The Switched Daughter

The Switched Daughter
Akhirnya melihat dunia selain air


__ADS_3

Semua orang menatap ke arah sebuah pohon mangga di kekaisaran bintang karena mereka mendengar suara itu berasal dari sana.


"Kenapa menatap pohon yang tidak bersalah ini seperti itu, bukan dia yang berbicara melainkan diri ku, dan acara kalian sungguh sangat membosankan" ujar ku yang turun dari atas pohon membuat mereka terkejut ketika mereka menatap ku.


"Apa, apakah ada yang aneh dengan ku?" tanya ku.


"Cantik,,," jawab mereka kompak. Mungkin karena rambutku yang selama tujuh tahun tidak di potong dengan sedikit aku warnai warna biru, merah dan hitam, dan tubuh ku yang putih karena selalu di dalam air tanpa terkena cahaya matahari. Menurut ku penampilan ku bagaikan seorang dewi, mungkin saja karena itu, makanya mereka bisa mengatakan cantik.


"Jijie Wang Yuan,,,," teriak Gui sambil berlari ke arah ku.


"Kau siapa?" tanya ku sambil menghindar. Sebenarnya aku tau dia siapa, tapi aku berpura-pura tidak ingat agar lebih mudah saja.


"Jijie tidak ingat pada ku?" tanya sendu Gui.


"Tidak, tidak satupun dari kalian yang aku ingat, termasuk nama ku sendiri juga tidak aku ingat. Aku datang kemari karena tidak harus ada undangan untuk datang ke kekaisaran ini bukan. Jadi, aku minta maaf kepada kalian yang mungkin sangat dekat dengan ku. Aku ingat seluruh tempat, tapi tidak ingat semua orang. Hehehe aneh bukan" cengir ku.


"Ah,,, ikan bakar, aku sangat suka ikan bakar. Ehhh,,, benarkah aku suka ikan bakar. Ahh,,,,,bodo amat yang penting makan" sambung ku sambil mengambil ikan bakar. Padahal waktu makan belum tiba, mereka baru menghidangkannya, namun belum waktunya makan.


"Maaf, nak, tapi acara makannnya belum dipersilahkan oleh kaisar dan waktunyapun belum tiba" tegur sesepuh Ying.


'Ahh,,, nenek kau mengganggu waktu senang ku' batin ku.


"Maaf, apakah di saat seseorang mau tiada maka harus menunggu orang lain terlebih dahulu mempersilahkannya tiada?" tanya ku.


"Itu,,," celetuk sesepuh Ying.


"Tidak kan, aku tidak kenal kalian sama sekali, dan aku tidak mengingat siapa-siapa saja yang harus ku hormati terlebih dahulu di kekaisaran bintang ini. Tapi, yang ku tau bahwa tiada perbedaan dimata sang pencipta. Sang pencipta menghidupkan kita untuk saling menyambung tali persaudaraan bukan saling menyombongkan kekuasaan. Jadi, tidak ada alasan bahwa aku boleh makan pada saat waktunya tiba, dan setelah kaisar atau siapapun mempersilahkan aku makan. Karena jika makan harus pada waktunya, banyak di luar sana orang miskin makan tanpa mengenal waktu dan tempat. Mereka terkadang dua hari atau lebih baru makan, itupun terkadang dari makanan yang sudah basi. Apakah mereka ada menunggu orang yang berstatus tinggi menyuruh mereka makan, tidak kan. Bahkan banyak orang miskin di luar sana yang datang dengan niat baik meminta makanan, apakah semua orang juga memberinya dengan baik-baik, tidak kan. Mereka justru terkadang mengusir mereka dengan tidak berperasaan. Jadi, lagi ada acara seperti ini, tentunya adalah kesempatan bagi kami rakyat miskin untuk makan. Untuk apa kami meminta dengan kelembutan, jika balasan kami adalah hinaan. Aku tidak ingat siapa keluarga ku, aku tidak ingat siapa teman dan saudari ku. Jadi, aku termasuk ke dalam orang-orang miskin" cerita ku panjang lebar membuat mereka semua terdiam.


"Ah,,,maaf jika menyakiti perasaan kalian. Tapi, aku tidak akan memberi hormat dan meminta persetujuan dari salah satu dari kalian untuk aku memulai makan, karena yang merasakan lapar aku bukan kalian. Jika soal belum waktunya jamuan makan, acara kalian saja sangat membosankan, jadi lebih baik aku makan saja dari pada aku kebosanan" sambung ku lagi.


