
Semua orang yang berada di dalam kamar Fan, terkejut dengan kedatangan sesepuh Zan dan juga sesepuh Ying. Mereka juga bingung, karena ucapan sesepuh Ying yang mengatakan ikatan ibu dan anak itu kuat.
"Salam para sesepuh" hormat semua orang kecuali Mona.
"Ya" balas keduanya kompak sambil berjalan ke arah Mona.
"Ibumu mengatakan bahwa dia bermimpi melihatmu berubah dari penampilan yang bagaikan dewi, berubah menjadi bagaikan monster. Aku mengira itu hanya bunga tidurnya, tapi tidak aku sangka kalau itu adalah ikatan seorang ibu terhadap keadaan anaknya. Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya sesepuh Ying sambil memegang pipi dan menyentuh pelan taring Mona yang keluar.
"Apakah ini membuatmu risih?" tanya sesepuh Zan sambil menyentuh rambut Mona di samping tanduknya.
"Tidak ada masalah dengan tanduk dan taringku, masalahnya ada di sini, yang kurasakan disini sangatlah perih seolah-olah simbol ini benar-benar hidup seperti bunga mawar pada umumnya. Aku merasakan sangat perih, seperti aku benar-benar tertusuk dengan duri mawar sesepuh. Tapi, ngomong-ngomong bagaimana kondisi ibuku setelah dia bermimpi tentangku, dan apakah dia melihat jelas wajahku atau hanya bayangan saja?" Mona memegang tangan sesepuh Zan dan memindahkannya dari kepalanya. Tepat setelah itu, baik tangan sesepuh Zan atau sesepuh Ying, kedua tangan mereka yang menyentuh tubuh Mona berubah menjadi hitam. Namun, itu tidak lama karena Mona bisa menarik kembali aura hitam yang ada di tangan kedua sesepuh.
"Jangan menyentuh anggota tubuhku, karena saat kalian menyentuhku, aku merasa ada sesuatu yang bergerak keluar dari tubuhku ke tubuh kalian. Tapi, tubuhku bukannya makin membaik, melainkan sepertinya semakin berkembang".
"Lalu, kenapa pangeran Fan bisa menyentuh mu?" tanya sesepuh Ying.
"Dia pasti juga merasa sakit, tapi aku yakin dia menahannya". Saat mendengar ucapannya itu, semua orang menatap ke arah Fan yang sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi wajah yang kesakitan atau menahan rasa sakit.
"Dia adalah wanitaku, deritanya adalah deritaku, dan kebahagiannya jugalah kebahagiaanku. Jadi, jika aku lemah di depannya, lalu siapa yang akan menyemangatinya dalam ujian hidupnya" ucap Fan yang mengerti tatapan yang di berikan oleh semua orang terhadapnya kecuali Mona yang berada di pelukannya dengan menatap ke depan. Fan hanya bisa menatap bagian belakang tubuh Mona yang bersandar pada dadanya.
"Tidak disangka bahwa kau lebih pandai dariku jika soal menaklukan hati wanita" canda Ming Zao atau kaisar malam.
"Hanya satu wanita" ucap Fan dengan mengeluarkan auranya ke arah kakaknya.
"Kenapa juga kau mengeluarkan auramu untukku?" bingung Zao.
"Ucapanmu bisa membuat orang lain salah paham" balas Fan.
"Aku tidak pernah ah,,,," terkejut Zao karena tiba-tiba ada wanita lain yang berada tepat di sampingnya.
"Putri Wang Yuan" terkejut semua orang.
"Salam yang mulia Queen" hormatnya kepada Mona.
"Ada apa kau menemuiku?".
"Barusan aku mendapat penglihatan bahwa permaisuri Yu akan melahirkan seorang putri yang berambut perak seperti yang di ramalkan" jawabnya.
"Lalu, apa masalahnya?" tanya sesepuh Ying yang ikut penasaran.
"Tapi, putri tidak akan lahir seperti bayi pada umumnya" jawabnya.
"Apa maksudmu?" tanya sesepuh Zan dan sesepuh Ying kompak.
"Putri akan lahir sebelum sembilan bulan, dan putri tidak bisa bertahan sampai satu haripun. Putri akan selamat jika pedang Yin & Yang di korbankan untuknya" jawabnya.
"Bukankah pedang Yin & Yang ada pada tubuhmu?" tanya kaisar malam.
"Ya, memang benar, tapi orang yang bisa mengeluarkannya hanyalah Queen. Karena aku belum bisa mengeluarkan pedang itu dari tubuhku" jawabnya.
'Karena aku hanyalah bayangan dari pedang itu, bukan pemilik kedua pedang. Ku harap kau mengerti maksudku ratu' batinnya sambil memandang ke arah Mona yang terduduk lemah dengan bersandar di dada Fan.
' Sepertinya kekuatan penglihatan milikku yang sekali-kali datang, maka akan datang padanya karena saat ini aku sedang di kuasai oleh kekuatan mawar hitam ini' batin Mona sambil menatap lurus ke arah depan.
" Bulan keberapa dia akan lahir?" tanya Fan mewakili Mona.
