
Setelah jatuhnya pelayan yang tadi menahan tombak yang mengarah ke jantung permaisuri Yu bersama kaisar siang. Dengan kemampuan nya yang tersisa pelayan itu menotok nadi dan urat saraf kaisar siang. Hal itu membuat kaisar siang tidak bisa bergerak. Kaisar siang tertahan oleh ranting yang ada di tebing itu, sedangkan pelayan itu jatuh ke lautan yang tepat di dasar tebing itu adalah lautan bukan tanah. Saat kaisar siang tersangkut di ranting pohon, dia masih bisa menggunakan koneksinya pada menterinya. Setelah mendapat koneksi dari kaisar siang, menteri itu meniup sesuatu yang berbentuk seperti cangkang kerang besar yang suaranya menggema di seluruh kekaisaran Yu. Saat suara itu menggema, seluruh pasukan kekaisaran siang mundur membuat semua orang bingung. Mereka semua semakin di buat terkejut saat empat pelayan dan pangeran Sima datang memberikan kabar buruk bagi mereka semua.
"Yang mulia kaisar,,,, yang mulia kaisar,,," teriak mereka.
"Ada apa?" tanya kaisar Yu.
"Permaisuri,,,,permaisuri,,, permaisuri hosh".
"Ada apa dengan ibunda?" tanya Xian.
"Permaisuri dan pelayan baru untuk pangeran Sima di tarik ke dalam lingkaran cahaya hitam. Setelah itu kami tidak melihat keduanya lagi" cerita pelayan pendamping permaisuri.
"Apa" terkejut semua orang yang mendengar ucapannya.
"Apakah ini alasannya mereka mundur, karena mereka sudah menyekap ibu" khawatir Anshi.
"Jangan berpikir yang macam-macam Anshi" marah Anchi.
"Jadi, masak ini suatu kebetulan belaka bahwa ibunda menghilang bersamaan dengan mundurnya pasukan mereka".
"Sudah cukup" teriak sesepuh Ying.
"Sebaiknya kita mencarinya saja, sekarang mari kita semua berpencar dulu untuk mencari permaisuri" perintah sesepuh Zan.
Mereka semua berpencar mencari permaisuri Yu. Setelah lima menit, barulah ada salah satu dari prajurit bayangan kaisar Yu menemukan dimana permaisuri Yu. Dia melepaskan cahaya kuning ke langit, tanda bahwa dia telah menemukan permaisuri. Saat melihat tanda itu, semua orang mengarah ke tanda itu. Saat mereka sampai, mereka bisa melihat bahwa permaisuri terluka di bagian jantungnya. Walaupun tidak dalam, tapi itu berhasil membuat permaisuri tidak sadarkan diri. Jadi, mereka semua hanya membawa permaisuri ke istana terlebih dahulu untuk menyembuhkan lukanya. Setelah satu jam kemudian, akhirnya permaisuri bangun. Jadi, dia menceritakan semua yang terjadi padanya dan pelayan pangeran Sima ketika mereka di tarik ke lingkaran, kepada semua orang yang ada di ruangan istirahatnya. Hal itu membuat beberapa orang mengerutkan dahinya. Sedangkan sesepuh Zan secara spontan mengatakan hal yang membuat beberapa orang menjadi bingung.
"Sepertinya memang sudah tidak bisa di elak lagi" celetuk sesepuh Zan.
"Apa maksud ayah?" tanya permaisuri Yu.
"Bukan apa-apa, terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa kita rubah walaupun kita tau itu akan terjadi. Jadi, berdoa saja agar pelayan itu tetap bisa selamat" jawab sesepuh sambil menatap para sesepuh lainnya, dan menatap ke arah sebuah pohon di luar.
"Ayah benar" semangat permaisuri Yu. Tapi, beberapa detik kemudian wajahnya menjadi khawatir.
"Ada apa dengan jantung ku kenapa rasanya sangat sakit, dan kenapa aku mengeluarkan air mata?" tanya permaisuri saat sebelah tangannya menyentuh jantung dan sebelah lagi terkena tetesan air matanya.
"Permaisuri ku, ada apa?" tanya kaisar.
__ADS_1
"Tidak tau yang mulia" jawabnya bingung.
"Beristirahatlah, mungkin kau hanya ketakutan saja" ujar sesepuh Ying.
"Baiklah" jawabnya, lalu semua orang keluar dari kamar permaisuri.
