The Switched Daughter

The Switched Daughter
Tidak akan mudah


__ADS_3

Kami berdua berjalan dengan santai ke arah mereka, ada berbagai macam pandangan yang di lontarkan pada kami.


"Siapa dari kalian yang bernama Yuan" tanya orang yang tadi mengintruksikan jurus tersebut.


Namun tidak ada jawaban yang kami berikan, pasalnya diriku memiliki prinsip jika ia tidak menghargai ku maka aku pun tidak akan menghargai orang itu dan jika seseorang bersikap sombong di depan ku itu berarti hanya dengan kesombongan pula baru kita bisa membungkamnya tapi selama kesombongan itu masih berada pada batas sewajarnya.


"Apakah kalian berdua tidak mendengar apa yang diucapkannya" ujar orang yang tadi sedikit sombong dengan nada kesal.


"Guru maaf, tapi cobalah untuk memperkenalkan diri mu dulu maka dengan begitu mungkin apapun yang kau tanyakan akan dijawab" ujar Kuban berusaha menetralkan kemarahan gurunya.


"Ahhhh sudahlah mungkin Kuban benar, perkenalkan namaku Bufan aku adalah salah satu guru dari sebuah daerah yang tidak boleh kami sebutkan namanya dan jurus yang menjadi andalan kami adalah jurus yang baru kalian lihat tadi. Kami ditugaskan oleh ketua kami untuk mencari seseorang di luar daerah kami yang bisa menguasai jurus kami. Karena itulah kami berpikir saat salah satu pangeran dari kekaisaran Yu bisa mengangkat kuas nya kami begitu senang tapi itu hanya menjadi angan-angan kami. Jadi karena itulah saat kami benar-benar melihat kuas itu bergerak dan menuliskan nama Yuan kami bertanya siapa dari kalian berdua yang bernama Yuan" ujar Bufan.


Setelah itu keheningan datang menyelimuti, semua orang saling pandang dan sebagian ada yang melihat ke arah kami.


"Ehemmm perkenalkan namaku Wang Yuan aku adik dari Yu Yan" ujar ku memecah keheningan itu sampai membuat empat orang yang memakai tudung kepala semuanya melihat ke arah ku.


"Berapa umurmu dan apa kah benar kau memiliki bakat warna merah" tanya Bufan.


"Hahaha tentu saja bakatnya merah aku bisa melihat nya" ujar orang yang sombong itu.


" Siapa namamu" tanyaku.


"Kenapa pula aku menjawabmu" ujar nya masih dengan nada sombong.


"Ais antarkan mereka bertiga kembali ke tempat asal mereka" ujar ku lantang karena kesal membuat mereka semua terkejut. Setelah itu datanglah cahaya emas yang membuat tiga orang bertudung tiba-tiba menghilang hanya tersisa Kuban seorang.


"Maaf kau membawa mereka kemana kenapa mereka menghilang" tanya Kuban.


"Ketempat asal kalian karena aku sangat benci orang yang tidak menghargai orang lain. Jika aku hanya memindahkan satu gurumu yang sombong itu pasti ia akan dihina karena kembali sendirian jadi aku membawa ketiganya pulang di waktu bersamaan" ujarku.


" Begitukah" tanya nya.

__ADS_1


"Kau ingin membuktikannya" ujar ku.


" Tidak, tapi aku penasaran kenapa warna elemen mu warna merah jika kau jenius pertama diantara para jenius yang menguasai jurus kami. Ngomong-ngomong berapa umurmu" ujar nya.


"Dua puluh lima hari lagi umurku lima tahun dan soal warna elemen ku tidaklah warna merah benar seperti yang diucapkan oleh gege Mofan kalau aku menyembunyikan warna elemen asliku karena aku ingin mengetahui mereka yang tulus mencintai ku jikapun mereka tidak dekat paling tidak mereka tak mencari masalah denganku. Gege Mong Jun salah satunya ia tidak pernah dekat denganku seperti gege Mofan meskipun secara tidak langsung bahwa tadi ia membela kami berdua karena saat kalian menghina akedemi kami maka kau menghina guru Nages dan saat kalian menghina guru kami berdua itu sama saja kau menghina aku dan Dera" ujar ku.


