The Switched Daughter

The Switched Daughter
Merasa bersalah.


__ADS_3

Pria yang mendengar ucapan permaisuri Yu, datang ke rumah pohonnya Mona disaat semua orang di kekaisaran Yu sedang sibuk makan malam. "Sayang, jaga ibumu dengan baik ya" bisik Ming Fan di perut Mona, setelah itu dia menciuminya.


'Aku harus pergi, sepertinya hubungan darah lebih kuat dari apapun. Jadi, aku tidak akan mengganggumu untuk beberapa saat' batin Ming Fan, lalu dia mencium bi*ir Mona. Namun, dia begitu terkejut karena saat dia berniat mencium Mona sekilas, justru Mona yang mengigit bi*birnya Ming Fan.


"Kau" terkejut Ming Fan akan apa yang telah di lakukan oleh Mona kepadanya.


"Kau membangunkan mereka dengan cara mencium perutku saat mereka baru saja tidur" ucap Mona sambil membuka matanya.


"Aku sudah bertemu dengan kalian, dan mengetahui bahwa kalian diterima baik oleh keluargamu. Maka aku harus pergi" ucap Ming Fan.


"Bisakah kau tidur disini?" harap Mona.


"Tidak bisa karena ibunda Permaisuri Yu sedang berencana ingin tidur disini" ucap Ming Fan.


"Benarkah?".


"Ya" jawab Ming Fan.


"Kalau begitu, pergilah" usir Mona.


"Bukankah tadi kau yang menyuruhku tidur disini" kesal Ming Fan.


"Karena aku pikir aku akan sendirian" balas Mona.


"Sebagai bayarannya, mmmmm" ucap Fan sambil mencium bi*ir Mona.


"Mmmmm" erang Mona sambil terbuai dengan apa yang dilakukan oleh suaminya ini.


Niatnya Fan yang tadinya ingin langsung pergi, malah terhalang karena Mona yang terus membuat dia tidak ingin melepas ciumannya. Hingga suara telapak kaki beberapa orang terdengar mengarah ke rumah pohon Mona dalam waktu bersamaan.


"Hosh,,, ibunda Yu datang" Ming Fan melepas ciumannya.


"Pulanglah, aku akan menghabiskan waktuku disini selama tiga bulan. Jadi, datanglah jika kau merindukanku atau menginginkan hal lain" ucapan Mona membuat Ming Fan tersenyum, tapi tiba-tiba senyumannya menghilang.


"Tiga bulan kemarin kau tidak mengizinkan aku menyentuhmu. Kenapa sekarang kau?" tanya Ming Fan sambil menunduk.


"Tiga bulan lalu adalah awal kehamilanku, mereka masih terlalu kecil dan rentan. Tapi, sekarang mereka telah berbentuk, jadi kita bisa melakukannya dengan tidak terlalu kasar".


"Aku jadi menginginkanmu sekarang, karena sudah tiga bulan aku berpuasa" senyum smirk Ming Fan.


"Sambunglah puasa lagi, karena ibunda permaisuri Yu akan tiba dalam hitungan detik".


"Yang mulia permaisuri, hati-hati saat anda naik" ucap pelayan permaisuri.


"Ah, tidak sempat sembunyi" ucap Ming Fan.


"Hahaha" Mona terkekeh geli melihat Ming Fan yang bingung mau keluar dari rumah pohon Mona.


"Tetaplah tertawa seperti ini, aku lebih baik selalu berpuasa saat kau hamil. Jika bayaran yang kudapat dari puasa itu adalah senyuman lepas darimu" ucap Ming Fan.


"Sayang, eh, kau siapa?" tanya permaisuri Yu saat melihat Ming Fan.


'Siapa? apa maksudnya' batin Ming Fan membuat Mona tersenyum kecil.

__ADS_1


"Dia suamiku, ibunda permaisuri".


"Suamimu, kenapa tidak mengajaknya masuk ke dalam kekaisaran" senyum permaisuri.


"Tidak perlu ibunda permaisuri Yu, karena saya juga akan pergi" tolak lembut Ming Fan.


"Kau akan pergi?" tanya permaisuri.