"Tidak tahu, sepertinya itu diatas bulan keenam" jawabnya.
"Baiklah, aku akan mengeluarkan pedang itu dari tubuhmu saat waktunya tiba. Tapi, itu bisa terjadi bila penampilanku kembali seperti semula. Karena di saat penampilanku begini, aku tidak memiliki kekuatan seperti saat aku bertubuh normal. Saat ini, yang ada di dalam tubuhku adalah kekuatan hitam. Itulah alasan kenapa aku langsung ingin menikah, agar musuhku tidak menyerang disaat aku sedang tidak bisa berbuat apapun. Sekarang kembalilah".
"Baik" ucapnya sambil berlalu pergi dengan tiba
"Aku tahu hal itu, karena itulah aku mengusulkan langsung esok harilah pernikahanmu akan diadakan. Jika tidak bisa seperti keluarga bangsawan yang memiliki beragam adat, maka menikahlah seperti rakyat miskin menikah" ucap tabib agung.
"Aku akan melakukan apapun itu, selama wanitaku baik-baik saja. Aku tidak peduli soal ritual pernikahan macam apa yang akan di laksanakan" ucap Fan sambil memegang tangan Mona.
__ADS_1
"Aku setuju soal itu. Jadi, tolong persiapkan bagaimana baiknya saja, kakek tabib".
"Baiklah, beristirahatlah, jaga dia baik-baik pangeran. Sebaiknya kalian semua kembali ke ruangan kalian untuk istirahat, jika tidak bisa maka lakukanlah persiapan apa yang ingin kalian siapkan untuk acara besok" perintah tabib agung sambil berjalan keluar.
"Kami akan kembali lagi besok, aku akan melakukan sesuatu untukmu. Kami akan menjadi pengantar pengantin wanitanya" ucap sesepuh Ying sambil berlalu keluar kamar Fan diikuti sesepuh Zan dari belakang. Begitupun dengan keluarga kekisaran kegelapan lainnya, satu persatu dari mereka keluar dari kamar pangeran Ming Fan.
"Apakah kau baik-baik saja Fan?".
"Apa maksudmu, tentu saja aku baik. Seharusnya akulah yang bertanya begitu" senyumnya.
"Jangan bohong, disaat kau memegang tanganku, tanpa kau sadari kau sesekali meremas tanganku dengan sangat kuat, Fan".
"Aku merasa seperti tertusuk sesuatu ke bagian jantungku. Tapi, aku tidak ingin yang lainnya tahu, terutama Ying Wie. Dia sangat menyayangimu, jadi aku tampil kuat di depannya untuk membuat dia berpikir kalau aku bisa kau andalkan untuk menjagamu. Jika tidak, dia tidak akan mengizinkan kau dan aku hanya berdua di sini, karena untuk melindungi diriku sendiri aku tidak bisa. Jadi, bagaimana aku bisa melindungi dirimu" jawab Fan.
"Oh, aku mengerti, dan terima kasih karena dengan kau tidak menampakkan rasa sakitmu itu. Akhirnya untuk malam ini, kakek dan nenekku tidak perlu mengkhawatirkan diriku".
"Akan aku lakukan apapun, selama itu untukmu. Bahkan jika kau ingin mengambil nyawaku, maka aku akan setuju mati unt,," ucapan Fan terpotong karena Mona menutup mulutnya.
"Berjanjilah, bahwa kau tidak akan mati dengan sia-sia hanya untukku. Jika kau tidak berjanji, maka aku tidak akan melepaskan tanganku dari mulutmu". Fan yang tidak bisa berbicara karena mulutnya sedang di tutup, hanya bisa mengangkat jari kelingkingnya sebagai janji kuatnya.
*****
Besok paginya, semua orang di buat kalang kabut karena persiapan untuk pernikahan pangeran mereka. Acara pernikahan itu dilaksanakan dengan sederhana di dalam kuil istana. Bahkan mereka yang berada dekat dengan gerbang istana juga tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Hanya mereka yang ada di dalam istana yang tahu.
"Selamat pagi, my sweety" sapa Fan saat dia melihat Mona membuka matanya.
"Selamat pagi, apakah sesepuh telah datang?".
"Belum, mereka berdua belum da,,,," ucapan Fan terpotong karena teriakan pengawal di depan kamar Fan.
"Sesepuh Zan dan sesepuh Ying, ingin bertemu dengan pangeran" teriak pengawal dari luar. Fan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu kamarnya.
"Salam sesepuh" hormat Fan.
"Mmm, apakah dia sudah bangun?" tanya sesepuh Ying.
"Keluarlah, kami akan mempersiapkannya, kau bersiap-siap di ruangan lain saja" ucap sesepuh Ying kepada Fan.
"Tapi, sesepuh" ucap Fan dan Mona kompak.
"Anggap ini sebagai pengorbanan pertama dan mungkin pengorbanan terakhir kami untuknya" ucap sesepuh Zan sambil mendorong Fan keluar dari kamarnya sendiri.
"Ah, baiklah jika kalian memaksa" pasrah Fan. Fan pergi ke kamar adiknya yaitu Ming Fan untuk bersiap-siap.
