
Semua orang terdiam melihat diriku dengan mudahnya mengganti warna bakat sesuka hatiku.
"Hahaha ada apa dengan kalian kenapa diam membisu seperti patung saja" ujar ku.
"Yuan sebenarnya apa warna bakat mu" ujar guru ku.
"Rahasia dong kakek tua" ujar ku.
"Haisss gadis ini tak pernah berubah " ujarnya.
"Jijie aku sangat melindukanmu" ujar Gui yang berlari kearah ku dengan langkahnya yang kecil dan kata-kata yang belum terlalu benar.
"Hai sayang apa kabar adik jijie yang tampan ini" tanya ku.
"Sangat baik" ujar nya.
"Kau tak merepotkan gurumu bukan" tanya ku.
"Tidak" ujar nya.
"Oh syukurlah" ujar ku.
"Jijie dimana janji jijie" ujar nya sambil celingak-celinguk.
" Janji apa sayang" tanya ku.
"Jijie tidak ingat" tanyanya.
" Memangnya apa jijie pernah berjanji" tanyaku.
"Huwaaaa jijie Yu Yan lihatlah jijie Yuan tidak ingat" ujar nya sambil berlari ke arah Yu Yan.
"Sayang mungkin jijie Yuan siap berkultivikasi langsung kemari jadi lupa membelinya" ujar Yu Yan berusaha membujuk adiknya agar tidak menangis.
"Sayang jijie tak tau apa yang kau suka jadi jijie membeli semuanya" ujar ku sambil mengeluarkan nya dari cincin dimensiku membuat semua orang terkejut kecuali tiga orang yang tau aku memiliki cincin dimensi yaitu jijie, Lily dan Dera.
" Yang lain jika mau ambillah karena aku membelinya banyak tidak mungkin Gui bisa menghabiskannya sendirian" ujar ku setelah mendengar apa yang kuucapkan beberapa anak-anak mengambil makanan itu.
"Dari mana kau mengeluarkannya" tanya guru besar.
"Dari cincin dimensi ku yang kutemui ketika berburu hewan kontrak dua tahun yang lalu" ujarku.
"Kenapa kau tidak memberitahukan kepada kami para guru" ujar guru besar.
"Tidak ada satupun dari kalian yang bertanya tentang ini" ujar ku.
"Aissss sudahlam memang sangat susah berdebat denganmu" ujar guru besar.
"Tidak ada yang suruh berdebat" ujar ku.
__ADS_1
'Dragon suruh kedua temanmu untuk menjalankan tugas mereka yang tadi kita bicarakan' batin ku.
' Kami mendengar mu ratu' ujar Puera dan Kongyie berdua kompak.
' Bagus laksanakan sekarang' ujar ku.
'Sesuai perintahmu' ujar mereka.
"Jijie terima kasih" ujar Gui.
"Sama-sama sayang" ujar ku.
Pada saat semua orang sedang menikmati jajanan yang kubawa dari pasar datanglah Puera dan Kongyie.
"Apakah sudah selesai kalian berpamitan" ujar Kongyie tegas dan berwibawa membuat semua orang terkejut.
"Maaf anda siapa, perlu dengan siapa dan bagaimana anda bisa masuk" ujar guru besar sopan.
"Aku kemari untuk membawa muridku pergi dan bagaimana cara aku masuk ya seperti biasa aku memasuki rumahku" ujar Kongyie.
"Maksudku kami menjaga akademi kami dan sangat susah untuk seseorang masuk tanpa izin kami sedangkan anda dengan mudahnya masuk" ujar guru besar.
"Pada saat Yuan masuk jika bukan karena teriakan nya dan tulisan nya di kertas apakah kalian tau kalau mereka sudah kembali" tanyanya.
"Tidak" ujar semua orang kompak.
"Bagus kalau begitu aku akan membawa muridku" ujar Kongyie.
"Murid maaf tapi siapa murid anda" ujar guru besar.
"Tapi dia murid akademi kami" ujar guru besar.
"Aku tau dia murid akademi kalian namun tidak ada satupun dari kalian yang menyadari warna bakatnya yang asli bahkan teman akrabnya sendiri yaitu Dera juga tidak tahu bukan" ujarnya dengan melihat ke arah Dera.
"Ya anda benar" ujar Dera.
