
Lima jam telah berlalu, jam makan siang telah tiba. Jadi, semua orang berkumpul di ruang makan.
"Ibu, kenapa menu hari ini sedikit berubah?" tanya Anchi karena dia melihat menu makanan yang kebanyakan serba berbahan buah-buahan.
"Buah-buahan bagus untuk wanita hamil" jawab kaisar Yu.
"Oh, bolehkah kami ma,,,," ucapan Anchi terpotong karena suara Mona dari depan pintu.
"Hai, paman prajurit" hormat Mona sambil menyapa prajurit-prajurit yang berjaga di depan pintu ruangan makan.
"Salam Queen" ucap prajurit sambil membungkukkan badannya.
"Eits,,,eit,,,eits bukan Queen, namaku Kim Mona maka panggil Mona saja. Bisakan paman?" tanya Mona, semua orang yang di dalam hanya memperhatikan interaksi mereka yang di depan pintu.
"Tapi, kedudukan anda lebih mulia dari kami Queen. Jadi, kami tidak bisa memanggilmu begitu" ucap kedua prajurit kompak. Mona memperhatikan kondisi tubuhnya. Dia memakai pakaian yang disiapkan pelayan permaisuri Yu untuknya. Karena saat dia bangun, dia mendapati seorang wanita tua seusia permaisuri Yu sedang berada di sampingnya. Saat Mona bertanya kenapa dia berada disana, maka pelayan menjawab kalau dia disuruh oleh permaisuri untuk menyiapkan segala keperluan Mona selama tiga bulan tinggal di kekaisaran Yu. Jadi, pakaian yang disiapkan untuk Mona adalah pakaian dan perhiasan putri bangsawan.
Mona membuka seluruh perhiasan yang dia pakai, membuat semua orang yang melihatnya menjadi bingung. Jadi, yang tersisa hanyalah pakaian Mona saja, tanpa sedikitpun pernak pernik perhiasan melekat dari ujung kepalanya sampai ujung kakinya.
"Paman prajurit, sekarang kalian lebih mulia dariku karena kalian telah memakai baju kesatria dari kekaisaran Yu. Sedangkan aku hanyalah seorang wanita muda yang memakai baju yang mungkin juga dimiliki oleh mereka-mereka yang diluar sana. Jadi, bisakah Mona ini masuk kedalam untuk mencicipi makanan dari kekaisaran Yu yang begitu mewah ini?" ucap Mona membuat semua orang tersenyum karena ternyata Mona melepas seluruh perhiasannya hanya untuk ini.
"Sudahlah izinkan saja dia masuk" ucap pelayan yang dibelakang Mona.
"Permisi, anda siapa?" tanya Mona kepada pelayan itu.
"Aku adalah pelayan yang di utus permaisuri Yu untukmu" jawabnya.
"Diantara permaisuri dan kaisar, kedudukan mana yang lebih hebat?".
"Tentu saja kedudukan kaisar?" kompak prajurit dan pelayan itu.
"Bibi di utus permaisuri untuk mengurus segala keperluanku, sedangkan paman adalah utusan langsung dari kaisar untuk menjaga ruangan makan. Jadi, jika aku ingin makan, maka pendapat dan izin siapa yang kubutuhkan. Pendapat bibikah, atau pendapat paman-paman prajurit?" pertanyaan Mona membuat semua orang bungkam.
"Pendapat kamilah, karena kami di utus langsung oleh kaisar untuk menjaga ruang makan. Jadi, jika kau mau masuk ke ruang makan maka pasti melewati kami dulu" jawab para prajurit.
"Itu dia, jadi bolehkah kami masuk" tanyanya.
"Boleh, tapi pakai kembali perhiasanmu" perintah salah satu prajurit.
"Berat, kami tidak mau" jutek Mona.
"Kau harus memakai perhiasan agar tidak dianggap kau itu kehilangan suamimu" balas prajurit itu.
"Bibi, bibi tidak memiliki perhiasan indah di tubuh bibi. Bibi hanya memakai jepitan rambut yang sudah tua. Jadi, apakah bibi kehilangan suami bibi?" .
"Tidak, dia masih hidup" jawab pelayan permaisuri.
"Nah, dengar paman, perhiasan tidak menjamin kehidupan dari seseorang. Para pemilik rumah hiburan, kebanyakan dari mereka ada yang sudah kehilangan suaminya. Lalu, kenapa mereka memakai banyak perhiasan di tubuh mereka?" pertanyaan dan pernyataan Mona, lagi-lagi membuat semua orang terdiam.
