The Switched Daughter

The Switched Daughter
Untung kau suamiku


__ADS_3

Sesepuh Ying dan sesepuh Zan, telah berada di kamar pangeran Sima. Mereka melihat disana ada permaisuri Yu yang sedang tidur dengan menemani dan memeluk pangeran Sima yang juga sedang tidur. Kedua sesepuh hanya menatap ke arah keduanya yang sedang tidur dengan ekspresi tatapan bingung.


"Bahaya apa yang dimaksud oleh cucumu?" tanya sesepuh Ying.


"Entahlah, yang membuat aku bingung adalah apa alasan dirinya mengirim kita ke kamar Sima, diakan bisa mengirim kita langsung ke kamar kita sendiri atau ketempat lain, dan bagaimana dia tahu kalau ibunya ada disini. Tapi, yang membuat aku sangat bingung yaitu apa alasan dia mengirim kita kemari?" bingung sesepuh Zan.


"Entahlah, sebaiknya kita kembali ke kamar kita saja. Akh,,," terkejut sesepuh Ying karena saat dia ingin keluar dia di hentikan oleh perisai berwarna hijau. Lalu, selain perisai itu, juga ada tanaman rambat.


"I,,ini, kenapa bisa begini?" bingung sesepuh Ying, karena tangannya dan tangan sesepuh Zan di tarik oleh tanaman rambat ke arah kursi yang bisa mereka duduki.


"Sepertinya ini ulah dirinya yang ingin kita tetap di dalam sini, dan sepertinya dia menyuruh kita untuk duduk" ucap sesepuh Zan.


"Begitukah?".


Sesepuh Zan dan sesepuh Ying hanya bisa menunggu dalam kebingungan dan kesunyian sambil duduk di kursi yang ada di kamar pangeran Sima tentang apa yang akan terjadi. Kedua sesepuh bahkan sampai memejamkan mata mereka karena sudah empat jam mereka di kamar Sima, tapi tidak ada satupun pergerakan yang menimbulkan kecurigaan mereka. Namun, tepat pada jam dua belas malam, kedua sesepuh membuka mata mereka karena mereka bisa merasakan ada dua orang yang mendekati kamar pangeran Sima dengan cara berjalan pelan-pelan.


Setelah dua orang itu sampai di kamar pangeran Sima, mereka membakar sesuatu dan menaruhnya di kamar Sima. Lalu, keduanya segera pergi setelah mereka meletakkannya di kamar pangeran Sima. Saat mereka mencium sedikit asap itu, kedua sesepuh tahu jika asap dari benda yang di bakar adalah asap yang beracun. Jadi, mereka langsung menahan dua orang itu. Mereka menginterogasi dua orang pelayan itu, tentang siapa dan apa tujuan mereka meracuni kamar pangeran Sima. Namun, baru saja kedua sesepuh selesai bertanya, tiba-tiba kedua pelayan itu menghilang menjadi debu hitam di udara malam.


"Berani sekali mereka bermain-main dengan kita, jika hanya putriku itu tidak masalah karena dia masih bisa menahan racun ini. Tapi, Sima dan cucuku yang belum lahir, tentu kurang bisa bertahan. Aku pasti akan menemukan siapa dalang dari semua ini?" marah sesepuh Ying.


"Tenangkanlah dirimu" ucap sesepuh Zan.


"Sepertinya kita sudah bisa kembali ke kamar milik kita" sambung sesepuh Zan saat melihat perisai dan juga rambat yang tadi menahan mereka, telah hilang.


"Kau saja yang kembali, aku akan disini untuk menemani putri dan cucu-cucuku. Jika ada hal yang tidak diinginkan lagi, maka aku ada di sisi mereka" ucap sesepuh Ying sambil menaiki tempat tidur pangeran Sima.


"Baiklah, jika ada kau disini untuk menemani mereka, maka pikiranku akan lebih baik. Aku pergi dulu" ucap sesepuh Zan sambil keluar dari pintu.


