
Di kekaisaran Yu, semua orang merasakan kebahagiaan karena permaisuri mereka sedang hamil di bulan-bulan awal. Sesepuh Ying dan sesepuh Zan juga ada di sana untuk melindungi permaisuri dan bayi dalam kandungannya. Tapi, tepat ketika semua orang tertidur, permaisuri Yu bermimpi buruk.
"Tidak, tidak jangan pergi nak, tidak,,,,,," teriak permaisuri sambil terbangun dari tidurnya dengan tangannya terarah ke depan seperti berusaha menggapai sesuatu.
"Ada apa permaisuriku" bangun kaisar karena teriakan istrinya.
"Hiks,,,,hiks,,,hiks,," permaisuri bukannya menjawab, dia malah hanya menangis membuat kaisar Yu semakin bingung.
"Ada apa permaisuri ku, katakan sesuatu jangan hanya menangis" ucap kaisar Yu.
"Hiks,,,,hiks,,,hiks aku merindukan anakku" gumam permaisuri.
"Bukankah kita baru bertemu tadi saat makan malam, lalu kenapa kau merindukan mereka" bingung kaisar Yu.
"Hiks,,,,,".
"Ah, baiklah, aku akan panggil mereka" pasrah kaisar sambil berjalan ke arah pintu kamar.
"Pengawal, tolong bangunkan dan panggil para pangeran dan putri kemari, dan tolong panggil juga sesepuh Zan dan sesepuh Ying" perintah kaisar pada salah satu pengawal di depan kamarnya.
"Baik yang mulia" balas pengawal itu. Lalu, dia berlalu pergi ke arah pavilium pangeran.
Pengawal itu mendatangi pavilium pangeran, putri dan juga kamar sesepuh. Pengawal memberi tahu bahwa yang mulia ingin bertemu selarut malam begini, dan dia juga memberi tahu bahwa dia mendengar suara tangis permaisuri, membuat mereka yang mendengarnya menjadi khawatir takut terjadi sesuatu pada permaisuri. Jadi, dengan terburu-buru, mereka yang di panggil langsung begegas pergi ke kamar yang mulia kaisar dan permaisuri.
"Ayah ada apa?" tanya Xian saat dia baru masuk ke kamar kaisar bersama dengan yang lainnya.
"Ibumu" jawab singkat kaisar sambil tangannya menggosok pelan lengan permaisuri yang berada di dalam dekapannya, sebagai usaha menenangkan permaisurinya.
"Ibu, ada apa?" tanya Xian, tapi tidak ada jawaban yang diberikan permaisuri Yu selain isak tangisnya yang masih belum reda.
"Jika kau tidak menceritakan kepada kami, maka bagaimana kami akan tahu apa yang kau khawatirkan, sayang" ucap sesepuh Ying sambil memegang tangan permaisuri Yu.
Sekitar setengah jam berlalu setelah ucapan sesepuh Ying, akhirnya permaisuri mau berbicara dan menceritakan mimpi buruknya.
"Aku bermimpi sedang menatap punggung seorang wanita yang seusia dengan Anchi yang sedang menari-nari bersama kupu-kupu di musim bunga gugur. Aku melihat dirinya dari belakang yang sepertinya sangat cantik bagaikan dewi, dengan rambut berwarna emas yang begitu panjang hampir menyentuh tanah. Dia memakai baju yang serba berwarna putih. Namun, tiba-tiba dia berubah memakai baju serba berarna hitam, rambutnya berubah berwarna hitam, lalu dia membalikkan tubuhnya ke arahku. Aku melihat dia memiliki taring dan tanduk dengan wajah yang begitu putih bagaikan hantu. Saat dia membalikkan tubuhnya, dia mengatakan 'ini sungguh menyakitkan ibu, dan maafkan aku karena mungkin aku tidak akan berada di dekatmu lagi' lalu dia menghilang menjadi debu hitam yang di bawa terbang oleh angin. Saat dia mengatakan hal itu, aku tidak tahu kenapa, tapi hatiku merasa begitu sakit. Seolah-olah dia memanglah putriku, tapi aku tidak melihat wajahnya saat dia menari dengan pakaian putih dan juga rambut emasnya. Aku melihatnya, saat dia telah berubah menjadi begitu mengerikan, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya ibu. Tapi, aku yakin kalau dia bukanlah Anchi maupun Anshi. Aku seperti memiliki ikatan dengannya, tapi siapa dia aku tidak tahu" cerita permaisuri sambil menundukkan kepalanya.
'Wang Yuan' batin sesepuh Ying dan Zan kompak.
"Kakek mau kemana?" tanya Anshi saat dia melihat sesepuh Zan yang berjalan keluar.
"Kakek harus menemui teman kakek, untuk menanyakan perihal mimpi ibumu" jawab sesepuh Zan.
"Aku ikut" ucap sesepuh Ying.
"Tenanglah, dan istirahatlah nak" ucap sesepuh Zan sambil menatap permaisuri yang juga sedang menatap ke arah sesepuh Zan.