"Tidak ku sangka, bahwa meskipun kau lupa ingatan lagi. Tapi, sifat mu tetap sama" celetuk Dera yang diangguki oleh orang-orang yang mengenal Yuan.


"Banyak orang yang mengangguki kepalanya saat kau mengatakan itu, sepertinya kalian sangat mengenal ku. Jadi, memangnya siapa nama ku dan yang mana keluarga ku?" tanya ku sambil fokus memotong kecil-kecil cabai dan lain-lain yang akan aku jadikan sebagai bumbu cocol ikan bakar seperti ketika di Zaman modern.


"Wang Yuan dari kekaisaran Wang" jawabnya.


"Kau yakin?" tanya ku.


"Tentu saja itu memang nama mu" jawabnya.


'Aku tau itu nama ku dan keluarga ku. Tapi, tidak satupun kenangan yang aku ingat ketika aku bersama mereka' batin ku.


"Hebat,,,,,,,," teriak ku semangat membuat mereka terkejut.


"Kenapa kau berteriak?" tanya Yu Yan.


"Bisakah kalian mengatakan nama kalian terlebih dahulu, aku tidak tau harus memanggil kalian saat aku menjawab pertanyaan kalian" jawab ku.


"Nama ku Yu Yan dan dia Dera" jawab Yu Yan membuat semua orang bingung karena Yu Yan tidak mengatakan nama depannya.


"Kenapa kau tidak mengatakan nama depan mu nak?" tanya sesepuh Mao.


"Apakah itu perlu?" tanya Yu Yan sambil menatap ke arah sesepuh Mao.


"Tentu saja perlu dong kare,,,,," ucapan sesepuh Mao terpotong karena ucapan ku.


"Tidak butuh dan tidak perlu, karena sebuah hubungan tidak harus di jalani dengan kedudukan bangsawan atau di kasta yang sama" potong ku.


"Sesuai dugaan" jawab Dera dan Yu Yan kompak.


"Bocah, tidakkah kau akan memberi hormat atau paling tidak menyapa guru mu ini karena aku sudah tidak melihat mu selama dua belas tahun ini karena aku sedang ada kesibukan" ujar seseorang tiba-tiba saat dia di samping ku.


'Jadi, orang tua ini guru ku. Ahh seandainya ada kenangan yang aku ingat ketika aku bersama dirinya, pasti aku akan membalasmya' batin ku.


"Kakek tua, sebaiknya bersihkan telingamu itu" celetuk ku.


"Kenapa?" tanya nya bingung.


"Karena aku tidak ingat siapa kalian, apakah kau tidak mendengar ucapan ku tadi. Jika kau tidak mendengar ucapan ku maka telinga mu tertutup" teriakku di telinganya.

__ADS_1


"Bocah,,,, justru kau berteriak seperti itu yang membuat telingaku akan bermasalah karena gendang telinga ku rusak gara-gara kau berteriak" marahnya sambil menggosok telinganya.


"Aku tidak peduli, dan apa yang bisa membuktikan kalau kau adalah guru ku?" tanya ku.


"Kau perlu bukti, maka lihatlah" jawabnya sambil mengeluarkan cahaya dari tangannya lalu muncullah gambaran cepat dari awal aku datang ke akademi Naga emas dan sampai aku keluar dari Naga emas.


"Oh,,, jadi kau guru ku, dia kakak ku, dia adikku, dia teman satu guru dengan ku, mereka teman-teman satu akademi dan dia,,,,," ucapan ku terhenti karena mata ku tidak sengaja melihat ke arah Fan yang berada di samping Mofan gege.


"Ada apa?" tanya mereka.


"Tidak tau, kenapa wajahnya tidak asing" tunjuk ku ke arah Fan.


"Aku adalah Ming Fan" jawabnya.


"Putra kedua dari kekaisaran kegelapan" gumam ku sengaja, namun membuat mereka terkejut.


"Kau tau?" tanya Mofan.


"Tidak, itu keluar dengan sendirinya saja. Aku sudah memotong sambal untuk aku makan bersama ikan bakar ini. Jadi, sebaiknya kalian diam ehhh,,,, " jawab ku terkejut saat tiba-tiba Sima datang dengan merebut bumbu ku.