"Kau benar, maka terserah padamu saja" prajurit mempersilahkan Mona masuk.
"Terima kasih" ucap Mona membuat semua orang terkesima karena ini pertama kali bagi mereka mendapatkan ucapan terima kasih hanya untuk hal sepele seperti ini.
'Aku mendapatkan teguran dan ilmu dalam waktu bersamaan dari seseorang yang baru ku temui dan usianya masih muda' batin semua orang kompak saat melihat Mona masuk ke ruang makan dengan santainya.
"Wah, buah-buahan, aku suka ini" senang Mona. Mona langsung memakan makanan tanpa menunggu orang lain.
"Kenapa kau tidak menunggu yang mulia kaisar makan dulu?" tanya adik kaisar Yu. Mona tidak memperdulikan ucapan dari adik kaisar Yu, dia terus saja makan dalam kediaman. Mereka yang merasa di cuekin oleh Mona juga tidak mempermasalahkan karena Mona memiliki sejuta alasan melakukannya. Setengah jam kemudian, akhirnya semua orang selesai makan.
"Siapa kaisarnya disini?" pertanyaan Mona membuat semua orang bingung.
"Tentu saja ayahanda" jawab Xian.
"Apa tugas utamanya sebagai seorang kaisar?" tanya Mona.
"Tentu saja tugasnya yaitu membangun kekaisarannya agar tetap aman, damai dan rakyatnya tentram" jawab adik kaisar.
"Aku salah satu dari rakyatnya, tugasnya adalah membuat aku senang bukan. Lalu, dari mana datangnya peraturan rakyatnya harus makan setelah kaisar mempersilahkan makan. Jika begitu, lalu kenapa setelah kaisar makan, masih banyak orang di luar sana yang masih juga belum makan. Kaisar makan tiga kali sehari, tapi belum tentu rakyatnya makan sehari sekali. Kenapa peraturan itu tidak seperti yang ditetapkan?" pertanyaan Mona membuat semua orang terdiam.
"Peraturan yang aku tahu bahwa saat seseorang makan, mereka tidak boleh berbicara. Aku belum pernah mendengar peraturan yang mengatakan anak harus menunggu ayahnya makan. Kaisar adalah pemimpin di suatu daerah, kaisar adalah ayah bagi seluruh rakyatnya. Jadi, dalam satu rumah, biasanya ayah lebih mementingkan anak-anaknya dari pada dirinya. Jadi, keseringan anak yang duluan makan dibandingkan ayahnya. Tapi, anak juga harus pengertian kepada ayahnya" cerita Mona.
"Ibunda permaisuri, apakah acar mangga ini anda yang buat?" tanyanya.
"Ya, lalu" jawab permaisuri Yu.
"Rasanya enak, aku ingin hanya masakan yang anda buat. Bisakah?" tanya Mona.
__ADS_1
"Tidak masalah" senyum permaisuri Yu.
"Semudah ini aku memintanya dan anda menyetujuinya".
"Tidak apa-apa, karena sejak aku hamil aku juga tidak mau makan makanan yang dibuat oleh para pelayan. Jadi, kau boleh memakan makanan yang aku buat, katakan saja kau mau masakan yang seperti apa?" tanya permaisuri Yu.
"Aku sangat menyukai beras merah, aku menyukai makanan asam, dan aku menyukai makanan pedas. Makanan yang tidak aku sukai yaitu kacang hitam, makanan yang manis dan lobak putih" jawaban Mona secara otomatis membuat semua orang menatap ke arah kaisar Yu karena kaisar Yu juga tidak menyukai dan menyukai makanan yang disebutkan oleh Mona. Kaisar Yu yang di pandang hanya menaikkan bahunya tanda dia juga bingung.
"Hanya itu?" tanya permaisuri.
"Ya".
"Baiklah tidak masalah" ucap permaisuri Yu.
"Anda mau kemana?" tanya Anchi.
"Kau boleh memanggilku jijie, karena ayahmu telah menyetujui kalau aku boleh tinggal disini selama tiga bulan dan diperlakukan layaknya putri dari kekaisaran Yu. Jadi, panggil saja jijie, jangan anda".
"Baik, jadi jijie mau kemana?" tanya Anchi ulang.
