
Yuan dan Dera memulai perjalanan, mereka sama sama keluar dengan memakai cadar, meskipun mereka memakai pakaian sederhana namun mereka selalu menjadi pusat perhatian, pasal nya di era peperangan seperti ini mereka jalan jalan tanpa pengawasan orang tua dan mereka terlihat seperti orang berada. Karena anak-anak yang seusia mereka yang berada di setiap desa yaitu anak-anak yang tidak mampu bahkan ada yang yatim piatu sedang kan mereka terlihat memiliki koin yang cukup untuk keperluan. Setelah cukup lama jalan-jalan Yuan melihat kedai manisan gula ia sudah lama tak merasakan nya.
" Dera apakah kau mau manisan gula,,,," ujar ku sambil menunjuk ke arah orang jualan manisan gula tersebut.
" Boleh,," ujar Dera.
" Bibi manisan nya dua,,,," ujar ku.
Tidak lama pemilik kedai itu memberi kan nya. Yuan merasa ada yang aneh dengan penjual manisan ini seperti ada beban yang berat dalam hidup nya dan Yuan juga merasa bahwa di sudut suatu gang ada beberapa pasang mata yang melihat mereka makan.
' Ais paman ini seperti nya terbeban dengan keluarganya yang membutuhkan koin dan anak anak itu kelaparan kenapa tidak sekalian saja ku bantu denagn satu panah dua sasaran dapat' batin ku.
" Paman berapa ..." ujar ku.
" Hanya dua koin perunggu nona".
" Berarti satu tusuk satu koin perunggu".
" Ya nona".
" Jika semuanya paman".
"Hanya satu koin emas 5 koin perak nona".
" Aku beli semua nya paman, paman apakah paman ada tinta dan kertas".
" Untuk apa tinta dan kertas nona,".
" Ada perlu paman".
" Apa kah kau akan menulis surat untuk orang yang baru kita tinggalin" ujar Dera karena mereka telah sepakat agar tak menyebut nama akademi.
" Tidak".
" Lalu".
__ADS_1
" Kau akan tau nanti".
" Ck, menyebalkan".
" Ini nak".
" Terima kasih paman" Yuan menulis sesuatu, dan melipat kan nya dengan rapi.
" Paman apakah manisan gula itu bisa paman letak kan di keranjang ini saja" ujar Yuan mengeluarkan keranjang dari bawah meja yang telah duluan dia keluarkan dari cincin dimensinya.
" Tentu nona dan ini nona".
" Terima kasih paman ini koin nya,,," ujar Yuan dengan menyerahkan 2 koin emas.
" Nona ini lebih banyak,,," ujar paman penjual dengan tangan dan suara gemetar, pasal nya ia belum pernah memegang koin emas sekaligus seperti saat ini dan itu baru sebentar jualan.
"Tidak apa paman apa kah anda tiap hari berjualan disini".
" Ya nona".
"Kalau begitu ambil saja waktu kami datang lagi baru paman berikan gratis" ujar ku.
" Baik lah hati hati di jalan nona".
" Ya paman tentu kami akan hati hati".
" Ada apa kenapa menatap ku begitu" ujar ku.
" Bukankah kau tak suka manisan jika terlalu banyak" ujar Dera.
" Untuk anak anak" ujar ku.
" Ahhh apa " ujar Dera.
" Dau mendengar nya bukan tak usah pura pura," ujar ku dan berjalan ke arah anak anak mengintip tadi setelah sampai tak ada satu pun anak anak. Aku meletak kan keranjang manisan tadi di sana, lalu mengajak Dera untuk pergi, namun kami bukan pergi melain kan bersembunyi di atap salah satu rumah.
__ADS_1
" Apakah kita akan pergi ke hutan kabut Yuan".
" Tentu saja karna kita sudah berjanji akan kesana, tapi mungkin tak berkultivikasi".
" Lalu sekarang kita menunggu apa dan kita kapan akan merekrut orang untuk komplotan mafiamu".
" Sekarang ini".
" Maksud mu".
" Lihat lah " ujar ku sambil menunjuk kearah anak anak yang satu persatu keluar dari persembunyian mereka salah satu dari mereka melihat ada kertas dan membacanya
" Makan lah ini untuk kalian" ujar anak sekitar umur 6 tahun.
" Bukankah mereka pintar Dera meskipun mereka hanya rakyat biasa dan miskin mereka bisa membaca" ujar ku sambil terus memperhatikan anak anak.
" Apa kau akan merekrut mereka".
" Sepertinya begitu dera".
Mereka berdua hanya memperhatikan mereka saling memberi satu tusuk manisan di bagi dua orang mereka berdua berpikir ada apa kenapa di bagi dua satu tusuk. Mereka menunggu, hingga salah satu dari mereka membawa kerancang yang tersisa manisan ke sebuah lorong kecil dan ketika sampai di ujung jalan anak kecil yang kira kira usia nya hampir empat tahun melihat kiri kanan, ketika di rasa aman ia memindah kan tumpukan kayu tersebut ke samping dan ia menarik sebuah pintu rahasia bawah tanah.
' Pintar ,,,' batin Yuan dan Dera.
Ketika dirasa mereka telah tau tempat persembunyian anak- anak yuan kembali mengajak Dera ke pasar, Dera yang tak paham terus mengikuti Yuan dari belakang. Yuan melihat ada seorang kakek tua menjual buah buahan Yuan membeli seluruh buah dengan harga 2 koin emas 10 koin perunggu namun yuan memberi tiga koin emas dan Yuan mencari keberadaan seorang anak kecil dan memberikan nya semua buah tersebut namun ia tak sanggup mengangkat nya .
" Dik ini untuk mu,,," ujar Yuan memberi buah tersebut namun anak kecil itu hanya mengambil satu buah.
" Telima kacih jiji" ujar nya sambil mengambil buah apel satu namun ia simpan tak ia makan.
" Kenapa tidak dimakan dan kalian bersepuluh keluar lah" ujar Yuan sambil menunjuk anak yang bersembunyi lain nya, saat mendengar hal tersebut mereka keluar.
" Ambil lah" ujar ku dan mereka mengambil nya namun masih banyak buah yang tinggal sekitar 50 buah apel lagi.
" Dimana kalian tinggal " ujar Dera namun tak ada sahutan dari mereka.
__ADS_1
"Kalian tinggal di ruang rahasia bawah tanah di ujung gang kecil itu bukan" ujar ku yang membuat sebagian dari mereka mencatuh kan apel di tangan nya karena terkejut dan sebagian ada yang telah menangis, karena mereka takut gara gara mereka tempat per sembunyian mereka selama ini akan terungkap.
" Tidak perlu takut kami orang baik kami hanya ingin menumpang tinggal malam ini pasal nya kami tak memiliki tempat berteduh kami hanya pengelana dan tersesat" ujar ku meyakinkan dan benar saja mereka percaya mereka bersebelas kembali ke tempat persembunyian mereka selama ini dan aku dan Dera hanya mengikuti dari belakang.