"Yah, bocah, berikan kembali itu milikku" kesal ku.


"Jijie aku mau juga, jadi bagi dua" jawabnya membuat semua orang terdiam karena ini pertama kali mereka mendengar pangeran Sima berbicara terutama orang-orang di kekaisaran Yu.


"Gitu kan enak di dengar, nama mu?" tanya ku.


"Yu Sima, pangeran kedua dari kekaisaran Yu. Tapi, jijie boleh memanggil ku Sima" jawabnya.


"Oh baik, sudah cukup" balas ku sambil memulai makan.


"Dia benar-benar makan tanpa di persilahkan" celetuk guru Nages, lalu dia mendapatkan pelototan tajam dari mata Yuan dan Sima.


"Ugh,,,, silahkan lanjutkan makannya. Mereka berdua menatap ku bagaikan aku akan mengambil makanan mereka" celetuk guru Nages.


Semua orang hanya memandang dua orang itu makan, tidak ada yang bergerak sama sekali. Para kaisar hanya ingin melihat mereka makan terlebih dahulu, jika mereka ikut makan maka semuanya akan sibuk dengan makanannya masing-masing. Jadi, mereka memilih hanya melihat dua orang itu makan saja.


Setelah makanan mereka berdua hampir selesai mereka malah berebut. Makanan di piring Yuan sudah habis, sedangkan sedikit ikan lagi masih tinggal di piring pangeran Sima. Jadi, Yuan mengambil ikan itu, aksi kejar-kejaran terjadi karena pangeran Sima mengejar Yuan yang merebut ikannya.


"Itu ikan ku, kenapa jijie mengambilnya" teriak dia sambil mengejar ku.


"Kau tidak memakannya, dia menangis sambil mengatakan tolong makan aku, tolong makan aku" balas ku berteriak sambil terus berlari.


"Biasanya tolong jangan makan aku, bukan tolong makan aku. Bukankah begitu?" tanya guru Nages kepada semua orang.


"Ya" jawab lainnya kompak.


"Memangnya kaian mendengar dia mengatakan hal itu?" tanya ku.


"Tentu saja tidak" jawab beberapa orang kompak.


"Lalu, kenapa kalian mengatakan kalau biasanya tolong jangan makan aku, jika kalian tidak mendengarnya?" tanya ku.


"Itu,,,,," bingung semua orang.


"Emangnya kau mendengar dia mengatakan tolong makan aku, makanya kau bilang begitu tadi?" tanya guru Nages.


"Siapa yang mengatakan kalau aku mendengar ikan itu mengatakan hal itu?" tanya ku membuat mereka bingung.


"Tentu saja kau yang bilang" jawab guru Nages.


"Tidak pernah aku mengatakan kalau aku mendengar dia mengatakan itu" celetuk ku membuat dia kesal.


"Tadi kau yang mengatakannya" ujar Ziwiera membuat yang lainnya menoleh ke arahnya.


"Apa, kenapa menatapnya begitu, apakah ada yang aneh dengannya?" tanya ku bingung.


"Dia benar, apakah ada yang aneh dengan ku?" tanya Ziwiera dengan mengeluarkan auranya kepada semua orang yang sudah mempelajari tenaga dalam, aura nya tidak berfungsi bagi pelayan dan rakyat. Mereka yang terkena auranya sebagian menjadi lemah dan muntah darah.


"Aura yang sangat lemah" ujar ku membuat mereka semua menatap ke arah ku.

__ADS_1


"Kau bilang apa?" tanya kaisar iblis.


"Aura yang sangat lemah" jawab ku.


"Seperti ini kau bilang lemah, bahkan sebagian dari kami ada yang muntah darah dan tubuh kami paling tidak merasa lemas. Kau malah bilang bahwa ini lemah" celetuknya.


"Ya, jika yang kuat itu seperti ini" ujar ku sambil mengeluarkan aura ku membuat mereka semua memuntahkan darah sangat banyak kecuali anak-anak, rakyat, dan para pelayan wanita. Bahkan para sesepuh juga memuntahkan darah dari mulutnya.


"Itu hanya seperempat dari kekuatan ku" sambung ku lagi membuat mereka terdiam.


"Tidak mungkin hanya seperempat jika hanya segini" celetuk sesepuh Hun dan Mao kompak.


