The Switched Daughter

The Switched Daughter
Kesal, tapi terlanjur sayang.


__ADS_3

Satu tahun dua puluh dua hari telah berlalu setelah kembalinya Mona ke benua bawah. Semua orang menjalani kehidupan sehari-hari mereka dengan berbagai aktivitas yang biasanya mereka lakukan.


Mona dan lainnya berencana untuk tinggal lebih lama di Desa Arid. Tapi, semua orang termasuk mereka bisa merasa adanya beberapa kejanggalan yang terjadi selama beberapa hari belakangan ini.


Kejanggalan itu terjadi yaitu dengan tiba-tiba terdengar suara guntur menggelegar yang begitu besar teedengar di langit tanpa adanya tanda-tanda akan turunnya hujan. Guntur itu terdengar hanya kira-kira sekitaran sepuluh detik, setelah itu tidak terdengar suara lagi. Seolah-olah, guntur yang tadi mereka dengar tidakkah nyata.


Setelah kejanggalan itu muncul setiap harinya selama enam hari berturut-turut. Oleh karena itu, akhirnya Mona memutuskan untuk kembali ke kekaisaran bintang bersama dengan anggota keluarganya yang lainnya, karena sudah cukup bagi dirinya bermain-main bersama beberapa anggota keluarganya.


Mona bersama dengan anggota keluarganya yang lainnya, memilih muncul di salah satu pasar yang dekat dengan istana kekaisaran di daerah kekuasaan kaisar Yu, dengan menggunakan kekuatan teleportasi milik Mona.


Mona dan lainnya muncul dengan berpakaian sederhana sama seperti para rakyat di daerah kekaisaran Yu. Hal itu membuat para rakyat tidak menyadari kalau keluarga kekaisaran ada di dekat mereka, sedang berbaur bersama mereka, karena pakaian yang mereka kenakan tidak ada bedanya.


Sebelum ke istana kekaisaran Yu, Mona mengajak yang lainnya untuk makan makanan di salah satu cabang toko makanan miliknya yang di kelola oleh anggota black rose miliknya.


Disaat semua orang sedang menyantap makanan mereka, Mona berbicara dengan salah satu anak buahnya yang bekerja di sana, dengan menggunakan bahasa isyarat mata dan tangan. Mona menggunakan bahasa isyarat itu dengan secara sembunyi-sembunyi agar tidak menimbulkan rasa penasaran dari orang di sekitarnya.


Setelah beberapa saat, setelah Mona menyelesaikan bahasa isyaratnya, barulah dia makan makananya. Sedangkan anggota black rose yang di ajak berbicara oleh Mona dengan menggunakan metode bahasa isyarat, dia langsung pergi keluar setelah Mona menyelesaikan isyaratnya.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka telah menyelesaikan semua makanan mereka. Lalu, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke arah kekaisaran Wang, untuk mengantarkan permaisuri Wang.


*******


"Yang mulia kaisar, semua permasalahan yang terjadi di desa di bagian barat perbatasan kekaisaran, telah terselesaikan" ucap jenderal Kubo sambil membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah kaisar Yu sebagai tanda hormatnya.


"Di bagian selatan juga telah terselesaikan, yang mulia" hormat jenderal Kun Lun sebagai jenderal di bawah jenderal Kubo.


"Apakah seluruh permasalahan pertanian dan perdagangan telah terselesaikan tanpa adanya masalah?" tanya kaisar Yu.


"Ya, yang mulia" kompak beberapa orang yang di utus oleh kaisar Yu untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi di desa di bawah kekuasaan kekaisaran miliknya.


'Aiss,,,,aku ingin meluapkan kekesalanku, tapi aku sudah terlanjur terlalu sayang. Entah kemana putriku membawa istri dan cucu-cucu kesayanganku' kaisar Yu hanya bisa membatin di dalam hatinya sambil menatap lurus ke arah para bawahannya.


"Apakah seseorang begitu sangat rindu pada kami, hingga dirinya bingung antara ingin marah atau sayang kepadaku" suara Mona menggema di aula utama kekaisaran Yu.


Semua orang memalingkan wajah mereka ke arah pintu aula kekaisaran Yu, untuk melihat pemilik suara yang barusan menggema. Semua orang mematung selama sesaat, karena mereka melihat keluarga junjungan mereka yang telah mereka abdikan nyawa mereka.


"Uh,,,hu,,,hu,, akhirnya cucu-cucu kakek telah kembali" ucap kaisar Yu sambil turun dari singasana dirinya, saat dia melihat keluarganya telah kembali setelah beberapa bulan ini mereka pergi.


Kaisar Yu memeluk satu persatu kelima cucunya dan Mayumi secara bergantian. Disaat fokus semua orang telah terarah kepada kaisar Yu yang sedang asik-asiknya memeluk melepas rindu dengan cucu-cucunya. Mona mengkode kepada jenderal Kubo selaku kepala jenderal untuk mengikuti dirinya keluar dari aula utama, dimana semua orang sedang terharu.


Jenderal Kubo yang mengerti dengan kode dari Mona, dia langsung mengikuti Mona tanpa memberi tahukan kepada orang-orang di sampingnya.


