The Switched Daughter

The Switched Daughter
Rumah pohon dan taman


__ADS_3

Dera masih memegangi jari-jari tangan kaisar siang, dia meremas jari-jari kaisar siang hingga hampir sampai kebelakang, hampir menyentuh tangan kaisar siang.


"Siapa yang menyentuh calon kakak iparmu?" tanya kaisar siang.


"Putri Ziwiera dari kekaisaran iblis, adalah calon kakak iparku" ucap Dera.


"Ziwiera adalah calon kakak iparmu, siapa kau sebenarnya?" tanya kaisar siang.


"Kim Nora dari kekaisaran bulan" ucap suara Mona yang menggema di kekaisaran iblis.


"Kim Nora, kekaisaran bulan?" bingung kaisar siang.


"Ya, kami adalah temannya putri Ziwiera yaitu keluarga ratu dari kekaisaran bulan. Ziwiera adalah calon permaisuri dari kakak laki-laki kami berdua. Jika kau bermimpi ingin memilikinya, maka hal seperti ini akan terjadi lagi padamu. Jangan pernah meremehkan dunia luar, karena belum tentu kau yang paling hebat di seluruh benua ini" ucap Dera.


"Aku akan membalas kalian" kesal suara kaisar siang yang sudah menghilang dari depan Dera saat Dera lengah merenggangkan sedikit genggaman tangannya dari tangan kaisar siang.


"Kami menunggunya" balas Dera.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Dera sambil menatap orang-orang dari kekaisaran iblis.


"Kami tidak apa-apa" jawab mereka semua kompak.


"Tidak apa-apakah begini?" ucap Dera sambil meremas bagian tangan kaisar iblis yang terluka.


"Argh,,," teriak kaisar iblis.


"Kau bilang, kau baik-baik saja" ucap Dera.


Wu****issssss,,, angin berhembus di ruangan kaisar iblis. Lalu, duduklah dua orang wanita di kursi kekaisaran milik kaisar iblis.


"Apa kabarmu kaisar iblis?".


"Ka,,,kau,,," gagap kaisar iblis.


"Apakah kau ingin dikalahkan oleh kaisar siang?" Mona membuat orang-orang bingung karena pertanyaannya.


"Apa maksudmu?" tanya putra pertama kaisar iblis.


"Aku adalah ratu dari kekaisaran bulan, aku ingin kau berada di bawah kekuasaanku dan kekaisaranku, kaisar iblis. Aku akan menjamin kehidupan rakyatmu".


"Kenapa kami harus menuruti ucapannya?" tanya menteri Kaisar iblis.


"Karena,,,," Mona menjentikkan jari kanannya.


"Argh,,,uhuk,,,uhuk,,,uhuk" batuk darah kaisar iblis setelah jentikan jari Mona.


"Yang mulia,," terkejut semua orang saat kaisar iblis memuntahkan darah dari mulutnya.


"Aku bisa melakukan hal yang lebih parah dari ini kepada kaisar kalian" Mona mengatakan hal itu sambil bermain-main dengan Zuwie.


"Tapi, bagaimana bisa kau meminta dengan mudahnya" kesal kepala jenderal kaisar iblis.


"Baik, aku akan menuruti ucapanku, kau boleh mengambil semua yang kau inginkan selama kau tidak melukai keluargaku. Karena ini pertama kalinya aku tidak berdaya hanya dengan jentikan jari" senyum kecut kaisar iblis.


"Bagus, tapi aku tidak tertarik dengan tempat duduk ini" Mona membuat semua orang bingung.


"Jadi?" kaisar iblis bingung.


"Aku hanya ingin kalian menyebabkan kehebohan dengan menyebarkan berita kalau ratu kekaisaran bulan telah mengambil alih kekaisaran kalian. Sebarkan berita kalau keluarga yang mulia kaisar kalian menjadi budakku. Namun, yang memimpinnya tetaplah dirimu, kaisar iblis. Aku melakukan ini karena aku hanya ingin memancing dan menarik perhatian dari musuh utamaku" cerita Mona membuat semua berekspresi aneh.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu ratu kekaisaran bulan?" tanya permaisuri kaisar iblis tiba-tiba, membuat semua orang menatap ke arahnya.


"Silahkan permaisuri" Mona mempersilahkan.


"Apakah kau memiliki hubungan dengan sesepuh Zan?" tanya permaisuri kaisar iblis.


