
Kini semua orang sibuk dan dibuat heboh karena kamar mereka telah di gedor-gedor dan diributkan dengan beberapa suara yang memiliki suara khas anak kecil. Kedua kelompok memiliki ciri khas masing-masing dalam membangunkan orang-orang yang menjadi korban mereka.
Korban kelompok Nyoko dan Nene akan di buat heboh karena keduanya sedikit lebih sopan, mereka membangunkan korban mereka hanya dengan berteriak dari luar kamar saja. Walaupun mereka harus berteriak berkali-kali, tapi tetap mereka melakukannya sampai korban mereka bangun tanpa mengetuk atau menggedor pintu.
Sedangkan kelompok triple, mereka membangunkan korbannya dengan cara menggedor pintu atau jendela dengan begitu kuat, hingga membuat rata-rata korban mereka menjadi bangun secara mendadak karena terkejut. Bahkan Airi yang biasanya cerewet juga melakukan apa yang dilakukan oleh kedua kakaknya. Kedua kakaknya menggedor pintu dan jendela karena mereka malas mengeluarkan suara mereka. Namun, karena cara itu cepat membuat korban mereka bangun, jadi Airi juga ikutan membangunkan korbannya dengan membuat mereka jantungan.
Di saat semua orang sedang dibangunkan oleh para malaikat kecilnya, Mona dan Ming Fan sedang menunggu mereka di aula luar kekaisaran bintang. Mona senyum-senyum sendiri membuat Ming Fan bingung.
"Ada apa denganmu? kenapa kau senyum-senyum sendiri sweety?" tanya Ming Fan sambil menyentuh dagu Mona mengarahkannya ke arah Ming Fan membuat Mona menatap ke arah Ming Fan.
"Mari bertaruh" jawaban Mona membuat Ming Fan menjadi sangat bingung.
"Bertaruh?" ulang Ming Fan dengan ekspresi wajah bingung.
"Ya, mari bertaruh, diantara kedua kelompok mana yang menurutmu akan menang?".
"Mmm tentu saja kelompok Nyone" jawab Ming Fan setelah berpikir sebentar.
"Nyone?" Mona mengulangi ucapan Ming Fan yang membuat dirinya bingung.
"Nyoko dan Nene" Ming Fan menjelaskan kebingungan dari Mona.
"Oh, kenapa" Mona tersenyum ke arah Ming Fan karena dia Memilih kelompok Nyoko dan Nene.
"Karena keduanya sama-sama berbicara banyak dan suara mereka sudah jelas. Jadi, tentu saja kelompok mereka yang akan menang" yakin Ming Fan.
"Kenapa tidak memilih sebaliknya?" Mona bertanya sambil tersenyum ke arah Ming Fan. Entah apa yang membuat Mona selalu tersenyum setiap detiknya.
"Kau memilih yang mana?" tanya Ming Fan.
"Aku memilih tiga malaikat kembarku".
"Kenapa?"
"Karena,,, kau akan tahu nanti suamiku, jawab dulu pertanyaanku yang tadi".
"Karena jika kelompok malaikat kembar kita, hanya Airi sendiri yang akan memanggil-manggil mereka, sedangkan dua lainnya akan memilih berdiam diri di belakang Airi seperti biasanya. Mereka seperti penjaga Airi saja, mereka akan bergerak saat Airi hampir terjatuh, tapi jika soal berbicara, maka Airilah sendiri. Jadi, aku lebih memilih kelompok Nyoko dibandingkan kelompok Airi" jawab Ming Fan.
"Kau yakin itu jawabanmu?" tanya Mona memastikan.
"Sangat yakin" yakin Ming Fan.
"Ok, mari bertaruh, kau berada di kelompok Nyoko sedangkan diriku berada di kelompok Aina".
"Ok, siapa dari kelompok yang menang akan menuruti segala yang diinginkan oleh kelompok yang kalah. Bagaimana?" tanya Ming Fan dengan senyum jahilnya karena dia yakin bahwa kelompok Nyokolah yang akan menang. Namun, dia tidak mengetahui bahwa tawarannya itu akan membuat dia sendiri kerepotan nantinya.
