
Saat mendengar ucapan Mona, semua orang di ruangan itu menjadi sangat bingung tentang apa maksud dari ucapan Mona.
"Apa maksudmu nak?" tanya neneknya Mona.
"Aku ingin memiliki alasan untuk menolak pangeran mahkota, dan ternyata Tuhan memberiku alasan yang begitu luar biasa. Alasannya yaitu ternyata aku memiliki suami, anak-anak dan mungkin juga anggota keluarga lainnya di benua bawah. Aku memang tidak ingat apapun, tapi kalian mengingat semuanya bukan?" jawaban dari Mona membuat semua orang terdiam dengan berbagai ekspresi. Kakek dan neneknya Mona tersenyum karena cucu mereka bisa melindungi dirinya sendiri. Walaupun dalam keadaan dirinya lupa ingatan. Sedangkan pangeran mahkota dan anggota keluarga kekaisaran langit memasang ekspresi wajah salah tingkah karena mereka tidak bisa membohongi Mona dengan mengatakan kalau dia dan pangeran mahkota adalah jodoh yang ditakdirkan oleh alam.
"Sekarang aku sudah tahu sedikit tentang jati diriku, pantas saja aku merasa aneh dengan wajahku yang sekarang. Ternyata aku sudah memiliki kehidupan di dunia bawah, dan wajah yang kumiliki pastinya keturunan dari keluargaku. Jadi, jangan pernah bermimpi aku akan mau menikah denganmu" Setelah mengatakan hal itu, Mona langsung pergi dari aula kekaisaran langit tanpa menunggu siapapun membalas ucapannya.
Mona terus saja berjalan ke berbagai arah kemanapun kakinya melangkah, yang penting dia tidak jumpa dengan anggota kekaisaran langit. Mona terus berjalan hingga dia sampai di perpustakaan kekaisaran langit.
"Wow, ada tempat yang seperti ini disini" Mona melihat-lihat macam-macam barisan buku-buku yang tersusun. Namun, tidak ada satupun yang menarik perhatiannya. Hingga tanpa sengaja dia menumpahkan darahnya pada sebuah simbol yang ada di salah satu susunan buku-buku karena jarinya terluka dengan jarum yang ada di dekat simbol itu saat dia ingin menarik satu buku.
Setelah darah Mona menetes disana, lalu ada portal yang muncul diantara buku-buku yang menarik tubuh Mona masuk kedalamnya. Setelah Mona masuk susunan buku kembali seperti semula, seolah-olah belum ada satupun orang yang masuk ke dalam perpustakaan hari ini.
Sedangkan di dalam portal, Mona berada di sebuah tempat yang dipenuhi dengan berbagai macam jenis bunga. Mona terus berjalan hingga dia sampai di tempat yang membuat dia terkejut karena dia melihat tempat itu dipenuhi dengan kenangannya di kehidupan modernnya dan kehidupan keduanya. Mona terus saja berjalan untuk melihat kenangan tentang kedua kehidupannya, hingga yang terakhir dia melihat keempat bayi yang sedang tertawa dengan riangnya sambil meremas sebuah kain berwarna merah di tangan mereka. Saat melihat keempat bayi itu, Mona mengukir senyuman di wajahnya.
Mona berjalan ke arah gambar keempat bayi itu, saat Mona menyentuh gambar itu ternyata tubuhnya tembus. Jadi, Mona mengikuti langkah kakinya untuk mendekati keempat bayi yang sedang bermain-main.
Saat Mona melangkahkan kakinya ke dalam gambaran keempat bayi itu, Mona tiba di dalam salah satu ruangan kekaisaran bintang. Mona menghampiri ke empat bayi, saat kedatangan Mona keempatnya langsung menatap ke arah Mona sambil tersenyum.
"Uatatataa,,,,ucacaca".
"Hallo sayang, apa kabar kalian, ibu dan jijie harus berpura-pura lupa ingatan hanya demi kalian. Ibu sungguh sangat bahagia saat Tuhan memberkati ibu untuk bisa menemui kalian. Walaupun dengan cara seperti in,,,," ucapan Mona terhenti karena suara kaki dari arah luar.