Mona dibantu siap-siap oleh sesepuh Ying, sedangkan sesepuh Zan menunggu mereka di depan kamar.
"Ini adalah perhiasan yang nenek berikan di hari pernikahan ibumu. Ini adalah hadiah pernikahan dari kakekmu untuk nenek, dan perhiasan ini juga yang menjadi hiasan pernikahan ibumu. Jadi, sekarang ini menjadi milikmu. Tiga bulan lagi, umurmu delapan belas tahun bukan. Tapi, ini pertama kalinya nenekmu ini membantumu berias" lirihnya.
"Nek, pasangkan saja perhiasannya, tidak perlu merias wajahku. Akan terlihat aneh jika nenek melakukannya karena kulit dan penampilanku sudah seperti ini" Mona melihat pantulannya sendiri di cermin.
"Tapi, sayang" ucap sesepuh Ying.
"Kumohon nek".
"Baiklah, kalau begitu" pasrah sesepuh Ying sambil memasangkan perhiasan di tubuh Mona.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Mona dan Fan selesai bersiap-siap. Mereka berdua berada di sebuah segel yang di buat oleh tabib agung. Mereka berdua mengutarakan janji pernikahan yang disaksikan oleh mereka yang bekerja di kekaisaran kegelapan.
Setelah dua jam berlalu, akhirnya acara selesai dilaksanakan. Fan membawa Mona ke kamarnya karena Mona jatuh pingsan, tepat setelah pendeta mengatakan mereka berdua telah menjadi sepasang suami istri.
Empat jam berlalu setelah Fan membawa Mona ke kamarnya. Tapi, Mona belum juga sadar, membuat semua orang khawatir. Namun, mereka tidak ingin mengganggu istirahat Mona, jadi mereka memilih mengkhawatirkan dirinya hanya dari kamar mereka masing-masing
"Fan, air,,,".
"Ini airnya, kau sudah sadar" ucap Fan sambil menyerahkan segelas air untuk Mona.
__ADS_1
"Tidak enak" ucap Mona dengan matanya yang berubah menjadi berwarna merah.
"Ini,,,," terkejut Fan karena melihat mata Mona yang berwarna merah.
'Ini masih siang, tapi kenapa penyakitnya kumat?' bingung Fan.
"Aku ingin sesuatu yang manis" Mona menyentuh leher Fan yang ada bekas gigitannya semalam.
"Kau ingin itu?" tanya Fan.
"Ya".
"Ambillah, Ugh,,,," ucap Fan sambil menahan rasa sakit karena Mona menggigit lehernya lagi. Tapi, itu tidak berlangsung lama karena mata Mona langsung normal menjadi warna emas.
"Aku menggigitmu lagi, sungguh maafkan aku" terkejut Mona sambil menatap Fan.
"Kau harus bertanggung jawab permaisuriku" senyum jahil Fan.
"Tanggung jawab, bagaimana caranya?".
"Dengan ini" ucap Fan.
"Mmmm,,,,mmm,,,,mmm".
"Bagaimana permaisuriku?" jahil Fan.
"Biasa saja".
"Oh, benarkah?" tanya Fan.
"Ya, itu biasa saja jika hanya sebuah ciuman".
"Kalau begitu kau yang memintanyakan".
"Minta apa, aku ada minta ap,,,,mmmm" ucapan Mona terpotong karena ulah Fan.
Awalnya itu hanya ci*man biasa saja, tapi lama kelamaan nafas mereka berdua menjadi lebih berat. Fan yang belum melepaskan lu**tan bibir mereka, berusaha melepaskan tali pinggang yang mengikat hanfu milik Mona yang berada di bawah kukuhannya.
"Fan,,,hah, tidak sekarang hah" Mona melepaskan lu**tan bibir mereka dan menghentikan tangan Fan yang berniat membuka pakaiannya.
"Kenapa hosh,,," tanya Andrian.
"Karena aku sedang masa subur, aku baru saja enam hari yang lalu selesai datang jatah setiap bulananku. Jadi, jika kita melakukannya sekarang, maka mungkin akan membuat aku mengandung anakmu".
"My sweety, itulah yang aku inginkan, aku justru ingin langsung ada juniorku disini" ucap Fan sambil menyentuh perut Mona.
"Tapi, waktuku hanya tinggal satu ta,,,mmm".
"Jangan pernah mengatakan hal yang belum tentu akan terjadi".
"Jika itu terjadi bagaimana, Fan?".
"Maka, kau telah memberikan alasan untuk aku menolak wanita lain nantinya. Karena aku telah memiliki keturunanmu. Jadi, boleh ya" ucap Fan sambil memasang wajah memelas kepada Mona yang berada di bawahnya.
"Terserahlah" pasrah Mona.
"Baiklah" ucap Fan sambil mulai melepas ikat pinggang hanfunya dan hanfu Mona.
"Aku akan memulainya".
"Ok, mmmh,,mhhh akh,,,,".
"Apakah sakit?" tanya Fan.
"Ya".
__ADS_1
"Aku akan memulainya lagi, tapi mungkin tidak akan sakit lagi" ucap Fan sambil menggerakkan senjatanya lebih dalam.
"Akh,,,,,".