The Switched Daughter

The Switched Daughter
Dewi


__ADS_3

Ming Fan dan Mona akhirnya menyatu, mereka melakukannya sebanyak lima kali karena keinginan Fan. Fan terus membuat Mona melakukannya dengannya, meskipun Mona sudah kelelahan maka Fanlah yang bermain sendiri, Mona hanya menerima. Setelah melakukan lima kali, Fan dan Mona tertidur.


"My Sweety, kau dimana?" teriak Fan saat dia bangun sekitar jam tujuh malam.


"Aku di dalam" suara berasal dari kamar mandi.


"Kenapa kau mengunci pintunya?" tanya Fan saat dia berusaha membuka pintu kayu itu, tapi tidak bisa terbuka.


"Aku sudah selesai, mandilah" Mona menyerahkan kain seperti handuk untuk Fan.


"Kenapa tidak membangunkan aku dan mengajakku mandi" rengek Fan memeluk pinggang Mona sambil meletakkan kepalanya di bahu Mona, membuat dia bisa mencium wangi bunga Gardenia dari tubuh Mona.


"Kau wangi" ucap Fan sambil mencium wangi leher Mona.


"Mandilah, mereka sedang mengkhawatirkan diriku. Kita akan makan malam bersama mereka" Mona mengangkat wajah Fan agar menatap dirinya.


"Kau,,,,," terkejut Fan karena melihat penampilan Mona yang sangat cantik.


"Ini wajah asliku. Cepat mandilah, aku akan menyiapkan pakaianmu" Mona mendorong Fan ke dalam kamar mandi.


"Baik" pasrah Fan dari dalam kamar mandi. Mona dan Fan bersiap-siap untuk makan bersama keluarga mereka


Seperti ucapan Mona, bahwa keluarga kekaisaran kegelapan lainnya sedang sangat mengkhawatirkan dirinya. Mereka semua sedang berkumpul di aula ruang makan, disana juga ada tabib agung, sesepuh Zan dan sesepuh Ying.


"Kenapa kakak kedua dan kakak ipar kedua belum juga datang. Apakah kondisi kakak ipar semakin memburuk?" gumam pangeran ketiga.


"Jangan mendoakan hal-hal yang buruk" ucap kaisar malam yang duduk di samping pangeran ketiga.


"Bukannya mendoakan yang tidak baik, tapi aku hanya mengkhawatirkan mereka jika mereka tidak makan malam" ucapnya.


"Aku akan membawakan makanan untuk mereka" ucap Ying Wie.


"Kenapa kau seperti selalu lebih perhatian pada kakak kedua, kami ini juga kakakmu" kesal pangeran keempat dan ketiga kompak.


"Karena mereka berdua sangat tampan dan cantik. Jadi, tentu saja aku lebih senang memperhatikan mereka berdua" jawab Ying Wie.


"Kakak dan kakak ipar kesayanganmu itu belum tentu menyukaimu, dan belum tentu wajah kakak iparmu akan kembali seperti semul,,,,, auh,,,," ucapan pangeran keempat terpotong karena ada tangan seorang wanita yang menyentuh kepalanya.


"Jaga sedikit bicaramu karena ini ruang makan, dan jangan suka membicarakan orang lain di belakangnya. Apa kau mengerti pangeran Gong Ming Zan dan pangeran Gong Ming Lan" ucapnya sambil menyentuh kepala pangeran ketiga dan keempat.


"Augh,,, sakit" ucap kedua pangeran kompak. Tapi, pangeran ketiga merasa tubuhnya sangat panas. Mona bisa merasakan ada hal yang aneh di tubuh pangeran ketiga.


"Siapa kau?" tanya kaisar malam sambil menatap ke arah Mona yang memakai tudung kepala berwarna emas.


"Aku adalah orang yang akan mendisiplinkan anak-anakmu" jawabnya sambil tetap memegang kepala pangeran ketiga dan keempat.


"Jangan bermain-main dengan ka,,," ucapan kaisar malam terpotong karena kedatangan Fan.