"Ya, ibunda, karena saya harus mengerjakan tugasku sebagai suami darinya. Saya datang kemari hanya untuk melihat keadaan mereka saja" jawab Ming Fan.


"Baiklah, sayang sekali".


"Aku pulang dulu, ingatlah sayang jangan menyusahkan ibumu selama ayah tidak ada" ucap Ming Fan sambil mencium kening dan perut Mona secara bergantian.


"Terima kasih, selamat bekerja, dan sampai jumpa ayah" senyum Mona sambil melambaikan tangannya ke arah Ming Fan.


'Kenapa rasanya saat melihat senyumannya, aku juga merasa senang' batin permaisuri.


"Ada apa yang mulia menemuiku?" tanya Mona berbasa-basi, meskipun dia sudah tahu kenapa ibunya datang.


"Aku ingin menemani putriku tidur, apakah itu menjadi masalah?" tanya permaisuri.


"Tentu saja tidak masalah" jawab Mona


'Bagaimana itu menjadi masalah, justru aku merasa senang karena akhirnya aku bisa merasakan rasa diperhatikan oleh kalian' batinnya.


"Selamat malam ibunda permaisuri".


"Selamat malam sayang".


'Kenapa, wajahmu sedikit mirip dengan suamiku' batin permaisuri sambil menatap wajah Mona. Saat permaisuri terus memperhatikan Mona, dia bisa melihat kalau bola matanya Mona masih terus bergerak kesana-kemari. Walaupun matanya sudah terpejam, tapi tetap terlihat.


'Apakah kau masih belum tidur, apakah kau akan tertidur jika mendengar lagu pengantar tidur' ucap permaisuri saat melihat mata Mona yang sesekali bergerak-gerak.


Permaisuri menyanyikan lagu pengantar tidur untuk Mona. Saat pertama kali Mona mendengar permaisuri bernyanyi, dia membuka matanya. Tapi, lama-kelamaan akhirnya Mona kembali memejamkan matanya.


"Sepertinya kau memang akan tertidur jika mendengar lagu pengantar tidur, ya. Selat malam sayang" ucap permaisuri saat dia melihat mata Mona tidak lagi bergerak-gerak. Lalu, dia menyelimuti dan mencium kening Mona.


*****


Tiga bulan telah berlalu selama Mona tinggal di kekaisaran Yu. Sama seperti dimanapun Mona berada sebelumnya, dia mengubah sudut pandang orang-orang di tempat itu. Mona membuat semua orang antara ingin menangis atau malah senang karena ada dirinya di kekaisaran Yu.


Mona menjadi tidak pas dengan Xian karena pernah suatu hari saat Mona sangat ingin makan udang bakar pada jam satu malam. Kebetulan malam itu yang berada di rumah pohonnya adalah Xian. Xian yang baru saja tertidur pada jam dua belas malam harus terpaksa bangun karena keinginan dari Mona. Jika dia tidak bangun, maka Mona akan terus menangis mengganggu tidurnya dan tidur semua orang hanya untuk meminta udang bakar. Jadi, Xian terpaksa bangun.


Malam hari itu, adalah ujian paling terberat bagi Xian, karena dia sama sekali tidak mendapatkan udang meskipun dia telah mencarinya selama tiga jam. Xian memilih terus mencari hingga pagi hari namun dia tetap tidak menemukan udang. Xian di temani sepuluh prajuritnya untuk membantunya mencari udang, tapi tetap tidak ketemu.


Saat mereka kembali ke kekaisaran dengan tangan kosong. Sebenarnya ada rasa bersalah di hati mereka untuk Mona, tapi apa yang bisa mereka lakukan. Rasa bersalah mereka semakin besar saat Mona melihat mereka kembali, Mona datang dengan wajah penuh harap. Tapi, saat dia tidak mendapatkan udang seperti keinginannya, dia langsung cemberut layaknya anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Mona naik kerumah pohonnya dengan wajah lesu, membuat semua orang yang melihatnya menjadi ikutan merasakan kekecewaannya. Karena dari semalam Mona juga tidak bisa tidur karena dia sangat menginginkan udang bakar, dia menunggu Xian dan prajuritnya yang mencari udang dengan wajah penuh harap. Tapi, setelah enam jam menunggu Mona tetap tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.


