
Mona dan lainnya saat ini sedang menikmati makanan yang telah tersedia di aula luar kekaisaran bintang. Semua orang merasa bahagia pagi ini karena dengan hanya mengikuti Mona berlari pagi, semua pekerjaan mereka telah selesai saat mereka kembali dari lari pagi tadi.
"Aku akan pergi untuk menemui ibunda dan ayahanda kaisar Yu, jadi aku pergi dulu" ucap Mona setelah dia selesai makan.
"Ibunda kami ikut" kompak kelima anaknya sambil Nyoko, Nene, dan Airi memberikan tatapan mata yang begitu menggemaskan. Sedangkan dua lainnya hanya memberikan tatapan mata yang begitu datar.
"Mmm, baiklah, minta izin dulu pada ayahanda, para kakek dan nenek sesepuh" ucap Mona sambil menatap wajah kelima anaknya.
"Pergilah" kompak semua orang yang panggilan mereka di panggil oleh Mona.
"Yeeee,,,," kelimanya semangat sambil menatap ke arah Mona.
"Ayo ibu" semangat Nyoko.
"Ketika seseorang membantu kalian, memberikan kalian hadiah atau menuruti semua ucapan yang kalian inginkan, maka kalian harus mengucapkan terima kasih" ucap Mona sambil mengangkat jari telunjuknya sebagai tanda kalau itu harus mereka ingat baik-baik.
"Baik ibunda, terima kasih ayah, kakek dan nenek sesepuh" kompak kelimanya.
"Kami pergi, sampai jumpa" Mona mengajari anak-anaknya untuk melambaikan tangan ke arah mereka yang masih berada di meja makan. Lalu, tiba-tiba mereka berenam menghilang dari kekaisaran bintang dan muncul di salah satu pohon yang begitu rimbun daunnya.
"Eh,,," terkejut kelima anaknya Mona, saat mereka menyadari kalau mereka muncul di kekaisaran Yu tepat berada di dahan pohon.
"Aduh, hahaha, ibunda seringkali muncul di manapun seperti ini" senyum Mona ke arah kelima anaknya saat dia menyadari kalau dia tidak sendirian.
"Wah, iunda, liat ada asaan mangga, atu suka asaan mangga" ucap Aina sambil menunjuk ke arah Kaisar Yu yang sedang menyuap sepotong asaman mangga ke dalam mulutnya.
"Kau begitu semangat, akh,,," ucap Nyoko saat dia melihat adiknya yang begitu dingin kini begitu semangat. Namun, dia terkejut saat tiba-tiba ibundanya menghilang, sedangkan Aina menggunakan kekuatan alami dari tubuhnya.
"Ah,,," terkejut kaisar Yu saat dengan tiba-tiba Mona duduk dipangkuannya untuk menghadang satu potong asaman mangga yang ingin di suapi kaisar Yu ke dalam mulut kaisar Yu. Sehingga suapan mangga itu masuk ke dalam mulut Mona.
"Iunda curang" ucap Aina yang sudah sampai di pintu ruang makan.
"Tidak,,,tidak,,,tidak" Mona menggerakkan jari telunjuknya ke arah Aina yang kesal yang telah berjalan ke arah dirinya yang berada di pangkuan kaisar Yu.
"Atu ingin itu, iunda merampasnya" kesal Aina.
"Ehem,,,ehem" dehem Mona sambil memegang tenggorokannya.
"Ayahanda, apakah aku merampas asaman manggamu?" tanya Mona sambil menatap ke arah kaisar Yu yang di belakangnya sambil duduk menyamping mengarah ke arah Aina.
"Tentu saja tidak sayang, kau boleh memakan apapun yang kau suka" jawab kaisar Yu sambil mengesampingkan rambut Mona yang menutupi matanya ke belakang telinganya.
"Atu ingin ini" Aina menarik tempat yang berisi asaman mangga di dalamnya di atas meja makan kaisar Yu.
"Iunda" ucap Aina sambil menatap kesal ke arah Mona karena Mona mengambil seluruh asaman mangga dengan menggunakan tangannya, sehingga tempat yang di tarik Aina adalah tempat kosong.
