
Semua orang di kekaisaran kegelapan telah berkumpul di meja makan. Setelah dari dapur, Mona membangunkan Fan yang masih terlelap dalam mimpinya, setelah itu barulah mereka ke ruang makan. Saat semua orang makan menu makanan malam ini, semua orang merasa sedikit aneh. Sampai-sampai, ada dari mereka yang sampai tiga kali tambah, mereka tidak berani bersuara karena disana ada Mona yang begitu ketat pada saat acara makan.
"Ini enak, bibi pelayan, tolong buatkan makanan yang rasanya seperti ini setiap hari. Biasakan?" ucap girang Zuwie.
"Bukan bibi pelayan yang membuatnya, bukankah begitu bibi?" tanya Ying Wie.
"Apa maksudmu, nak?" tanya neneknya Ying Wie.
"Yang diucapkan tuan putri benar, bahwa bukan kami yang memasaknya" ucap kepala pelayan.
"Jika bukan bibi pelayan, lalu siapa?" tanya Ming Lan.
"Kakak ipar kedua" jawab Ying Wie membuat semua orang menatap ke arah Mona.
"Itu benar" ucap kepala pelayan, membuat semua orang semakin menatap ke arah Mona yang asik mengupas buah apel.
"Indah" satu kata yang keluar dari mulut Mona membuat semua orang bingung.
"Indah?" ulang Fan.
"Saat aku ingin ke dapur untuk memasak, aku melihat taman dan rumah pohon yang sepertinya baru dibangun hari ini. Karena saat kemarin aku melewati tempat itu, rumah pohon dan taman itu belum ada. Siapa pemiliknya?".
"Untuk apa?" tanya neneknya Dan sambil tersenyum karena melihat dua ekspresi wajah cucu pertama dan keduanya yang berbeda. cucu pertamanya sedikit cemberut, sedangkan Fan tersenyum.
"Karena aku menyukai tempat yang seperti itu. Jadi, aku akan sering bermain disana" Mona menjawab dengan jujur.
"Itu milikmu" ucap Fan membuat Mona langsung menatap dirinya.
"Ah,,kenapa kau menatapku begitu?" terkejut Fan.
"Itu tidak lucu Fan" Mona kesal entah kenapa.
"Tidak lucu?" ulang Fan.
"Ya, aku sangat menyukai tempat seperti itu, dan berani sekali kau memberikan harapan palsu untukku".
"Aku tidak bohong, itu memang milikmu. Jika kau tidak percaya, maka tanyakan pada semua orang disini kalau aku yang membuatnya dari tadi pagi, khusus untukmu" ucap Fan sambil menunjuk semua orang di sekitarnya.
"Itu benar nak," ucap ayah, ibu dan neneknya Fan, saat mereka melihat Mona seperti meminta bukti dari mereka semua.
"Terima kasih" Mona pergi keluar setelah dia mencium bibir Fan sekilas, membuat semua orang mematung.
"Apa barusan kakak ipar mencium kakak kedua?" tanya Ming Zan.
"Itu benar, sepertinya kakak ipar sangat menyukai hadiah dari kakak kedua" jawab Ming Lan.
__ADS_1
"Aku menang, soal permintaanku, maka mintalah pada adik iparmu itu. Kau harus menuruti apapun yang dia minta" senyum Dan ke arah Zao.
"Kau mau kemana?" tanya Ming Zao.
"Ke taman, karena sepertinya istriku ada disana" yakin Fan sambil berlalu keluar, semua orang juga mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa saat mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di taman yang baru dibuat oleh Fan. Benar saja, bahwa Mona ada disana, Mona memainkan sebuah lantunan musik dari sebuah seruling. Mona memainkan seruling itu dengan nada yang begitu indah, di sekeliling Mona, terdapat kunang-kunang yang terbang dengan indahnya. Pantulan warna kunang-kunang itu membuat penampilan Mona bagaikan seorang Dewi. Awalnya nada permainan Mona sangat indah dan ceria, tapi lama kelamaan nada itu berubah menjadi nada yang begitu menyayat hati.
'Ibu, aku tidak akan pernah bisa memilih antara kalian berdua' batin Mona setelah dia mengakhiri musiknya.
"Apakah semua baik-baik saja, kenapa tiba-tiba nadanya berubah menjadi sangat menyedihkan?" ucap Ming Zao.
"Kehidupan ini tidak bisa di tebak" jawab Ming Fan.
"Apa maksudmu?" tanya permaisuri kegelapan.
"Ada kalanya seseorang harus berkorban demi orang yang dia kasihi" ucap Fan sambil berusaha ingin naik keatas. Tapi, Mona duluan turun dengan matanya yang sedikit merah.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Fan.