"Setengah" celetuk ku sambil mengerakkan tangan ku ke arah mereka berdua membuat mereka berdua pingsan.


"Ini,,,uhuk,,,uhuk. Aura yang sangat kuat se,,,ka,,, li,,," ujar sesepuh Mao sebelum dia pingsan.


"Kembali seperti semula" perintah ku sambil mengeluarkan cahaya putih ke seluruh tubuh mereka semua, lalu semuanya kembali pulih.


"Apa yang kau lakukan bocah?" teriak Mao.


"Aku menyembuhkan diri mu" jawab ku santai.


"Ah,,,, aku harus pergi dulu karena aku malas berjumpa dengan nya.


"Berjumpa dengan siapa?" tanya kaisar Wang.


"Kalian akan tau" jawab ku sambil mengeluarkan cahaya putih, lalu membuat tubuh ku menghilang. Namun, aku tidak pergi, aku tetap di sana, dan untungnya setelah aku menghilang barulah kaisar siang datang.


"Apa kabar kalian semua, sepertinya kalian bersenang-senang sekali" ujar nya.


"Kau,,,,," teriak semua orang.


"Ya ini aku, aku ingin membalas kalian" ujarnya sambil menggerakkan tangannya, lalu dia mengeluarkan cahaya berwarna hitam ke arah para kaisar. Namun, aku menggunakan jurus tameng ku untuk melindungi mereka semua. Hal itu membuat semua orang terkejut terutama kaisar siang.


"Siapa, kenapa selalu saja ada orang yang selalu menghalangi diri ku" teriak kaisar siang.


'Apa ini ulah putri Wang Yuan' batin semua orang kompak.


"Jika kau berani maka muncullah, jangan jadi pengecut" teriaknya.


"Aku sangat kesal, aku merasa kaulah orang yang selama ini selalu menghancurkan semua rencana yang aku buat" teriaknya lagi.


"Aku akan membalas mu, jika aku tau siapa kau" kesalnya.


"Oh,, benarkah. Kalau begitu silahkan lihat di belakang mu" jawab ku. Namun, saat dia ingin membalikkan tubuhnya, aku telah membuatnya menghilang dari depan semua orang, aku membuatnya kembali ke kekaisaran nya.


"Hahhaha,,,, itu sangat menyenangkan" tawa ku semangat membuat mereka semua menatap ku.


"Apa?" tanya ku bingung.


"Kau yang melakukannya?" tanya sesepuh Muran.


"Ya aku, lalu kenapa?" tanya ku.


"Luar biasa, kau sudah tidak kami lihat selama tujuh tahun dan kau menjadi luar biasa seperti ini" jawab sesepuh Mao.


"Memangnya kalian pikir aku ini selama ini menyia-nyiakan waktu ku, hidup ini harus berubah dan berproses. Jadi, tidak selamanya aku akan seperti itu-itu saja kan. Kenapa kalian malah cerewet sekali" kesal ku.


"Kami bertanya, bukannya cerewet" kesal sesepuh Mao sambil menatap ke arah ku.


"Oh,,, benarkah, kalau begitu sampai jumpa karena aku tidak mengenal kalian siapa. Aku akan mendatangi tempat-tempat yang tidak asing dalam pikiran ku. Jadi, tunggu aku sampai di rumah kalian ya. Sampai jumpa" teriak ku sambil melambaikan tangan ku, llu aku menghilang.


"Apakah aku sedang bermimpi kaisar ku?" tanya permaisuri Wang.


"Mungkin, karena sepertinya aku juga sedang bermimpi bahwa dia sudah kembali setelah tujuh tahun lamanya" jawab kaisar Wang.


"Yang anehnya, kenapa dia selalu menghilang dan datang di waktu ulang tahunnya" celetuk Yu Yan.


"Ah,,,, aku lupa, ini hadiah dari ku untuk kalian" ujar ku sambil menyerahkan dua hadiah untuk pangeran Xian dan putri Anchi. Kedatangan ku yang tiba-tiba kembali membuat mereka semua terkejut. Setelah aku menyerahkan hadiah itu, aku kembali menghilang.

__ADS_1


"Dasar, dia bagaikan hantu saja, datang tidak di undang dan pergi tidak di antar" celetuk Dera.


__ADS_2