"Sayang, kakekmu ini sungguh sangat merindukan kalian. Kalian dari mana saja?" tanya kaisar Yu sambil memeluk Aina dengan menampakkan ekspresi wajah seperti anak kecil kepada keempat cucunya yang lainnnya dan juga kepada putrinya.


"Jalan-jalan" kompak ke empat majikan kecil mereka kecuali dua orang yang begitu dingin.

__ADS_1


"Jalan-jalan masak sampai berbulan-bulan?".


"Mau bagaimana lagi, kami hanya mengikuti ayahanda dan ibunda saja" Nyoko berusaha membela dirinya.


"Tapi, kaliankan bisa meminta untuk kembali menemui kakek kalian yang tua ini, kepada ayahanda dan ibunda kalian?".


"Emmmmm" mereka berempat hanya menganggukkan kepala sambil memegang dagu dan menatap ke langit. Seolah-olah mereka sedang berpikir antara benar dan tidaknya ucapan kakek mereka.


"Ehem,,," Aina berdehem sebagai tanda agar semua orang tahu kalau dia begitu risih dengan kaisar Yu yang terus memeluk dirinya. Walaupun kaisar Yu sibuk berbicara dengan keempat saudara-saudarinya.


"Ahh,,ha,,ha,,ha kakek lupa, kalau yang sedang kakek peluk adalah jelmaan nenekmu masa kecil dan dingin" kaisar Yu melepas pelukannya. Kaisar Yu tertawa canggung, saat dia melihat Aina hanya menampakkan ekspresi wajah yang dingin dan datar.


"Emangnya kakek kaisar ada disana hingga kakek sudah tahu bagaimana nenek permaisuri di masa kecil?" pertanyaan dari Jun sukses membuat semua orang terkejut selama sesaat.


"Perkataan cucuku ada benarnya juga" permaisuri Yu seperti sedang berpikir, begitupun dengan yang lainnya.


"Tidak, sebenarnya kakekmu mengenal nenek, saat usia nenek lima belas tahun ke atas" sambung permaisuri Yu setelah berpikir selama beberapa saat.


"Jadi, kenapa kakek mengatakan kalau jijie adalah versi kecil nenek?" lagi-lagi pertanyaan dari Jun membungkam semua orang.


"Apakah kalian sudah makan?" tanya kaisar Yu berusaha mengubah alur cerita.


"Sudah baru saja, jadi sebaiknya kakek kaisar jangan mengubah pembicaraan" jawab Aina sambil senyum smirk ke arah kaisar Yu membuat semua orang bergidik ngeri.


'Sesekali mereka terlihat sangat mirip dimasa kecil, tapi ibunya lebih baik karena dia berada di akademi. Jadi, kami hanya melihat dinginnya dirinya mungkin efek didikan di akademi sekolahan' batin semua orang kompak dengan sesekali membayangkan bagaimana Mona dulu ketika kecilnya.


"Apakah kakek kaisar takut pada jijie, kenapa kakek kaisar menatap ke arah lain saat berbicara. Bibi Dera mengatakan kalau kita harus menatap mata orang di depan kita saat berbicara. Kalau kita tidak melihatnya, maka itu tidak sopan" Nene mengatakan hal itu di saat yang pas menurut lainnya, tapi tidak menurut kaisar Yu. Karena ucapan cucunya sangatlah benar.


Kaisar Yu hanya bisa menatap wajah cucu-cucunya secara bergantian tanpa mengeluarkan ucapan yang membantah atau membenarkan pernyataan dari Nene.


"Apakah jijie Dera salah kakek kaisar?" tanya Nene untuk memastikan, karena kaisar Yu sama sekali tidak membalas ucapannya.


"Ajaran bibimu benar sayang" jawab permaisuri Yu.


"Lalu, kenapa kakek kaisar,,,," Nene menggantung ucapannya sambil menatap ke arah kaisar Yu.


"Ehem,,,,," deheman Mona yang penuh penekanan dan begitu tegas, sukses membuat semua orang terkejut.


Semua orang melihat ke arah Mona yang berjalan masuk ke aula utama bersama dengan jenderal Kubo. Hal itu membuat semua orang menjadi bingung, karena mereka tidak meluhat kapan keduanya keluar. Jadi, kok tiba-tiba Mona dan jenderal Kubo kembali masuk ke aula utama.


"Kapan ibunda keluar?" bingung Nyoko sambil menatap Mona yang berjalan masuk.


"Tadi, kalian sedang sibuk melepas rindu, jadi kalian tidak memperhatikan saat ibunda keluar".


"Lalu, kenapa kau bersama dengan putriku jenderal?" tanya permaisuri Yu bingung.

__ADS_1


"Mona ingin keluar, maka tentu saja harus ada yang mengawal bukan" jawaban Mona justru membuat semua orang merasa aneh.


"Aku tidak percaya kalau ibunda harus dikawal, itu terasa sangat aneh. Bukankah begitu?" pertanyaan Nyoko disetujui oleh semua orang.


"Memang benar".


