
Semua orang terdiam karena mendengar suara seruling itu, dua orang di antara para pendengar sangat terkejut karena yang memainkan seruling itu adalah Mona yang mereka pikir sedang tidak ada di sana. Setelah memainkan seruling itu sebentar Mona tersenyum ke arah keduanya.
"Semua orang mungkin menjulukiku dengan sebutan licin bagaikan belut, ganas bagaikan harimau atau singa. Jadi, apakah kalian berpikir kalau aku akan dengan mudah kalian bohongi, kalian membuat aku agar mendapatkan waktu untuk keluar dari kekaisaran bintang dengan alasan agar aku cepat sampai di sana. Apakah kalian lupa kalau aku memiliki kekuatan yang kalian turunkan untukku, yaitu kekuatan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam hitungan detik" senyum Mona ke arah keduanya.
"Adakalanya takdir kematian seseorang tidak bisa di rubah. Jadi, pergilah ayah & ibu, percayalah bahwa kalian akan selalu hadir di dalam dua tempat dalam kehidupanku yaitu di sini dan disini. Meskipun kalian belum memberikan kebahagiaan kepadaku atas nama keluarga kandungku. Tapi, kalian telah memberikanku keluarga yang begitu menyayangiku. Baik itu mommy & Daddy di zaman modern atau kaisar dan permaisuri Yu, kedua keluarga itu tetaplah keluargaku. Karena tanpa hubungan antara kekaisaran Yu dan kekaisaran lain baik-baik saja, maka aku tidak akan bisa bertemu dengan ibu permaisuri Wang yang telah mengajarkan langkah pertama padaku selama di zaman ini. Jadi, aku putri yang berdaya ini mengucapkan terima kasih kepada seluruh ibu yang telah menerimaku menjadi putri kalian" ucap Mona sambil menunjuk ke arah otaknya dan hatinya. Lalu, dia memberikan hormatnya kepada semua orang, baik itu rakyat maupun para bangsawan.
"Terima kasih dan sampai jumpa sayang" senyum ibu dewinya Mona.
"Aku bahagia di saat dirimu bahagia, jadi tetaplah seperti ini" pinta ayahnya.
"Aku bahagia terlahir sebagai putri kalian, jika seandainya itu bisa terjadi, aku ingin tetap terlahir di dalam keluarga kalian di kehidupanku beeikutnya" ucap Mona sebelum keduanya benar-benar menghilang. Keduanya tersenyum saat mendengar ucapan terakhir Mona. Semua orang merasakan kesedihan mendalam dengan kata-kata yang di ucapkan tiga orang di depan mereka. Semua orang merasa sedih, kecuali Mona dan Joun yang sama sekali mata mereka bahkan tidak memerah sedikitpun.
"Hahaha" tawa Joun dan Mona kompak saat mereka saling memandang.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya lirih Nana saat menatap dua orang saudaranya.
"Kami memang adalah kakak adik" ucap Joun sambil menunjuk Mona.
"Apa maksudmu?" tanya Nana.
"Aku berpikir hanya diriku sendiri yang tidak bersedih, tapi ternyata ada orang lain" tunjuk Joun ke arah Mona, membuat semua orang juga menatap ke arah Mona.
"Jadi?" bingung Dera.
"Untuk apa menangisi sesuatu yang tidak bisa di rubah, percuma menangis jika itu hanya akan membuat suasana semakin sedih. Yang mereka butuhkan adalah sebuah keikhlasan yaitu dengan berdoa, bukannya sebuah tekanan yaitu dengan menangisi kepergian mereka" kompak Mona dan Joun ketika mereka sama-sama saling memandang.
"Kalian berdua" tunjuk Nana ke arah Joun dan Mona.
"Kenapa, apakah kau cemburu akan kedekatan kami sis?" pede Mona.
"Uwekkkkkkkk".
"Siapa yang berani menghamili kakakku?" teriak Mona.
"Apa?" terkejut Nana.
"Bukankah kau uwek,,,uwek karena gejala kehamilan sis" ledek Mona.
"KIM MONA,,,,,,," teriak Nana menggema di seluruh kekaisaran bintang.
"Hahahaha" tawa Joun membuat Nana menatap ke arahnya.
"KAU,,,,," Nana melempar sebuah buah apel ke wajahnya Joun, tapi secara tiba-tiba Mona menangkapnya, hingga buah apel itu tidak jadi mengenai wajah Joun.
