
Ekspresi wajah tidak percaya muncul di wajah kaisar Yu saat mendengar dari istrinya tentang apa yang dibisikkan oleh anak perempuannya, hingga membuat dirinya lari ketakutan. Padahal bisikannya hanyalah kata-kata yang sama sekali tidak akan membuat kemarahan istrinya bangkit, namun malah dirinya yang sedikit kesal, karena dirinya lari ketakutan untuk menghindari istrinya.
"Jadi, hanya itu saja yang dikatakan oleh Mona putriku?" kaisar Yu menatap ke arah permaisuri Yu yang telah selesai menceritakan apa yang dibisikkan oleh putri mereka.
"Ya, hanya itu" permaisuri Yu begitu santai membalas ucapan dari suaminya.
Kaisar Yu hanya terduduk sambil menatap lurus ke arah kolam yang ada di paviliun itu. Namun, lama-kelamaan senyuman muncul di wajah kaisar Yu, karena dia terus membayangkan betapa jahilnya putri pertamanya.
Semua kenangan tentang kehidupan sehari-hari Mona selama ini, terlintas di pikiran kaisar Yu. Baik ketika kecil Mona maupun ketika dia beranjak dewasa, semua kenangan itu muncul di pikirannya.
Senyuman kaisar Yu itu tidak luput dari penglihatan semua orang yang ada disana "Ada apa dengan ayahanda?" Xian bertanya karena dia bingung dengan kaisar Yu yang tadinya memberikan tatapan datar berubah menjadi tatapan yang hangat dengan di iringi senyuman. Jadi, hal itu membuat semua orang bingung.
"Bukan apa-apa" kaisar Yu menjawab singkat, namun senyuman muncul kembali di bibirnya. Karena kaisar Yu membayangkan saat Mona yang tiba-tiba muncul dan mengubah seluruh isi ruangan kerjanya.
"Ahhh,,, kenapa ayahanda bisa lupa?" kaisar Yu langsung bangun setelah dia mengingat kembali ingatan tentang Mona yang mengubah ruangan kerjanya.
"Ada apa ayahanda?" kompak keempat anaknya kaisar Yu kecuali Mayumi.
"Ayahanda ingin membuat hadiah khusus untuk hadiah kelahiran jijie kalian. Meskipun dia telah berkata bahwa tidak perlu membuat acara untuk merayakan kelahiran kalian bertiga, tapi ayahanda ingin membuat hadiah khusus untuk dirinya".
"Hadiah khusus apa?" semua orang menjadi penasaran.
"Rahasia dong" kaisar Yu menggunakan kekuatan peringan tubuhnya, sehingga dirinya menghilang dengan cepat dari depan semua orang.
"Kemana ayahanda pergi?" gumam Anshi.
"Entahlah" kompak yang lainnya.
Kaisar Yu pergi ke ruangan kerjanya, dia melanjutkan untuk membuat hadiah khusus untuk putrinya yang selama ini tidak mendapatkan perhatian dan hadiah khusus sebagai putrinya, bukannya sebagai putri kekaisaran tetangga.
Di saat kaisar Yu sibuk melanjutkan pembuatan hadiahnya, Mona dan Ming Fan justru sedang tertawa di atas dahan pohon yang ada di kekaisaran kegelapan. Keduanya tertawa karena anggota keluarga kekaisaran kegelapan lainnya telah dibuat babak belur karena latihan yang diberikan oleh salah satu anggota utama black rose yang telah dikirim oleh Mona untuk melatih para prajurit kekaisaran kegelapan.
"Latihan apa yang telah diberikan oleh anggotamu pada keluargaku?" Ming Fan bertanya sambil menahan tawanya dengan matanya terus memandang ke arah keluarganya yang terus saja di suruh membajak lumpur dengan menggunakan kaki mereka. Layaknya mereka seperti sedang membajak sawah.
"Bukankah menurutmu latihan yang diberikan itu sangat keren?" Mona menjawab pertanyaan Ming Fan dengan menggunakan pertanyaan lainnya, karena latihan itu adalah latihan yang diberikan langsung olehnya kepada seluruh anak buahnya. Jadi, dia ingin mendengar langsung tentang apa penilaian suaminya.
"Apanya yang keren, mereka semua justru terlihat sangat kelelahan, dan sepertinya tidak ada ilmu apapun yang terlihat berubah dari tubuh mereka". Ming Fan tidak menyadari bahwa jawabannya telah membuat sepasang mata menatap penuh arti ke dirinya.
"Tidakkah kau ingin mengubah jawabanmu, suamiku?".
__ADS_1
"Tidak, dari tadi kita memperhatikan disini, tapi aku tidak menemukan ada perubahan apapun di tubuh mereka".
"Jadi, kau meragukan metode latihan yang diberikan oleh anggota kekaisaran milik kakakku?".
"Bukan begitu, hanya saja aku sedang bingung"
"Mari temui mereka" Mona mengajak Ming Fan untuk turun kebawah.
"Mari".
Mona dan Ming Fan turun dari pohon. Saat keduanya turun dari pohon, beberapa prajurit yang melihat keduanya ingin membuka mulut untuk memberi hormat. Tapi, diisyaratkan oleh Mona untuk mereka diam saja, jadi semua prajurit dan pelayan yang mereka lewati hanya membungkukkan tubuh mereka ke arah keduanya sebagai tanda hormat mereka.