"Uhuk,,,,uhuk,,,uhuk" batuk Dera dan Mona kompak.


"Kenapa anda bertanya begitu?" tanya Dera.


"Karena dahulu, aku pernah berhubungan baik dengan sesepuh Ying dan sesepuh Zan" jawab permaisuri kaisar iblis.

__ADS_1


"Berhubungan baik?" bingung kaisar iblis. Sedangkan Mona, berusaha menutupi ekspresi terkejut dari wajahnya dengan menutupnya dengan kipas yang dia pegang.


"Ya, hubungan kami adalah hubungan antara guru dan muridnya" jawab permaisuri.


"Lalu, kenapa anda menanyakan hal itu padaku?" Mona berusaha menampilkan kalau dirinya baik-baik saja dengan pertanyaan permaisuri kaisar iblis.


"Cara berbicaramu dan juga tatapan matamu sangat mirip dengan sesepuh Zan. Tapi, sifatmu sedikit mirip dengan sesepuh Ying. Oleh karena itu aku bertanya ada hubungan apa antara dirimu dengan mereka?" jawab permaisuri kaisar iblis.


"Hubungan kakek dan cucu" jawab jujur Mona, tapi tidak ada yang bereaksi percaya.


"Jangan bercanda" celetuk kaisar iblis, diikuti anggukan kepala oleh lainnya.


"Bisakah kalian menjawab pertanyaan dariku?".


"Tidak masalah emm, kami harus memanggilmu apa?" tanya kaisar iblis.


"Kim Mona atau Queen, terserah kalian yang mana yang ingin kalian gunakan untuk memanggilku".


"Baiklah,kami akan memanggilmu Queen" kompak semua orang.


"Tidak masalah, terserah kalian saja. Aku harus pergi dulu karena ini sudah hampir mulai malam" Mona bangun dari kursi kekaisaran milik kaisar iblis.


"Secepat itukah?" cemberut Ziwiera.


"Aku harus kembali, Ziwiera. Jangan lupakan tentang apa yang aku katakan tadi kaisar iblis".


"Tidak masalah, itu mudah" jawab kaisar iblis.


Mona, Dera dan Zuwie menghilang dari kekaisaran iblis ke kekaisaran bulan. Mona mengantar Dera terlebih dahulu ke kekaisaran bulan. Lalu, dia kembali langsung ke kamarnya dan Fan di kekaisaran kegelapan. Disana Mona bisa merasakan bahwa favilium milik Fan tidak terlalu bising seperti favilium milik Ying Wie. Mona dan Zuwie sama-sama langsung terbaring di atas kasur milik Fan.


"Bibi, bolehkah aku tidur disini?" tanya Zuwie sambil memainkan rambut Mona.


"Tentu saja boleh sayang".


"Paman, tidak akan marahkan?".


"Tidak akan, jika pamanmu marah, maka bibilah yang akan membelamu. Jadi, selamat tidur".


"Selamat tidur juga bibi". Mona dan Zuwie sama-sama memasuki alam mimpi mereka. Berbeda dengan mereka yang berada di luar favilium Fan. Mereka disibukkan dengan aktivitas masing-masing.


"Sepertinya kau mengubah segalanya hanya untuk dirinya ya?" tanya kaisar malam.


"Apakah ada masalah?" tanya Fan yang masih fokus dengan beberapa rancangannya yang dibantu oleh prajuritnya.


"Untukku tidak masalah, tapi memangnya kau tahu apa kesukaannya. Apakah dia akan menyukai karyamu ini?" tanya kaisar malam.


"Jangan menjatuhkan semangat adikmu begitu Zao" permaisuri kaisar kegelapan memperingati putra pertamanya dengan memberikan tatapan tajam.


"Kenapa ibu menatapku dengan begitu mengerikan membuat aku takut?" canda kaisar malam.


Plak,,,,,


"Bocah, dimana sopan santunmu kepada ibumu?" marah kaisar kegelapan sambil memukul pelan kepala kaisar malam.


"Aduh,,,".


"Kau menganggu saja, sebaiknya jika tidak bisa membantu, maka lebih baik pergi saja sana" usir Fan.


"Kau mengusirku dari sini" kesal kaisar malam.


"Ya, maka pergilah".


"Kau lihat saja, aku ingin lihat bagaimana penilaian istrimu terhadap karyamu ini. Bagaimana jika kita bertaruh" tantang kaisar malam.


