
Ketika di dalam aula utama kekaisaran Wang sedang terjadi kekesalan yang memuncak pada Wang Yu Yan kepada Yuan. Dia lebih kesal lagi saat dia kembali ke kamar Run, Run dan Yuan sudah tidak ada. Jadi, dia kembali lagi ke aula utama.
"Aku akan memberinya pelajaran saat dia pulang nanti" ujar Yu Yan kesal.
"Tenanglah sayang, jangan sampai membuat adik mu pergi lagi" ujar permaisuri Wang berusaha menenangkan amarah putrinya.
"Ahhhh" pasrah Yu Yan saat mendengar ucapan ibunya.
Sedangkan Yuan, Wang Run, dan enam orang lainnya saat ini sedang bermain-main di pasar. Mereka bersenang-senang di sana tanpa beban dan dengan sedikit menyamar agar tidak ada yang mengenali mereka. Di saat mereka semua sedang bersenang-senang mereka mendengar suara yang menggema di langit.
"Kalian telah membuat aku semakin murka. Jika kau mendengar suara ku, maka dengar kan baik-baik bahwa aku pasti akan mengejar mu dan membunuh mu dengan tangan ku sendiri. Karena beraninya kau membuat aku tidak menyelesaikan ucapan ku ketika di kekaisaran wang tadi. Siapapun kau, maka akan ku pastikan bahwa kau akan aku temukan karena mulai dari sekarang, aku menyatakan bahwa aku akan berperang dengan kalian dan kalian harus tau bahwa salah satu dari anak kesayangan kalian semua, telah aku tanamkan ulat beracun pengendali hati. Jadi, jika kalian berusaha mengeluarkan ulat itu dari tubuh anak kelian, maka anak-anak kalian itu akan terkena racunnya dan mereka akan tiada. Jadi, aku kaisar dari kekaisaran siang akan berperang mengambil daerah kalian karena aku akan menguasai seluruh benua di dunia ini" ujar suara kaisar siang yang menggema di seluruh daerah membuat yang lainnya gemetar ketakutan.
"Kau pikir sangat mudah untuk menguasai seluruh benua ini. Aku tidak tau dengan yang lainnya tapi aku kaisar iblis tidak akan pernah mengizinkan seseorang mengambil kekaisaran milik ku karena ini adalah rumah keluarga ku. Jadi, kau tidak akan pernah bisa merebutnya atau mengambilnya selama aku yang menjadi pemimpinnya. Kau harus ingat itu kaisar siang, dan apakah kau berpikir bahwa hanya kau yang bisa menggunakan kekuatan untuk berbicara ke seluruh daerah. Kau waktu itu belum keluar, tapi rakyat mu pasti mendengarnya bahwa sudah ada tiga suara yang bisa di dengar langsung oleh orang banyak seperti saat ini. Kami bertiga juga melakukannya dengan sedikit aksi yang tidak akan di lupakan oleh semua orang. Jadi, dari sini saja kau sudah kalah apalagi saat berperang" ujar suara lainnya yang menggema di seluruh daerah, yaitu suara kaisar iblis.
"Kau meremehkan diriku kaisar iblis. Kau akan tau bahwa aku bisa menguasai daerah mu atau tidak" suara kaisar siang.
"Aku akan menunggu saat itu tiba karena aku sangat yakin bahwa kau pasti belum meletakkan ulat mu itu pada putri ku bukan. Jika kau mengatakan bahwa kau telah meletakkan pada putra-putra ku, itu tidak mungkin karena mereka selalu di samping ku" suara kaisar iblis.
"Kau memang benar bahwa aku belum meletakkannya pada keturunan mu. Tapi, percayalah bahwa aku pasti akan meletakkan nya" suara kaisar siang.
"Aku akan menunggu karena aku yakin bahwa kau itu sang,,,," suara kaisar iblis terpotong karena suara ku.
"Sangat bodoh dan lemah" suara milik ku menggema dengan perubahan langit yang berwarna merah karena aku memakai kekuatan nenek buyut ku yang dia berikan ketika aku berada di alam mimpi milik kakek ku. Perubahan pada langit itu membuat semua orang terkejut.