Kroak,,,,,
"Aku dipihakmu brother" senyum Mona sambil menggigit buah apel yang baru saja dia tangkap.
"Kau" kesal Nana, dia melempar seluruh buah apel yang ada di depannya dengan satu lemparan.
Ctak,,,
Mona menjentikkan jarinya, lalu semua buah apel itu terhenti.
"Brother, lihat sister" rengek Mona sambil menatap ke arah Joun.
"Uh, sayangku, lupakan saja dirinya, anggaplah dunia ini hanya milik kita" Joun mengusap sayang rambut Mona.
"Kalian berdua sungguh sangat menyebalkan" kesal Dera.
__ADS_1
"Selesaikan makanan kalian, jangan terlalu lama saat kalian berhadapan di meja makan. Terutama untuk kalian berenam, sudah waktunya kalian untuk belajar" tegas Mona sambil menunjuk ke arah lima anaknya dan juga ke arah Mayumi.
"Apakah kami akan belajar dengan ibunda?" tanya Nyoko.
"Ya".
"Belajar senjata?" tanya Nyoko dengan mata berbinar.
"Kau menyukai belajar bersenjatakah?" tanya Mona.
"Iya ibunda, tapi nenek melarangnya, nenek lebih sering mengajarkan diriku tentang sastra. Nenek bilang usiaku belum cukup, ketiga paman juga mengatakan bahwa merekalah yang akan melindungi kami jika umur kami belum sepuluh tahun" cerita Nyoko.
"Ibunda ingin bertanya apakah putra ibu menyukai memegang senjata" ramah Mona sambil mengelus kepala Nyoko.
"Iya, Nyoko gege sangat suka bersenjata, Nyoko suka saat melihat bibi Ying Wie latihan, bibi perempuan tapi bibi sangat ahli dalam bersenjata" semangat Nyoko sambil menunjuk ke arah Ying Wie.
"Apakah kau mengagumi bibi ketika bibi latihan?" tanya Ying Wie.
"Ya".
"Bibi belajar dari guru yang hebat".
"Bibi, siapa guru bibi, ibunda bolehkah aku belajar bersenjata dari gurunya bibi?" tanya Nyoko dengan wajah polosnya.
"Tentu saja boleh" Mona tersenyum ke arah putra pertamanya yang begitu semangat.
"Bibi, dimana tinggal guru bibi?" tanya Nyoko.
"Dia berada sangat dekat denganmu, saat ini dia sedang mengelus kepalamu" jawab Ying Wie membuat Nyoko menatap ke arah Mona yang sedang mengelus rambutnya.
"Ibunda yang sedang mengelus rambutku, jadi apakah ibunda gurunya bibi?" tanya Nyoko kepada Mona.
"Manalah ibunda tahu sayang, ibunda tidak merasa pernah menjadi guru bibimu".
"Ibumu memang tidak mengangkat kami menjadi muridnya, tapi ibumu adalah orang yang paling keras dan disiplin jika menyangkut soal melatih kekuatan fisik" kompak Ziwiera dan Ying Wie.
"Kau lihat, bahkan bibi mengatakannya bersamaan, berarti memang ibumulah yang mengajarkan kami" sambung keduanya kompak lagi. Lagi-lagi Nyoko menatap ke arah ibunya untuk mendapatkan jawabannya.
"Soal itu memang benar, kalau ibulah yang melatih keras mereka jika menyangkut soal melatih fisik. Tapi, ibu bukan guru mereka" senyum Mona.
"Wah, aku mau ibu yang mengajariku langsung" semangat Nyoko.
"Eits,,, tidak" tolak Mona membuat Nyoko langsung sedih dan lainnya malah bingung.
"Kalian akan belajar bersenjata dari kakek buyutmu, kalian akan belajar tata krama dari nenek buyut kalian, kalian akan belajar sastra dari para sesepuh, kalian akan belajar tentang negara dari para kakek dan nenek kalian, barulah kalian akan mengulang semua pelajaran yang kalian pelajari kepada ayahanda dan ibunda ketika kalian ingin tidur nanti. Tepat pada jam lima pagi, ibunda akan membangunkan kalian untuk melatih fisik kalian. Setelah waktu sarapan pagi, semua pelajaran kalian dimulai" perintah tegas Mona.