Sesepuh Zan dan sesepuh Ying pergi ke kekaisaran bulan untuk menemui cucu kandung mereka. Tapi, saat mereka sampai, mereka di buat kecewa karena cucu mereka sedang di kekaisaran malam untuk berperang. Mereka mendengar itu dari penjaga gerbang kekaisaran bulan. Jadi, mereka ke kekaisaran malam.
******
Semua orang masih dalam keterkejutan mereka karena mendengar ucapan dari Ying Wie. Namun, itu tidak berlangsung lama karena ucapan putri kaisar malam yang melihat Mona berubah menjadi semakin mengerikan.
"Ibunda, aku takut" ucap putri kaisar malam saat melihat penampilan Mona yang begitu mengerikan. Jadi, dia memilih bersembunyi di belakang ibunya.
__ADS_1
"Sayang, tidak apa-apa" permaisuri kaisar malam berusaha menenangkan putrinya yang ketakutan melihat Mona yang mulai menggila sambil dirinya menatap ke arah Mona.
"Ah,,, ibunda,,,,,ini sungguh sakit, badanku sangat panas dan sakit, bunda".
Penampilan Mona berubah menjadi begitu mengerikan dengan rambutnya yang berwarna emas berubah menjadi berwarna hitam dengan tergerai panjang, matanya berwarna merah, taring dan tanduknya yang semakin memanjang, dan warna kulitnya yang berubah menjadi putih seperti hantu sambil menatap serius ke arah putri kaisar malam.
"Sepertinya darahmu sangat manis, gadis kecil. Jadi, kemarilah" senyumnya sambil menatap ke arah putri kaisar malam yang bersembunyi ketakutan di belakang permaisuri malam.
"Jangan dirinya, darahnya sangat sedikit. Jadi, pilihlah salah satu dari kami yang sudah berusia dewasa" rayu Ying Wie.
"Darah kalian tidak semanis gadis kecil itu" Mona menuruni satu tangga dengan matanya masih memandang ke arah putri kaisar malam yang sesekali mengintip dirinya.
"Jangan berani macam-macam pada keponakanku" ucap pangeran Ming Zan sambil berada di depan permaisuri malam dengan dua pedang yang dia pegang di kedua tangannya.
"Jangan ada yang berani melukainya karena dia adalah wanitaku" ucap Ming Fan berusaha memberatkan pedang yang di pegang oleh Ming Zan dengan menggunakan kekuatannya.
"Kakak kedua, wanita yang mengerikan itu ingin menghisap darah Zuwie. Jadi, tentu saja aku sebagai pamannya maka sudah menjadi tugasku untuk melindunginya" ucap Ming Zan membuat dua orang menatapnya dengan sangat mengerikan.
"Wanita yang kau bilang mengerikan itu adalah kakak perempuanku/kakak iparmu" ucap Ying Wie dan Ming Fan kompak.
"Akh,,,," teriak Ming Fan saat Mona tiba-tiba menggigit lehernya. Lalu, dia menghisap darah Fan dengan sangat rakus seolah-olah seperti sedang berebutan dengan orang lain saja.
"Sabarlah, pelan-pelan saja, tidak akan ada yang merebutnya darimu ratuku" Fan berusaha menenangkan Mona dengan cara membelai rambut serta punggung Mona sambil berdiri. Namun, tubuhnya semakin lemas karena Mona terus menghisap darahnya membuat dia terjatuh duduk di lantai, tapi dia tetap mendekap Mona yang terus menghisap darahnya. Saat menatap bahwa kakak keduanya mulai lemas, Ying Wie mendekati Mona dan Fan.
"Kakak, kau juga boleh menghisap dar,,,,,augh,,," ucapan Ying Wie terpotong karena Mona mencekik leher Ying Wie, dengan taringnya yang masih berada di lehernya Fan.
"Dia adalah adikmu, apa kau tidak ingat?" ucap Fan dengan berusaha melepaskan tangan Mona yang mencekik leher Ying Wie.
"Tidak masalah kakak kedua, kakak boleh melukai diriku kapanpun kakak mau, asalkan itu bisa membuat kakak perempuanku senang" ucap Ying Wie sambil mencium tangan Mona yang sedang mencekik lehernya dengan matanya yang terus memandang ke arah Mona.
"Ah,,, Ying Wie, Fan, maaf" Mona melepaskan tangannya dari leher Ying Wie dan mendorong Fan agar sedikit menjauhinya. Tapi, Fan menarik dirinya kembali ke pelukannya.
"Tidak masalah" ucap Fan sambil mencium sekilas bibir Mona yang memiliki bekas darahnya.
"Maaf, karena aku tidak bisa mengendalikan diriku sehingga aku bisa melukai kali,,,," ucap Mona dengan nada berbicara dan matanya kembali normal seperti biasanya. Tapi, ucapannya tidak bisa terselesaikan karena Mona jatuh pingsan.
"Mona,,,,," teriak Ying Wie dan Fan kompak.
"Ying Wie, panggil tabib agung dari kuil ke kamarku untuk memeriksa keadaannya" pinta Fan sambil mengendong Mona di depan dadanya sambil berlalu pergi.