"Ini,,," ujar semua orang kompak sambil melihat langit.
"Ahhahaha sepertinya kau datang bocah" tawa kaisar iblis menggema.
"Sepertinya kau sudah pikun kaisar tua" suara ku menggema.
"Kenapa?" tanya nya.
"Karena seingat diri ku bahwa pada saat itu langit berwarna keemasan bukan. Tapi, sekarang langit berwarna kemerahan. Bisa di katakan bahwa kami satu perguruan tapi bukan bocah yang sama" jawab ku menggema.
"Ahhhh benar juga" suaranya menggema.
"Berani sekali kalian mengabaikan diri ku dan tadi apa yang kau katakan bahwa aku bodoh dan lemah. Katakan pada ku siapa kau dan mari bertarung untuk melihat siapa yang lebih hebat" ujar kaisar siang.
"Biarkan waktu yang mempertemukan kita karena saat ini aku sedang bermain-main dengan teman-teman ku, maka sampai jumpa" ujar ku lalu cahaya merah itu menyapu seluruh daratan membuat semua orang menutup matanya karena merasa silau. Semua orang saling memandang karena hal yang baru saja terjadi.
****
Di kekaisaran bintang, para sesepuh yang juga mendengar ucapan ketiga orang yang menggema di udara memasang berbagai macam ekspresi.
'Apakah ingatan mu sudah mulai kembali cucu ku. Aku berharap dimanapun kau berada kau akan selalu baik-baik saja. Selama ini aku telah menguatkan diri ku demi diri mu cucu ku. Aku berharap ramalan tentang usia mu yang sepuluh tahun nanti tidak akan terjadu' batin Zan sambil menutup matanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya sesepuh Mao.
"Kita hanya bisa berharap kalau semuanya akan baik-baik saja" ujar sesepuh Ying.
"Tidak bisa hanya berharap, kita semua harus bisa membuatnya menjadi nyata" ujar sesepuh Zan.
"Apa maksud mu?" tanya yang lainnya.
"Bagaimana jika aku katakan bahwa tidak akan lama lagi dia memang akan menyerang kita dan yang menjadi targetnya adalah cucu pertama ku yang di ramalkan akan menjadi yang paling kuat" jawab seepuh Zan.
"Ini,,,," ujar mereka terhenti.
"Aku mendapat sedikit penglihatan dimana cucu pertama ku hampir akan kehilangan nyawanya saat dia berumur sepuluh tahun dan beberapa hari lagi bukankah mereka akan berusia sepuluh tahun. Jadi, hal itulah yang menjadi ketakutan ku selama ini" ujar sesepuh Zan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya sesepuh Muran.
"Aku akan melindungi mereka semua dengan kekuatan ku saat perayaan kelahiran mereka di kekaisaran ini tujuh belas hari lagi" jawab sesepuh Zan.
"Hanya itu?" tanya lainnya.
"Hanya itu yang bisa kita lakukan" jawabnya.
"Baiklah" jawab lainnya.
'Aku berharap bahwa diri mu semakin kuat bukan semakin lemah dan aku juga berharap bahwa ingatan mu telah kembali. Aku menunggu kejutan yang kau berikan dan juga aku merindukan kenakalan mu cucu ku' batin sesepuh Zan.
****
__ADS_1
Di kekaisaran siang semua barang di kamar pemimpin mereka menjadi hancur berantakan.
"Siapa sebenarnya orang ini, berani sekali dia melawan dan menantang diri ku ahhhhh" ujar kaisar siang sambil menjatuhkan barang-barang karena efek untuk melampiaskan kemarahannya..
"Tenanglah yang mulia. Bersabarlah yang mulia" ujar menterinya.
"Kenapa kau menyuruh diriku bersabar di saat mereka semua meremehkan diriku?" tanya nya kesal.
"Yang mulia, jika tidak salah diriku bahwa tujuh belas hari lagi adalah hari kelahiran ke tiga penerus yang lahir di waktu bersamaan. Oleh karena itu, hari perayaan kelahiran mereka alan di adakan di kekaisaran Bintang, dan tentunya semua kekaisaran akan menghadiri nya. Jadi, pada saat itulah anda akan datang ke sana dan melakukan apa yang ingin anda lakukan" jawab menterinya.