Pelayan permaisuri Yu yang di utus untuk selalu bersama Mona, menceritakan kalau majikan barunya bahkan tidak tidur hanya untuk tidak melewatkan waktu ketika udang dibakar. Pelayan itu menceritakan begitu bahagianya Mona saat Xian rela bangun hanya untuk mencari udang untuknya. Selama enam jam Mona selalu memuji-muji Xian di depan pelayan itu yang juga tidak bisa tidur karena majikan barunya yang begitu semangat bercerita.


Saat semua orang mendengar cerita dari pelayan itu, semua orang bisa merasakan kalau seberapa kecewanya Mona saat Xian dan prajuritnya sama sekali tidak mendapatkan satu udangpun. Jadi, mereka memutuskan untuk membujuk Mona agar mau makan makanan lain selagi prajurit lainnya mencari udang.


Permaisuri Yu, kaisar Yu dan keluarga kekaisaran Yu lainnya berusaha memberikan buah-buahan kesukaan Mona, tapi tetap saja Mona sama sekali tidak mau makan. Mona hanyar meneteskan air matanya tanpa mengeluarkan suara tangisan. Bahkan saat permaisuri Yu berusaha untuk menghibur Mona dengan cara mengajaknya berbicara, Mona tetap saja diam. Mona hanya memberikan tatapan dengan air mata terus mengalir dari matanya. Hingga akhirnya setelah, satu jam mereka yang di kekaisaran berusaha membujuk Mona untuk mau makan. Mona akhirnya mengatakan satu kalimat yang membuat semua orang mematung 'Tidak perlu perdulikan kami, toh kami hanyalah orang asing di kekaisaran Yu kalian. Kami makan atau tidak, bukankah tidak ada untung dan ruginya untuk kalian. Jadi, tidak usah perhatian pada kami' Mona mengatakan hal itu dengan ekspresi yang begitu menyeramkan membuat semua orang mundur untuk merayunya. Namun, hanya permaisuri Yu yang tetap berada di rumah pohon, meskipun dia tidak merayu Mona untuk makan. Tapi, dia tetap tidak pernah sedikitpun memalingkan pandangannya dari tubuh Mona yang berbaring membelakanginya.

__ADS_1


Sedangkan semua orang yang di luar sana berusaha mencari udang untuk putri baru mereka yang telah tiga bulan selalu bersama mereka, tapi tetap tidak mereka temukan sampai sore harinya tiba.


Pada hari itu, semua orang kecuali Mona tetap makan seperti biasanya meskipun porsi makan mereka tidak selera seperti hari biasanya karena ada dari mereka yang tidak mau makan. Permaisuri juga ikut makan karena perintah dari Mona yang mengatakan. 'Jika alasan ibunda tidak makan yaitu karena ibunda mencintaiku, maka jangan hukum adikku yang berada di perut ibunda. Ibunda harus memilih, antara diriku yang sudah sehat atau adikku yang begitu lemah yang membutuhkan asupan nutrisi hanya dari apa yang ibunda makan' itulah yang menjadi alasan permaisuri Yu mau makan.


Sore hari itu akhirnya Mona turun dari rumah pohonnya untuk membersihkan tubuhnya. Setelah dia membersihkan tubuhnya, dia masuk ke dapur kekaisaran Yu untuk memasak masakannya sendiri. Disaat semua pelayan dapur berusaha mencegahnya, maka tatapan mata yang begitu tajam dan mengerikanlah yang diberikan oleh Mona. Jadi, mereka semua hanya bisa membantu menyiapkan bahan makanan yang diperlukan oleh Mona.


Disaat Mona sibuk di dapur, permaisuri Yu sibuk mencari keberadaan dirinya. Saat permaisuri tahu bahwa orang yang dia cari ada di dapur, dia langsung menuju ke dapur.


Permaisuri menatap Mona yang sedang serius menyiapkan semua masakan untuk semua orang. Permaisuri berusaha membantu, tapi Mona tidak mengizinkannya. Jadi, permaisuri Yu hanya bisa memandangi Mona memasak. Bukan hanya permaisuri, tapi seluruh pelayan yang di dapur juga hanya memandangi Mona yang sedang memasak dengan begitu lihainya.


