
Saat Mona membuka matanya, dia melihat permaisuri dan kaisar Yu berada di dalam ruangan bersama dengannya. Kaisar Yu tertidur saat dia sedang duduk memperhatikan Mona, sedangkan permaisuri Yu tertidur dengan memegang tangan Mona.
"Ah, berapa lama aku pingsan?" gumam Mona karena dia melihat hari sudah malam. Mona berusaha bangun dari tidurnya tanpa membangunkan permaisuri dan kaisar Yu. Namun, baru tiga langkah dia menjauh dari permaisuri Yu, tangannya dan tangan permaisuri Yu dililit dengan benang berwarna putih.
"Argh,,,,," teriak kesakitan Mona karena tarikan benang putih itu membuat darah keluar dari tangannya karena terluka. Teriakan Mona berhasil membuat baik orang yang di dalam dan diluar ruangan menjadi terkejut. Sehingga secara reflek mereka membuka pintu untuk masuk, sedangkan dua orang yang di dalam ruangan terbangun dan memandang Mona yang sudah berdiri. Namun, setelah teriakan Mona, benang putih tadi berubah menjadi gelang yang berada di tangan kanan permaisuri Yu dan tangan kanan Mona.
"Kau sudah bangun?" tanya Ziwiera lebih cepat dari yang lainnya.
"Kenapa tanganmu berdarah?" tanya Ziwiera.
"Tidak bisakah kau lebih menjaga dirimu dan juga bayimu?" kesal Ziwiera.
"Hai, itu seharusnya akulah yang bertanya, dan sejak kapan kau disini?" tanya Ying Wie yang juga berusaha ingin menjadi orang yang lebih dekat saat Mona terluka.
"Terserah diriku dong," balas Ziwiera.
"Hai, apa kau sedang menantangku?" kesal Ying Wie.
"Kalau iya kenapa?" Ziwiera berusaha menyulutkan emosi Ying Wie. Tapi, bukan emosi Ying Wie yang terpancing, melainkan emosi dari Mona. Mona hanya menjentikkan anak jarinya, lalu dua orang yang tadinya sangat ribut, tiba-tiba mematung tanpa bisa membuka mulut mereka.
"Ini lebih baik" celetuk Mona dengan ekspresi wajahnya yang begitu dingin ketika dia menatap dua orang yang sedang mematung karena ulah darinya.
"Ada perlu apa kalian semua kemari?" tanya Mona dengan nada yang begitu dingin dan datar.
"Untuk melihat keadaanmu" jawab sesepuh Ying.
"Kami baik-baik saja. Jadi, keluarlah" jawabnya dingin.
"Kami?" bingung semua orang.
"Kami tidak membutuhkan kalian, karena ibu dan juga anaknya baik-baik saja" jawabnya dingin sambil berjalan ke arah pintu ruangan itu.
"Kau mau kemana Queen?" tanya sesepuh Zan.
"Kemanapun yang kami suka, karena kalian tidak mau keluar dari kamar ini maka kamilah yang akan pergi keluar" jawab Mona dingin.
"Tunggu?" kaisar Yu berusaha menghentikan langkah Mona dengan menahan tangannya.
"Apa?" kesal Mona sambil menatap kaisar Yu dengan mata bagaikan mata seorang yang begitu membenci kaisar Yu.
"Eh, kenapa kau menatapku begitu?" tanya kaisar Yu karena tatapan Mona.
"Karena kau pernah membuat wanita yang ku sayangi menangis" jawabnya.
"wanita? siapa wanita yang kau sayangi?" tanya kaisar Yu.
"Bukan urusanmu" kesal Mona sambil membuka pintu kamar. Saat Mona ingin berjalan keluar, dia dihentikan oleh kaisar Yu.
"Beristirahatlah, biarkan kami saja yang keluar" kaisar Yu menawarkan diri, kaisar Yu tidak menunggu Mona selesai menjawab ucapannya karena kaisar langsung keluar dari kamar itu. Begitupun dengan orang lain yang berada di ruangan itu, mereka semua mengikuti kaisar Yu yang sudah pergi dari ruangan itu. Mona juga melepas kekuatannya dari tubuh Ziwiera dan Ying Wie. Jadi, keduanya juga sudah pergi dari kamar.
"Kenapa tatapan mata yang dia berikan padaku sangat mengerikan?" bingung kaisar Yu.
"Ayah, cobalah untuk mengingat-ingat siapa wanita yang pernah ayah sakiti" celetuk Anshi.
"Entahlah, sepertinya tidak ada?" kaisar telah berusaha berpikir, tapi tetap tidak ada yang dia ingat.
"Jika memang tidak ada, maka lupakanlah, mungkin saja ini adalah hormon dari seorang wanita hamil" hibur permaisuri Yu.
"Terkadang, sesuatu unek-unek permasalahan selama ini juga akan keluar saat seseorang sedang hamil" ucapan sesepuh Zan membuat semua orang yang di depan pintu kamar yang ditempati Mona melihat ke arah sesepuh Zan.