"Oleh karena itu kami ingin membawanya agar kami bisa mengasah kemampuannya" ujar Kongyie.
"Tidak boleh, jijie tidak boleh pelgi lagi hiks,,,tidak boleh hiks,,,pokok nya tidak boleh" ujar Gui sambil memeluk ku.
'Sekarang bagaimana ratu' batin Kongyie dengan tidak memandang wajah Yuan agar tak menimbulkan kecurigaan orang lain.
'Bawa saja tak masalah dan itu jadi urusanmu sekarang Puera' balasku.
'Baik ratu' ujarnya.
"Tidak bisa bocah kau tidak bisa ikut pelatihan jijie mu" ujar Kongyie sambil berpura-pura ingin memisahkan mereka berdua.
"Siapa yang bilang aku akan ikut jijie, aku bilang jijie tidak boleh pelgi" dengan khas bahasa anak kecil yaitu tidak fasih huruf R.
"Dia harus ikut denganku" ujar Kongyie tegas.
__ADS_1
"Tidak bisa" ujar Gui tak kalah.
" Aissss kau tau nak jijiemu harus melatih diri nya agar menjadi kuat. Jika dia disini bukannya dia tidak akan kuat hanya saja ilmunya ada yang tidak berkembang seperti contohnya tadi jijiemu bahkan lebih jenius dari Kuban dalam menguasai jurus itu. Jadi biarkan jijiemu pergi kalau memang kau tidak mau jauh dari jijie mu maka ikutlah bersamanya maka kau akan kuat dan selalu disamping nya bukan" ujar Puera.
Setelah Puera mengatakan hal itu semua orang terdiam membisu.
"Apakah boleh" ujar Gui.
"Tidak" ujar Kongyie.
"Jangan pedulikan dia kau akan bersamaku dan aku yang akan menjagamu dan mendidikmu" ujar Puera.
"Benalkah" ujar Gui dengan nada gembira.
"Ya" ujar Puera.
"Yeeeee" ujar Gui.
"Aku akan ikut juga karena aku tak tau harus kembali kemana jika kami keluar nanti dari akademi" ujar Dera.
" Ahhhh kenapa makin ada yang ikut, apakah ada dari kalian yang akan ikut lagi" ujar Kongyie dengan nada sedikit kesal dan marah.
'Mulai' batin Puera .
'Ada apa' tanyaku membalas ucapannya.
'Dia mulai berdrama atau berakting menurut bahasa dari zaman masa depan" ujar Puera.
'Jadi dia pandai berubah-ubah peran'ujar ku.
'Ya karena itulah ialah yang menjadi pemimpin atau tangan kanan dari pemimpin terdahulu kami karena ia bisa menggunakan beberapa peran atau juga bisa membalikkan fakta sehingga kami lah yang salah' ujar nya.
' Kenapa tak melawan" ujar ku
'Ahhhh tunggu dulu ratu bukankah jika kita berbicara dari pikiran ia juga bisa mendengarnya' ujar Puera.
'Tidak akan karena aku memfokuskan pikiran ku hanya berbicara denganmu dan lainnya tanpa Kongyie.
"Mereka berdua adikku jadi aku akan ikut juga" ujar Yu Yan.
"Jijie jangan" ujar ku.
" Kenapa" tanyanya.
"Aku memiliki firasat kalau tidak akan lama lagi kita akan hidup damai sementara waktu jadi mungkin para ayah akan menjemput anak-anaknya dari akademi. Jadi jijie karena aku dan Gui harus pergi maka kami tidak bisa kembali dan aku tak ingin ibu permaisuri bersedih karena tidak ada satupun anaknya yang terlihat apakah jijie mengerti maksudku" ujar ku.
"Tentu aku mengerti sekarang" ujar nya.
"Mofan gege karena Dera ikut denganku aku akan menjamin keselamatannya dan sebagai bayarannya lindungi dan ikuti kakakku apakah kau mengerti " ujar ku.
"Ya aku mengerti" ujar nya.
__ADS_1
" Jijie aku telah menulis surat untuk ibu bisakah jijie memberikannya karena jika aku yang beri pasti langsung dipeluk ibu dan tidak dibaca dan ia pasti tidak mengizinkan aku pergi" ujarku.
"Dada kami pergi" ujar ku dan mengucapkan mantra itu.