The Switched Daughter

The Switched Daughter
Hubungan antara para wanita


__ADS_3

Rombongan Mona terus berjalan ke arah kekaisaran bintang, untuk mengubah rasa kebosanan dalam perjalanan mereka. Mona membuat beberapa pertanyaan dan pernyataan dengan Zuwie, yang reaksi Zuwie membuat semua orang tertawa. Ketika malam hari tiba, mereka memilih beristirahat di dalam hutan dari pada di permukiman. Karena, menurut Mona hutan lebih aman di tempati dari pada rumah ular berwajah dua. Jadi, semua orang menuruti ucapan Mona.


Saat mereka tinggal di hutan, mereka mengisi perut mereka dengan menggunakan buah yang ada di hutan, dan juga ikan bakar yang seadanya. Karena rombongan mereka sekitar seratus orang, dan ikan hanya bisa ditangkap oleh mereka hanya sekitar empat puluh lima ekor saja. Jadi, mereka mengganjal kelaparan mereka menggunakan buah yang ada di hutan. Namun, buah yang di hutan juga belum bisa mengganjal rasa lapar mereka. Karena setelah mereka memusing satu hutan, tidak ada pohon yang buahnya begitu banyak. Yang ada hanyalah pohon mangga dan pohon apel yang berbuah sedikit saja.


Meskipun semua orang tidak makan seperti di dalam istana kekaisaran. Tapi, kebahagiaan yang mereka rasakan ketika mereka bersama-samalah yang begitu berharga. Mereka semua tidur dengan beralaskan tikar anyaman bambu, ada yang bersandar di batang pohon dan ada yang tidur di atas pohon. Yang tidur di atas pohon adalah seorang wanita yang sedang hamil dengan bayi perempuannya berada dalam dekapannya. Semua orang berusaha melarangnya, tapi mereka kalah telak dalam perdebatan. Jadi, semua orang hanya bisa berharap agar putri mereka, permaisuri dan calon penerusnya baik-baik saja di atas pohon.


Mereka menghabiskan waktu malam mereka di dalam hutan, saat pagi hari tiba mereka membersihkan tubuh mereka di sungai. Setelah membersihkan tubuh mereka, barulah mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan keadaan belum sarapan. Mereka terus berjalan, hingga mereka sampai di salah satu kedai yang dikelola oleh anggota black rose atau lebih tepatnya kedai milik Mona. Anggota black rose bisa merasakan kalau Queen mereka ada di sana. Jadi, semuanya turun ke lantai dasar, saat mereka turun mereka melihat rombongan Mona. Lalu, mereka mempersilahkan rombongan untuk masuk dan duduk karena kebetulan kedai mereka belum datang pengunjung.


Mona mengkode sedikit gerakan tangannya yang mengartikan 'jangan menyapaku' kepada anggota black rose saat tatapan mereka bertemu. Para anggota black rose hanya mengedipkan mata mereka sebagai ucapan 'baiklah'.


Semua rombongan Mona langsung makan makanan yang telah disediakan oleh anggota black rose. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka semua selesai makan. Jadi, mereka melanjutkan perjalanan.


Setelah melewati dua hari berjalan kaki, tanpa mereka sadari kalau mereka hampir sampai di kekaisaran bintang. Rombongan Mona telah sampai di bukit yang hampir sampai dengan kekaisaran bintang. Lalu, Mona secara tiba-tiba mengukir senyuman di bibirnya.


"Ah, apa yang terjadi" terkejut semua orang, karena lereng bukit yang mereka lewati tiba-tiba secara perlahan-lahan longsor ke bawah mengenai mereka yang masih berjalan. Longsoran tanah itu semakin kuat sehingga membuat rombongan Mona jatuh kebawah. Tapi, mereka tidak jatuh dalam keadaan begitu parah, karena mereka jatuh dengan tubuh mereka dibawa oleh tanah. Seperti bermain papan seluncuran saat salju dingin datang.


Mereka semua jatuh ke dalam sungai yang ada di dasar bukit dengan longsoran tanah bukit itu juga ikutan jatuh ke sungai. Fan menggerakkan tangannya ke arah ujung sungai yang jauh dari mereka. Lalu, jatuhlah batu besar menghambat aliran air sungai itu. Jadi, air bercampur dengan tanah menjadikan lumpur, karena itulah tubuh mereka di penuhi dengan lumpur membuat Mona tersenyum manis ke arah Fan.


