
Yuan dan Dera bersemangat sekali keluar dari akademi. Pasalnya niat mereka hanya ingin bertanya saja apakah mereka diizinkan kultivikasi di luar. Tapi, langit seolah sedang berpihak pada mereka. Jikapun guru besar tak mengizinkan maka mereka akan keluar diam- diam. Namun, saat ini mereka sedang menunggu perbekalan mereka di siapkan oleh Yu Yan dan Mofan. Karena mereka tak ingin adik mereka kenapa-napa tanpa bekal, jadi mereka berdua menunggu bekal di siapkan, bahkan para guru termasuk guru besar belum bisa keluar akademi pasal nya jika salah satu dari mereka keluar maka akademi mereka akan di deteksi oleh musuh para kaisar. Peraturan itu juga berlaku pada akademi lain nya jadi mereka hanya diantar sampai sebelum depan gerbang akademi lewat dalam.
" Yuan ini bekal yang harus kau bawa" ujar Yu Yan.
" Dan ini untuk mu" ujar Mofan untuk Dera.
" Apakah harus sebanyak ini,,,," ujar Dera dan Yuan kompak ketika melihat bekal yang mereka bawak lebih besar bungkusan nya dari pada bungkusan kain yang menjadi baju ganti mereka nanti. Yuan yang tak terima membuka bungkusan nya, Yuan melihat apa yang penting saja seperti makanan yang di bungkus kakak nya dengan rapi tak ia bawa ia melihat-lihat lagi tak ada satu pun yang bisa dibawa ia mencari uang tapi tak ada.
" Aku tak ingin membawa nya jijie bahkan kau tak memberiku koin" ujar ku.
" Bocah kau pikir aku sedang bekerja mana ada aku koin" ujar Yu Yan.
" Jijie,,,tak usah memberiku bekal begini yang ada pinggang dan bahu ku sakit jika membawa ini" ujar Yuan.
" Kau, baik lah" ujar Yu Yan mengambil bekal itu kembali.
" Gege akupun begi,,,," ujar Dera terpotong.
" kau harus membawanya," ujar Mofan semakin mendorong bekal tersebut ke arah Dera.
" Yuan tak membawa nya" ujar Dera.
" Justru karena ia tak membawanya makanya kau yang bawa,,,,"ujar Mofan.
" Tapi ini berat,,," ujar Dera.
" Bagaimana bisa seseorang yang jenius bakat berwarna hitam bisa tak kuat mengangkat bekal segini" ujar Mofan.
" Gege menyebalkan" ujar Dera.
__ADS_1
" Kau bilang apa bocah" ujar Mofan.
"Diamlah," ujar Yuan.
" Baik lah kami pergi,,," ujar Yuan lagi.
" Tunggu" ujar guru Yun Lang, guru sekalian pengasuh untuk Wang Gui adik Yu Yan dan Yuan.
" Ada apa" ujar mereka kompak.
" Kau tak mengucapkan salam perpisahan pada adik mu "
" Jijie" ujar Gui dengan mata nya yang memerah.
" Sayang jijie pergi hanya sebentar tak lama ".
" Saat jijie kembali jijie akan membawa cemilan yang banyak boleh ya"
" Tidak," ujar Gui dengan memeluk Yuan.
" Gui sayang, Gui laki-laki bukan jadi jangan cengeng Gui harus belajar yang rajin agar Gui bisa menjaga jijie Yuan dan Yu Yan. Gui laki-laki Gui harus bisa menjadi kakak yang baik untuk adik gui nanti bukan kah Gui mendengar kabar jika ibu ratu sedang hamil 3 bulan,,," ujar Yuan lagi.
" Jika Gui tak mengizinkan jijie pergi Jijie tak bisa menjadi lebih kuat, jadi Gui berdoalah agar jijie bisa selamat dari hutan kabut" sambung Yuan lagi dengan mencium wajah Gui.
" Jijie janji akan pulang dan selamat tanpa luka" ujar Gui.
" Jijie janji akan pulang tapi tak janji tanpa terluka,😅😅".
" Jijie,,,".
__ADS_1
"Hahaha jijie janji sayang".
" Yuan ambil lah ini" ujar guru Yun Lang.
" Apa ini ".
" Dari ku untuk mu".
" Eh kenapa guru yang memberi untuk ku".
" Aku telah menganggap Gui sebagai putra ku dan kau sebagai putri ku jadi ambil lah".
" Kau yang terbaik bibi" ujar Yuan sambil memeluk dan menciumi wajah guru Yun Lang.
" Hei bocah aku guru mu kenapa kau memeluk orang lain"tanya guru besar.
" Bibi memberi ku koin kakek tua kau tak memberikan nya. Oh ya bibi ini koin dari mana dan berapa koin.
" Ada sekitar 35 koin emas dan 10 koin perak itu upah diri ku mengajar" ujar nya.
" Apa tidak apa apa aku ambil" tanya ku.
" Tidak apa" ujar nya.
" Makasih bibi," ujar Yuan.
" Sama-sama pergilah" ujar nya.
" Baik kami pergi semuanya" ujar keduanya kompak.
__ADS_1