
Xian muncul dengan penampilannya yang begitu sexy karena setengah bajunya tanpa sengaja terbuka saat dia ingin keluar dari air.
"Ehem,,,ehem, gantilah pakaian kalian terlebih dahulu, lalu mari makan bersama. Setelah selesai makan barulah kita akan keluar dari sini" ucap Mona sambil menunjuk ke arah tiga pakaian yang telah di sediakan oleh Mona. Mona berdehem karena dia tidak bisa mempungkiri bahwa tubuh adiknya sempat membuat dia terpukau, dan untuk membuyarkan lamunan adik perempuannya.
"Kenapa gege keluar dari air dengan penampilan seperti itu?" tanya Sima sambil menatap kesal ke arah Xian yang telah naik dari kolam.
"Kenapa kau mengatakannya sambil menatap seperti itu, itu tidak sengaja terjadi" balas Xian.
"Tapi, tetap saja, kalau itu sempat membuat kedua jijieku terpesona" datar Sima.
Saat mendengar nada bicara adiknya yang begitu dingin kepadanya, Xian menatap Sima dengan tidak kalah dari dinginnya tatapan yang diberikan oleh Sima. Lalu, terjadilah aksi saling tatap diantara keduanya dengan tatapan yang begitu dingin seperti ingin saling membunuh, seandainya sebuah tatapan bisa langsung membunuh.
"Aduh-aduh kenapa kalian berdua malah ribut, segeralah ganti pakaian kalian agar kalian tidak kedinginan" ucap Mona dengan membuat pembatas rambat hijau di antara kedua adik laki-lakinya yang saling menatap.
"Baiklah" kompak ketiganya sambil berjalan untuk mengambil pakaian yang sesuai dengan bentuk tubuh mereka yang telah di sediakan oleh jijie mereka.
Setelah mereka mengambil pakaian, mereka langsung berganti pakaian di sebuah rumah mewah yang belum pernah mereka lihat di dunia ini. Karena rumah mewah itu adalah rumah yang di bangun oleh para naga menyerupai rumah-rumah di zaman modern sebagai hadiah untuk Mona ketika dia berumur sebelas tahun.
Para naga Mona telah mengubah diri mereka menjadi panampilan manusia mereka. Mona dan keempat naganya telah menunggu di depan meja makan yang telah terhidangkan banyak menu makanan di atasnya.
"Eh,,," terkejut Anshi saat dia lebih dulu keluar dibandingkan dua saudara laki-lakinya, lalu dia melihat ada empat orang asing lainnya di samping kakak perempuannya.
"Kemarilah, mereka adalah teman-teman jijie" ucap Mona sambil menepuk tempat duduk di sampingnya. Anshi mengikuti permintaan jijienya untuk duduk di sampingnya. Tidak lama setelah itu, lalu keluarlah dua adik laki-laki Mona.
"Kemarilah, biarkan kali ini diriku benar-benar menjadi seorang kakak" pinta Mona sambil melambaikan tangannya ke arah mereka berdua agar duduk di samping Mona.
Sima dan Xian hanya menurut akan permintaan Mona, toh mereka juga menginginkannya. Mona menyuapi adik-adiknya secara bergantian dengan hanya menggunakan tangannya, tanpa menggunakan alat bantu lainnya.
'Sudah lama aku tidak mendapatkan suapan seperti ini, biasanya ibunda akan menyuapiku dengan menggunakan alat bantu lainnya' batin ketiganya kompak sambil memperhatikan Mona yang sedang menyuapi mereka satu persatu.
Tidak ada perasaan jijik yang mereka rasakan, saat tangan Mona telah menjadi bekas menyuapi yang lainnya. Mona memberikan makanan kepada adik-adiknya terlebih dahulu, barulah setelah itu dia yang makan. Mereka makan dalam tempat yang mirip dengan nampan bambu yang begitu lebar yang berisi beberapa lauk makanan yang semuanya dimasak oleh Mona.
Setelah selesai menyuapi ketiga adiknya, Mona menyuruh ketiganya untuk mengambil beberapa barang yang bisa meningkatkan kekuatan dan tenaga dalam mereka.