"Baik, kak" balas Ying Wie sambil berlalu pergi.
Anggota kekaisaran kegelapan lainnya hanya bisa mengikuti Fan dalam diam di belakangnya. Karena tidak ada satupun dari mereka yang ingin bertanya kepada Fan tentang Mona. Setelah beberapa saat setelah Fan membaringkan Mona di atas kasurnya. Lalu, datanglah Ying Wie dengan tabib agung.
"Tolong periksa dia tabib agung" pinta Fan.
"Kutukanmu telah berpindah padanya, karena dialah wanita yang menukar darah denganmu dulu bukan" ucap tabib itu masih di depan pintu kamar.
"Bagaimana anda tahu" terkejut Ying Wie.
"Dia terlalu hebat untuk ku sentuh" ucap tabib itu dengan memperhatikan Mona yang terbaring.
"Apa maksudnya?" bingung beberapa orang.
__ADS_1
"Dia tidak akan bertahan selama satu tahun lebih lagi".
"Ying Wie, dari mana kau mendapatkan pria pembohong sepertinya" kesal Fan sambil mengeluarkan aura intimidasinya.
"Fan, uhuk,,,,uhuk,,," panggil Mona membuat semua mata kembali menatap ke arah dirinya yang terbaring.
"Kau ingin apa?" tanya Fan lembut berbeda dengan ucapannya sebelumnya terhadap tabib agung.
"Bisa bangunkan aku,,,,".
"Aku mengerti" ucap Fan sambil mengangkat setengah badan Mona. Lalu dia berada di belakangnya membuat Mona berada dalam dadanya untuk menopang badannya.
"Kemarilah kakek" Mona menggerakkan tangannya mengkode agar tabib itu mendekatinya.
"Ya, nona,,,," bingung tabib ingin memanggil Mona.
" Mona, itu namaku kek. Tidak usah pedulikan dirinya, jawab saja pertanyaanku. Apa alasanmu mengatakan bahwa kehidupanku hanya kurang lebih tinggal satu tahun lagi".
"Kau telah menanggung beban yang beban itu dulunya adalah beban pangeran Fan, dan itu sudah menjadi takdirmu karena terlahir sebagai keturunan dari kekai,,,," ucapan tabib terpotong karena Mona.
"Bagaimana caranya aku bertahan selama satu tahun lagi, apakah dengan cara menukar darah lagi?".
"Saat kutukan itu ada di tubuh pangeran ketika kalian muda, maka itu berguna dengan tukar darah. Tapi, kini, kutukan itu semakin berkembang karena induk tubuhnya juga sangat luar biasa, maksudku induk adalah dirimu. Jadi, karena kau luar biasa kuat dan umur kalian sudah dewasa, maka hal itu tidak mempan lagi hanya dengan pertukaran darah. Itu bisa di tenangkan apabila kalian telah menyatu" jawab tabib itu.
"Uhuk,,,uhuk, cara lain?" tanya Fan sambil menahan wajahnya yang memerah.
"Tidak ada, karena kau adalah mantan induknya sedangkan dia induknya saat ini. Jadi, hanya itu,,,," lagi-lagi ucapan tabib agung terpotong karena Mona.
"Aku ingin sebuah pernikahan di selenggarakan secepatnya Fan".
"Kau bilang apa Mona?" terkejut Fan.
"Kau mendengarnya" Mona mulai memejamkan matanya kembali.
"Bocah, bisakah kau mendengar ucapanku sampai selesai dulu" kesal tabib akan tingkah Mona.
"Aku menjaga rahasia kehidupanku ini, selama sepuluh tahun lebih. Sedangkan kau ingin membongkarnya dengan begitu mudah, maka tentu saja tidak akan aku biarkan terjadi tabib".
"I,,,itu benar juga" ucap tabib.
"Tapi, Pernikahan bukanlah hal yang mudah kau ucapkan dan kau lakukan. Kau membutuhkan saksi dan komitmen nona" ucap tabib itu.
"Kami sudah berkomitmen sejak lama. Soal saksi pernikahan dari keluargaku, itu tidak perlu karena aku sedang sen,,, auhg,,,,," Mona memegang bagian simbol bunga mawar hitam di bahunya yang tiba-tiba mengeluarkan darah dengan sendirinya tanpa sengaja dilukai.
"Baik, serahkan soal persiapan pernikahan padaku" ucap Fan sambil memegang tangan Mona yang memegang bahu kanannya.
"Dia akan merasa sakit selama malam hari, jika bisa laksanakan pernikahannya langsung besok saja" usul tabib.
"Tadi, siapa yang mengatakan tidak boleh terburu-buru" ucap Ying Wie.
"Dia bilang bahwa dia tidak membutuhkan saksi dari keluarganya, maka laksanakanlah dengan cepat agar tubuhnya tidak semakin menderita" ucap tabib.
"Benar-benar ikatan seorang ibu dan anak itu sangat kuat ya" ucap seseorang yang memasuki kamar Fan.
__ADS_1