"Hai, jagoan kecil paman dan jagoan kecil gege, apakah kalian lapar. Paman bawa bibi kalian dulu ke samping ya, karena nenek telah menunggu. Kemarilah Mayumi sayang. Untuk keponakan paman, ayah kalian sedang mengambil air nasi untuk kalian. Jadi, tolong tunggu sebentar ya" Xian menggendong Mayumi dengan menggunakan pakaiannya Mona. Lalu, dia berjalan keluar kamar itu tanpa memperhatikan Mona karena Mona tidak bisa terlihat.
"Sayang, apakah selama ini kalian selalu hanya meminum air tajin. Sungguh maafkan ibundamu ini, ibunda bahagia saat kalian lahir ke dunia. Tapi, ibu harus di jauhkan dari kalian karena ulah seseorang" Mona mulai memindahkan ketiga malaikat kecilnya dari tempat peristirahatan terakhirnya Mona ke atas kasur yang di tempatin Ming Fan selama di kekaisaran bintang.
"Baiklah, siapa duluan yang ingin hadiah dari ibu karena ibu tidak bertemu dengan kalian selama tiga bulan ini".
"Tututu" Airi mengangkat tangannya ke arah Mona.
"Uh, sikecil ibu duluan ya, sepertinya kedua kakakmu mengalah untukmu ya sayang" Mona mengangkat bayi perempuannya yang berambut warna coklat kemerahan ke arah dadanya. Saat Mona merasakan tarikan pelan di bagian dadanya, Mona meneteskan air matanya.
'Apakah semua ibu merasakan kebahagiaan yang seperti yang kurasakan saat ini ketika bayi mereka menghisap susu mereka' batin Mona sambil meneteskan air mata kebahagian saat Airi berada dalam dekapannya.
"Airi sayang, maafkan ibunda jika mengganggu kesenanganmu. Tapi, tolong jangan di habiskan sendiri karena kau harus berbagi dengan salah satu kakakmu, sayang" ucap Mona setelah dia merasakan kalau Airi tidak mau melepaskan mulutnya. Airi langsung berhenti setelah Mona mengatakan hal itu.
"Apakah putri ibunda sudah selesai atau putri ibunda ngambek karena ucapan ibunda. Jika putri ibunda sudah selesai, bolehkah ibunda mendapatkan kode senyuman yang indah darimu". Setelah Mona mengatakan itu, Airi seolah-olah sudah paham akan apa yang di ucapkan oleh Mona, karena dia memberikan senyuman indahnya untuk Mona.
"Terima kasih atas senyumannya dan atas pengertianmu sayang" Mona mencium kening Airi sebelum dia mengambil Jun.
"Baiklah, Aina sayang, ibu memberi hadiah untuk Jun dulu. Bolehkan?" tanya Mona sambil menatap ke arah Aina dengan tangannya Mona telah memegang badan Jun. Lalu, Aina memberikan senyumannya ke arah Mona.
"Uh, kalian adalah obat dari segala perjuangan ibu, dan ibu sangat bersyukur karena ibu mendapatkan tiga malaikat kecil ibu yang saling pengertian"
__ADS_1
Mona memberikan ASI-nya kepada ketiga anaknya secara bergiliran sesuai dengan kelahiran mereka. Dari yang pertama disusui adalah anaknya yang ketiga, kedua dan terakhir yang pertama. Setelah Mona memberikan Asi kepada ketiga anaknya, Mona juga ikutan tidur di samping ketiga anaknya yang juga telah tertidur karena mereka telah kekenyangan. Mona tidur dalam keadaan memeluk ketiganya.
Setelah lima menitan keempatnya tidur, lalu datanglah Xian, permaisuri Yu dan Ming Fan. Ketiganya masuk di waktu yang bersamaan dengan membawa Mayumi dan juga membawa air tajin beras untuk ketiga malaikat kecil Mona.
"Eh,,,," terkejut ketiganya kompak saat mereka melihat ketiga malaikat kecil mereka tidur dengan tenangnya di atas kasur Ming Fan.
"Kapan kau memindahkan mereka Xian?" tanya Ming Fan.
"Aku tidak memindahkan mereka, aku pikir kakak ipar yang memindahkannya".
"Aku baru saja dari dapur".