Flashback on.


Mona dan Fan sedang berbincang-bincang di kamar mereka, setelah Fan selesai berbenah pakaian mereka.


"Ayah, maukah kau bermain-main dengan kami?" Mona bertanya dengan nada suara yang manja dengan memasang wajah manja juga. Mona membaringkan tubuhnya layaknya anak kecil yang sedang belajar tengkurep, lalu dia meletakkan kedua telapak tangannya menopang wajahnya untuk menatap Fan yang sedang duduk di atas kasur.


"Bermain-main? permainan apa?" tanya Fan.


"Aku ingin dalam perjalanan nanti, kita tidak akan menggunakan kuda atau tandu".


"Tidak masalah, kita bisa menggunakan kekuatan peringan tubuh bukan?" senyum Fan.


"Tidak mau" ngambek Mona.


"Lalu?" bingung Fan.


"Nama permainannya adalah Tiga hari menjadi rakyat jelata".


"Tiga hari menjadi rakyat jelata? permainan apa itu?" bingung Fan sambil menggaruk tengkuknya.


"Selama tiga hari sebelum kita sampai di kekaisaran bintang, kita tidak boleh menggunakan pakaian para bangsawan, tidak boleh menggunakan tandu dan kuda layaknya rombongan bangsawan, dan tidak boleh menggunakan kekuatan apapun. Selama tiga hari ini, kita harus pergi ke kekaisaran bintang dengan berjalan kaki".


"Hanya itu?" Fan bertanya sambil menarik Mona ke pangkuannya.


"Em, iya" jawabnya.


"Baiklah" ucap Fan sambil memainkan rambut emas Mona.


"Ah, tunggu dulu" Mona mendapatkan ide baru di pikirannya.


"Ada apa?" tanya Fan bingung karena melihat ekspresi wajah Mona yang tersenyum jahil.


"Aku ingin ketika kita berada di lereng bukit yang dekat dengan perbatasan kekaisaran bintang. Lereng itu mengalami kelongsoran" jawab Mona sambil memasang senyum yang begitu bahagia.


"Untuk apa membuat kelongsoran?" bingung Fan.

__ADS_1


"Yang aku tahu, di bawah lereng bukit itu memiliki sungai bukan. Jadi, aku ingin tanah itu longsor bersama kita, sehingga membuat lumpur yang menempel di tubuh semua orang. Itu akan berhasil jika kau mau membantuku untuk menyumbat aliran air sungai dengan menggunakan batu besar".


"Apakah menurutmu aku akan setuju akan saranmu itu. Kau dan kakak ipar sedang hamil, nenek sudah tua dan disana juga ada Zuwie yang masih kecil. Jadi, aku tidak bisa setuju akan idemu untuk melongsorkan tanah bukit itu saat kita sedang berjalan di lerengnya" kesal Fan.


"Kau hanya perlu menghambat alirannya dengan menggunakan batu, serahkan yang lainnya padaku. Aku jamin tidak akan ada yang terluka" Mona memasang wajah memohonnya.


"Tidak" dingin Fan.


"Ayolah ayah, kami mohon" Mona memegang wajah Fan agar menatap dirinya yang sedang memasang ekspresi wajah yang sangat menggemaskan. Fan berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Mona. Namun, Mona membuat Fan tetap melihat wajah yang dia pasang.


"Baiklah" pasrah Fan karena dia sudah tidak tahan lagi akan tatapan istrinya.


"Ye, terima kasih" senang Mona kegirangan.


"Hanya dengan jawaban itu bisa membuat dirimu senang?" bingung Fan.


"Tidak hanya diriku, tapi kami" jawab Mona.


"Terserahlah".


Flashback off


Kini rombongan Mona merasa sedikit frustasi, karena mereka kahilangan koin dan seluruh pakaian mereka kotor karena berlumuran dengan lumpur. Mereka berusaha mencari koin yang hilang di dalam lumpur, namun tidak ketemu karena lumpurnya terlalu tebal. Jadi, mereka hanya bisa menerima kenyataan.


