang di penuhi dengan kepalsuan belaka. Dunia yang penuh dengan misteri takdir"
"Intinya adalah kita semua memiliki peran masing-masing dalam hidup ini nantinya, itu tergantung pada apa pilihan yang kita ambil. Soal apa tujuan kami pergi, aku tidak bisa memberi tahukan kepadamu, tapi untuk saat ini aku hanya ingin dukungan darimu atas apapun pilihanku. Namun, satu hal yang pasti dan percayalah bahwa apa yang kami lakukan adalah untuk kebaikan semua orang" Sambung Mona sambil menyampingkan duduknya agar bisa menatap langsung wajah suaminya.
"Berapa lama kalian akan pergi?" Ming Fan akhirnya pasrah setelah dia menatap beberapa saat kedalam mata Mona, dan dia bisa melihat adanya keseriusan di dalam mata istrinya.
"Mungkin sekitaran hanya enam puluh hari saja" Mona menjawab dengan menatap ke arah langit ruangan kamar mereka, seolah-olah seperti sedang menerawang menghitung hari mereka akan pergi.
"Hanya? itu sudah lama juga, bukan hanya kata saja" Ming Fan memegang dagu Mona agar Mona menatap ke arah dirinya.
"Aku tahu, tidakkah menurutmu lebih simpati kepada beberapa pengantin baru yang istrinya akan kubawa bersamaku juga. Kita sudah memiliki lima orang anak, tiga diantaranya adalah hasil dari buah cinta kita yang sebenarnya. Lalu, bagaimana dengan mereka yang baru beberapa bulan ini menikah, tapi mau bagaimana mana lagi, karena aku tetap harus membawa mereka untuk latihan bersamaku" ucapan Mona membuat Ming Fan bertanya "Siapa yang kau maksud?".
"Kenapa kau sangat suka pergi secara mendadak?"
"Suamiku tersayang, aku sudah memberi tahukan kepadamu. Jadi, aku tidak pergi secara mendadak dong".
"Ehh,,, benar juga sih, tapi mereka semua pasti akan menghajar diriku".
"Kenapa?" Mona bertanya sambil mengukir senyuman karena melihat ekspresi wajah Ming Fan.
"Karena kau telah mengatakan rencananmu padaku, tapi aku tidak memberi tahukan kepada mereka. Jadi, tentu saja mereka akan mengeroyokku nantinya" Ming Fan menjawab sambil membayangkan bagaimana amukan yang akan dilakukan semua orang terhadapnya jika Mona benar-benar pergi tiba-tiba.
"Tidak akan, beberapa hari lagi adalah hari ulang tahunku dan dua saudaraku. Jadi, pada hari itu aku akan membuat sedikit perayaan, dan pada saat itulah aku akan mengumumkannya. Hal itu tidak akan menimbulkan kecurigaan mereka, jadi kami bisa bebas pergi setelah acara itu telah selesai".
"Tapi, tetap saja sangat sulit melepaskan dirimu".
__ADS_1
"Kami tidak pergi selamanya, kami hanya akan memperkuat diri kami. Ini janjiku bahwa aku tidak akan pernah pergi tiba-tiba lagi dari hidupnya. Jikalau aku pergi, aku akan tiada tepat di pelukanmu". Ucap Mona membuat Ming Fan membelalakkan matanya.
"Tiada di pelukanku? jangan bercanda dengan kata itu lagi".
"Maaf, tapi setiap ucapan yang ku ucapkan, aku selalu serius".
"Tapi,,,,, hah sudahlah" pasrah Ming Fan sambil membenamkan wajahnya di leher Mona.
"Mereka semua sudah selesai membersihkan diri, jadi sudah waktunya kita keluar".
"Tidak".
"Tolonglah bayi besarku yang pemanja, setelah ini aku akan menghabiskan waktuku bersamamu dan anak-anak tanpa memikirkan pekerjaan lainnya. Aku akan menuruti segala permintaanmu dan juga semua permintaan anak-anak" Mona berusaha bernegosiasi dengan Ming Fan.
"Sungguh, semua permintaanku akan kau turuti?" Ming Fan berusaha meyakinkan perdengarannya tidak salah.
"Ya".
"Yakin semuanya?".
"Heem, semuanya" Mona menganggukkan kepalanya. Jawaban Mona membuat Ming Fan mengangkat Mona dari pangkuannya, membuat Mona terkejut.
"Kau mau membawaku kemana. Ehh,,,,," Mona terkejut karena Ming Fan menaiki ranjang mereka dengan Mona masih berada di tangannya. Ming Fan membaringkan Mona secara perlahan dengan senyuman terukir di bibir Ming Fan.
'Kau mau apa?' telepati Mona kepada Ming Fan. 'Menagih pembayaran di muka'.
'*Apa'.
'Kau bilang akan menuruti segala keinginan diriku dan anak-anak. Aku dan anak-anak menginginkan hal yang sama tentang ini, dan kau tahu bahwa ketika kita ingin melakukan sesuatu. Maka kau harus memberikan bayaran muka dulu*'.
"Oh tidak" Mona baru menyadari sesuatu yang salah dari ucapannya yang akan membuat Ming Fan sangat diuntungkan.
__ADS_1
'Jangan berpura-pura tidak menginginkannya sayang, kau juga akan menikmatinya nanti. Karena aku sudah sangat lama tidak mendengar lagu merdu itu darimu selama ada anak-anak bersama kita' .