The Switched Daughter

The Switched Daughter
Kau terlalu liar karena hanya sepersekian detik saja kau sudah menghilang


__ADS_3

Tepat pada jam empat pagi, secara otomatis Mona membuka matanya tanpa dibangunkan oleh siapapun. 'Ah kenapa juga semalam aku bisa lupa, kalau aku memiliki kekuatan untuk bisa berpindah kemanapun yang aku inginkan dengan begitu cepat'. Mona bergumam sambil menepuk pelan jidatnya


Mona membaca mantranya, lalu dia tiba-tiba berpindah dari pelukan suaminya ke arah dekat dengan pintu kamar mereka. Namun, saat Mona menghilang dari pelukan Ming Fan, Ming Fan langsung secara otomatis membuka matanya dan membangunkan tubuhnya untuk memastikan dimana Mona berada.


"Kenapa kau tiba-tiba langsung bangun?" tanya Mona saat dia melihat Ming Fan tiba-tiba bangun sambil menatap ke segala arah dengan tatapan khawatir, lalu saat menatap tepat ke arah dirinya barulah Ming Fan merasa tenang.


"Kau mau kemana, sweety" bangun Ming Fan berusaha menghampiri Mona yang berada di dekat pintu.


"Mandilah, aku ingin membangunkan anak-anak untuk melatih mereka" ucap Mona kepada Ming Fan saat Ming Fan tepat telah berada di depannya.


"Kau tidak mandi?" tanya Ming Fan sambil memeluk tubuh Mona.


"Tidak, aku akan mengajari anak-anak dulu, baru nanti setelahnya aku mandi" jawab Mona sambil membalas pelukan Ming Fan.


"Aku akan ikut melatih mereka" pinta Ming Fan sambil menatap ke arah Mona.


"Tapi" Mona tetap ingin menolak, tapi Ming Fan lebih keras kepala.


"Ayo, aku akan mengantar kau ke kamar mereka" semangat Ming Fan sambil menarik tangan Mona ke arah pintu yang telah dibuka oleh Ming Fan.


"Tunggu dulu, kau ingin keluar dengan berpakaian tipis seperti ini?" Mona bertanya sambil menatap dingin ke arah Ming Fan ketika dia membuat langkah Ming Fan terhenti juga.


"Ah, terima kasih sudah mengingatkan?".


"Eh,,," terkejut Mona karena Ming Fan juga menarik tangan Mona kembali ke dalam, setelah dia menutup pintu kamar mereka


"Kenapa menarik tanganku?" tanya Mona bingung karena Ming Fan tetap menarik dirinya.


"Kau terlalu liar, hanya butuh sepersekian detik saja kau sudah menghilang entah kemana?".


"Tidak, aku akan menunggumu di sini, jadi gantilah bajumu tanpa menarikku, jadi aku bisa mengerjakan hal lainnya".


"Baiklah" Ming Fan mengganti pakaiannya di kamar mandi sekalian membersihkan wajahnya. Sedangkan Mona membersihkan kasur dan juga kamar sambil menunggu Ming Fan selesai berganti pakaian.


Setelah Ming Fan mengganti pakaiannya, dia begitu terkejut saat melihat kamar mereka telah bersih dalam waktu sebentar saja. Ming Fan memeluk Mona yang sedang mengikat rambutnya, Ming Fan memeluknya dari belakang.


"Terima kasih karena kau memang telah kembali, aku pikir aku sedang bermimpi bertemu denganmu setelah dua tahun" ucap Ming Fan sambil meletakkan wajahnya di leher Mona.


"Ini bukan mimpi, mari temui mereka" Mona menyentuh bagian wajah Ming Fan.


"Baiklah" Ming Fan memegang tangan Mona sambil menariknya pelan untuk menuntun Mona menuju suatu kamar. Saat beberapa pelayan dan prajurit melihat ke arah keduanya yang sudah bangun, mereka semua memberikan rasa hormat mereka. Mona ikut menundukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia juga menghormati semua orang yang menundukkan kepalanya ke arah dirinya.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di kamar anak-anak mereka. Disana Mona bisa melihat bahwa anak-anaknya tidur dengan pulasnya.