Mereka semua melanjutkan perjalanan dengan pakaian yang kotor karena terkena lumpur yang terlalu tebal. Meskipun mereka telah mencuci pakaian mereka di ujung sungai, tapi tetap saja pakaian mereka tetap terlihat kotor.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan pakaian yang kotor. Saat sampai di desa, rombongan Mona ingin makan karena mereka telah kelaparan, tapi mereka tidak memiliki sedikitpun koin. Mona mengajak mereka masuk ke salah satu toko miliknya, dia mengkode agar mereka menerima rombongan Mona dengan satu syarat yaitu memberikan pekerjaan pada mereka. Jadi, akhirnya mereka berhasil mendapatkan pakaian dan makanan yaitu dengan syarat semua orang harus bekerja. Para pelayan membantu memasak dan mencuci tempat makanan, sedangkan para prajurit membantu mengantar pesanan. Hanya anggota kekaisaranlah yang tidak di izinkan bekerja oleh anggota black rose karena mereka sudah diberi tahu kalau mereka adalah rombongan kekaisaran kegelapan. Jadi, mereka hanya duduk saja di lantai dua, karena para prajurit dan pelayanlah yang telah bekerja.


*****


Saat rombongan Mona masuk, semua orang merasa penasaran akan seorang wanita yang memakai tudung kepala di antara rombongan kekaisaran kegelapan. Semua orang juga penasaran kenapa hanya rombongan kekaisaran kegelapan yang tidak memakai tandu dan juga kuda untuk mereka tunggangi.


"Selamat datang, kaisar dan permaisuri kegelapan. Silahkan duduk di tempat yang telah kami sediakan" sapa para sesepuh kompak dari kursi singgasana mereka sambil menunjuk ke arah tempat untuk rombongan kekaisaran kegelapan.


"Terima kasih para sesepuh" balas seluruh rombongan anggota kekaisaran kegelapan kompak, membuat semua orang menatap bingung ke arah para prajurit dan pelayan yang begitu berani menyamakan suara dengan para anggota keluarga kekaisaran. Satu persatu dari rombongan kekaisaran kegelapan telah duduk dan berdiri di tempat masing-masing. Hanya tinggal Mona yang masih di tengah-tengah aula kekaisaran bintang, membuat semua orang bertanya-tanya akan apa yang dilakukan wanita bertudung di tengah-tengah aula kekaisaran bintang.


'Rain' telepati Mona kepada bayangannya.


'Aku merasakannya, Queen. Tubuhku juga melemah saat berada di dekat dengan permaisuri Yu' balas Rain.


'Aku justru merasakan yang sebaliknya. Aku merasa lebih baik saat berada di tengah-tengah aula karena aku berjarak hanya beberapa meter dari rombongan kekaisaran Yu. Aku telah ikut melangkah lima langkah bersama kekaisaran kegelapan tadinya. Tapi, tubuhku semakin melemah, karena itulah aku berdiri di sini agar tubuhku tetap merasa baik' balas telepati Mona.


"Kim Mona sang Queen dari kekaisaran bulan, sungguh keberuntungan bagi kami anda telah mau datang bergabung di acara perayaan kelahiran cucu kami" sapa sesepuh Zan sambil menuruni tangga untuk mendatangi Mona, dan sesekali mengedipkan matanya kepada Mona.


"Bagaimana anda tahu saya siapa?" Mona mengikuti permainan sesepuh Zan karena dia mengerti maksud kode mata dari sesepuh Zan.


"Tentu saja karena diriku memiliki pengetahuan yang lebih" jawab sesepuh Zan.


"Jadi, anda adalah sang Queen yang beberapa bulan ini sedang heboh karena telah menguasai beberapa kekaisaran aliran hitam yang begitu terkenal" ucap sesepuh Ying sambil berjalan ke arah Mona.


"Ya" balas Mona.


"Baiklah, silahkan duduk disi,,,," ucapan sesepuh Ying terhenti karena dia memegang nadi Mona.

__ADS_1


"Kau hamil" terkejut sesepuh Ying dengan suara nada bicara yang sedikit meninggi.


"Iya" Mona menjawabnya dengan singkat.


"Kenapa tidak mengatakannya" kesal sesepuh Ying.


"Maaf, sesepuh Ying, kita baru bertemu sekarang di acara perayaan kelahiran cucumu bukan?".