"Mereka juga di beri obat tidur, musuh memang cerdik. Tapi, cucuku lebih depan satu langkah darimu" ucap sesepuh Zan saat dia memeriksa denyut nadi para penjaga kamar pangeran Sima yang terbaring di tanah. Sesepuh Zan menetralkan obat tidur yang ada di tubuh para penjaga dan beberapa pelayan yang setia kepada pangeran Sima. Saat semua orang bangun dan melihat ada sesepuh Zan yang sedang menetralkan efek obat pada tubuh mereka, membuat mereka sangat terkejut dan mereka juga mengkhawatirkan pangeran dan permaisuri mereka yang berada di dalam. Tapi, kekhawatiran mereka hilang saat sesepuh Zan mengatakan mereka sempat mencegahnya karena mereka juga ada di dalam sana. Jadi, setelah itu, keadaan di pavilium milik pangeran Sima kembali tenang seperti tidak terjadi apa-apa.


******

__ADS_1


Sdangkan di kekaisaran kegelapan, setelah selesai makan, semua anggota kekaisaran kegelapan kembali ke ruangan masing-masing. Begitupun dengan Mona dan Ming Fan. Tapi, sebelum pergi Mona sempat mengatakan bahwa dia akan mengambil alih kekaisaran kegelapan dan malam. Tentu saja, awalnya hal itu tidak bisa di terima oleh keluarga kaisar kegelapan dan malam. Orang yang paling cerewet adalah pangeran ketiga dan keempat, mereka berdua sangat kesal pada Mona karena dia lebih muda dari mereka berdua, tapi dia bisa dengan mudah melumpuhkan mereka berdua.


Begitupun yang terjadi saat mereka mencoba memprotes keputusan Mona, mereka semua kalah karena Mona mengeluarkan setengah kekuatannya kepada kedua kaisar dan kedua pangeran yang cerewet, membuat empat orang pria itu muntah darah dengan sangat banyak. Karena tidak sanggup melawan, akhirnya mereka semua setuju jika Mona yang akan menguasai kedua kekaisaran itu. Tapi, anehnya Mona menolak hal itu membuat semua orang terkejut.


Mona meminta agar seluruh prajurit bayangan kedua kaisar keluar dari istana untuk menyebarkan berita kalau ratu kekaisaran bulan telah berhasil menyerang kedua kekaisaran itu. Mona memerintahkan agar para prajurit bayangan menyamar menjadi petani, pria yang pergi ke tempat hiburan, dan juga para pedagang. Mona menyuruh mereka untuk menyebarkan berita layaknya berita yang di sering di sebarkan dan di gosipkan oleh emak-emak rempong. Awalnya para prajurit bayangan itu bingung karena tidak bisa melakukan seperti para wanita lakukan, lalu Mona mengusulkan untuk para prajurit memberitahukan kepada para wanita, dan biarkan para wanita itu yang menyebarkannya. Ide itulah yang membuat prajurit bayangan setuju.


Setelah membahas tentang itu, semua orang akhirnya bubar dari ruang makan kekaisaran kegelapan.


"Sweety" panggil Fan ketika melihat Mona melepas perhiasannya.


"Mm, iya".


"Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Fan.


"Ucapan yang mana?".


"Soal racun, dan musuh adikku yang berbaur dalam kehidupan sehari-harinya" jawab Fan sambil membantu Mona melepas perhiasannya.


"Sweety,,,," Fan berusaha mencari tahu.


"Adikmu sering bermain di rumah hiburan, dia mendapat racun itu disana. Soal musuh berbaur, adikmu sering pergi ke beberapa tempat yang kini menjadi tempat yang setiap hari dia datangi. Disanalah yang menjadi tempat musuhnya berbaur dalam kehidupan sehari-harinya. Musuh itu di kirim oleh kaisar siang, sedangkan yang di rumah hiburan adalah musuh yang mungkin iri padanya sebagai seorang pangeran kekaisaran kegelapan".


"Oh, lupakan tentang dia dulu. Apa yang akan kau lakukan sekarang, dan apakah kau akan kembali ke kekaisaran bulan milikmu?" tanya Fan sambil memeluk Mona dari belakang di depan cermin. Sehingga mereka bisa saling memandang dari pantulan cermin.