*****
Dua puluh hari sebelum kejadian peperangan dengan kaisar siang itu. Yuan berjalan-jalan di tepian pantai, lalu dia pulang ke kekaisaran Yu dengan merubah penampilan dirinya agar tidak di kenali sebagai Wang Yuan. Dia pergi ke kamar pangeran Sima yang kebetulan waktu itu juga permaisuri sedang mencari dua pelayan baru untuk bekerja mendampingi sang pangeran bermain-main. Saat permaisuri melihat penampilan Yuan yang begitu memprihatinkan dengan rambut berwarna coklat yang acak-acakan, baju yang sedikit kotor, dan tubuhnya yang dekil. Awalnya penampilan Yuan tidak sedekil itu, tapi karena dia mengetahui kalau permaisuri sedang mencari dua orang pelayan. Oleh karena itu, dia mengubah penampilannnya dengan sangat memprihatinkan, dan hal itu berhasil. Jadi, permaisuri memilihnya untuk menjadi pendamping dari pangeran Sima.
Hari-hari Yuan, dia habiskan dengan bermain-main bersama pangeran Sima. Mereka berdua membuat para pelayan yang bertugas di pavilium milik pangeran Sima menjadi kewalahan sekaligus merasa senang. Karena ini pertama kalinya mereka melihat pangeran Sima mereka yang tidak pernah berbicara dan sering pendiam. Akhirnya pangeran Sima mereka bisa tertawa dan menjadi ceria ketika dia bersama pelayan baru (Yuan) itu.
Mereka semua yang di pavilium milik pangeran Sima dibuat kewalahan saat mereka berusaha mencegah agar pangeran tidak bermain-main terlalu kelewatan. Misalnya saat pangeran ingin mangga, maka Yuan sendirilah yang akan memetik buah mangga itu dengan cara memanjat tanpa menggunakan kekuatannya, dia memanjat dengan cara biasanya seseorang memanjat sebuah pohon tanpa meminta bantuan dari orang lain. Hal itu membuat yang lainnya menjadi khawatir. Namun, kekhawatiran mereka sirna saat dia dengan riangnya tertawa dari atas pohon sambil menenteng buah mangga di tangannya dan memperlihatkannya kepada pangeran. Hal itu membuat pangeran Sima merasa semangat.
Mereka semua juga di buat heboh saat Yuan mengajari adiknya cara berenang dan menangkap ikan. Awalnya dirinya pura-pura terpeleset ke dalam sebuah kolam yang dalamnya semeter setengah, lalu dia tidak muncul-muncul membuat semua orang menjadi khawatir. Saat Sima sudah mulai menangis karena khawatir, barulah Yuan menampakkan dirinya dari kolam sambil mentertawai Sima yang sedang menangis. Saat dia tau bahwa dia sedang di kerjai, pangeran Sima langsung memonyongkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di dadanya. Tingkahnya itu membuat Yuan semakin tertawa, semakin Yuan tertawa maka semakin dia ngambek dan semakin Sima ngambek maka semakin Yuan tertawa. Tingkah keduanya itu membuat yang lainnya yang melihat juga ikut tersenyum karena mereka tidak berani mentertawakan keluarga kekaisaran karena mereka tidak ingin kehilangan nyawa mereka dengan begitu cepat.
Merasa sudah cukup menggoda adiknya, akhirnya Yuan mengajaknya masuk ke kolam untuk berenang, saat mendengar itu pangeran menjadi semangat. Tapi, tentu saja hal itu di larang oleh yang lainnya, namun saat mereka mendapatkan pelototan dari pangeran mereka, mereka menjadi tidak berani membantah membuat Yuan tertawa ketika melihat adiknya dengan mudah membuat mereka semua terdiam seketika. Ketika semua orang sudah terdiam, barulah pangeran masuk ke kolam itu di bantu oleh Yuan yang memegang tangannya. Saat Yuan telah mengajari adiknya berenang, dia merasa airnya terlalu dalam untuk seseorang belajar berenang. Jadi, Yuan memilih metode lain untuk mengajari adiknya, yaitu metode berenang di sungai yang mengalir. Yuan dan pangeran pergi ke arah sungai yang kebetulan dalamnya semeter.
