
Di dalam kamar Yuan dan Ying Wie di desa Arid juga terdapat seorang pria. Saat ini mereka bertiga saling memandang dalam diam dan ketenangan. Namun, senyuman hanya ada di bibir pria itu. Hingga Ying Wie merasa sudah bosan dengan situasi seperti ini.
"Sejak kapan kakak di sini" ujar Ying Wie kepada pria itu.
"Sejak calon kakak iparmu itu mengaduh kesakitan dalam mimpinya" ujar pria itu sambil tersenyum ke arah Yuan. Siapa lagi kalau bukan pangeran kedua yang tau bahwa Yuan adalah tunangannya.
" Kau mendengar semua yang aku ucapkan setelah kejadian itu" ujar ku.
" Tentu saja iya" ujar nya. ' Kau pikir kau bisa membuat aku menjauh darimu my sweety' batin nya. Namun, diriku tidak menjawab ucapannya. Melainkan aku hanya menaikkan alis kiriku.
"Ohhh, baiklah. Kalau begitu silahkan pulang" ujar ku mengusirnya dengan mengibaskan tanganku.
"Kau mengusirku" ujar nya sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku.
"Ya aku mengusirmu. Jadi, pergilah" ujar ku sambil menatap matanya dengan berani. Tapi, itu adalah kesalahan yang ku lakukan.
"Hubungan kalian sangat tidak harmonis ya" ujar Ying wie jujur sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi, dia malahan mendapatkan pelototan mata oleh dua orang yang dekat dengannya.
"Ahhh kenapa kalian berdua menatapku begitu. Apa ada yang salah dari ucapanku" ujar dirinya saat di tatap oleh dua orang lainnya.
"Diamlah" ujar kedua orang lainnya kompak sambil melihat ke arah Ying Wie.
"Kalian kompak sekali dalam hal menegurku " ujar Ying Wie.
"Bocah diamlah. Ini urusan orang-orang dewasa" ujar Fan dengan mengeluarkan auranya membuat rambat hitam mengelilingi seluruh tubuh Ying Wie membuat dia tidak bisa melihat apapun yang terjadi di luar selain warna hitam rambat kakaknya yang menghalangi penglihatannya.
" Memangnya kalian sudah dewasa. Kakak, aku tidak bisa melihat apapun di sini. Cepat keluarkan aku kakak kedua. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukansih" ujarnya. Namun, hanya dirinya yang mendengar, karena suaranya tidak akan di dengar keluar atau suara luar tidak di dengar olehnya.
Sedangkan di luar, Fan telah mengunci Yuan di bawah tubuhnya yaitu sama seperti yang dia lakukan ke pada adiknya yaitu dengan menggunakan rambatnya. Hanya gayanya yang sedikit berbeda.
"Apakah kau ingat ucapanmu dua tahun yang lalu my sweety. Haruskah aku membuktikan nya hari ini" ujar Fan sambil membelai rambut di samping telinga Yuan dan membelai pipinya Yuan
"Aku lupa. Jadi, bisakah kita melupakannya my dear" ujar ku berusaha membujuknya.
"Sayangnya aku tidak lupa my sweety. Apakah aku harus membantumu mengingatnya sayang" ujar Fan sambil menyentuh pelan bagian samping telinga Yuan, lalu turun ke lehernya.
"Mmm itu bisakah kau bangun dariku dulu. Jika ada yang melihat kita bagaimana" ujar ku.
"Tidak akan ada yang melihat kita My sweety" ujar nya yang menghembuskan udara ke daun telinga ku.
"Kita masih terlalu kecil melakukannya" ujar ku.
"Namun, jiwa kita sudah mencapai empat puluh dan tiga puluh my sweety" ujar nya dengan mencium pipi kananku.
"Ahhh benar. Tapi, bisakah lupakan zaman modern. Jadi, mari sambung dan lihat masa sekarang saja" ujar ku. Namun, wajahnya sangat dekat denganku sehingga bibir kami sangat dekat sekali. Hal itu membuat aku salah tingkah. Sedangkan dia tersenyum sambil membuat wajahku menghadap ke arah wajahnya lagi.