"Bertaruh tentang apa?" bingung semua orang.


"Mari bertaruh, jika istrinya sangat menyukai apa yang dia buat saat ini, maka aku akan memberikan apa yang dia minta. Tapi, jika sebaliknya, maka dia harus menuruti apa yang aku minta. Bagaimana Fan?" senyum kaisar malam menatap Fan yang sedang menaikkan alisnya.


"Baiklah, tidak masalah bagiku" jawab Ming Fan yakin.


"Ini pasti akan seru" ucap Ying Wie.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya permaisuri malam.


"Aku yakin kakak kedua menang, entah apa yang akan dia minta pada kakak pertama" jawab Ying Wie yakin.


"Kenapa kau bisa semakin itu, nak?" tanya kaisar kegelapan.


"Aku telah beberapa waktu ini selalu bersamanya. Jadi, aku tahu sedikit sifatnya itu" jawab Ying Wie.


"Sifat?" bingung semua orang menatap ke arah Ying Wie.


"Ya, dia sangat menyukai pohon dan taman yang indah. Aku yakin rumah pohon yang dibuat oleh kakak kedua di samping taman yang indah, pasti akan membuat dia sangat bahagia" jawab Ying Wie yakin sambil tersenyum.


"Baiklah, mari kita lihat nanti. Tapi, Fan tidak boleh mengatakan kalau taman ini dia yang buat. Karena jika kau mengatakannya, maka dia akan berpura-pura menyukainya karena kau yang buat" ucap kaisar malam.


"Itu bukan sifatnya" yakin Ying Wie dan Fan kompak.


Semua orang kembali ke aktivitas masing-masing. Fan masih disibukkan dengan membuat taman yang indah untuk istrinya, Ying Wie juga ikut membantu. Bangkan, sangking sibuknya dengan membuat taman, Fan dan Ying Wie melewatkan waktu makan siang bersama. Jadi, mereka hanya makan berdua di taman. Berbeda dengan Zuwie dan Mona yang melewatkan waktu makan siang mereka, karena keduanya ketiduran di kamar Fan.


Setelah Fan dan Ying Wie selesai membuat taman untuk Mona, mereka baru menyadari kalau hari sudah sore. Fan dan Ying Wie kembali ke kamar masing-masing. Saat Fan masuk ke kamarnya, dia mendapatkan obat atas rasa lelahnya hari ini.


"Sejak kapan mereka disini?" bingung Fan sambil menghampiri Mona dan Zuwie yang tertidur di kasurnya.


"Sayang, terima kasih karena telah memilihku menjadi suamimu" ucap Fan sambil membelai rambut Mona. Lalu, dia mencium sekilas kening Mona. Fan terus saja memperhatikan Mona dan Zuwie yang saling berpelukan saat tidur, pelukan mereka seolah-olah mereka adalah ibu dan anak kandung. Fan terus saja mengelus pelan rambut dan pipi istrinya, membuat Mona menghentikan tangannya. Lalu, Mona menarik tangan Fan ke depan bibirnya, lalu dia menciumnya.


"Apakah sangat melelahkan?" tanya Mona pelan masih dengan matanya yang tertutup.


"Apa maksudmu?" tanya Fan.


"Bau tanganmu sedikit bau beberapa bunga dan juga aku mencium bau keringat. Sebenarnya aktivitas apa yang baru saja kau kerjakan?" tebak Mona. Saat mendengar Mona mengatakan Fan bau keringat, dia langsung mencium dirinya sendiri.


"Aku mandi dulu" ucap Fan sambil menarik tangannya dari tangan Mona. Saat Fan masuk ke kamar mandinya, barulah Mona membuka matanya dan dia membangunkan Zuwie.


"Sayang,,," panggil Mona menepuk pelan pipi Zuwie.


"Emmm" Zuwie bergumam dan menggeliatkan badannya.


"Bangunlah sayang, ini sudah sore" ucapan Mona membuat Zuwie bangun secara mendadak.


"Tidak biasanya aku tidur selama ini, terima kasih bibi".


"Terima kasih?".


"Ya, karena saat aku memeluk bibi, aku merasa nyaman saat tidur. Aku pergi dulu bibi" ucap Zuwie sambil membungkukkan tubuhnya tanda menghormati Mona.


"Pergilah". Saat pintu kamar Fan telah ditutup oleh Zuwie, Mona membersihkan tempat tidurnya. Lalu, dia masuk ke kamar mandi.