"Apa maksud kakek?" bingung Xian.
__ADS_1
"Sepertinya mulai dari sekarang, kekaisaran bintang ini akan mengalami guncangan besar karena seseorang" senyum sesepuh Zan sambil menatap ke arah Xian.
"Guncangan?" gumam semua orang. Para sesepuh dan beberapa orang yang tadi berada di depan kamar Mona, mereka segera kembali ke aula luar kekaisaran bintang.
"Maaf, karena acara hari ini harus dihentikan sebelum dimulai" sesepuh Zan menyapa para tamu undangan yang telah kembali hadir di aula luar kekaisaran bintang.
"Tidak apa-apa sesepuh Zan, lalu bagaimana dengan keadaan Queen kekaisaran bulan?" tanya kaisar iblis dan kaisar malam kompak.
"Dia baik-baik saja, kita hanya bisa mendoakan agar kedepannya mereka ibu dan anak akan baik-baik saja" jawab sesepuh Zan.
"Maaf, sesepuh Zan, kalau boleh tahu apakah sesepuh Zan tahu siapa suaminya?" tanya salah satu murid dari akademi naga putih.
"Kakak senior" teriak semangat Xian dan Anchi kompak.
"Hai, apa kabar kalian berdua" sapa para murid akademi naga putih kompak.
"Kami sangat baik" jawab Xian dan Anchi kompak.
"Bagaimana dengan kalian, dan kenapa kalian kemari?" tanya Xian.
"Tentu saja untuk bertemu dengan adik kelas kami" jawab seorang wanita yang begitu berwibawa di antara murid akademi naga putih lainnya.
"Oh" kompak Xian dan Anchi.
"Sesepuh Zan" panggil pria yang tadi mengajukan pertanyaan.
"Ada apa?" tanya sesepuh Zan.
"Maaf, tapi anda belum menjawab pertanyaan yang saya berikan" jawabnya.
"Ah, soal itu, aku tahu siapa suaminya karena kebetulan aku menjadi salah satu saksi pernikahannya. Pernikahannya di gelar dengan meriah di sebuah kekaisaran, dia mendapatkan cinta yang begitu luar biasa dari suaminya dan juga dari keluarga suaminya" jawab sesepuh Zan.
"Kenapa kau bertanya sesuatu yang berlebihan" tegur guru akademinya.
"Wow, buah mangga, aku datang" teriak Mona dari kejauhan, dia tidak memperdulikan berapa banyak pasang mata yang telah memperhatikan dirinya karena teriakan dan juga tingkah lakunya. Dia hanya melompat dengan santainya di depan semua orang.
"Tentu saja dia mencintai suaminya, jika dia tidak mencintai suaminya. Lalu, kenapa dia menikahi suaminya" jawab Mona atas pertanyaan yang di berikan pria itu kepada sesepuh Zan.
"Ehmmm" Mona tampak memikirkan sesuatu di kepalanya selagi dia menatap satu persatu orang yang ada di sana setelah dia memetik buah mangga. Sekarang jam kira-kira telah menunjukkan pukul delapan.
"Ketemu?" ucap Mona sambil berjalan ke arah Ming Fan.
"Hai, pangeran pertama, kedua, ketiga, dan keempat kekaisaran kegelapan" sapanya sambil menunjuk satu persatu dari mereka.
'Sekarang, apa lagi yang akan dia lakukan. Tidak bisakah sehari saja dia membuat kami tenang' batin kompak tiga orang selain Ming Fan.
"Hai" balas keempatnya kompak.
"Bolehkah aku meminta tolong?" manja Mona.
"Minta tolong apa?" bingung keempatnya.
"Aku ingin pangeran pertama membuatkan aku minuman hangat, lalu pangeran kedua memetik buah asam yang ada disana, pangeran ketiga membawakanku buah nanas yang baru di ambil langsung dari pohonnya. Terakhir, aku ingin pangeran keempat membawakan garam dan cabai untukku".
"Garam? apa itu? dimana aku bisa mendapatkannya" bingung pangeran keempat.
"Aku tidak mau tahu darimana kalian mendapatkannya, yang jelas bawa semua itu padaku tanpa,,,," Mona menjeda ucapannya, lalu dia menjentikkan jarinya sehingga membuat kekuatan keempat orang di depannya menjadi menggumpal menjadi asap berbentuk bulat padat.
"Ah,,," lemah keempatnya karena kekuatan mereka sekarang sedang menjadi mainan Mona. Saat melihat empat pria itu lemah, Mona justru tersenyum dengan sangat manisnya.
'Aura kakak ipar berbeda dari yang di kamar, meskipun ini mudah tersenyum tapi tetap sangat mengerikan' batin pangeran ketiga dan keempat kompak.
__ADS_1
'Kenapa auranya berbeda-beda' batin semua orang dari kekaisaran kegelapan.
'Apakah ini aura anakku, atau yang dikamar tadi. Karena aku belum melihat kedua sisi ini ada padanya selama ini, dan sejak kapan rambutnya berwarna putih' batin Ming Fan sambil menatap ke arah Mona.