"Tidak, aku tidak kembali ke kekaisaran bulan. Aku akan ikut dimana kau berada karena kau adalah suamiku. Soal kekaisaran bulan, dan apa yang akan aku lakukan kedepannya. Itu sangatlah mudah karena aku memiliki kekuatan yang bisa membuatku datang kemana saja dalam sepersekian detik, bukan. Tapi, saat aku disini, maka seperti kataku tadi pada ayah dan ibumu, bahwa aku akan mendisiplinkan adik-adikmu".


"Oh, orang tuaku adalah orang tuamu juga. Jadi, jangan memanggil mereka ayah dan ibuku, karena kau bisa memanggil mereka ayah dan ibu" ucap Fan.


"Aku tahu, baiklah mari istirahat".


"Baik, mari" ucap Fan sambil memegang tangan Mona ke arah tempat tidur.

__ADS_1


Mona dan Ming Fan, tidur dalam keadaan saling memeluk. Mona berada dalam dekapan Fan, dia bisa mencium bau maskulin dari pria yang kini berstatus suaminya. Sedangkan, Fan, mencium bau wangi dari rambut Mona. Setelah, kira-kira tiga jam berlalu, tapi Fan belum juga bisa tidur karena menginginkan hal lain. Dia terus memandangi wajah Mona yang tertidur sangat lelap di dalam pelukannya.


'Sweety' telepati Fan, tapi tidak ada balasan dari Mona.


'Sweety' panggilnya lagi, namun tetap tidak ada reaksi yang diberikan oleh Mona membuat senyum smirk muncul di bibirnya Fan


'Hehehe, aku akan bermain sendiri saja dulu' telepati Fan sambil memasukkan tangannya ke dalam pakaiannya Mona, Fan menyentuh pelan bagian perutnya Mona membuat Mona terganggu dan bergerak pelan. Saat Fan melihat Mona sedikit bereaksi dengan tubuhnya membuat dia semakin nakal mempermainkan Mona. Fan menggigit pelan bagian perut Mona, membuat Mona membuka matanya.


"Apa yang kau laku,,akh" erang Mona karena Fan menyentuh gun*ukan miliknya.


'Kau membuat aku candu, my Sweety' telepati Fan.


"Kita baru melakukannya tadi, kenapa kau, ah,,,,".


'Aku ingin selalu melakukannya denganmu. Bahkan dari tadi aku tidak bisa tidur dengan tenang' telepati Fan dengan aktivitasnya yang masih berada di bagian depan tubuh Mona.


'My sweety, kau sudah mulai basah. Haruskah aku melakukannya' goda Fan melalui telepati dengan nada nakal karena mulutnya telah berada di salah satu bagian tubuh Mona.


"Kau gila, uh,,,ah,,,kau main sendiri saja karena aku sangat lela ahh,,,," Mona teriak karena sesuatu telah memasuki bagian bawahnya.


"Kenapa ah,,, tidak bilang ah,,, dulu ah,,,," ucapan Mona terputus-putus setiap kali Fan menggerakkan benda kesayangannya.


"Kau bilang aku bisa bermain sendiri" ucap Fan menghentikan aktivitasnya.


"Tapi, ahh,,, kau bisa ah,,,,. Sia*an kau Fan, kau ahh,,, melakukannya saat ah,, aku ingin bicara" kesal Mona karena saat dia ingin bicara Fan melakukannya, tapi jika Fan yang berbicara maka Fan tidak menggerakkan tubuhnya.


"Tapi, kau menikmatinya juga bukan, karena itulah kau mengerang, Sweety" goda Fan tanpa menggerakkan tubuhnya.


"Aku dikalahkan oleh pria mesum sepertimu" kesal Mona.


"Tapi, kau menyukainya bukan" goda Fan.

__ADS_1


"Mmm, untung kau suamiku, jika tidak, maka kau akan aku bu,,ah,,,," ucapan Mona terpotong karena kejahilan Fan.


__ADS_2