"Siapa yang bera,,,"ucapan Fan terpotong karena dia melihat Mona yang sedang memegang rambut Fan yang sedang asik berendam di kolam kecil di kamar mandi mereka. Mona langsung memasukkan setengah kedua kakinya ke dalam air dekat dengan badan Fan. Jadi, punggung Fan menempel pada kedua kaki Mona. Mona menyamponi rambut Fan dengan shampo yang dibuat oleh Nana.


"Apakah lebih baik?" tanya Mona saat Fan menyandarkan kepalanya di perutnya Mona.


"Sangat baik" ucap Fan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Mona. Saat Fan melihat pakaian Mona yang basah karena rambutnya tadi melekat ketat di tubuhnya Mona, membuat hasrat Fan sedikit naik. Tapi, dia tiba-tiba teringat dengan ucapan neneknya 'dia adalah seorang Queen dari sebuah kekaisaran. Jadi, jangan terlalu membuatnya tidak berdaya melayanimu'.


'Nenek benar, aku tidak bisa hanya memaksanya untuk melakukannya' gumam Fan dalam batinnya. Mona tersenyum saat dia mendengar suara hati suaminya.


"Nenek mengatakan jangan memaksa bukan. Tapi, kau berhak meminta karena aku adalah wanitamu, aku tidak ingin ada wanita lain yang memuaskan hasratmu itu, di saat aku masih sah menjadi istrimu" Mona membuat Fan yang tadinya memeluknya karena berusaha mengendalikan hasratnya, menjadi mendongakkan kepalanya menatap Mona yang sedang duduk di pinggir kolam.


"Aku tidak akan memiliki wanita lain selain dirimu. Tapi, ngomong-ngomong bolehkah aku memintanya sekarang" Fan menampilkan senyum penuh harap kepada Mona.


"Tidak, karena kau sudah melakukannya bukan cuma sekali dalam sehari kemarin, itupun dimasa suburku. Bagaimana jika kita menunggu beberapa waktu, mana tahu kau telah memberiku hadiah terbaik sebagai seorang wanita yang telah menikah. Kau mengerti maksudku bukan?" senyum Mona ke arah Fan yang di dalam kolam.


"Aku mengerti" ucap Fan sambil menggendong pelan Mona agar masuk ke dalam kolam bersamanya.


"Jika mandi bersama, tidak masalahkan?" ucap Fan sambil mencium leher Mona yang telah basah karena dia membuat Mona masuk ke dalam air.


"Tidak masalah, selama kau menuruti keinginanku tadi".


"Terima kasih" Fan terus memeluk Mona dalam dekapannya, mereka tidak mandi dan juga tidak bergerak terlalu banyak. Fan hanya menyandarkan tubuhnya di pinggiran kolam, dengan Mona yang berada dan bersandar di dadanya. Setelah sekitar lima menitan Fan sama sekali tidak bergerak, membuat Mona membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Fan.


"Hahaha, aku kira dia sedang apa?. Ternyata orangnya sudah ketiduran" Mona membersihkan tubuhnya dan juga rambut Fan yang masih ada sedikit busa shampo. Setelah itu, Mona menggunakan kekuatannya untuk mengeringkan kolam dan tubuh Fan.


"Pindahkan kami kedalam" Mona menggunakan kekuatannya untuk memindahkan Fan ke kamar mereka. Mona mengganti pakaian Fan, lalu dia menyelimuti Fan yang sepertinya sangat kelelahan. Sampai-sampai tidak menyadari kalau dia telah pindah ke atas kasur.

__ADS_1


Setelah Mona mengganti pakaiannya, Mona pergi ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam. Tentu saja saat dia masuk ke dapur, dia di cegah oleh para pelayan. Tapi, Mona menggunakan kekuatannya untuk mengikat mereka semua dengan rambatnya. Para pelayan dan prajurit hanya bisa pasrah sambil menatap ke arah Mona yang dengan lihainya memasak semua bahan makanan yang telah disiapkan para pelayan. Setelah satu jam setengah Mona di dapur, akhirnya seluruh makanan selesai dimasak dengan bau harum yang begitu menyengat keluar.


"Hidangkan makanannya" Mona berlalu pergi setelah dia melepaskan ikatan semua orang yang di dekat dapur yang tadinya dia lilit dengan rambat.


__ADS_2