__ADS_1
"Ok, kata-katamu tidak bisa di tarik kembali, jadi jangan menyesali ucapanmu nantinya" Mona menampilkan senyum smirknya ke arah Ming Fan.
"Aku tidak akan pernah menarik ucapanku yang kuucapkan hanya kepadamu" yakin Ming Fan sambil memegang tangan Mona
"Mmm lumayan" Mona membalas tangan Ming Fan.
Setelah kira-kira setengah jam berlalu, Mona dan Ming Fan bisa mendengar beberapa gerakan kaki. Lalu, Mona menjentikkan jarinya membuat semua orang berkumpul di depan dirinya dan Ming Fan dengan kelompok masing-masing.k
"Eh,,,," terkejut semua orang karena mereka tiba-tiba ada di depan Mona dan Ming Fan.
Saat semua orang berkumpul di depan Ming Fan dan Mona, tiga orang malaikat kecilnya saling menatap ke arah pembatas tim lain yang telah dibuat oleh Mona.
"Yeeee,,,,menang" teriak Airi saat dia melihat bahwa timnya lebih banyak dibandingkan tim Nyoko gegenya.
"Kau kalah suamiku" ejek Mona sambil menusuk pelan pipi kiri Ming Fan dengan menggunakan jari telunjuknya. Selama sesaat Ming Fan terdiam karena dia melihat bahwa tim yang dia dukung kalah suara lebih dari tiga puluh dua orang dari pada tim Airi.
"Iunda, hadiah?" semangat Airi sambil menyodorkan tangannya ke arah Mona yang berjalan ke arahnya.
"Nanti, minta apapun pada ayahandamu sayang, karena tadi ayahmu mendukung tim Nyoko gege. Ayahandamu berjanji tim yang kalah akan menuruti semua permintaan dari tim yang menang" ucap Mona membuat Aina dan Jun juga tertarik akan perjanjian ini.
"Sungguh,,,," kompak Airi, Aina dan Jun kompak. Tatapan yang diberikan oleh Aina dan Jun saat mengatakan kata-kata sungguh adalah tatapan datar, tapi semua orang bisa melihat ada perasaan senang di dalam tatapan keduanya.
'Aku baru melihat keduanya semangat seperti ini' gumam semua orang sambil menatap wajah Aina dan Jun.
"Sungguh sayang, jika tidak percaya, maka tanya sendiri saja pada ayahanda kalian" ucap Mona membuat keduanya menatap ke arah Ming Fan untuk memastikan bahwa ucapan. ibundanya benar.
"Baiklah, kalian bertiga akan mendapatkan hadiah dari ayahanda kalian nanti. Tapi, ngomong-ngomong ibu ingin bertanya bagaimana cara kalian membangunkan orang sebanyak ini?" tanya Mona sambil menunjuk ke arah tim Airi, tapi matanya menatap ke arah Ming Fan sambil tersenyum penuh arti.
"Kenapa aku berpikir akan datang bahaya sebentar lagi" gumam pelan Ming Fan.
"Kami membangunkan semua orang dengan berteriak di luar kamar mereka" celetuk Nyoko meskipun pertanyaan itu bukan di ajukan kepadanya.
"Kalian membangunkannya dengan cara berteriak, sedangkan kami mengira ada gempa bumi yang tiba-tiba menghantam pintu dan jendela kamar kami. Bahkan tidak sekalipun mereka mau berteriak membangunkan kami, mereka hanya mengetuk pintu dan jendela. Ah, bukan mengetuk, tapi lebih tepatnya menggedor-gedor pintu hingga membuat kami yang tua-tua ini bangun dengan sekali gedoran pintu saja" kesal sesepuh Mao.
"Baiklah, sudah waktunya kita berolahraga, jadi mari berolahraga" teriak Mona sambil memulai berlari pagi meninggalkan semua orang yang masih berdiri mematung di tempat mereka masing-masing.
"Aku yang harus membuat kalian ikut berlari atau kalian lari sendiri" teriak Mona yang sudah berlari dua puluh meter bersama dengan anak-anaknya.
