The Switched Daughter

The Switched Daughter
Moster kecil


__ADS_3

"Aku tak peduli namaku adalah Yuan, baik aku hidup atau mati namaku tetap itu dan untuk mu ku harab kau menjaga adik ku Wang Gui dengan baik. Jika aku tau keadaan nya tidak baik, aku tak kan mengampuni orang yang melakukan nya meskipun dia orang tua ku sendiri" ujar Yuan sambil menunjuk ke arah guru sekaligus pengasuh untuk Gui dengan tatapan datar nya. Lalu ia berpaling ke arah semua orang guru besar yang melihat tatapan Yuan tersenyum penuh arti.


'kau memang berbeda gadis, ahhhh kata gadis tak cocok untuk mu. Kau lebih cocok di panggil Moster kecil' batin guru Nages sambil melihat secara bergantian kepada mereka berdua.


" Baik lah, aku akan menjadi kan kalian murid ku bagi siapa pun yang mengganggu kalian katakan saja padaku" ujar guru besar.


" Maaf, tapi sepertinya tidak perlu anda yang ikut campur aku bisa menjaga diri ku sendiri. Jika memang kau ingin memberi ke istimewaan untuk ku maka penuhi tiga syarat dariku" ujar ku.


" Katakan apa syarat mu" ujar guru Nages.


" Pertama, aku berhak pergi kemana pun aku mau selama itu bukan jam latihan. Kedua, aku ingin kau memberikan aku hak bahwa aku bisa melakukan apa pun termasuk mematah kan atau membunuh seseorang yang sangat pantas di bunuh. ketiga, aku ingin sekamar dengan lima terbaik" ujarku dengan menekan kan kata sangat pantas di bunuh.


Semua orang yang mendengar hal tersebut sangat terkejut, itu berarti guru besar juga tak bisa melarang nya berbuat sesuka hati.


" Baik lah aku setuju kedua syarat mu, tapi syarat yang ketiga sangat susah di penuhi karena pria dan wanita tak boleh tinggal bersama".


" Aku tak bilang harus sekamar dengan laki laki" ujar ku.

__ADS_1


" Tapi tadi kau mengatakan kau ingin sekamar dengan lima terbaik" ujar guru Nages.


" Oh benarkah" ujar ku bertanya pada teman seperguruan ku.


" Ya kau mengatakan nya" ujar nya dan itu sukses membuat beberapa orang terkejut termasuk kakak nya pasal nya yang mereka tau ia selalu diam seolah bisu. Sedang kan kakak nya berpikir bahwa adik nya tak kan bicara lagi sejak kematian orang tua mereka mereka semua terkejut dan mereka tersadar dengan suara tawa Yuan, mereka bingung apa yang lucu.


" Hahaha hahaha" tawa ku.


Semua orang menatap Yuan dengan tatapan aneh, sebenar nya apa yang lucu sehingga ia tertawa mungkin begitulah pemikiran mereka. Yuan yang merasa risih di tatap seperti itu kembali memasang wajah datar nya dan berkata.


Tak ada yang berani mengatakan kenapa, hingga guru besar bertanya.


" apa yang lucu bocah kenapa kau tertawa" ujar guru Nages.


" Oh itu, aku tertawa karna akhirnya aku berhasil membuat ia berbicara. Aku pikir ia boneka cantik yang tak bisa berbicara" ujarku dan sukses membuat ia tersipu malu.


" Ah lihat lah gege adik mu tersipu malu" ujar Yuan sambil menunjuk ke arah kakak beradik itu secara bergantian. Ketika mendengar kata kata Yuan justru kedua kakak beradik itu sama sama tersipu malu. Adik nya yang tak tahan di lihat orang segera memeluk kakak nya, Yu Yan dan Lily yang melihat hal itu tersenyum dan berkata

__ADS_1


" begitu lah ia, jika kau ingin menjadi lawan atau kawan itu tergantung pilihan mudan aku saran kan sebaik nya kalian menjadi kawan nya" ujar Yu Yan dan Lily secara bersamaan sambil Yu Yan membelai rambut si adik dan Lily menepuk pundak si kakak. Lalu mereka berlalu pergi ke arah Yuan.


" Kakek tua aku sangat lapar, bagaimana bisa aku murid mu tapi kau tak memberi ku makan" ujar ku cemberut dan sukses membuat semua orang terkejut.


' benar-benar bocah ini, bagaimana ia bisa mengatai guru besar kakek tua semoga guru besar tak marah' batin semua orang terkejut dengan ucapan Yuan. Mereka di buat terkejut lagi dengan penuturan guru besar dan jawaban spontan dan cepat dari Yuan.


" Bukan kah aku masih terlihat tampan" ujar guru Nages dengan narsis nya.


" Iiiyuuuu,,,uekk,,, uekk,, apakah kau tak berkaca guru besar kau bilang wajah seperti ini tampan,,,uekkk🤢🤢" ujar ku.


" Tak bisa kah kau memuji ku bocah" ujar guru besar sedikit sedih.


"Baik lah, guru ku adalah seorang kakek tua yang telah tua sekali, ia selalu kesepian dan selalu menyendiri dan aku bangga menjadi murid nya" ujar ku.


" Sebenarnya itu pujian atau penghinaan" ujar guru besar.


" Itu kejujuran" ujar ku sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2