"Eh, maksudku, kenapa tidak mengatakan pada kami kalau kau sedang hamil. Putriku juga sedang hamil, perutnya begitu sensitif. Jadi, dia memakan menu makanan khusus untuk ibu hamil. Jadi, kau bisa bergabung dengannya" Sesepuh Ying berusaha mengubah arah pembicaraanya agar tidak terlihat canggung. Sesepuh Ying menarik tangan Mona ke arah permaisuri Yu.


Semakin Mona melangkah mendekati ibu kandungnya, tubuhnya semakin kuat. "Siapkan meja dan kursi untuknya" perintah sesepuh Ying.


"Tidak perlu ibunda, biarkan saja dia duduk di sampingku" tawar permaisuri Yu sambil menepuk samping kursinya.


"Baiklah, silahkan nak" ucap sesepuh Ying.


'Akhirnya kau menemukan kebahagiaan bersama ibumu, sayang' kompak sesepuh Ying, sesepuh Zan dan Ming Fan saat Mona mendapat tawaran duduk di samping ibunya.


'Perasaan apa ini?' bingung permaisuri Yu saat tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan Mona.


"Ada apa?" tanya kaisar Yu saat dia menatap istrinya menatap Mona dengan serius. Saat Kaisar Yu bertanya, membuat Mona menatap ke arah kaisar Yu.


"Em, ada satu masalah" jawab Mona sambil menatap ke arah kaisar Yu.


"Masalah apa?" tanya kompak kaisar dan permaisuri Yu.


"Aku tahu kalau aku sedang hamil usia kehamilanku hampir tiga bulan, jadi aku tidak boleh memakan makanan masam. Tapi, aku sungguh sangat ingin acar nanas itu" ucap Mona dengan nada manja sambil menunjuk acar nanas yang hanya disukai oleh kaisar Yu jika di dalam anggota kekaisaran Yu.


"Tidak boleh" kompak permaisuri Yu dan sesepuh Ying.


"Tapi, aku sangat ingin acar itu" manja Mona.


"Tidak, tetap tidak" kompak sesepuh Ying dan permaisuri Yu.


"Dasar ibu dan anak sama saja. Jika kalian tidak mengizinkan aku makan acar, maka aku tidak akan makan apapun" ngambek Mona dengan melipat kedua tangannya di dada setelah dia menunjuk sesepuh Ying dan permaisuri Yu.


"Jangan bercanda, usia kehamilanmu masih muda, jadi kau tidak boleh memakannya" ucap sesepuh Zan.


"Jika aku bilang tidak, maka tetap tidak" balas Mona meniru ucapan ibu dan neneknya.


'Dasar hubungan darah lebih kental dari apapun, bukankah ketiganya sama saja' batin kompak Fan, sesepuh Zan dan juga orang-orang yang mengetahui kalau keluarga kandung Mona adalah kekaisaran Yu.


'Mereka memiliki sifat cerewet antara sesama wanita' batin sesepuh Zan sambil menatap ketiganya.


"Kemarilah" panggil kaisar Yu sambil menepuk kursi sampingnya.


"Tidak" kesal permaisuri Yu sambil menghentikan Mona, saat dia melihat Mona mulai ingin bangun.


"Lepaskan saja dia, dari pada dia tidak makan" ucap kaisar Yu.


"Tapi," Permaisuri Yu masih tidak melepaskan tangan Mona.


"Apakah kalian mulai sengaja ingin bermain-main denganku?" Saat Mona mengatakan hal itu, tanpa sadar dia mengeluarkan cahaya biru, orange, dan hitam dari tubuhnya. Tiga warna itu membuat semua orang terkejut, permaisuri Yu juga secara otomatis melepas tangannya saat melihat tiga warna itu keluar dari tubuhnya Mona. Saat tangannya telah di lepas oleh permaisuri Yu, Mona berjalan ke arah kasar Yu dan duduk di samping kaisar Yu. Mona mengambil tiga sumpit, lalu dia mencelupkan secara bersamaan kedalam acar. Lalu, tiga ujung sumpit yang telah dia celupkan ke dalam acar dia masukkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Sangat lezat ibu, kami menyukainya" ucap Mona dengan nada senang. Setelah Mona mengatakan hal itu ketiga warna yang keluar dari tubuhnya perlahan-lahan menghilang. Lalu, keluarlah sayap dari punggungnya membuat semua orang terkejut.


__ADS_2