"Buat rumah pohon, aku menyukai pohon. Jadi, aku akan membuat rumah di pohon agar aku selalu bisa tinggal di sana tanpa memikirkan hujan akan turun".
"Kenapa, apakah kau tidak menyukai ruangan di dalam istana?" tanya kaisar Yu.
"Dimanapun aku tinggal, aku selalu menyukai dan membuat rumah pohon. Baik itu di kekaisaran milikku, atau di rumah suamiku".
"Kalau begitu, biarkan kami yang membuatkannya untukmu putri" tawar jenderal Kubo.
"Baik, aku pergi dulu" ucapnya sambil berlalu keluar.
"Eh, aku lupa, permasalahan yang terjadi di bagian desa yang begitu kekurangan cahaya matahari. Karena selalu turunnya hujan, membuat Desa mereka kebanjiran, dan bahan pangan mereka berkurang. Maka sebaiknya suruhlah mereka untuk membuat tempat penampungan air, atau suruh mereka untuk meluaskan sungainya. Karena daerah tanah itu adalah daerah tanah yang mudah longsor karena tanah berpasir, maka suruhlah mereka untuk menahan sampingnya dengan kayu-kayu atau dengan pasir yang telah di masukkan ke dalam karung-karung. Karena sungainya sedang di penuhi dengan air, maka itu tugas kalian untuk mengendalikan air hujannya" ucap Mona.
"Kami mengendalikan air, bagaimana bisa?" tanya Anchi.
"Bukankah, elemen kekuatan kekaisaran kalian adalah air?".
"Memang, tapi hanya para pria yang bisa menguasainya. Itupun di usia mereka mencapai lima belas tahun" jawab Anchi.
"Oh,,,Ups maaf" ucap Mona karena dia menggerakkan telunjuknya dari gelas milik Anchi ke wajah Anchi. Lalu, tiba-tiba air dari gelas Anchi naik mengenai wajah Anchi.
"Ah,,," terkejut Anchi.
"Dia bisa mengendalikan air" terkejut semua orang.
"Lupakan soal itu, jenderal Kubo?" panggil kaisar Yu.
"Ya, yang mulia".
"Kumpulkan semua orang, perintahkan dan siapkan rumah pohonnya dalam hari ini" perintah kaisar Yu.
"Baik, yang mulia" kompak semua prajurit yang mendengar langsung perintah kaisar mereka.
Para prajurit di sibukkan dengan menyiapkan bahan-bahan untuk rumah pohon Mona. Dua puluh prajurit di kerahkan untuk membuat rumah pohon itu, rumah pohon yang mereka buat luasnya sekitar dua meter. Hanya butuh waktu satu jam, akhirnya rumah pohon untuk Mona selesai di buat.
Sima yang melihat kalau rumah pohon untuk kakaknya telah selesai, dia langsung menghampiri kakaknya di kamar yang telah di siapkan untuknya.
"Jijie, rumah pohonmu sudah selesai, kau harus menutup matamu" senang Sima saat dia masuk ke dalam kamar Mona.
"Benarkah, sudah selesai?".
"Ya".
"Baiklah, naiklah kemari" Mona menepuk kasurnya.
"Untuk apa?" tanya Sima.
"Naik saja" pinta Mona, dan Sima langsung menurutinya.
"Kita ke arah mana?".
"Jijie, turunkan aku" pinta Sima.
"Terakhir kali sayang, izinkan jijie menikmati waktu tiga bulan dengan kalian" Tanpa Mona sadari kalau air matanya tumpah.
"Baiklah, jijie, jangan menangis. Aku hanya mengkhawatirkan kondisi jijie dan keponakanku" ucap Sima sambil memeluk leher Mona.
__ADS_1
"Tanganmu kemari, bukan ke leher kakak. Jadi, tuntun kakak, karena selama dalam kekaisaran Yu kakak akan tetap kuat. Jadi, jangan khawatirkan soal kami paman" ucap Mona sambil menaikkan tangan kedua adiknya dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan lainnya memegang pahanya Sima.
"Baiklah, mari pergi" semangat Sima.
"Jalan terus, Jijie" semangat Sima memberi arahan.
"Hai paman prajurit" sapa kompak Mona dan Sima saat mereka mendengar pintu kamar Mona dibuka.
"Hai, putri dan pangeran".
"Belok kiri, lalu jalan terus kedepan" ucap Sima memberi arahan kepada Mona.