"Pangeran Ming Fan memasuki ruangan" teriak kasim. Lalu, masuklah pangeran Fan ke dalam ruang makan itu.


"Paman, dimana bibi?" tanya Zuwie putri kaisar malam.


"Kau tidak takut lagi pada bibimu?" tanya kaisar malam.


"Bagaimanapun dia adalah istrinya paman, maka dia adalah bibiku. Jadi, paman dimana bibi?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Kenapa tidak menungguku?" kesal Fan sambil menatap ke arah Mona yang sedang memegang kepala pangeran ketiga dan keempat.


"Lama, jika aku menunggumu, dan akan lebih lama lagi jika aku berjalan kaki".


"Tunggu, kau?" tunjuk pangeran ketiga dan keempat kompak.


"Tapi, tetap saja kau harus bilang dulu agar aku tidak khawatir akan dirimu" kesal Fan sambil berusaha menarik tangan Mona. Namun, Mona tidak mau melepaskan tangannya dari pangeran ketiga, tangannya yang berada di kepala pangeran keempat telah lepas.


"Kemarilah" Fan menarik pelan tangan Mona. Tapi, Mona tetap tidak mau melepaskan tangannya.


"Augh,,, tenggorokanku panas sekali uhuk,,,,uhuk,,,uhuk" batuk pangeran ketiga sambil mengeluarkan darah hitam dari mulutnya.


"Mereka memberimu racun yang efeknya tidak langsung kuat dirasakan. Tapi, perlahan-lahan akan menjadi sangat berbahaya jika kau meminumnya. Jangan terpedaya hanya dengan wajah cantik seorang wanita, kau harus mendapatkan wanita yang layak kau perjuangkan. Jangan mencari pasangan yang menyukaimu hanya karena kau seorang pangeran keturunan dari seorang kaisar dari sebuah kekaisaran. Carilah wanita yang menganggapmu sebagai pria pemanja yang selalu bergantung pada para pelayan" Mona menggerakkan tangannya menotok tiga kali bagian punggung pangeran ketiga yang letaknya sejajar dengan jantung. Lalu, dia melakukan pergerakan di punggung pangeran ketiga, seperti sedang mendorong sesuatu agar keluar. Lalu, tepat di bagian leher belakang pangeran Fan, dia menotok di sana dan pindah menotok bagian samping kedua mata pangeran. Setelah itu dia memindahkan tangannya ke arah bawah ke bagian tenggorokannya yang tadi dia totok.


"Uhuk,,,,uhuk,,,uhuk,,," batuk pangeran ketiga mengeluarkan darah hitam. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena dia akhirnya memuntahkan darah merah.


"Kau belum terlalu sembuh, dan jangan datang lagi ke tempat itu jika kau ingin matimu tidaklah sia-sia. Kau juga belum tentu tahu, berapa banyak musuhmu yang ikut berbaur dalam kehidupan sehari-harimu. Jadi, lebih baik kurangi berteman, dibandingkan memiliki teman tapi menusukmu dari belakang. Jika kau tidak mau percaya dengan ucapanku, itu terserah padamu karena ini adalah kehidupanmu". Mona duduk di kursi yang telah di tarik oleh Fan. Tempat duduknya bertepatan di samping Zuwie duduk. Lalu, dia membuka tudung emasnya.


'Dewi' gumam semua orang di dalam hatinya. Mona berpenampilan bagaikan dewi, dengan rambut panjangnya yang berwarna emas, matanya yang berwarna emas dan biru, dan simbol bulan sabit berwarna merah tepat di keningnya. Tatapan dan gerakan tubuhnya sangat berwibawa, keanggunan juga terpancar saat dia duduk di kursi.


"Apa ini penampilan aslimu?" tanya tabib agung.


"Ya, dulunya aku bisa dengan mudah berubah menjadi beberapa wujud yang aku inginkan dengan menggunakan kekuatanku. Tapi, sekarang, aku telah berusaha semampuku tadi, namun tetap tidak mau berubah".