"Ohhh,,, apakah maksudmu yaitu Anchi, Yuan dan Xian?" tanya nya.
"Ya yang mulia" jawabnya.
"Bagus,,, sungguh ide yang bagus. Tujuh belas hari lagi ya hahahah" tawanya kegirangan.
" Yang mulia, apakah saya sudah bisa membereskan kamar anda?" tanya menterinya.
"Tentu saja bisa" jawabnya.
*****
"Menganggu saja" ujar ku yang sedang berada di pasar.
"Bukankah itu juga ulah mu yang membuat dia hilang tiba-tiba saat sedang berbicara di tengah-tengah aula. Hal itulah yang membuat dirinya semarah ini?" tanya Dera.
"Memang aku yang mengantar dia kembali ke kelaisarannya tapi aku kan tidak menyuruh dirinya untuk marah. Jadi, bukan salah ku dong kalau dia marah" jawab ku dengan santai sambil menyuapi Run tanghulu.
"Tapi, tetap saja bahwa kaulah yang membuat dia marah. Jadi, itu salah mu" ujar Dera.
"Tidak" ujar ku singkat.
"Iya" balasnya ketus.
"Tidak,,," teriak ku pelan agar tidak menyakiti telinga adik ku dengan memelototkan mata ku ke arah dirinya .
"Iya,,," balasnya tidak mau kalah.
"Tidak".
"Ke rumah Fang Mei" jawab ku sambil berlalu pergi.
"Sekarang kah?" tanya mereka sambil melihat diri ku.
"Besok,,,,. Yaiyalah sekarang, masak nanya lagi sih kalau sudah tau" jawab ku.
"Mana lah kami tau. Memangnya kami ini peramal apa" ujar mereka dengan nada ketus.
"Bodo,,,,," ujar ku cuek.
Mereka semua berjalan ke arah daerah yang menjadi tempat tinggal keluarganya Fang Mei. Ketika mereka di jalan mereka bisa mendengar ucapan mereka yang termakan dengan ucapan kaisar siang. Para rakyat di buat takut karena hanya dengan mendengar ucapan itu saja. Mereka berdelapan juga melewati daerah yang di juluki sebagai desa kelicikan.
"Aduh,,,,," ujar seorang anak yang berusia sekitar tujuh tahun menabrakkan dirinya ke arah tubuh Yayan, lalu dia menjatuhkan dirinya.
"Aduh,,, punggung ku sakit sekali" ujar nya sambil seperti sengaja menaikkan volume berbicaranya agar di dengar semua orang.
"Nak, apakah kau baik-baik saja?" tanya seseorang pria.
"Nak, apakah mereka yang melakukannya?" tanya seseorang wanita yang juga menghampiri anak itu.
"Dia yang menabrak ku ayah, ibu" jawab nya sambil menunjuk ke arah Yayan.
"Apa,,, kau lah yang menabrak diri ku dan berpura-pura jatuh ke tanah" ujar Yayan
"Mana ada, kau lah yang menabrak ku sampai aku terjatuh" ujar anak itu sambil menunjuk ke arah Yayan.
"Kau ja,,,,," ujar Yayan terhenti karena ucapan ku.
"Yayan,,,,," tegur ku sambil menatap dirinya sehingga membuat dia terdiam.
"Apakah kalian tidak punya mata. Kenapa kalian menabrak anak ku sampai punggungnya sakit begitu?" tanya wanita itu.
"Sayangnya kami memang tidak memiliki mata untuk mereka yang suka menipu dan berbohong" jawab ku santai.
__ADS_1
"Kalian lihatlah wahai warga, mentang-mentang mereka adalah orang yang lebih besar dari putraku. Mereka malah tidak berperasaan" teriak pria itu.
"Putra atau putri" ujar ku sambil memicingkan mata ku ke arah nya.
"Kau,,," teriak ketiganya kompak.