"Pilihlah beberapa benda yang ingin kalian ambil, setelah itu kita akan keluar dari sini. Saat sampai diluar, kekuatan yang kalian dapat dari sini akan secara otomatis auranya akan menghilang dari tubuh kalian agar tidak memancing sesuatu yang tidak penting" Mona mempersilahkan ketiga adiknya agar memilih barang-barang yang mereka inginkan.
Tentu saja ketiganya merasa begitu semangat, karena di dimensi milik Mona terdapat begitu banyak senjata yang terdiri dari berbagai bentuk yang belum pernah mereka lihat. Setelah berkeliling sebentar, akhirnya Sima memilih mengambil sesuatu yang berbentuk seperti palu yang bentuknya seperti di film Thor. Anshi memilih sebuah cambuk yang gagangnya di lapisi dengan sisik naga milik green yang sudah mengelupas. Sedangkan Xian memilih sebuah belati kecil berwarna keemasan yang terbuat dari besi dengan campuran sisik dragon yang telah Mona hancurkan di waktu senggangnya.
Keempat naga Mona hanya memperhatikan benda-benda yang dipilih oleh ketiganya dengan perasaan biasa-biasa saja. Karena Mona membuat sebagian senjatanya yang berbahan anggota tubuh mereka yang telah mengelupas. Jadi, itu biasa-biasa saja bila orang lain yang akan menggunakan senjata itu karena Mona membuatnya hanya untuk persiapan senjata bila terjadinya perang besar yang tidak bisa di elak nantinya. Jadi, lebih baik bersiap-siap dibandingkan kurang persiapan.
__ADS_1
"Ok, karena kalian sudah selesai memilih senjata, jadi mari pergi" ucap Mona sambil memegang tangan ketiga adiknya.
"Jijie, ok itu apa?" tanya Anshi.
"Sama seperti baiklah" jawab Mona sambil meletakkan tangannya di bahu saudara kembarnya. Lalu, dia tersenyum ke arah Xian.
"Naiklah, jika jijie ingin naik" ucap Xian seolah mengerti kalau Mona ingin menaiki punggungnya.
'Dragon, bantu aku untuk ke pasar' telepati Mona sambil mulai memejamkan matanya setelah dia berada di punggung Xian.
'Kau ingin menggunakan tubuh asli kalian atau tubuh buatan. Maksudku, selama kira-kira lima jam waktu zaman modernmu saat kau telah keluar dari sini tubuhmu itu bisa bertahan. Jadi, kau pilih mana?' tanya dragon.
"Bisa begitu?" tanya Mona membuat ketiga adiknya bingung.
'Bisa, tapi itu hanya bisa kulakukan tiga kali selama hidupku. Aku telah menggunakannya dua kali selama hidupku, jika kau setuju maka ini yang ketiga kalinya' jawab dragon.
'Maaf jika aku egois, bolehkah kau menggunakannya sekarang. Karena aku dan adik-adikku tidak boleh kembali ke tubuh asli kami sekarang, karena tubuh kami sedang di pantau oleh beberapa orang, tapi salah satu dari mereka usianya sangat jauh di atasku. Mungkin dia seusia dengan kakek buyutku dari sesepuh zan. Aku bisa merasakan auranya, tapi aku tidak tahu apa yang menjadi alasan mereka memantau kami berempat. Aku tidak tahu apa dan siapa yang mereka incar diantara kami, yang jelas mereka masih memantau kami' telepati Mona.
'Baiklah, karena kini kau adalah tuanku maka aku akan menu,,,,'
"Siapa yang tuan kalian" tegas Mona mbuat adiknya menatap ke arahnya.
"Apakah jijie berbicara dengan hewan kontrak jijie?" tanya Sima dengan polosnya.
"Oh" kompak Sima dan Anshi.
"Uwaaaaaa,,,,,,," terkejut Anshi dan Sima kompak karena tanpa aba-aba, dragon membuat mereka muncul tiba-tiba di ramainya sebuah pasar.
Semua orang berlalu lalang di dekat mereka dan menabrak bahu mereka membuat ketiganya terkejut.