"Kami lari sendiri" balas semua para sesepuh sambil berlari mengikuti Mona dan anak-anaknya. Begitupun dengan para prajurit dan para pelayan.
Mona berlari ke arah luar benteng istana kekaisaran bintang diikuti oleh semua orang yang berada di kekaisaran bintang. Saat Mona dan lainnya berlari, suara langkah kaki mereka terdengar begitu besar membuat semua rakyat yang rumahnya di lewati oleh mereka membuka pintu dan jendela rumah mereka untuk melihat siapa yang berlari di waktu sepagi ini.
Mereka yang melihat semua orang di kekaisaran bintang keluar untuk berlari, akhirnya mereka juga mengikutinya dari belakang. Mona berlari sambil mengajak kelima anaknya berbicara agar mereka tidak kebosanan.
Setelah Mona melihat bahwa anak-anaknya mulai kecapean berlari, terutama tiga anaknya yang masih berusia dua tahunan lebih, Mona menggunakan kekuatannya untuk membuat mereka sesuatu yang menyerupai bentuk kereta dorong untuk balita.
__ADS_1
Ming Fan juga berlari di samping Mona untuk membantu dirinya mendorong anak-anaknya yang berada di atas kereta dorong yang dibuat dari kekuatan Mona.
Setelah matahari pagi terbit menyinari seluruh dunia, barulah Mona mengajak semuanya kembali ke rumah masing-masing. Mona dan lainnya kembali hanya dengan berjalan santai, tidak seperti tadi yang lari-lari.
Mona terus saja menggendong Aina dan Jun, walaupun keduanya tidak mau di gendong, bahkan keduanya sangat ingin turun, tapi keduanya kalah kekuatan dari ibunda mereka.
Entah apa alasan Mona terus saja lebih memilih menggendong Aina dan Jun dibandingkan ketiga anaknya yang lainnya. Namun, perilaku Mona tidaklah membuat ketiga anaknya yang lainnya cemburu, mereka justru merasa biasa-biasa saja.
Sesepuh Muran pernah bertanya kepada ketiga lainnya saat mereka melihat Mona lebih dekat dengan Aina dan Jun dibandingkan Nyoko, Nene dan Airi saat mereka berlari. Tapi, jawaban yang di berikan oleh Nyoko membuat semua orang terdiam terkejut.
"Hai, lihatlah, ibunda kalian lebih dekat dengan dua saudara kembar kalian, tidakkah kalian merasa iri dan cemburu?" tanya sesepuh Muran sambil menunjuk ke arah Mona yang mendorong kereta Aina dan Jun sambil berlari. Pertanyaan sesepuh Muran sebenarnya bisa di dengar oleh beberapa orang, jadi mereka juga penasaran akan jawaban yang akan di berikan oleh ketiganya.
"Tidak" kompak ketiganya dengan sangat yakin membuat semua orang yang mendengarnya menjadi sangat ingin tahu alasannya, terutama Ming Fan yang mendorong kereta mereka juga ikut penasaran.
"Kenapa?" tanya sesepuh Muran.
"Karena aku tidak ingin kehilangan ibunda lagi, ibunda kembali setelah kurang lebih dua tahun pergi. Jadi, biarkan saja ibunda ingin melakukan apa yang ibunda ingin lakukan, sela ibunda masih berada di dekat kami. Lalu, kenapa juga kami harus iri di saat dua saudaraku yang begitu dingin itu, dibuat kalah karena ibunda terus saja melakukan apa yang ibu inginkan tanpa memperdulikan mereka yang seperti tidak nyaman dengan perhatian ibunda" jawab Nyoko sambil menunjuk ke arah dua adiknya yang mengerutkan kening mereka karena ulah Mona.
"Atu enang aena jijie dan gege alah" semangat Airi membuat tiga orang yang sedang dibicarakan melihat ke arah mereka.
"Blueeeeekkk" Airi menjulurkan lidahnya ke arah dua saudara kembarnya yang sedang menatapnya dengan tatapan datar mereka.