"Lalu, kenapa kakek jenderal ikut ibunda, jika ibunda tidak membutuhkan pengawal?" Nyoko bertanya karena dia begitu penasaran.


"Pangeran, maaf, tapi adakalanya urusan orang dewasa jangan terlalu di campuri dan belum saatnya pangeran untuk tahu" jawaban jenderal Kubo justru membuat semua orang semakin penasaran akan hal apa yang tidak boleh diketahui mereka.


"Maaf" Nyoko tertunduk merasa takut.


"Apakah kami salah jika kami ingin bertanya, ibunda?" Nene bertanya sambil memperhatikan Nyoko sekilas, sebelum dia menatap wajah ibundanya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


"Sebuah pertanyaan tidaklah salah, sayang. Tapi, alangkah lebih baiknya kalau kalian tidak terlalu penasaran akan urusan orang-orang dewasa. Memang terkadang pemikiran anak kecil lebih bijak daripada orang yang dewasa, tapi biarlah untuk saat ini izinkan ibunda dan para generasi seusia ibunda berpikir akan masa depan kekaisaran kakekmu. Karena kakekmu sudah tua, jadi biarkan kami generasi dibawahnya berpikir keras. Saat ini, tugas kalian adalah belajarlah yang giat, agar saat ibunda sudah tidak sanggup memikirkan strategi lagi, maka kalian yang akan menggantikan generasi ibunda" Mona mengatakan kata-kata itu agar membuat Nyoko tidak merasa bersalah karena pertanyaan dirinya.


"Ibundamu benar, bukan maksud kakek ingin membuatmu merasa bersalah begini. Tapi, akan lebih baik dan aman bagi kalian, jika kalian tidak mengetahuinya. Jadi, maafkan kakekmu ini, jika jawaban kakek tadi membuat dirimu takut bertanya lagi" jenderal Kubo jongkok menyeimbangkan tubuhnya dengan tubuh Nyoko.


"Tidak apa-apa kakek, kakek tidak perlu meminta maaf, karena kakek tidak bersalah".


"Semuanya tidak bersalah, karena kita benar di sudut pandang yang berbeda. Kalian ingin ikut dengan ayahanda dan ibunda, atau kalian ingin bersama kakek kaisar Yu kalian dulu?".


"Emangnya kau mau kemana nak?" permaisuri Yu bertanya untuk memastikan ada urusan apa putrinya bertanya begitu.


"Aku ingin ke kekaisaran bulan dan kegelapan ibunda, jika aku pergi pastinya menantumu akan selalu mengikutiku bukan?" pernyataan sekaligus pertanyaan yang diberikan oleh Mona di iringi dengan nada sedikit aneh. Antara ingin kesal tapi tak bisa, sindiran tapi nyata, jadi ya begitulah.


"Mereka disini saja dulu, sayang. Bahkan ayahmu ini belum mendapatkan waktu yang lama bersama mereka" kaisar Yu menampakkan ekspresi wajah memelas agar membuat Mona merasa iba.


"Jika itu alasan ayahanda, ayahku kaisar Wang juga hanya sempat berpelukan dengan mereka. Ayahanda beruntung karena sempat beradu mulut sebentar dengan putra-putriku. Sedangkan ayahku tidak hu,,,,hu,,,,hu" Mona menyeimbangi permainan kaisar Yu dengan sesekali mengusap samping matanya dengan menggunakan ujung lengan bajunya.


"Hu,,,hu,,,hu betapa sedihnya nasib ayahku kaisar Wang, karena dia tidak bisa bermain dengan cucu-cucunya seperti ayahandaku kaisar Yu" Mona mengejek kaisar Yu dengan sesekali melirik ayahandanya dengan tatapan seolah-olah sedang sedih


"Hu,,,hu,,,hu kau benar sekali, sangat benar" kaisar Yu juga hanya ikutan pura-pura sedih agar dia tidak kalah permainan dari putrinya ini.


Semua orang hanya bisa menatap interaksi antara Mona dan kaisar Yu yang saat ini sedang berpura-pura sedih.


'Hahahaha, ayah dan anak sama saja, sama-sama tidak mau mengalah' batin semua orang saat mereka menatap Mona dan kaisar Yu secara bergantian, kecuali enam anak-anak yang jadi peran utama sandiwara ini.


"Apa-apaan ini" kesal permaisuri Yu dengan nada penekanan, dia geram karena ulah dari kedua orang berharga dalam hidupnya ini.


"Ehem,,,bukan apa-apa, kami berteman" kompak Mona dan kaisar Yu sambil saling merangkul sebagai tanda mereka baikan.


"Huh,,,, akan sangat merepotkan jika singa betina bangun dari tidurnya" gumam pelan Mona, tapi karena ruangan hening. Jadi, semua orang bisa mendengar ucapannya.


"Kau benar sayang, membayangkannya saja sudah membuat ayahanda merasa ngeri" gumam kaisar Yu, tapi lagi-lagi ucapannya juga di dengar semua orang yang di aula.

__ADS_1


'Tetaplah limpahkan kebahagian seperti ini kepada mereka semua, Tuhan' batin semua orang.


__ADS_2