"Siap bos".
Saat keduanya heboh memberi arahan dan balasan, semua orang yang menatap mereka begitu ceria juga ikutan ceria. Sima terus mengarahkan Mona sampai ke depan rumah pohonnya.
"Sima, kau sudah berumur, kenapa meminta gendong dari jijiemu" tegur permaisuri Yu.
"Santai ibunda, karena kami sama-sama sedang bersenang-senang" ucap Mona dan Sima kompak dengan menaikkan sebelah tangan kanan keduanya keatas sebagai ucapan menghentikan ucapan dari ibu mereka.
"Kalian".
"Sebenarnya apa yang terjadi?" bingung Mona.
"Kita tidak hanya kompak dalam berbicara jijie, karena kita juga kompak dalam mengangkat tangan" jawab Sima.
"Oh, benarkah?".
"Ya" balas Sima.
"Baiklah berapa lama lagi jijie boleh membuka mata?".
"Satu, dua, tiga" ucap Sima sambil membuka matanya.
"Wah, indah" senang Mona.
"Tentu saja akan indah, karena ayahanda yang merancangnya" semangat Sima.
"Benarkah ayahanda yang merancangnya?".
"Ya" balas yang lainnya.
"Oh, terima kasih" Mona mencium pipi kanan kaisar Yu di depan semua orang, membuat semua orang terkejut. Setelah itu, Mona dengan riangnya naik ke rumah pohonnya tanpa memperdulikan orang-orang yang dibawahnya. Karena Mona telah sibuk dengan rumah pohonnya, semua orang meninggalkan Mona disana.
Tujuh jam telah berlalu, sekarang telah menunjukkan jam delapan malam. Tapi, Mona belum juga turun dari rumah pohonnya.
"Apakah, jijiemu tidak makan Sima?" tanya kaisar Yu.
"Ti,,,," jawaban Sima terpotong karena mereka mendengar lantunan kecapi dimainkan pada saat mereka ingin makan. Suara kecapi itu begitu indah terdengar, membuat semua orang berusaha mencari dimana suara kecapi itu berasal.
"Itu" ucap Xian, saat dia melihat samar-samar kalau Monalah yang memainkan kecapinya, dia memainkan kecapi itu dengan begitu indah. Jari-jari tangannya menjentik tali senar kecapi dengan begitu gemulainya.
Setelah lima menitan Mona memainkan kecapinya, dia tiba-tiba saja tertidur dengan pulasnya membuat semua orang bingung.
"Bukankah, lagunya tadi adalah lagu pengantar tidur?" ucap salah satu pelayan permaisuri.
"Kau benar" balas lainnya.
"Apakah hanya dengan memainkan lagu pengantar tidur dulu, putri baru bisa tidur" gumam pelayan permaisuri.
"Mungkin saja begitu" balas lainnya.
"Permaisuri apakah saya harus membangunkan tuan putri?" tanya salah satu pelayan permaisuri.
"Tidak perlu, karena mungkin benar ucapan kalian kalau dia hanya akan tertidur jika telah mendengar lagu pengantar tidur. Mulai besok siapkan waktu makan malam lebih awal, karena mungkin saja dia akan selalu tidur pada jam segini" jawab permaisuri.
"Ibunda benar, bahwa jijie akan otomatis tidur pada jam delapan malam" ucap Sima.
"Kenapa tidak mengatakannya?" kesal permaisuri.
"Aku ingin menjawab pertanyaan dari ayah bahwa tidak perlu menunggunya jika sudah jam delapan malam. Cobalah ayah ingat-ingat kembali, pasti saat jam delapan juga jijie tertidur di ruang kerja ayah kemarin" ucap Sima.
"Mmmm, sepertinya kau benar soal itu" ucap kaisar Yu setelah dia berpikir sebentar.
"Pelayan, tolong ambilkan dua selimut tebal?" pinta permaisuri.
__ADS_1
"Untuk apa, kau meminta dua selimut tebal?" tanya kaisar Yu.
"Aku yakin kau akan menghabiskan setengah waktu malammu di ruang kerjamu. Jadi, aku akan tidur bersama putriku yang sedang hamil karena aku tidak bisa tenang jika dia sendirian" ucap permaisuri Yu. Ucapan permaisuri Yu juga di dengar oleh seorang pria yang sedang menguping pembicaraan mereka.