"Sampai kapan kau akan begini?" tanya Fan.


"Kenapa?". Mona menatap Fan dengan tatapannya yang bisa membuat orang terhipnotis.


"Aku harus mengurungmu" jawab Fan.


"Kau masih bertanya kenapa?" kesal Fan.


"Terserahlah, kau harus ingat apa yang aku ucapkan tadi, pangeran Ming Zan" pasrahnya karena malas berdebat dengan pria yang kini berstatus suaminya.


"Tunggu dulu nak, kenapa aku merasa kalau itu bukan sebuah nasehat biasa. Tapi, sebuah peringatan menuju kembali ke jalan yang benar" ucap permaisuri kegelapan.


"Ya, anda benar permaisuri".


"Yah, kau begitu pintar menasehati adik suamimu. Tapi, kau memanggilku permaisuri, apakah kau tahu dimana salahmu" teriak permaisuri kegelapan.


"Nanti saja kita sambungnya. Jangan memakan yang pedas dan berasam dulu, karena perutmu akan terasa sakit, pangeran Ming Zan. Ayo mulai makan, dan diamlah". Semua orang menuruti ucapan Mona untuk segera makan. Tapi, pangeran Ming Zan curi-curi memakan makanan pedas.


"Eisss,,,,," Ming Zan menahan perih di bagian perutnya, membuat yang lainnya menatap ke arahnya termasuk Mona.


"Nak, apakah kau kepedasan, minumlah" ucap permaisuri kegelapan sambil menyerahkan segelas air putih.


"Paman, bukankah bibi sudah mengatakan agar paman tidak makan makanan pe,,, augh sakit" ucapan Zuwie terpotong karena Mona menjewer telinganya. Saat Zuwie menatap ke arah Mona, dia melihat Mona yang sedang menatapnya dengan sangat mengerikan. Lalu, Mona menggerakkan tangan Zuwie untuk Fokus makan saja.


"Ah, maaf bibi" ucap Zuwie sambil mulai makan kembali.


'Bibi, sangat mengerikan jika memandangku seperti itu. Padahal bibi sudah cantik bagaikan dewi, tapi tetap sangat mengerikan' batin Zuwie.


'Tatapannya sungguh sangat mengerikan, dia bahkan tidak peduli dengan Zuwie yang berusia masih kecil yang dia tatap seperti begitu' batin semua orang yang melihat Mona menatap ke arah Zuwie dengan sangat mengerikan.


Semua orang akhirnya melanjutkan makannya, begitupun dengan Ming Zan yang tetap makan walau perutnya merasa perih. Tapi, dia tidak lagi mau makan pedas maupun asam. Dia hanya makan nasi putih dengan sayur rebus yang tidak terasa asinnya. Setelah beberapa saat, akhirnya semua orang selesai makan. Tapi, Ming Zan masih merasakan perih, namun orang lain tidak tahu karena dia menahannya agar tidak terlihat.

__ADS_1


"Itu tidak akan sembuh bila kau tidak mau mengobatinya. Aku juga sudah mengatakan padamu untuk tidak memakannya, tapi kau tidak memperdulikannya. Jadi, kau telah merasakannya sendirikan. Jangan pernah meremehkan ucapan seseorang walau dia lebih muda darimu karena belum tentu orang yang lebih tua darimu tahu apa yang terjadi. Karena di atas langit masih ada langit, jadi belum tentu yang muda tidak tahu apa-apa" Mona menggerakkan tangannya ke arah Ming Zan yang duduk di samping kaisar malam. Lalu, keluarlah cahaya emas mengelilingi bagian perit Ming Zan.


"Terima kasih kakak ipar, aku tidak akan meremehkan dirimu lagi" ucap Ming Zan sambil membungkukkan badannya.


"Aku memang menikahi kakak keduamu, tapi umurmu tiga tahun lebih tua dariku. Jadi, tidak perlu memanggilku kakak ipar, dan tidak perlu membungkukkan badanmu padaku karena aku bukanlah Tuhan yang harus kau sembah. Jadi, panggil saja namaku, Mona".