"Emmm, enak" ucap Mona setelah dia memakan sekaligus asaman mangga yang dia ambil dari tempat yang di tarik oleh Aina.
"Iunda,,,,,," teriak kesal Aina, tanpa Aina sadari kalau keluar cahaya hitam dari tubuhnya membuat semua orang merasakan sesak di dada mereka.
"Em, kakek, apakah tubuh kakek masih kuat untuk menahan tubuhku?" tanya Mona manja kepada kaisar Yu dengan matanya menatap ke arah kaisar Yu, tapi jari telunjuk kirinya menyentuh kening Aina yang sedang emosi tinggi. Saat Mona menyentuh kening Aina, secara otomatis aura Aina langsung menghilang membuat semua orang kembali bernafas lega.
"Tentu saja putriku" jawab kaisar Yu sambil mencium kening Mona yang sedang menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Baiklah, uh,,," Mona mengangkat tubuh Aina ke dalam pangkuannya.
"Eh,,," terkejut semua orang, termasuk Aina.
"Emmm, nenek pelayan, bolehkah kami minta asaman mangga lagi?" tanya manja Mona ke arah pelayan yang berada di belakang permaisuri Yu.
"Tentu saja putri" jawab pelayan sambil menuangkan asaman mangga ke dalam tempat yang ada di meja kaisar Yu.
"Heemm" Mona menolak untuk pelayan itu menuangkan asaman mangga, membuat semua orang bingung.
"Ada apa putri, apakah ada yang salah?" tanya pelayan.
"Siapa yang anda panggil putri, nenek?" senyum Mona ke arah pelayan yang seusia hampir sama dengan seusia dengan para sesepuh.
"Ah, kau mau asaman mangga nak?" tanyanya sambil tersenyum ke arah Mona.
"Tentu mau" semangat Mona sambil menyerahkan tempat ke arah pelayan.
"Di sini untukku, untuk putriku Aina, disini, disini, disini dan disini. Letakkan semuanya, nenek"
Semua orang terkejut karena semua tempat makan yang telah dihabiskan oleh kaisar Yu, di suruh Mona untuk memasukkan asaman mangga di dalamnya.
"Yeeee, asaman mangga aku datang" semangat Mona sambil mengambil satu mangkuk asaman mangga.
"Atu juga datang" semangat Aina.
Keduanya makan dengan lahapnya di pangkuan kaisar Yu.
"Ibunda, jangan lupakan kami" ucap lantang Nyoko membuat semua orang menatap ke arah pohon yang ada keempatnya.
"Kenapa ibunda langsung makan tanpa mengajak kami" protes Nyoko.
"Mmmm, itu" Mona bingung menjawabnya.
"Iunda, ini" Aina menyuapi mangga ke mulut Mona, lalu dia menggerakkan tangan Mona yang memegang mangga ke arah mulutnya kaisar Yu. Lalu, kaisar Yu memakan mangga di tangan Mona, dan Aina menarik tangan kaisar Yu agar mengambil mangga. Tentu saja kaisar Yu mengerti, dia mengambilnya dan menyuapinya ke mulut Aina.
"Apakah ini yang kau inginkan?" tanya kaisar Yu.
"Heem" angguk Aina sambil terus menyuapi mangga ke arah mulut Mona.
Semua orang melihat aksi tiga orang yang beda generasi saling menyuapi satu sama lain dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Satunya tersenyum bahagia, satunya biasa aja, dan satunya lagi sangatlah datar.
'Hahhaha, ini adalah pemandangan indah yang baruku lihat selama mengabdikan hidupku di bawah pemerintahan keluarga kekaisaran Yu. Kaisar begitu bahagia, putri Mona begitu biasa saja, dan lebih-lebih ekspresi wajah putri Aina yang begitu datar. Sungguh ketiganya begitu serasi' batin para pelayan dan prajurit.
'Aku sangat ingin terus melihat ketiganya begini setiap harinya' batin permaisuri Yu dan Xian.