"Cantik" ujar nya sambil menyentuh sesuatu milikku yang berwarna seperti buah cery.
"Bisakah aku mencobanya my sweety" ujarnya kepadaku.
__ADS_1
" Kita sudah pernah merasakannya bukan" ujar ku kepadanya.
"Itu sekilas dan aku tidak siap. Sedangkan saat ini aku mau kita sama-sama siap dalam melakukannya" ujar nya sambil menatapku.
"Ok. Tapi, kita akan melakukannya saat aku telah jatuh cinta padamu. Jadi, buatlah aku cinta padamu, karena ramalan mengatakan bahwa aku akan bertemu Alex mantan kekasihku. Saat aku berumur sembilan tahun. Sedangkan saat ini aku masih sedikit mencintainya karena kenangan kami sulit untuk aku lupakan. Maaf jika perkataanku menyakiti dirimu" ujar ku. Dia tidak menjawab ucapan ku selain pindah dari atas tubuhku, diikuti dengan rambat itu juga hilang dari mengunciku.
" My dear" ujar ku memanggilnya yang membaringkan dirinya di samping ku dengan membelakangiku. Namun, tidak ada jawaban yang dia berikan.
"My dear" ujarku sambil membuat tubuhku menghadap kearahnya. Saat aku melihatnya, ternyata dia mengeluarkan sedikit air mata dari sudut matanya. Hal itu, membuat hatiku terenyuh. Aku mencoba menghiburnya yaitu dengan mencium lama mata kanannya sambil memejamkan mataku. Hal itu membuat dia membuka matanya. Saat aku tau bahwa dia telah membuka matanya. Aku memberikan senyuman dan ciuman sekilas di bibir yang aku berikan padanya membuat dia mempelototkan matanya sambil menatapku. Aku hanya memberikan senyuman. Saat dia melihat senyumanku ekspresi diwajahnya sedikit melunak. Saat aku melihat ekspresinya berubah.
"Bebaskan adikmu. Hari ini kami sangat lelah. Jadi, kami berdua butuh istirahat" ujar ku sambil menciumnya sekilas.
"Bisakah katakan dulu, jika ingin melakukan pertemuan dua benda ini. Jadi, aku bisa bersiap-siap dulu" ujar nya sambil menyentuh bibirku.
"Tidak akan pernah terjadi, karena jika ku beri tau dulu. Maka milikku akan bengkak nantinya" ujar ku sambil menutup mulut dengan tanganku dan juga menutup mataku karena kelelahan berdagang dan bertarung tadi.
"Hahaha memang benar sih ucapanmu. Tapi, bisakah aku tinggal disini sebagai teman mu bukan sebagai saudara seperti adikku" ujar nya.
"Mmm" ujar Yuan yang seperti gumaman.
"Terima kasih sayang" ujar nya sambil menggerakkan tangannya ke arah rambat yang menutupi tubuh Ying Wie. Namun, Ying Wie hampir terjatuh karena Ying Wie sudah ketiduran. Hal itu membuat dia menciptakan rambat lainnya untuk menahan tubuh adiknya. Dia terus menatap tubuh adiknya yang sudah dia pindahkan ke tempat tidur. Dia melihat dua orang gadis yang tertidur lelap sekali.
"Apakah sungguh sangat melelahkankah" ujar nya sambil mencium kening ke dua wanita itu.
"Semoga mimpi indah kedua bidadari dan malaikat berhargaku" ujar nya sambil menuju kursi yang ada di sana. Lalu memejamkan matanya juga. Saat keadaan sudah sunyi, barulah Yuan membuka sebelah matanya. Dia tersenyum saat melihat Fan memilih tidur di atas kursi dari pada berada di samping kanannya. Karena hanya di samping kanannya Yuan yang ada ruang nya untuk tidur. Yuan bangun dari atas kasur lalu menghampiri Fan.
"My dear,,, bangunlah" ujar ku sambil menyentuh pipinya.
"Tidak, hanya saja badanmu akan sakit, jika kau tidur di sini" ujar ku.
"Tapi, kau masih mencintai,,," ujar nya terpotong karena jari telunjukku ku tempelkan di bibirnya.