"Apakah kau pernah membangunkan mereka secara pribadi, suamiku?" tanya Mona sambil menatap sekilas ke arah Ming Fan, lalu dia menatap ke arah lima anaknya yang masih tertidur lelap.


"Tidak pernah, karena aku bangun pagi-pagi sekali sebelum ketiganya bangun, jadi mereka dibangunkan oleh para pelayan yang merawat mereka. Jika Nyoko dan Nene, lebih sering berada di kekaisaran kegelapan bersama dengan Ying Wie" jawab Ming Fan sambil matanya juga menatap ke arah lima anaknya yang tidur dengan saling berpelukan.


"Baiklah, mari bantu aku membangunkan mereka" ajak Mona sambil menarik tangan Ming Fan ke arah para malaikat kecilnya yang masih terlelap.

__ADS_1


Cup,,,cup,,,cup,,,cup,,,cup


"Sayang" panggil Mona pelan sambil mencium setiap pipi anak-anaknya. Tentu saja itu tidak akan bisa membangunkan mereka yang tertidur, jika hanya menggunakan satu ciuman. Mona menggendong satu persatu anak-anaknya ke arah beberapa kursi yang ada di sana untuk membangunkan mereka. Mona menggendong mereka sambil mencium wajah dan membisikkan panggilan sayang di telinga mereka.


"Ergh,,," gumam kelimanya karena terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Mona.


"Ibunda" gumam Nyoko saat dia membuka matanya sebentar, untuk melihat siapa yang menggendongnya.


"Sudah waktunya bangun sayang" ucap Mona dengan nada sedikit lembut agar tidak membangunkan orang lain.


"Masih gelap" kompak kelimanya dengan nada bicara masing-masing, ketika mereka membuka mata mereka sekilas. Mereka mengatakan hal itu karena diluar masih gelap karena ini kira-kira baru jam empat lebih.


Mona tidak memperdulikan ucapan anak-anaknya, dia meletakkan Nyoko di punggungnya Ming Fan, Nene dan Airi berada di samping kiri dan kanan depan Ming Fan. Ming Fan memeluk kaki Nyoko yang diatas kaki Nyoko ada kedua pantat dari saudari perempuannya. Jadi, Ming Fan bisa menopang ketiga tubuh buah hatinya.


"Ayahanda" gumam ketiganya saat mereka membuka mata mereka, mereka melihat Ming Fan.


"Emmm, Iunda" gumam Aina dan Jun yang berada dalam gendongan Mona.


"Waktunya berolahraga" ucap Mona sambil tersenyum ke arah Aina dan Jun yang sudah membuka matanya yang saat ini menatap ke arah Mona, tatapan keduanya begitu dingin. Tapi, kedua tatapan mereka, bukanlah tatapan kebencian, melainkan tatapan dingin sekaligus bingung.


"Apa itu?" tanya keduanya kompak sambil memeluk baju Mona yang saat ini sedang memeluk mereka di kanan dan kiri Mona. Mona berjalan ke arah Ming Fan yang menggendong ketiga buah hatinya yang lainnya, yang saat ini juga sudah membuka matanya menatap ke arah dirinya.


"Olahraga itu adalah suatu kebiasaan baik yang akan membuat tubuhmu menjadi sangat sehat dan bugar, jika seseorang sering melakukan olahraga, maka tubuhnya tidak akan mudah sakit dan letih" Mona menjelaskan kepada kelima anaknya ketika dia berjalan beriringan dengan Ming Fan.


"Apakah memanah adalah olahraga?" tanya Nyoko.


"Memang memanah juga salah satu olahraga, tapi memanah hanyalah menggunakan kepintaran pikiran dan ketelitian mata. Sedangkan olahraga yang ibunda maksudkan tadi adalah olahraga lari yang akan menggerakkan seluruh tubuhmu, baik itu kekuatan kakimu, pahamu, perutmu, tanganmu dan lain-lain. Jika hanya memanah, kau hanya menggerakkan bagian tanganmu, tapi tidak dengan kakimu" Jawab Mona memberikan sedikit pemahaman untuk anaknya.