"Sangat betul, isi pemikiranmu sangat betul" senyum Mona sambil menunjuk ke arah Fan.
"Yang mana yang betul?" tanya Fan.
"Kedua-duanya" jawab Mona sambil menggerakkan tangganya ke arah langit, membuat semua orang yang melihatnya menjadi bingung.
"Apa yang kau lakukan?" tanya semua kaisar kompak.
"Ada deh. Untuk kalian berempat, kapan-kapan aku akan menagih apa yang kuminta saat ini, karena sekarang aku tidak boleh ada disini. Setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan, barulah aku mengembalikan kekuatan kalian. Jadi, sampai jumpa" Mona menghilang dengan terbang ke arah langit di depan semua orang dengan mengunakan sayapnya.
Tepat setelah kepergian Mona, lalu muncullah sebuah perisai pelindung yang melindungi seluruh kekaisaran bintang. Perisai itu mengelilingi pagar benteng kekaisaran bintang. Perisai itu berwarna tiga warna yaitu orange, hitam dan biru.
"Sebenarnya untuk apa perisai ini?" bingung kaisar Xiao.
"Musuh" dingin Sima.
"Musuh, apa maksudmu sayang?" tanya kaisar Yu. Tepat setelah kaisar menyelesaikan pertanyaannya, lalu datanglah meteor api. Meteor itu datangnya bukan dari langit, melainkan kiriman dari kaisar siang.
Saat meteor itu terbang ke arah kekaisaran bintang, membuat semua orang ketakutan. Namun, meteor besar itu terhalangi dengan perisai yang Mona buat. Bukan hanya meteor yang datang, bola api, dan senjata-senjata lainnya juga berterbangan ke arah kekaisaran bintang. Namun, lagi-lagi itu terhalangi karena adanya perisainya Mona.
"Kau tidak akan pernah bisa menembus perisai pelindung itu" yakin Sima, membuat semua orang menatapnya.
"Sia*an" suara teriak kekesalan kaisar siang terdengar menggema di seluruh kekaisaran bintang.
"Ternyata aku terlalu meremehkan kalian" sambungnya.
"Hahahaha, iya, kau mungkin bisa menggunakan kekuatanmu kepada mereka yang sudah pernah kau dengar kekuatannya. Tapi, kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu untuk mereka yang belum kau dengar. Bukankah begitu?" ejek Sima.
"Apa maksudmu?" tanya suara kaisar siang.
"Tidak akan lama lagi, kebenarannya akan terungkap. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka yang berani menyentuh keluargaku" ucap Sima sambil mengeluarkan auranya.
'Aura ini tidak asing' batin kaisar Yu dan Yu Long kompak.
"Membosankan" Sima menjentikkan jarinya, lalu di luar perisai Mona keluarlah senjata berupa duri-duri yang sangat tajam.
"Hahahaha, apa kau hanya bisa menggertak seperti itu?" tawa mengejek kaisar siang karena tidak ada apapun yang terjadi setelah duri-duri tajam itu muncul.
"Aku memang hanya bisa memunculkannya, tapi yang menggerakkannya bukanlah diriku, melainkan orang lain" senyum Sima. Lalu, perisai pelindung milik Mona menutupi bagian berduri itu. Jadi, bentuknya, duri yang tadinya diluar berada di dalam. Perisai Mona membentuk sebuah bola besar yang didalamnya di kelilingi dengan duri-duri tajam. Lalu, tiba-tiba, muncullah portal di tengah-tengahnya yang mengeluarkan banyak Tao Tie. Setelah portal itu kembali tertutup, lalu bola perisai Mona yang berisi Tao Tie itu tiba-tiba berputar dengan begitu kencangnya, membuat darah Tao Tie menempel di seluruh bola perisai Mona.
"Ah,,,,," teriak para rakyat saat melihat hal yang begitu mengerikan di depan mereka. Hal itu terjadi berulang-ulang, dimana bola perisai Mona akan kembali bersih setelah semua Tao Tie mati, lalu portal kembali terbuka untuk mengeluarkan Tao Tie lainnya.
"Si*lan, jika kau berani maka keluar dan hadapi aku. Jangan hanya bersembunyi di belakang layar" kesal suara kaisar siang.
"Aku selalu ada disaat dimana kau merasa rencanamu telah matang, maka aku akan datang untuk merusaknya" suara Mona menggema di seluruh kekaisaran bintang.
"Wanita, kau seorang wanita?" tanya kaisar siang.
"Ya, lalu?" tanya Mona balik.
"Aku menjadi penasaran akan dirimu, jadi kau siapa?" tanya kaisar siang.
"Aku manusia" jawab Mona.
"Aku tahu, tapi maksudku siapa kau dan darimana asalmu?" tanya kaisar siang. Namun, tiada lagi balasan yang mereka dengar dari suara Mona.
"Kau dimana?" teriak kesal kaisar siang karena tidak ada lagi jawaban dari suara Mona setelah kira-kira setengah jam berlalu. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban dan balasan dari suara Mona.
__ADS_1