"Aku memang masih memiliki sedikit perasaan padanya. Tapi, aku tidak mengatakan tidak akan pernah mencintaimu bukan. Jadi, bisakah bantu aku untuk melupakannya yaitu dengan membuat aku mencintaimu. Jika kau menjauh begini dariku, lalu kapan aku akan jatuh cinta padamu. Jadi, obati aku dari goresan yang di berikan oleh sahabat dan kekasihku. Bisakah my dear" ujar ku sambil menyentuh wajahnya.
"Dengan senang hati my sweety" ujar Fan sambil membawa Yuan ke kasur. Yuan tidur di tengah-tengah dan dirinya di belakang Yuan. Saat merasa kaaurnya sedikit bergerak, Ying Wie langsung meraba tangan kiri Yuan. Sedangkan tangan kanannya di genggam oleh Fan. Namun, baru beberapa saat mereka baring Fan malah membatin 'ahh,,, sial. Aku bisa gila jika terus melihat bagian lehernya. Padahal umurnya baru tujuh tahun lebih, lalu kenapa aku malah ingin melakukan hal itu. Aku harus merubah posisi tidurku'.
Saat mendengar suara batin Fan, membuat Yuan tersenyum. Apalagi saat sebelum Fan mengubah tidurnya menjadi membelakangi nya, dia berbisik.
"My sweety,,,, ini demi kebaikanmu. Maaf aku memunggungimu" ujar nya berbisik.
" Aku lah yang seharusnya meminta maaf" ujar ku cepat. Bahkan sangking cepatnya Fanpun tadinya belum memindahkan bibirnya dari dekat samping telingaku. Jadi, ketika aku membalas ucapannya yaitu dengan berbicara dan mengarahkan wajahku ke samping. Wajah kami hanya berjarak satu inci saja. Hal itu justru membuat dia semakin frustasi dan langsung berbaring memunggungi ku. Hal itu justru membuat senyuman semakin terukir di wajahku.
'Thanks my dear. Kau boleh melakukan apapun padaku ketika kita telah menikah nanti. Tidak peduli di umur berapa kita menikah. Terima kasih karena telah mau mengalah' batinku membuat dia kembali menghadapku.
'Jika besok kita menikah bagaimana. Apakah kau akan tetap mau menuruti keinginanku' balasnya dengan menatap diriku.
'Tidak masalah jika memang takdir kita begitu. Tapi, aku ingin pernikahan kita harus berdasarkan kita saling mencintai. Walaupun baru sedikit, dan pernikahan kita harus ada yang merestui atau ada saksi kalau kita sudah menikah. Paling tidak satu orang masing-masing' batinku sambil memberikan senyuman kepadanya.
'Baiklah aku setuju my sweety ' balasnya sambil mencium tangan kananku yang tadinya dia genggam.
__ADS_1
'Baiklah, aku tidur dulu. Jika sudah hampir malam, maka bangunkan kami' batin ku.
'Sesuai permintaanmu my sweety' balas nya.
Mereka bertiga tidur di satu kasur. Setelah satu jam berlalu, akhirnya Fan bangun. Namun, benar seperti yang di katakan Yuan bahwa mereka berdua akan kelamaan tidur. Jadi, Fan keluar dari kamar menemui semua orang di desa Arid. Saat melihat ke arah dirinya, semua orang begitu terkejut karena dia keluar dari kamar Yuan dan Ying dengan santai nya.
"Ada apa. Kenapa menatapku begitu" ujar Fan bingung.
"Kau siapa nak" ujar Mikoso kepada Fan.
"Teman mereka" ujar Fan kepada mereka.
"Ohhh. Jadi, ada apa, apa kau membutuhkan sesuatu nak" ujar Piolo.
"Aku hanya ingin menyiapkan makanan untuk keduanya nanti saat bangun. Sepertinya mereka kelelahan saat di pasar tadi" ujar Fan.
"Ohh begitukah" ujar Piolo.
"Kalian ingin memasak apa paman dan bibi" ujar Fan.