"Udara pagi sangat sehat bagi pernafasan, jika kita lari-lari di jam segini, maka kita tidak mudah berkeringat karena belum adanya matahari, dan saat kita menghirup udara pagi, maka itu sehat karena belum bercampur dengan debu ketika pagi hari para bibi pelayan menyapu. Udara jam empat pagi memanglah sangat dingin, tapi udara ini juga bagus bagi kesehatan" Mona menjelaskan sambil menatap Aina dan Jun yang juga sedang melihat ke arah dirinya.


"Jam empat, apa itu jam, ibunda?" tanya Nyoko.


"Jam adalah waktu, waktu adalah lamanya suatu hari" jawab Ming Fan.


"Lalu, bagaimana ibunda tahu ini jam empat?" tanya Nyoko.


"Karena ibunda menghitungnya" jawab Mona.


"Bagaimana cara ibunda menghitungnya?" tanya Nyoko.


"Kenapa kau banyak sekali bertanya, hemm" tegur Ming Fan kepada Nyoko yang berada di belakangnya.


"Akukan hanya penasaran saja" jawab Nyoko sambil menundukkan kepalanya karena dia takut kalau ayahnya akan memarahinya.


"Tidak usah takut bertanya sayang, ayahmu hanya mengatakan kenapa kau banyak bertanya dari pada adik-adikmu. Tapi, setiap kali ibunda menjawab pertanyaan darimu, keempat adikmu menampakkan ekspresi wajah mengerti namun juga bingung. Lalu, setiap kali pertanyaan yang kau berikan ibu jawab, lalu mereka menampakkan ekspresi wajah mengerti" Mona tersenyum ke arah Nyoko yang juga sedang menatapnya karena ucapan Mona.


"Jadi, jika aku banyak bertanya, bolehkah ibunda?" Nyoko sekali lagi memastikan jika dia tidak akan dimarahi jika sering bertanya.


"Selama itu bermanfaat untuk kalian maka tidak masalah, tapi ingatlah bahwa saat orang di atas kalian sedang berbicara, maka jangan ikut campur jika itu bukan di tanya atau di tunjukan untuk kalian jawab. Apakah kalian berlima mengerti?" tanya Mona sambil menatap ke arah kelima anaknya.

__ADS_1


"Kami mengerti" kompak kelima anak-anaknya.


"Baiklah, ibunda akan mengajari kalian sedikit demi sedikit tentang pemahaman di dunia ini. Jadi, maukah kalian belajar?" tanya Mona.


"Mau" semangat kelimanya kompak, membuat semua pelayan yang di dekat mereka


"Baiklah, sudah sampai, mulai dari sini kita semua akan berlari pelan-pelan saja" Mona menurunkan Aina dan Jun yang di pelukannya. Lalu, Ming Fan juga melakukan hal yang sama, dibantu oleh Mona menurunkan Nene terlebih dahulu.


Mona menurunkan mereka tepat di depan paviliun milik anak-anaknya. Saat Mona menurunkan kelima anaknya, tentu saja para prajurit dan pelayan yang sudah bangun, melihat mereka bertujuh dengan tatapan bingung.


"Baik, mari mulai" Ming Fan memulai berlari pelan di susul oleh Mona di belakangnya. Lalu, barulah kelima anak mereka juga mengikuti mereka dari belakang.


"Pelan-pelan saja sayang" tegur Mona ke arah kelimanya yang berlari dengan sangat cepat.


"Akh,,," Airi mengaduh karena dia terjatuh, membuat semua orang berhenti. "Hiks,,,hiks, hiks,, iunda" Airi berusaha mengulurkan tangannya ke arah Mona yang sudah menghentikan langkahnya tepat di jarak satu meter dengan Airi jatuh terduduk.


"Berhenti" ucap Mona saat Nyoko ingin membangunkan adiknya.


"Putri ibu memang bukanlah anak yang kuat seperti seorang pria, tapi putri ibu bukanlah juga anak yang lemah, ibu sangat yakin kalau jika hanya bangun dari jatuh, putri ibu bisa melakukannya sendirikan. Jika putri ibu bisa bangun sendiri tanpa bantuan dari orang lain, maka ibu akan sangat bangga padanya" senyum Mona ke arah Airi yang sedang terduduk karena dia terjatuh. Saat melihat senyuman dari ibundanya, Airi juga ikut tersenyum.


"Emm,,,ugh,,,aaa,,,, yeeee" senang Airi karena dia berhasil bangun, setelah menahan rasa sakit di lututnya karena dia berusaha bangun sendiri.