Sebenarnya di kekaisaran Yu ada dua sungai, yang satunya tenang dan dangkalnya hanya tiga puluh senti meter. Sedangkan satunya lagi adalah sungai yang mengalir sedikit kencang dengan dalam semeter, jika pada tubuh pangeran tentu saja dia tenggelam. Saat melihat Yuan memilih sungai itu, membuat yang melihatnya menjadi khawatir, namun mereka tidak berani melawan pangeran mereka. Jadi, mereka hanya mengikuti saja dari belakang. Saat mereka berdua masuk ke dalam sungai, Yuan mengajari adiknya dengan cara memegang tangannya, lalu arus menarik kakinya ke belakang membuat tubuh Sima mengambang karena tangannya di pegang oleh
"Jangan pernah merasa takut dan rilekskan tubuh mu karena air bukanlah apa-apa. Air benda mati, sedangkan kau benda bergerak. Jadi, jangan pernah mau kalah dari air" sambung ku lagi. Aku berhenti, saat aku berhenti, semua orang menjadi bingung. Tapi, semuanya masih mengejar pangeran kecuali dua orang yang sudah berhenti demi membantu diriku naik dari sungai dengan memegang pakaian untukku dan Sima ganti saat baju mereka basah. Setelah sepuluh menit aku naik dari sungai, lalu datanglah Sima yang berlari ke arahnya sambil tersenyum senang.
"Sepertinya dia berhasil" celetuk ku sambil melihat ke arah Sima yang berlari ke arahnya.
Saat Sima sampai di depannya, Yuan langsung menariknya ke arah sungai yang dangkal tanpa memberinya waktu untuk istirahat. Di sana Yuan menyuruh Sima untuk menangkap ikan tanpa mencontohkannya terlebih dahulu. Awalnya semua itu berjalan sia-sia, namun dia tiba-tiba teringat dengan ucapan Yuan tentang anggaplah air sebagai teman. Jadi, Sima pun menganggap ikan sebagai temannya, dia terus memperhatikan ikan yang akan bergerak cepat saat diapun bergerak cepat. Jadi, pangeran Sima menggerakkan kakinya secara perlahan, dan dia berhasil menangkap ikan di sungai yang tenang dan dangkal itu. Setelah dia menangkap satu, dia malah ketagihan menangkap ikan itu.
"Semua kehidupan pangeran Sima Sepertinya akan berubah saat pelayan Mulan ini datang bukan. Lihatlah, padahal dia baru saja datang, tapi hidup pangeran sudah sedikit berwarna bukan" ujar seorang prajurit yang melihat dari jauh.
"Kau benar, entah kenapa aku merasa bahwa mereka memiliki sebuah ikatan yang sangat kuat. Bukankah begitu?" tanya prajurit lainnya.
"Mmmm".
Setelah aksi menangkap ikan itu dilakukan oleh Yuan dan Sima. Mereka akhirnya membakar ikan itu dan memakannya dengan sesekali bercanda. Hari-hari Yuan dan Sima selalu terlewatkan dengan Yuan memberikan sedikit ilmu kepada pangeran Sima.
Pada hari ke delapan belas, akhirnya kaisar, permaisuri dan kakak-kakaknya pangeran Sima merasa penasaran karena kenapa pangeran Sima saat ini sudah keseringan tidak susah ketika di ajarkan oleh guru khusus yang di panggil oleh kaisar. Jadi, mereka memutuskan untuk pergi ke pavilium pangeran Sima. Ketika mereka masuk kesana, mereka melihat bahwa tidak ada satu pengawalpun yang menjaga pavilium pangeran Sima. Hal itu membuat mereka menjadi bingung. Namun, tidak berapa lama mereka mendengar suara tawa beberapa orang dari taman belakang. Jadi, mereka memilih untuk melihatnya. Saat mereka sampai di sana, mereka melihat para prajurit dan bibi pelayan berada di sungai yang dalam. Mereka melihat kalau mereka semua yang di sungai tertawa dengan riangnya, di sana juga ada Sima yang juga tertawa dengan riangnya.
"Ini pertama kalinya aku melihat putra kecil ku tertawa dengan begitu ceria seperti saat ini" senyum kaisar Yu.
__ADS_1
"Ayahanda benar" balas pangeran Xian.
"Apakah selama ini mereka selalu seperti i,,,,,,," ucapan permaisuri terpotong karena teriakan dari Yuan.
"Uwaaaaaa,,,, byur,,,," teriak ku dari atas pohon, lalu dia lompat ke dalam air membuat air ciprat kemana-mana.
"Uh,,,,," tanpa aku sadari kalau mata ku bergerak dengan cepat ke arah kaisar dan yang lainnya yang sedang bersembunyi di belakang beberapa pohon membuat orang-orang yang bersama kaisar menjadi terkejut. Jika orang lain mungkin takkan menyadarinya, tapi berbeda dengan diri ku. Saat aku menyadari kalau kaisarlah yang di sana, aku langsung berpura-pura mengalihkan pandangan ku dengan cara mencelupkan kepalaku terlebih dahulu ke dalam air.