"Jika memang kami yang menabrak anakmu seharusnya anak mu sudah terpental sangat jauh. seperti ini" ujar ku sambil membuat anak itu berdiri lalu aku menabrakkan tubuh ku ke arah anak itu. Membuat anak itu terdorong lima meter karena kekuatan ku.
"Anak ku" teriak mereka berdua bersamaan.
"Seharusnya seperti itu lah saat kami menabraknya dengan tubuh kami" ujar ku.
"Ibu sakit,,,," teriaknya.
"Kalian salah mencari lawan. Jadi, jangan salahkan aku karena melakukan hal itu karena kalian sendiri yang memintanya. Jadi, aku hanya menurutinya saja" ujar ku.
"Sebagai bayaran karena luka-luka anak kalian dan berikan ini untuk lainnya" sambung ku sambil menyerahkan empat kantung koin yang seratus keping emas setiap kantungnya kepada mereka.
"Ini" ujar mereka bertiga terkejut saat mereka membuka isinya.
"Mari pergi" perintah ku.
"Terima kasih sungguh terima kasih" teriak mereka bertiga.
"Sama-sama" balas kami semua.
"Wu,,,au,,,au,,,a,,, a,,, a" ujar riang Run di gendongan ku.
"Sepertinya kau sangat senang sayang" ujar ku kepadanya.
"Mmmmm" senyumnya sambil bergumam.
Kami semua melanjutkan perjalanan ke rumah Fang Mei. Setelah kira-kira setengah jam kami berjalan kami akhirnya sampai di halaman rumah paman Fang. Baru saja kami masuk, kami di sambut oleh anak berusia mungkin lima tahun.
"Maaf jijie ingin bertemu dengan siapa?" tanya nya.
"Dengan Ayah mu sayang" jawab ku dengan nada lembut.
" Feng,,,, apa kabar mu sayang?" tanya Fang Mei sambil memeluk pria itu.
"Kau siapa?" tanya nya.
"Fang Mei,,,, itukah kau sayang?" tanya paman Fan saat dia melihat kami.
"Ya" jawab nya.
"Tuan putri,,,,," ujar nenek dan kakek sambil memberikan hormat kepada ku.
"Bangunlah kakek dan nenek, aku tidak suka hal yang berlebihan" ujar ku.
"Baiklah nak' jawab mereka sambil bangun.
"Bagaimana kabarmu hampir lima tahun ini sayang?" tanya nenek sambil memeluk Mei.
"Sangat baik karena di jaga oleh orang yang tepat nenek" jawabnya.
"Lalu bagaimana kabar mu sayang?" tanya nenek sambil menatap diri ku.
"Baik, lalu bagaimana kabar kalian nenek?" tanya ku kepada mereka.
"Kami baik nak, kami hanya merindukan kalian dan untungnya kalian datang membuat pikiran kami yang merindukan kalian menjadi pulih" ujar kakek..
"Ohh maaf, tapi kami tidak bisa berlama-lama kakek, nenek. Karena kami harus langsung pulang ke istana karena adik kecil ku ini sedang kurang enak badan nenek" ujar ku.
"Ahh benar" ujar bibi yang baru saja memegang dahinya Run.
"Baiklah nak tunggu sebentar ya" ujar paman Fan sambil masuk ke dalam. Lalu dia keluar dengan membawa dua kantung koin.
"Nak ini adalah koin untuk kalian berdua" ujar paman dengan memberikan koin dengan jumlah lima puluh koin emas setiap kantungnya.
"Baiklah,,, Fang Mei sebaiknya diri mu disini saja bersama keluarga mu untuk melepas kerinduan kalian. Kapan pun kau mau kau bisa datang ke istana untuk menemui ku karena aku tidak menghalangi mu untuk datang" ujar diriku kepadanya.
"Baiklah" jawabnya.
__ADS_1
"Baik aku pergi dulu" ujar ku sambil mengucap kan mantraku lalu muncul di dalam kamar kami. Saat aku ingin membawa Run ke kamarnya aku mendengar teriakan seseorang saat di tengah perjalanan.
"Wang Yuan,,, akhirnya kau kembali juga hah" teriak seseorang wanita membuat bulu kuduk ku naik.