"Ini baru putri ibu, jadi bisakah putri ibu berjalan?" tanya Mona disaat dia memeluk Airi yang berhasil bangun sendiri.


Airi menganggukkan kepalanya saat Mona bertanya demikian, lalu Mona menurunkan Airi untuk berjalan sendiri dengan memegang tangan Mona karena jalannya sedikit susah karena lututnya sakit. Namun, Airi menahannya karena ucapan dari Mona yang mempercayai dirinya bahwa dia bisa melakukannya hal kecil ini sendirian. Begitupun dengan yang lainnya, mereka juga berjalan di belakang Airi dan Mona.


Mona menggunakan kekuatannya untuk meredakan rasa sakit di kaki putri bungsunya setelah dua puluh langkah Airi berusaha menahan sakitnya. Saat Airi merasa kakinya tidak sakit lagi, Airi melepas tangannya dari tangan Mona. Dia berlari pelan-pelan, membuat keempat kakaknya juga menyusul dirinya dengan berlari pelan juga.


"Kau sudah bisa berlari?" tanya Nyoko kepada Airi yang sedang berlari pelan dari pada sebelum dia terjatuh tadi.


"Mmm" senyum Airi ke arah Nyoko yang sedang mengkhawatirkan keadaan dirinya.


"Sayang, jika sedang berlari, maka fokuslah pada arah kakimu akan melangkah. Jangan sampai kalian jatuh karena tidak memperhatikan jalan yang kalian pija,,".


"Aduh,,," sebelum ucapan Mona selesai, Nyoko malah terjatuh karena dia berlari tanpa melihat ke arah depan melainkan dia melihat ke arah Airi. Namun, Nyoko tidak mengaduh lebih dari itu, dia bangkit tanpa di suruh oleh Mona atau siapapun. 'Jika adik kecilku bisa, kenapa aku sebagai kakaknya tidak bisa. Aku juga adalah putra ibu, aku tidak boleh manja' tekad Nyoko saat dia berjuang untuk berdiri dengan usahanya sendiri.


"Pintar, ini masih gelap, jadi kalian harus lebih memperhatikan tempat yang ingin kalian langkahi. Tidak peduli itu baik di saat terang ataupun gelap, kalian harus lebih memperhatikan langkah kalian. Apakah sakit sayang?" tanya Mona sambil menyentuh siku dan lutut kanan Nyoko yang mengeluarkan sedikit darah.


"Aku baik-baik saja ibunda, argh,,," Nyoko mengaduh kesakitan karena Mona menekan lutut Nyoko yang mengeluarkan darah.


"Sayang, kami adalah keluargamu, jika memang sakit katakan saja sakit. Jangan berpura-pura menjadi kuat hanya untuk memperlihatkan kepada adik-adikmu bahwa kau kakak yang bisa diandalkan. Kau tetap akan menjadi kakak mereka yang bisa diandalkan, jika kau bisa melindungi mereka saat mereka terluka di luar sana. Namun, saat berada di rumah, kalian bisa membagikan penderitaan yang kalian alami bersama ibunda" ucap Mona sambil meletakkan tangannya di atas luka yang di alami Nyoko. Lalu, tiba-tiba cahaya keluar dari telapak tangannya, lalu luka itu tiba-tiba sembuh.


"Tidak sakit lagi" Nyoko menghentak-hentakkan kakinya ke tanah setelah dia merasakan bahwa kakinya tidak sakit lagi setelah Mona menyentuh kakinya.


"Baiklah, maukah kalian bersenang-senang?" tanya Mona kepada kelima anaknya.


"Bersenang-senang?" kompak kelimanya bingung.


"Bagaimana jika sekarang kita membangunkan semua orang dengan cara kita masing-masing. Kita akan membagi dua kelompok, kelompok pertama gege Nyoko dan jijie Nene, lalu kelompok kedua ketiga anak kembar ibunda. Siapa di antara kedua kelompok ini yang bisa membangunkan lebih banyak orang yang masih belum bangun, maka ibunda akan memberikan hadiah kepada kelompok yang menang".

__ADS_1


"Baiklah" semangat kelimanya sambil menyebar ke dua arah dengan kelompok masing-masing.


__ADS_2