Setelah melihat tingkah Airi, tentu saja semua orang tersenyum kecuali Aina dan Jun yang memberikan tatapan mata yang begitu tajam. Namun, tatapan itu tidak berlangsung lama karena Mona memutuskan tatapan ketiga anak kembarnya dengan menggunakan rambat hijau miliknya. Lalu, dia kembali mendorong kereta kedua anaknya.
Sedangkan kini, Mona dengan santainya berjalan sambil menggendong mereka untuk kembali setelah lari pagi. Semua orang hanya bisa melihat saja, tanpa bereaksi apapun lagi, karena mereka yang seharusnya iri dan cemburu saja tidak masalah. Jadi, kenapa mereka harus mempermasalahkan hal ini.
Sebagian dari semua orang yang berlari telah kembali ke rumah mereka masing-masing, saat mereka masuk, mereka bisa mencium aroma lezat dari masakan. Jadi, tentu saja mereka semua mencari asal aroma itu.
Mereka semua dibuat terkejut karena saat setelah mereka semua pulang dari lari pagi bersama orang-orang dari kekaisaran bintang, tiba-tiba makanan telah tersedia di rumah mereka, padahal para wanita yang memasak juga ikut berlari.
Makanan-makanan itu adalah makanan-makanan yang berbahan begitu lezat, mereka yang biasanya hanya makan ala kadarnya, kini di depan mereka telah tersedia makanan yang begitu sangat enak.
"Terima kasih, tuan putri Mona, kami tahu ini pasti dari dirimu" ucap syukur semua orang sambil menatap makanan lezat itu.
"Terima kasih nak, ini adalah makanan yang terenak yang akan kami rasakan, kami yang tua ini sudah tidak bisa terlalu kuat mencari uang, jadi kami makan apa yang ada. Meskipun sering sekali kami dibantu oleh para keluarga kekaisaran, tapi kami tidak pernah merasa begitu beruntung seperti hari ini. Kami tidak kedapur, tapi masakan sudah ada, bahkan masakan ini begitu lezat" lirih sepasang suami istri yang usianya sudah renta sambil menatap ke arah masakan yang ada di dapur mereka.
"Ibu, lihat ada masakan enak, bolehkah aku mengambilnya?" tanya seorang anak kepada ibunya.
"Kau boleh mengambilnya sayang" jawab ibunya sambil meneteskan air matanya karena melihat senyuman semangat di wajah anaknya.
"Terima kasih, putri/nak, karena ini adalah hadiah yang begitu indah dalam dapur kami" kompak semua orang yang telah melihat makanan enak di dapur mereka, lalu mereka menyantapnya dengan penuh kegembiraan di hati mereka.
Senyuman muncul di bibirnya Mona saat dia tepat berada di depan benteng kekaisaran bintang, senyuman itu muncul karena dia mendengar ucapan bahagia semua orang terhadap hadiahnya, karena tepat di dalam rumah semua orang Mona telah meletakkan kupu-kupu untuk mengawasi makanan yang dia berikan agar tidak dimakan oleh tikus.
Senyuman Mona itu bisa dilihat oleh kedua anaknya yang saat ini berada di dalam gendongan Mona. 'Iunda, telsenyum, kenapa?' kompak bingung dua anaknya.
__ADS_1
Mona yang mendengar batin kedua anaknya hanya memberikan tatapan lembut sambil tersenyum ke arah keduanya. Lalu, Mona dan lainnya kembali ke kamar mereka masing-masing di dalam istana kekaisaran. Bukan hanya Mona yang saat ini merasa begitu bahagia, tapi semua orang juga ikut bahagia dan tersenyum saat melihat kehidupan mereka telah berubah setelah kedatangan Mona yang begitu mereka rindukan selama beberapa tahun belakangan ini.
Tanpa semua orang sadari, bahwa ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kehidupan sehari-hari orang-orang di kekaisaran bintang. 'Tersenyumlah sepuas yang kau mau, karena aku akan memastikan bahwa kehidupanmu akan hancur' batin beberapa pasang mata yang menatap kekaisaran bintang dengan tatapan membunuh yang begitu besar.