" Soal tadi maaf" ujar nya.


"Jika semua bisa diselesaikan dengan kata maaf bukankah tidak akan ada orang yang dibunuh mati" ujar ku membuat ia dan semua orang terdiam mungkin mereka berpikir bagaimana bisa aku mengatakan seperti itu.


"Boleh aku tau berapa lama kalian kemari dan apa alasan kalian ingin mencari seseorang yang bisa menguasai jurus tersebut dari luar daerah kalian" tanya ku.


"Kami sampai ke akademi kalian selama lima belas hari dan alasan kami mencari kalian karena guru kami sudah bertahun-tahun terkurung di sebuah gua yang dikelilingi dengan es tidak ada satupun orang yang bisa masuk hingga seorang peramal mengatakan bahwa akan ada orang dari luar daerah kami yang bisa menguasai jurus kami dan hanya dialah yang bisa menyelamatkan ketua kami" ujar nya membuat senyuman muncul di wajah Yuan yang hal itu disadari oleh semua orang.


"Bodoh" ujar Dera sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Apakah yang kau katakan itu benar bahwa kalian memerlukan diri ku" ujar ku.


"Lalu katakan padaku kenapa akademi kami yang terakhir kalian datangi" tanyaku.


"Itu karena hanya akademi kalian yang sangat susah kami temui" ujarnya membuat senyuman kedua muncul dari bibirku.


"Benar-benar bodoh" ujar Dera lagi membuat semua orang melihat kearahnya.


"Maaf tapi siapa yang kau sebut bodoh" tanya Kuban.


"Kau" ujar Dera.


"Alasan nya" tanya nya.


"Aku sangat mengenal Yuan dia bersifat misterius sangat susah menebak jalan pikiran nya dan kau dengan sangat jujur menjawab pertanyaan nya" ujar Dera.

__ADS_1


"Lalu apa masalahnya" tanya nya.


"Hahaha tidak ada masalah apapun padaku hanya saja masalah itu akan datang pada kalian. Aku akan menuruti ucapan guru yang sombong mu tadi bahwa akan sia-sia saja kalian datang kemari Kuban" ujar ku.


"Maksudmu" tanya nya.


"Maksudku berjuang lah kembali karena aku tidak akan memberikan dengan mudah apa yang kalian minta karena kalian tadi sengaja atau tidak telah menghina akademi ku maka anggap saja aku juga tidak mendengar ucapan mu dadaaaa antarkan dia kembali ke asalnya menyusul ketiga gurunya" ujar ku dan melambaikan tangan.


"Ada apa kenapa menatapku begitu" tanyaku.


"Apakah benar warna merah bukan warna aslimu" ujar guru ku.


"Ya kenapa" tanya ku.


" Bisa kah kau mengetes warna mu lagi" ujar nya.


"Tentu" ujar ku membuat Dera bingung.


"Kau ingin melakukan nya" tanya Dera.


" Mhmmmm tapi cobalah untuk mengingat-ingat apa yang kukatakan dan apa yang kulakukan ketika barusan dan tadi ketika kita diatas pohon" ujar ku dan Dera seperti berusaha berpikir apa yang terjadi karena aku bisa melihat keningnya berkerut tidak lama kemudian senyuman terlukis diwajahnya dengan hilangnya kerutan di keningnya.


"Hahaha kali ini berapa banyak yang akan kau jadikan korbanmu Yuan" tanya nya.


"Entahlah" ujarku sambil berjalan ke batu penguji warna bakat.


"Kalian mau warna apa" ujar ku.


"Maksud mu" ujar guru besar.


"Kalian ingin warna merah, biru, kuning, hijau, ungu ataukah hitam" ujar ku dengan cara melepas lalu meletakkan kembali tanganku ke atas batu pengujian yang warna nya berubah sesuai yang kukatakan membuat semua orang terdiam membisu.

__ADS_1


__ADS_2