"Kami ingin menangkap ikan di kolam dulu. Karena keduanya sangat suka ikan bakar yang masih segar. Jadi, setiap saat kami ingin menangkap nya untuk mereka berdua" ujar salah satu remaja di sana.
"Apa mereka yang meminta begitu" ujar Fan.
"Tidak. Tapi, kamilah yang ingin begitu. Kami merasa senang saat kami melihat mereka tersenyum" ujar beberapa orang.
"Mereka tidak pernah menuntut makanan. Mereka hanya menuntut agar kami selalu berusaha dan berjuang semaksimal mungkin untuk bertahan hidup" ujar semua orang serempak.
" Hebat. Jadi, dimana kolam ikannya karena aku juga ingin menangkapnya untuk mereka" tanya Fan kepada mereka semua.
"Kemari lah" ujar Piolo sambil berlalu pergi. Fan hanya mengikuti saja di belakang beberapa orang. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di kolam yang mereka pelihara berbagai macam ikan di dalamnya. Anak-anak sangat suka dengan kolam ikan itu, karena mereka bisa melihat berbagai macam bentuk ikan di dalamnya. Itu semua berkat rangkaian dan rancangan dari pemimpin kecil mereka yaitu Yumi Ling (Yuan) dan Rumi Ling (Ying Wie). Berkat mereka berdua, tidak ada satupun dari mereka yang meninggalkan tanah kelahiran mereka. Justru mereka semakin tidak ingin meninggalkan tempat ini. Meskipun baru beberapa bulan belum tahun. Tapi, mereka berdua telah mengubah banyak desa mereka. Saat ini, desa mereka di kenal dengan julukan desa gersang (Arid) yang memiliki sumber air asli dari gunung.
"Hahaha, ikannya sangat banyak" ujar Fan sambil mencampak makanan agar mudah mereka menangkapnya dengan jala yang mereka buat sendiri atas arahan dari Yuan .
"Ya kau benar nak" ujar Piolo sambil mengambil ikan dengan jala yang dia pegang.
"Ayah,,, aku dapat empat kepiting besar yang terperangkap di bubu. Aku ingin kedua meimei memakannya" ujar seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun.
"Tentu saja sayangku" ujar Mikoso yang datang sambil membawa air minum dan cemilan kue ringan untuk mereka semua yang di dekat kolam.
"Ibu,,, ibu harus memasaknya dengan sangat enak" ujar anak itu sambil menyerahkan kepiting-kepiting besar itu kepada Mikoso ibunya.
"Tentu saja sayang. Ibu akan memasaknya dengan dua bumbu, karena meimei mu yang satu ingin makanan yang pedas sedangkan yang satunya lagi ingin yang tidak pedas" ujar nya sambil mengambil kepiting-kepiting itu.
"Ya,,, masak saja dua macam bibi" ujar anak lainnya.
"Sesuai perintah kalian" ujar Mikoso sambil berlalu pergi.
Sambil menunggu masakan di masak oleh para wanita. Para lelaki dan anak-anak melakukan beberapa gerakan atau aktivitas yang bisa menimbulkan tawa di antara mereka semua. Mereka semua bermain di dalam sungai. Bahkan Fan juga ikut-ikutan berendam dan bermain di sana. Karena airnya yang begitu enak yaitu dengan sedikit hangat karena gunung yang menghasilkan air itu adalah gunung yang memiliki air panas. Oleh karena itu airnya sangat menyehatkan tubuh bagi yang merendam tubuhnya disana. Jika sesekali mereka ingin airnya dingin. Maka Yuan akan mengubahnya.
__ADS_1
Sangking asiknya mereka berendam. Mereka tidak sadar kalau malam hampir tiba karena mataharinya telah tenggelam. Hingga mereka baru sadar saat mendengar teriakan orang yang sangat mereka kenal.
"Sepertinya sangat menyenangkan berendam dan bermain. Sampai-sampai kalian lupa dengan waktu yang sudah hampir malam" ujar seorang wanita sambil menarik sebelah kanan dan kiri telinga dua orang pria yang berumur di bawah lima belas tahun. Sedangkan yang lainnya langsung cepat-cepat kabur karena telinga mereka tidak sedang di tarik.