"Anehnya sejak kapan cucu-cucuku mau tidur di atas kasur, bukankah selama ini mereka selalu tidur disana?" permaisuri Yu menunjuk ke arah tempat yang di kelilingi dengan bunga mawar putih. Saat mendengar suara bising seseorang berbicara, Mona langsung membuka matanya sambil memalingkan wajahnya untuk menatap ke arah suara itu berasal.
'Akhirnya aku dapat melihat kalian kembali' batin Mona sambil menatap ke arah mereka.
"Ah, sudahlah, lebih baik kita beri mereka asupan nutrisi dulu. Eh,,,," permaisuri terkejut saat dia mendekati Ketiga bayi yang terlelap tidur.
"Ada apa ibunda?" kompak Xian dan Ming Fan.
"Bibir mereka tidak kering, seolah-olah mereka telah meminum sesuatu, dan bau bibir ketiganya seperti bau susu".
"Benarkah ibunda?" tanya kompak Xian dan Ming Fan.
"Karena ketiganya sudah tidur, maka ibunda akan tidur karena Mayumi juga sudah tidur dan ini sudah sangat malam. Jika ada apa-apa bangunkan saja ibunda, Ming Fan".
"Baiklah ibunda, selamat malam Xian dan selamat malam ibunda".
"Selamat malam, kakak ipar/nak" kompak keduanya sambil berlalu pergi.
Setelah permaisuri Yu, Xian dan Mayumi keluar dari kamar Ming Fan. Ming Fan langsung tidur di samping ketiga anak-anaknya "Entah kapan kau akan kembali darling, lihatlah ketiga permata yang engkau berikan kepadaku. Saat aku menatap wajah ketiganya, aku merasa kau ada di sampingku" gumam Ming Fan.
'Aku memang ada di sampingmu darling' batin Mona.
" Hahaha, aku bisa gila jika terus begini. Sayang, ayahmu mendengar suara ibumu, tapi dia tidak ada di sini. Itu sungguh menyakitkan" Ming Fan menatap ketiga wajah anaknya dengan tatapan matanya sendu. Lalu, Ming Fan memejamkan matanya dengan tangannya sebelah kiri berada di bawah kaki ketiga anak-anaknya.
Setelah kira-kira satu jam Mona telah menghabiskan waktunya dalam memandangi keempat orang yang berharga dalam hidupnya sedang tertidur lelap. "Jaga mereka untukku darling" Mona meninggalkan keempatnya, sebelum pergi Mona memberikan ciuman singkat di bi*irnya Fan.
Saat Mona kembali melewati tempat yang sama saat dia datang, Mona kembali lagi ke suatu tempat yang dipenuhi dengan gambaran-gambaran dirinya. Mona tertarik pada gambar ruang kerja ayahnya, jadi dia masuk ke sana. Sama seperti saat dia menemui ketiga anaknya, sekarang Mona juga berada di ruang kerja ayahnya.
"Tidak ada yang berubah, eh,,,," Mona begitu terkejut saat dia tanpa sengaja membuka ruangan rahasia di ruang kerja kaisar Yu. Disana, Mona melihat bahwa kaisar Yu sedang tertidur dengan kuas melukis ada di tangannya. Mona melihat setengah gambar lukisan yang masih belum jadi, gambar yang di lukis kaisar Yu adalah wajah perempuan yang mirip wajahnya atau wajah permaisuri Yu.
"Ayah, sebenarnya yang kau lukis wajahku atau wajah ibu?". Mona memperhatikan lukisan kaisar Yu yang belum selesai.
"Baiklah, terserah pada ayah itu wajah siapa yang ayah lukis. Tapi, seharusnya ayah bisa menjaga diri ayah sendiri, karena jangan terlalu memaksakan diri ayah untuk tetap tampil hebat. Terkadang adakalanya seorang pria juga butuh waktu untuk menangis dan sendirian" Mona memberikan selimut tebal di tubuh kaisar Yu, lalu dia mencium kening kaisar Yu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu ayahanda, jadi jangan pernah merasa bersalah karena ayah tidak bisa mengenaliku selama ini" Mona mengatakan hal itu tepat di telinga kaisar Yu. Setelah Mona membisikan kalimatnya di telinga kaisar Yu, lalu dia keluar dari ruang rahasia.
Mona memeriksa beberapa berkas yang ada di atas meja kaisar Yu. "Aku berharap ketenangan ini bertahan selamanya. Akan aneh jika aku membantu ayah menyelesaikan berkas negara, jadi aku akan membiarkan ayah menyelesaikannya sendiri".