"Tapi, bagaimana kami semua akan belajar jika kakek dan nenek Gong pulang ke kekaisaran kegelapan. Akh,,,,," teriak Nyoko sebelum dia menghilang dari depan mereka.
"Wah" senang Nyoko saat dia kembali.
"Gege" panggil empat adiknya kompak.
"Ibunda barusan memindahkan diriku ke aula kekaisaran kegelapan" ucap Nyoko seperti tahu akan apa yang membuat empat adiknya memanggil namanya.
"Ya, jadi dengan cara yang sama kalian berenam akan mengunjungi semua guru kalian. Khusus untuk Mayumi, kau akan bertemu dengan jijie saat kau mengulang pelajaran. Setelah kau tertidur, jijie akan membawamu kembali kepada ibunda. Jadi, kalian akan tidur bersama dengan orang tua kalian, kalian berenam mengertikan" tegas Mona.
"Mengerti" kompak keenamnya.
"Untuk yang lainnya, apakah kalian ada yang ingin dibahas denganku lagi?" tanya Mona.
__ADS_1
"Sepertinya banyak yang ingin mereka tanyakan" celetuk Kety.
"Kau, urus kembali kekaisaran milikmu, semua wanita yang telah bersama denganmu dan juga anak-anakmu telah dibunuh oleh pangeran mahkota kekaisaran langit. Jadi, kau tidak terikat dengan wanita dan bayi manapun, aku yakin kau mengerti maksudkukan Kety & Alex".
"Eh, kenapa juga aku?" tanya Kety.
"Kau bilang kau telah menganggap aku adalah saudaramu, jadi tidakkah kau ingin membuat saudarimu ini tidak berpikir kau ingin merebut milikku lagi" dingin Mona.
"Baiklah, aku mengerti, aku akan menjadi jenderal pasukannya" pasrah Kety.
"Bagus, aku hanya menembakkan satu anak panah, namun dua sasaran kudapat".
"Dua sasaran?" bingung Kety dan Alex.
"Aku tidak membuat kosong singasana pemimpin kekaisaran siang, dan aku bisa menyingkirkan kalian berdua" jawab Mona.
"Aduh, sebegitunyakah?" kompak keduanya.
"Aduh, lebih baik berjaga-jaga, daripada penyesalan yang akan kudapatkan di akhir nanti" balas Mona sama dengan nada dua orang sahabatnya.
"Baiklah" pasrah keduanya.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Mona sambil menatap lainnya.
"Kami ingin bertanya, tapi tidak tahu apa itu" kompak lainnya.
"Baiklah, aku yang akan mengunjungi kalian nanti, sekarang pulanglah terlebih dahulu".
"Baiklah, kami akan pulang dulu" kompak keluarga kaisar lainnya.
"Antarkan" ucap Mona, lalu semua orang menghilang kecuali para buyut Mona dan mereka yang tinggal di kekaisaran bintang
"Wah, kemana semua orang" kagum Nyoko.
"Seperti yang ibunda lakukan untukmu tadi" ucap Mona.
"Jadi, kita akan belajar apa kali ini ibunda?" tanya Nyoko.
"Hari ini kita tidur siang, ibunda sangat lelah dan tubuh ibunda belum terlalu pulih. Jadi, ibunda ingin istirahat dengan memeluk kalian" senyum Mona ke arah enam orang.
"Ye,,," semangat enam bocah kecil kompak.
Mona pergi bersama dengan enam orang malaikat-malaikat kecilnya. Namun, bayi besarnya juga ingin ikut.
'Sweety' telepati Ming Fan.
'Ada apa?' .
'Aku juga mau tidur bersamamu, sudah selama dua tahun aku merasakan dinginnya saat mataku terpejam' .
'Lebai' ketus Mona.
'Lebainya diriku hanya kepadamu'.
'Mmm' .
'Jadi, bolehkan?' tanya Ming Fan.
'Ok, anggaplah ini bayaran karena aku pergi tanpa berpamitan padamu waktu itu' .
__ADS_1
'Kau benar juga, jika ini bayarannya karena kau pergi tanpa berpamitan, maka aku akan memberi hadiah sebagai tanda perjumpaan kita kembali, tapi nanti, karena saat ini aku belum menyiapkannya'.
'Terserahlah' pasrah Mona. Tapi, tanpa Mona sadari kalau Ming Fan tersenyum penuh arti saat mendengar jawaban terakhir dari Mona.