"Permisi paman, kami pengelana, jika boleh tahu ini dimana?" tanya Anshi kepada salah satu pedagang pernak-pernik yang begitu indah meskipun dibuat dari bahan kayu dan batu.
"Ini salah satu pasar yang ada di bagian utara kekaisaran Xiao" jawabnya.
"Terima kasih paman, mmm" balas Anshi sambil berbalik ke arah tiga saudaranya sambil memeriksa lengan bajunya. Xian dan lainnya sempat melihat apa yang dilakukan oleh Anshi, mereka mengerti kalau Anshi sedang memeriksa koin untuk membeli beberapa barang-barang yang di jual.
"Ehem, pilihlah apapun yang kau sukai sayang" gumam Mona sambil menggerakkan telunjuknya ke arah pakaian Anshi.
Anshi begitu senang, saat dia merogoh lengan bajunya, sudah ada sekantong koin emas di sana. Mona juga menyuruh Sima dan Xian untuk membeli barang-barang apapun yang mereka sukai. Setelah itu dia langsung tertidur di gendongan Xian.
__ADS_1
Ketika menyadari kalau jijienya telah tertidur, Xian mengisyaratkan kepada dua adiknya kalau dia akan berteduh di tempat yang tubuh mereka tidak akan di senggol oleh orang lain. Meskipun dia sedikit menjauh dari kedua adiknya, tapi pandangannya tidak pernah luput dari keduanya.
Setelah selama kira-kira setengah jam tertidur, Mona akhirnya bangun. Dia hanya membuka matanya tanpa menggerakkan sedikitpun tubuhnya, itu membuat Xian tidak menyadari kalau saudarinya telah bangun, karena dia hanya fokus pada kedua adiknya yang masih tawar-menawar harga barang dengan begitu bebas.
Mereka bisa tawar menawar begitu, karena melihat Mona yang selalu tawar-menawar kesepakatan dengan ayahanda dan ibunda mereka ketika dua tahun lalu dia tinggal di kekaisaran Yu selama tiga bulan.
Mona juga bisa melihat bahwa kedua adik kecilnya, masihlah tetap anak-anak yang ingin tetap bebas bermain dan berekspresi. Meskipun Anshi telah berumur lima belas tahun lebih, tapi kini dia menjadi anak-anak, karena dia tidak pernah merasakan sebebas ini. Itu terjadi karena dragon mengubah wajah mereka di tubuh palsu.
"Bukankah ini begitu indah?" gumam Mona pelan di telinga Xian.
"Eh,,,," terkejut Xian.
"Bukankah begitu menyenangkan melihat mereka tersenyum tanpa memikirkan kasta dan sopan santun mereka sebagai seorang pangeran dan putri?" tanya Mona sambil memeluk pelan leher Xian.
"Bisa turunkan jijie" pinta Mona kepada Xian.
"Tidak mau" jawab Xian.
"Terserahlah" Meskipun Mona mengatakan terserah saja, tapi dia menjentikkan jarinya membuat tubuhnya tidak berada lagi di punggung Xian.
"Eh,,,," Xian terkejut karena apa yang dilakukan oleh jijienya.
Xian dan Mona terus saja memandang ketiga adik mereka yang masih sibuk dengan berbelanja beberapa barang-barang.
"Paman berapa manisan kapas ini paman?" tanya Mona kepada penjual manisan kapas.
"Satunya hanya satu koin perunggu saja, nak".
"Aku beli delapan paman".
"Baik".
"Delapan, kenapa banyak sekali?" tanya Xian kepada jijienya.
"Tidak ada, hanya ingin berbagi saja" jawab Mona.
"Jijie, gege" kompak keduanya sambil berjalan ke arah Mona dan Xian.
"Apakah sudah selesai?" tanya Xian.
__ADS_1
"Sudah" jawab keduanya kompak.
"Ambillah ini, setelah ini kita akan pulang" Mona memberikan gula kapas kepada adik-adiknya. Lalu, lebihnya dia berikan kepada anak-anak yang berada di jalanan yang memakai baju yang sederhana.