"Eh, ada benang rajut. Ah, sepertinya aku akan punya kegiatan selama aku di kekaisaran langit" semangatnya karena melihat ada banyak benang rajut.
"Aku harus kembali, karena jangan sampai pria itu mengetahui kalau aku turun ke benua bawah". Mona kembali ke tempat tadi.
"Apakah kau bahagia saat bisa bertemu dengan keluargamu, wahai Kim Mona atau aku harus memanggilmu diriku".
"Kau" Mona melihat seseorang yang memiliki wajah seperti dirinya dengan penampilan berbeda darinya. (gambarnya ada di episode 75).
"Apa kabarmu?" tanyanya.
"Aku baik, bagaimana denganmu?".
"Aku adalah dirimu, jika kau baik maka aku juga baik" jawabnya dingin.
"Aku bertanya biasa saja, kenapa kau begitu dingin saat menjawabnya?" kesal Mona.
"Bukankah itu juga sifat aslimu" senyum smirk wanita itu.
'Aduh aku benar-benar seperti melihat pantulan diriku' batin Mona. Wanita itu hanya tersenyum saja di waktu bersamaan dengan Mona membatin.
"Jadi, ada apa kau bertanya kepadaku pertanyaan tadi?"
"Seperti yang aku katakan saat kau kecil dulu, segala pilihan ada padamu Mona. Jadi, pilihlah antara kau ingin mengambil kekuatanku atau kau ingin mencari kekuatanmu sendiri?".
"Seperti dulu pula, apa untung dan ruginya jika aku menerima atau menolak kekuatanmu?".
"Aku tidak bisa memberitahukan kepadamu tentang itu, Mona".
"Baiklah, aku menerima kekuatan darimu".
"Kenapa kau menerimanya dengan begitu mudah?".
"Karena, kita saat ini sama, yang membedakan hanya warna dari tubuh kita. Aku memiliki lambang bulan sabit merah di dahiku, kau memilikinya dengan warna berbeda. Jadi, menurut pemikiranku lambang bulan ini adalah lambang dari kekaisaran bulan milikku, lambang bintang yang ada di pinggangmu adalah dari kekaisaran bintang, sayapmu yang berbentuk seperti sayap kupu-kupu adalah julukan dari Dewi kupu-kupu, warna gelap dari keseluruhan pakaianmu adalah karena kekaisaran kegelapan. Jadi, itu semua benar adalah diriku dimasa depan, bukankah begitu?".
"Seperti yang aku katakan dulu, bahwa itu tergantung pada sudut pandangmu. Tapi, alasan sebenarnya dari kedua pilihanku bukanlah itu. Jadi, pilihanmu adalah memilih kekuatanku bukan?".
"Ya, tapi bisakah kau mengatakan apa arti dari kedua pertanyaanmu?" tanya Mona.
"Tidak masalah, sebenarnya air yang dulu kau minum akan berefek untuk pilihanmu yang sekarang. Air itu adalah tetesan air suci yang akan penuh satu cangkir yang aku bawa kepadamu, setelah enam ribu hari atau lima ratus tahun di benua bawah. Jika seandainya tadi kau memilih untuk mencari kekuatanmu sendiri, maka tubuhmu akan kembali menjadi seperti seseorang yang belum memiliki anak dan belum tersentuh oleh pria. Dengan kata lain, kau kembali menjadi seperti gadis remaja kembali, dan semua orang yang pernah berhubungan atau terikat denganmu di benua bawah tidak akan mengingat tentangmu lagi. Jadi, dengan kata lain, kau akan kembali seolah-olah setelah kematianmu di dunia modern kau tidak memiliki kehidupan lainnya. Namun, karena pilihanmu berbeda dari itu, maka semuanya akan tetap seperti yang sekarang. Selama kau di kekaisaran langit, maka rambutmu dan penampilanmu akan tetap seperti ini. Tapi, saat kau kembali ke benua bawah nanti, maka penampilan seperti dirikulah yang akan kau miliki. Karena anggap saja seperti penilaianmu tadi bahwa semua itu adalah identitas dirimu. Jadi, izinkan aku menyatu denganmu".
"Aku menerimanya".
__ADS_1