"Tapi, itu" bingung Ming Zan.


"Jika kau tetap tidak bisa memanggilku dengan namaku, maka lebih baik panggil aku dengan julukan Queen sang ratu dari kekaisaran bulan, daripada kakak ipar".


"Kau bilang Queen dari kekaisaran bulan" terkejut semua anggota keluarga kekaisaran kegelapan kecuali Ming Fan dan Ying Wie.


"Bukankah aku sudah pernah memperkenalkan diriku sebelum-sebelumnya".


"Belum, sejelas ini" jawab Fan.


"Oh, baiklah. Aku adalah Queen atau ratu di kekaisaran bulan, namaku Kim Mona. Sejak awal aku telah memiliki banyak harta, itulah alasan kenapa dulu aku tidak membutuhkan hadiah koin yang diberikan oleh kaisar sebagai hadiah karena telah membebaskan pangeran kedua. Saat pertunangan kemarin, kami juga bertunangan berdua. Oleh karena itulah, kalian tidak ingat apapun tentang pertunangan itu karena aku mengendalikan pikiran kalian. Putri Anchi juga telah bertunangan dengan orang yang menjadi takdirnya. Kalian semua akan mengingat kejadian pertunangan itu apabila aku telah tiada dari duni,,,,,".


"Bisakah kau tidak menangatakan hal itu berulang kali" potong Fan dengan nada kesal.


"Lebih baik jujur, dari pada harus memberi harapan palsu. Jika kau ingin aku kembali, maka lindungilah wanita yang akan menjadi pengobatku. Kau mengerti maksudku bukan" Fan dan Mona saling menatap.


"Aku mengerti maksudmu" ucap Fan.


'Yang kau maksud adalah adikmu yang dikatakan akan lahir prematur bukan' telepati Fan.


'Ya, sekarang aku mengerti kenapa dia menjadi pengobatku'.


'*Apa maksudmu?' .


'Aku akan meminjamkan kekuatan Yin & Yangku, maka mungkin pada saatnya tiba, dia akan kembali menyerahkan hal itu padaku. Jadi, jika aku tidak ada, maka lindungi adikku dan anak kita jika nanti kita memiliki anak sebelum aku pergi. Apakah kau ingat ramalan peramal dulu, bahwa akan tiba saatnya aku terluka karena melindungi jantung ibuku, dan adikku yang berambut peraklah yang akan mengobatiku. Salah satu dari Yin & Yangku telah terluka karena melindungi jantung ibuku, tapi aku yakin bukan itu saatnya karena mereka hanyalah bayanganku. Aku yakin, kalau aku sendirilah yang akan melindunginya menggunakan tubuh asliku ini. Jadi, tolong dukung diriku, jangan malah menghalangiku*' senyum Mona.


"Apa kalian sedang berbicara melewati telepati, kenapa kalian senyum-senyum berdua saja?" tanya sesepuh Zan.


"Ehm/iya" jawab keduanya kompak.


"Benarkah?" tanya semua orang.


"Ya" jawab mereka berdua kompak.


"Kapan kalian akan kembali?" tanya Mona.


"Kau mengusir kami" kesal sesepuh Zan.


"Ibunda akan dalam bahaya karena ada pelayan yang dikirim kaisar siang untuk memata-matai kekaisaran Yu. Tapi, aku tidak bisa mencampuri semua masalah yang akan terjadi karena semakin aku berusaha mencampuri semakin pula dunia akan cepat berjalan. Anda mengerti maksudku bukan".


"Kami mengerti, kami pergi dulu" jawab kedua sesepuh sambil berlalu pergi.


"Lalu, bagaiman perhiasan milik nenek?".


"Untukmu saja" jawab sesepuh Ying.


"Tunggu".


"Ada apa?" tanya kedua sesepuh.

__ADS_1


"Bawa mereka ke dalam kamar pangeran Sima" keluarlah cahaya keemasan mengelilingi kedua sesepuh dan membuat mereka menghilang.


__ADS_2