Keduanya berjalan ke arah keluarga mereka yang semuanya masih di dalam kolam lumpur, mereka semua terduduk di pinggir kolam dengan kaki mereka masih di dalam lumpur, seperti sedang duduk di atangan sawah. Keduanya datang dari belakang mengejutkan semua orang.
"Apa kabar sayang?" Mona bertanya sambil berada di belakang keponakannya.
"Bibi, akhirnya bibi kembali" Zuwie membalikkan tubuhnya untuk memeluk Mona.
"Berapa lama kalian sudah di dalam lumpur?".
"Sudah sangat lama bibi" Zuwie mengatakannya sambil sedikit nada bermanja-manja, agar Mona mau membantu dirinya.
"Baru sekitar dua jam menurut ajaran waktu yang anda ajarkan pada kami".
"Baru dua jam, lalu kenapa kalian sudah lemah begini".
"Itu sudah sangat lama, bibi" rengek Zuwie.
"Tidakkah kalian bertanya-tanya apa untung dari kalian menginjak-injak lumpur ini?" Mona bertanya sambil memberikan senyumannya.
"Tentu saja kami penasaran".
Mona mengambil dua pedang, dia berjalan ke dalam lumpur, Mona menyerahkan salah satu pedang ke arah anak buahnya.
"Sudah sangat lama, putriku" senyum pria yang kini memegang pedang dengan menyiapkan kuda-kuda perlawanan.
Mona berjalan ke dalam lumpur dengan begitu santai, namun langkahnya lebih cepat dari langkah keluarga kekaisaran tadi.
Ting,,,,,
__ADS_1
Ting,,,,,
Cheling,,,,
Suara aduan dua pedang terdengar di kekaisaran kegelapan. Dua orang yang berbeda usia itu saling mendorong dan menghindar dari serangan pedang milik lawannya. Kecepatan keduanya saat menyerang di dalam lumpur, membuat semua orang yang menatap langsung pertandingan itu membuat mereka sangat terpukau.
Ting,,,,
Ting,,,
Ting,,,
"Rasa berat yang dirasakan saat kaki kalian berada dalam lumpur adalah rasa berat saat kalian menghadapi ujian atau tantangan, tidak semuanya akan mulus seperti yang kalian inginkan. Adakalanya dimana kalian akan menghadapi situasi dimana anggota kaki kalian terluka, di rantai, di ikat atau sebagainya. Jadi, kalian akan berlatih untuk bisa mencari jalan lain, jangan hanya berharap dari tumpuan kaki kalian. Entah kalian memperhatikannya atau tidak, bahwa diriku hanya bergerak lincah di ukuran lingkaran kecil saja" Senyum Mona ke arah lawannya.
"Oh tidak,,,," terkejut pria di depannya, lalu dia membuat jaraknya dan jarak Mona semakin jauh.
"Kenapa kakek pelatih mundur jauh dari bibi?" bingung Zuwie.
"Karena bibimu menyiapkan perangkap untukku dan aku hampir ahh,,,,"
"Saat paman mengalihkan pandangan paman, maka belum tentu bahwa kepalamu masih di tempatnya" Mona mengatakannya sambil meletakkan pedangnya di leher lawannya yang terkecoh karena beberapa hal.
"Aku tidak menyiapkan perangkap apapun untukmu, paman. Putrimu ini hanya menggunakan lidahnya untuk mengeluarkan beberapa kata dan kalian tertipu. Seandainya saja paman terus mendesakku, maka keadaan pedang akan berbalik. Tapi, sayangnya, saat aku memutar balikkan sedikit kata-kata, beberapa orang langsung mempercayainya. Untuk hari ini sudah cukup menurutku, tapi jika menurut paman masih kurang, maka sambunglah" sambung Mona sambil menurunkan pedangnya.
"Perkataan anda adalah perintah bagiku, putriku. Meskipun berulang kali kau selalu mengatakan bahwa kau tidak ingin menjadi pemimpin suatu kekaisaran. Tapi, tetap saja kau tetaplah keturunan darah biru"
"Tidak birupun" Mona melukai telapak tangannya sedikit dengan menggunakan ujung pedang miliknya.
"Aduh, maksudnya darah biru itu adalah keturunan bangsawan, bukannya darahmu biru" Ming Zao menimpali ucapan Mona.
"Menurut pandangan dari sisi adikmu ini, adikmu ini tidaklah salah. Karena paman bilang keturunan darah biru bukannya keturunan bangsawan. Jadi, dimana salahnya adikmu ini, salam ayahanda, ibunda, nenek dan semuanya" Mona membungkukkan tubuhnya ke arah semua orang, lalu dia pergi di ikuti Ming Fan setelah para orang tua menganggukkan kepalanya.
"Hai, kalian mau kemana?" pertanyaan Zao hanya di beri senyuman oleh Mona dan Ming Fan. Lalu, keduanya pergi semakin jauh dari yang lainnya.
"Sudahlah jangan perdulikan adik-adikmu itu, biarkan saja mereka, mereka telah pulang setelah beberapa waktu. Jadi, sebaiknya kita membersihkan diri saja, dari pada mengganggu mereka" Ucapan permaisuri kegelapan di setujui oleh semua orang.
"Untung mereka adikku" ucap Zao.
'Dasar, padahal dia yang kesal karena tidak bisa mengendalikan keduanya, tapi seolah-olah mereka yang dikendalikan olehnya. Entah siapa yang mengendalikan dan dikendalikan' batin kaisar dan neneknya Ming Fan kompak.
__ADS_1