"Cukup sayang" Mona bangun dari pangkuan kaisar Yu dengan memindahkan Aina yang di pangkuannya.
"Jangan terlalu banyak makan makanan berasam karena itu tidak baik untuk pencernaan" ucap Mona sambil menyuapi satu potong asaman nanas ke mulut Airi, namun tatapannya mengarah ke anak-anaknya yang lainnya.
"Mmm" angguk keempat lainnya.
"Ok, ibunda akan berkultivasi di rumah pohon, kalian belajarlah dengan nenek dan kakek Yu, jam makan siang nanti kita akan ke kekaisaran Wang" ucap Mona sambil menatap ke arah kelima anaknya.
__ADS_1
"Baik" kompak kelimanya.
"Xian, Sima, dan Anshi. Kalian bertiga ikut denganku karena ada yang ingin ku katakan dengan kalian" perintah Mona.
"Baik" kompak ketiganya sambil mengikuti Mona dari belakang.
"Kakek kita belajar apa?" tanya Nyoko kepada kaisar Yu.
"Jangan katakan pada ibumu dulu, hari ini kita tidak belajar apapun, karena kakek ingin melepas rindu dengan kalian" ucap kaisar Yu.
"Argh,,,," kaisar Yu begitu terkejut karena Mona menjewer pelan telinga kanannya.
"Ayahanda bilang apa barusan, aku tidak mendengarnya dengan jelas?" selidik Mona.
"I,,,itu" gagap kaisar Yu.
"Ayah bilang apa tadi?" tanya ulang Mona sambil menatap tajam ke arah ayahnya.
"Aduh, mereka keseringan menghabiskan waktu di dekat tempat tidurmu, jadi kami ingin melepas rindu dengan mereka" jawab kaisar Yu.
"Kami?. Setahuku yang lain tidak ada yang mengatakannya, kakek buyut mereka diam, nenek mereka juga diam" selidik Mona.
"Hahahaha" tawa kaisar dan permaisuri terdahulu kekaisaran Yu.
"Kenapa kakek dan nenek tertawa, apakah ada yang lucu?" tanya Mona dengan ekspresi wajah polosnya.
"Baru kali ini aku melihat ayahmu yang begitu hebat bisa kalah dengan dirimu hanya dalam hitungan detik saja" jawab ibu kaisar Yu.
"Ah, lupakan, pokoknya kalian harus belajar, terserah itu baik dengan siapa dulu, yang jelas kalian harus belajar. Ingat, ibunda tidak suka kebohongan yang tidak perlu" ucap Mona sambil berjalan pergi.
"Ah, aduh, baiklah, kalian belajar urusan negara bersama dengan kakek saja dulu. Sekalian kakek bisa melepas rindu dengan kalian berlima" ucap kaisar Yu.
"Baik" balas kelimanya.
Di saat semua orang di aula makan sedang sibuk berbenah, Mona dan ketiga adiknya sudah berada di rumah pohon.
Ketika Mona menghilang secara tiba-tiba, tentu saja ketiga adiknya merasa bingung dan terkejut. Namun, setelah tidak lama kemudian, Mona kembali muncul, barulah mereka kembali merasa tenang.
"Jijie dari mana?" tanya Sima.
"Memberi pelajaran kepada pria yang penuh kasih sayang" jawab Mona santai.
"Pria yang penuh kasih sayang?" bingung ketiganya.
"Ayahanda".
"Eh,,," terkejut ketiganya.
"Ayahanda berani melenceng dari perintahku dengan alasan rindu kepada cucunya dengan ingin berusaha mengajari keponakan kalian berbohong padaku. Jadi, aku memberi pelajaran kepada ayahanda dengan menjewer telinga ayahanda".
"Hahahaha" tawa tiga lainnya.
"Apa?" tanya Mona.
__ADS_1
'Ayahanda di jewer oleh wanita yang paling di kasihnya, hahhaha' batin ketiganya kompak. Tapi, ketiganya hanya menggelengkan kepala mereka ke arah Mona.