"Aku baik-baik saja" jawabnya.
"Aku pergi dulu ayah, ibu, nenek dan lainnya" Mona membungkukkan badannya tanda hormat kepada tiga orang yang menjadi kekuatan dasar kekaisaran kegelapan.
"Silahkan nak" jawab mereka kompak. Mona dan Fan kembali ke kamar mereka.
"Apakah ada penglihatan yang terlintas di pikiranmu tadi?" tanya Fan membuat Mona menatapnya.
"Ya, aku harus memilih antara ibu kandungku atau ibu yang selama ini memberikan identitasnya untukku" Mona menatap kosong ke arah depan.
"Apakah kau akan pergi saat itu?" tanya Fan.
"Mungkin,,," Mona menggantung ucapannya.
"Kuharap kau akan kembali, seperti ramalan yang diramalkan kakek tua waktu itu" ucap Fan sambil memeluk Mona, karena dia berusaha menenangkan Mona.
"Terima kasih" ucap Mona.
*******
Semua orang dari kekaisaran kegelapan dan malam merasa bahagia, karena setelah satu bulan berlalu setelah hari pernikahan pangeran kedua. Sang permaisuri pangeran kedua dikabarkan tengah hamil, usia kehamilannya berusia dua puluh tujuh hari.
"Kau ingin makan apa?" tanya Fan yang begitu senang karena kabar kehamilan Mona. Setelah Mona yang jatuh pingsan saat bermain-main dengan Zuwie.
"Aku sedang tidak ingin makan apapun" kesal Mona karena Fan telah bertanya lebih dari lima puluh kali tentang apa yang ingin dia makan.
"Kau harus makan, atau kau ingin minum apa?" tanya Fan.
__ADS_1
"Ying Wie,,,,,," teriak Mona menggema ke seluruh kekaisaran kegelapan.
"Ada apa lagi ini?" tanya Ying Wie yang berada di aula utama bersama ayahnya.
Semua orang datang ke kamar Fan karena teriakan Mona yang menggema. Setelah beberapa saat akhirnya Ying Wie sampai.
"Ada apa?" tanya semua orang yang masuk ke kamar Fan.
"Bawa dia pergi dari hadapanku, aku pusing bukan karena anakku. Tapi, malah karena ayahnya, jadi bawa dia pergi dari hadapanku" kesal Mona sambil menunjuk ke arah Fan.
"Tapi, akukan cuma ingin selalu bersamamu dan anak kita" ucap Fan sambil menyentuh perut Mona.
"Tidak perlu, karena aku bisa melakukan sendiri, hal apa saja yang aku ingin lakukan" balas Mona ketus.
"Tapi," sebelum Fan menyelesaikan ucapannya, Ying Wie telah menarik paksa Fan keluar dari kamar Mona. Melihat Fan yang tidak berdaya karena dua wanita yang dia sayangi, membuat yang lainnya tertawa.
"Hahahaha" tawa lainnya kompak.
"Kenapa kalian tertawa disini?" selidik Mona.
"Ah, kami keluar dulu" takut lainnya.
"Sepertinya mulai sekarang, kau akan sering berada di luar kamar" ucap Ming Zao dengan nada mengejek kepada adiknya.
"Kau lihat saja nanti" kesal Fan.
"Tenanglah adik ipar, kau tidak separah kakak pertamamu dulu. karena aku memperlakukan kakakmu saat aku mengandung Zuwie, lebih parah dari apa yang dilakukan istrimu saat ini. Itu adalah hormon kehamilannya, jadi tenanglah" ucap permaisuri kaisar malam.
"Terima kasih" balas Fan.
"Tidak apa-apa, adik ipar" ucap permaisuri kaisar malam sambil berlalu pergi dari depan kamar Fan. Begitupun dengan yang lainnya, kecuali Fan yang masih menunggu di depan kamarnya.
Setelah tiga jam berlalu, akhirnya Fan masuk ke dalam. Saat dia masuk, ternyata Mona baru saja selesai mandi. Mona dan Fan saling menatap dalam keadaan berdiri mematung.
"Masuklah" senyum hangat Mona saat dia melihat Fan tidak bergerak sama sekali di depan pintu.
"Bagaimana aku bisa bertemu ayah dan ibuku dalam keadaan perutku membuncit nantinya?" tanya Mona yang menghampiri Fan. Lalu, dia memberikan sisir kepada Fan.
"Tolong" ucap Mona.
"Aku tidak tahu soal itu" ucap Fan sambil menyisir rambut Mona.
"Maaf soal tadi".
"Tidak masalah, kau adalah wanitaku, dan dia adalah anak kita" balas Fan sambil mencium rambut Mona.
__ADS_1