Dua jam Mona di dalam dapur, akhirnya semua menu masakan untuk semua orang telah siap di masak. Para pelayan membantu Mona menyajikannya di meja ruang makan.


Para anggota keluarga kekaisaran Yu yang lainnya merasa sedikit tenang karena Mona mau makan bersama mereka. Namun, mereka tetap sedih karena Mona tidak seperti hari biasanya yang selalu menyapa semua orang. Dia justru hanya memberikan tatapan datar dan dingin kepada semua orang, terutama untuk Xian, Mona sama sekali tidak mau memandang atau menatap sekilas ke arah Xian. Saat Mona memberikan tatapan seperti itu, Xian merasakan air matanya menetes.


Saat mereka semua sedang ingin makan, Ming Fan datang dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Kau siapa?" tanya prajurit kekaisaran yang menjaga pintu ruang makan.


"Aku ingin menemui istriku, Kim Mona sang Queen dari kekaisaran bulan. Aku membawakannya ini" jawab Ming Fan yang telah menyamar menjadi pria yang berpakaian seperti rakyat biasa.


"Baiklah, silahkan". Ming Fan masuk ke ruang makan, dia berjalan ke arah Mona yang telah memandanginya.


"Apakah itu udang, ayah?" semangat Mona.


"Entah, lihat saja sendiri" Ming Fan menyerahkan bungkusan kecil di tangannya.


"Wah, udang bakar ye,,ye,,ye" semangat Mona terpancar dari senyuman yang terlukis di bibirnya.


"Kau lebih menyukai udangnya dari pada suamimu?" tanya Ming Fan bercanda.


"Ya" jawab Mona jujur membuat Fan cemberut.


"Tidak bisakah kau mengatakan yang sebaliknya?".


"Ibunda tidak menyukai kebohongan" senyum Mona.


"Ibunda?" ulang Ming Fan.


"Heem, ibunda. Ah, ayah harus menemani kami makan di rumah pohon. Tapi, ngomong-ngomong dari mana ayah tahu kalau kami ingin udang bakar?".


"Kau tahu, semua orang di wilayah kekaisaran Yu sibuk mencari udang yang katanya untuk keluarga kekaisaran Yu yang sangat ingin makan udang bakar. Jadi, ayah, yang mendengarnya langsung mencarinya dan membawakannya. Ayah pikir udang bakar itu untuk kalian, namun jika bukan untuk kalianpun kan tidak apa-apa. Tapi ternyata memang benar untuk kalian udang bakar ini" jawab Ming Fan.


"Nenek pelayan, tolong bawakan makananku ke rumah pohon, kami akan makan disana".


"Baik, nak".


"Ayo pergi" Mona menarik tangan Fan, tapi baru lima langkah mereka jalan, Mona melepaskan tangan Ming Fan.


Mona berjalan ke arah nampan yang berisi banyak udang bakar yang dibawa oleh Ming Fan, Mona membagikan udang itu ke setiap piring makan milik mereka yang ada di meja makan itu. "Habiskan, walaupun nantinya udangnya tidak enak" senyum Mona kepada semua orang.


"Ayo pergi" Mona menarik tangan Fan dari ruang makan ke rumah pohonnya. Mereka berdua diikuti beberapa pelayan yang membawa nampan makanan berisi makanan mereka.


Sedangkan di ruang makan, semua orang terus membayangkan perubahan wajah Mona dalam waktu seketika saat dia melihat udang bakar. Semua orang melihat menu makanan di piring mereka masing-masing dengan berbagai pikiran muncul di batin mereka masing-masing.

__ADS_1


'Apa aku sebegitu tidak bergunanya, hingga saat seseorang membutuhkan bantuan dariku, aku tidak bisa memberikannya. Bahkan, bantuan untuk wanita yang sedang hamil' batin Xian merasa bersalah saat dia menatap bahwa makanan yang dia makan kini yaitu masakan dari Mona, dan udang bakar yang dibawa oleh Ming Fan.


__ADS_2