'Apa ini hanya perasaan ku, atau memang iya bahwa dia memiliki tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Karena aku bisa melihat bahwa ada kewaspadaan yang tinggi di dalam kesegitan matanya barusan' batin kaisar Yu.
"Karena dia bersenang-senang, maka Zhen tidak akan mengganggunya. Jadi, Zhen akan kembali ke ruang kerja" ujar kaisar Yu.
"Aku setuju" balas Xian, Anchi, dan Anshi bersamaan
"Baiklah, ibupun akan memasak di dapur karena kita akan mengundang mereka semua makan bersama, termasuk para pelayan dan prajurit yang di pavilium milik Sima" ujar permaisuri.
"Baiklah, mari pergi" perintah kaisar Yu.
"Baik, mari" balas yang lainnya.
Semua orang di sibukkan dengan kesibukan masing-masing. Seperti biasa kalau setelah Yuan dan Sima berenang di pagi hari, maka mereka akan memanggang ikan lalu memakannya hangat-hangat. Saat enak-enak nya mereka membakar ikan, lalu datanglah seorang kasim yang datang ke sana untuk memberitahukan kalau kaisar mengundang mereka semua untuk makan di aula utama membuat pangeran Sima cemberut karena tidak bisa memakan ikan bakar yang sabar dengan bumbu yang di olah oleh Yuan sendiri.
"Kenapa kau cemberut pangeran, kaisar hanya menyuruh kita untuk makan bersama. Namun, kaisar tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh membawa ikan bakar ini kesana kan. Jadi, kita bisa memakannya saat kita sampai di sanakan. Sekali tepuk, dua lalat dapat, pertama kita tidak membuat kaisar marah dengan kita memenuhi undangannya dan yang kedua kita tetap bisa memakan ikan bakar ini. Bagaimana setuju?" tanya Yuan sambil memainkan alisnya ke arah Sima. Pangeran Sima hanya membalas dengan senyuman ke arah Yuan.
"Baiklah, anggaplah senyuman itu tanda kau setujukan" ujar ku, dan Sima menganggukan kepalanya.
Akhirnya mereka semua pergi ke ruang makan, disana sudah mereka lihat bahwa banyak kursi yang tersedia. Hal itu membuat pikiran Yuan bekerja.
'Tidak seru jika hanya begini. Aku akan membuat makan siang ini tidak akan di lupakan' batin ku, lalu aku kembali keluar dan aku duduk di atas rerumputan. Hal itu membuat pangeran Sima yang sudah duduk di kursi di samping pangeran Xian menatap ku dengan kebingungan.
"Bukan maksud ku menghina keluarga kerajaan dengan tidak duduk di kursi yang di sediakan. Tapi, keluarga ku mengajarkan ku bahwa kebersamaan akan terasa saat kasta tidak di anggap di dalamnya. Kami rakyat biasa, yang biasanya makan dengan tangan dan dengan piring biasa. Kami berbeda dari kalian yang di atas kami. Jika aku berada di ruangan itu, tentunya tata krama dan kelembutan dalam memakan makanan kalian pedulikan bukan. Sedangkan di dunia kami, kami hanya di ajarkan agar tidak berbicara saat makan, kami tidak di ajarkan cara memakan dengan menggunakan sendok sebagus sendok perak milik kalian keluarga kekaisaran. Aku tidak peduli dengan kesopanan saat aku berbicara karena aku tidak pernah bermimpi mau masuk ke dalam kemegahan peraturan kekaisaran Yu" cerita ku panjang lebar.
"Mulan, berhati-hatilah saat kau berbicara. Bisa-bisa kehidupan mu akan berakhir hari ini" peringat pelayan yang masuk bersamaan dengan Yuan.
"Siapa mereka berhak mengambil hidup ku hanya dengan alasan karena aku ingin makan di luar di atas rumput ini. Jika aku di bunuh karena tidak sopan, tapi aku sudah sopan karena aku telah mau datang dengan undangan yang di berikan kaisar kepada seluruh orang di pavilium milik pangeran Sima, lalu dimana salah ku yang mulia kaisar dan permaisuri?" tanya Yuan sambil menatap mereka berdua yang menatapnya.
' Ada apa ini, kenapa aku rasanya tidak ingin memindahkan pandangan mata ku ini dari tatapan matanya?' batin keduanya saat mendapat tatapan dari Yuan.
__ADS_1