
Keenam malaikat kecil Mona sedang belajar tentang urusan kekaisaran Yu bersama dengan kakek mereka dari pihak ibunya. Kaisar Yu mengajarkan mereka dengan tanpa candaan sedikitpun, dia awalnya berniat memberikan sedikit ilmu kepada anak perempuan kecilnya dan cucu-cucunya agar dia tidak berbohong dengan putri pertamanya.
Tapi, siapa yang sangka bahwa dia yang tadinya berniat ingin bermain-main dengan cucunya sambil mengajarkan ilmu dengan sedikit candaan. Namun, siapa sangka bahwa lama-kelamaan dia sendirilah yang telah menjadi serius.
Meskipun Airi telah berusaha bercanda dengan kakaknya agar kakeknya tidak begitu serius saat mengajarkan ilmu tentang kekaisaran kepada mereka. Tapi, tetap saja kakek mereka ini tetap terbawa suasana serius.
Meskipun bosan, tapi tidak ada satupun dari mereka berenam yang mau memotong pelajaran yang mereka terima dari kakek mereka. Jadi, mereka hanya bisa pasrah saja.
Aksi mereka berenam yang mulai kebosanan, tapi tetap mau mendengarkan pelajaran dari kakek mereka. Membuat semua orang yang melihatnya menjadi tersenyum-senyum sendiri, karena mereka bisa melihat kalau para majikan kecil mereka sudah bosan, namun mereka masih memilih mendengar ucapan kakeknya.
Keenamnya belajar di taman kolam teratai milik kaisar Yu, kaisar Yu menyukai duduk di sana karena dia merasa kesepian saat dua tahun lalu dia mengetahui identitas Mona yang sebenarnya.
Dulu saat kaisar Yu mengenal Mona sebagai Queen kekaisaran bulan yang hamil dan ingin berada di kekaisaran miliknya. Kaisar Yu hanya menurut saja, karena dia berpikir kalau mungkin ini adalah hormon wanita yang sedang hamil. Jadi, dia berusaha menuruti segala permintaan Mona.
Suatu hari Mona duduk di depan kolam biasa-biasa saja, namun di waktu yang bersamaan kebetulan lewat kaisar Yu bersama dengan sesepuh Hun. Tanpa melihat ke arah mereka dan tanpa memberikan perhormatan layaknya yang biasanya orang lakukan. Mona lalu bertanya bolehkah dia meletakkan bunga teratai di kolam itu. Karena merasa permintaan Mona adalah permintaan biasa-biasa saja, maka tentu saja kaisar Yu menurutinya.
Setelah mendapat persetujuan dari kaisar Yu, Mona hanya meletakkan bunga teratai di sana. Lalu, tidak lama setelah itu, Mona pergi meninggalkan kekaisaran Yu selama dua tahun.
Sejak saat itulah, ketika kaisar Yu mengetahui identitas asli dari putri kandungnya, dia membangun tempat untuk bersantai di kolam teratai itu. Bahkan kaisar Yu sendiri yang selalu merawat ikan dan bunga teratai yang ada di kolam yang kini di kenal dengan sebutan kolam harapan.
Kaisar Yu menamai kolam itu dengan kolam harapan, karena putri kandungnya sendiri yang meminta padanya agar menanam teratai di sana, dan karena kaisar Yu selalu berharap agar Mona bisa melihat bahwa dia begitu mencintainya dengan tulus ketika dia merawat teratai yang hidup di kolam. Dua alasan inilah yang menjadikan kolam ini bernama kolam harapan.
******
Di saat kaisar Yu mengajari keenam orang dengan serius, Mona dan ketiga adiknya telah berkumpul di rumah pohon milik Mona. Mona meminta ketiga adiknya agar tidur dipangkuannya. Awalnya tentu saja mereka langsung menolak karena mereka bingung. Namun, Mona mengatakan kalau mereka akan tahu dengan sendirinya nanti tentang apa yang menjadi alasan dirinya menyuruh ketiga adiknya untuk tidur di pangkuannya.
Setelah mendapat sedikit tatapan tidak ingin adanya penolakan, akhirnya ketiganya menuruti ucapan Mona. Ketika kepala ketiga adiknya telah berada pada pangkuannya, Mona meminta dragon untuk menarik jiwa mereka ke ruang dimensi milik Mona dengan menggunakan pikiran Mona.
Permintaan Mona yang ini juga sukses membuat semua binatang kontraknya bingung, tapi mereka hanya menurut saja, karena pastinya Mona memiliki alasan kuat dia melakukannya.
Setelah mendapat permintaan dari Mona, dragon langsung melakukan apa yang diminta oleh Mona. Dia menarik jiwa keempat keluarga tuannya untuk memasuki dimensi milik tuannya. Jadi, saat ini Mona dan ketiga adiknya sedang berada di ruang dimensi milik Mona.
Saat pertama kali datang kesana, tentu saja mereka bertiga begitu terpesona karena tempatnya begitu indah.
"Berkultivasi di manapun yang kalian suka kecuali di bagian air terjun panas itu. Karena di sana hanya seseorang yang berkekuatan Yin & Yang dalam tubuhnya yang bisa berkultivasi di sana dengan menanggung resiko juga pada pertahanan tubuhnya. Untuk Sima dan Anshi, pilihlah dimanapun yang kalian suka karena tubuh kalian masih lemah tenaga dalam. Tapi, jika untuk Xian, jijie ingin berbicara denganmu" ucap Nicale sambil duduk di sebuah batu.
"Apakah aku boleh berkultivasi di air terjun sana, jijie?" tanya Anshi sambil menunjuk ke arah air terjun yang begitu indah.
"Ya, air terjun itu cocok dengan kekuatan alami tubuhmu jika kau memilihnya untuk tempat berkultivasi dirimu" senyum Mona ke arah Anshi.
"Kau juga boleh kesana jika kau mau Sima" sambung Mona sambil tersenyum menatap ke arah Sima yang juga sedang melihat ke arah Mona. Mona mengatakan hal itu karena dia tahu bahwa Sima juga ingin kesana, namun saat dia tahu bahwa jijienya juga kesana, dia tidak berani bertanya pada Mona karena dia tidak ingin kakaknya Anshi akan salah paham.
"Kalau begitu, ayo" semangat Anshi menarik tangan Sima. Sima menurut saja karena dia juga memang ingin kesana. Lalu, keduanya langsung memulai berkultivasi saat keduanya sudah berada di dalam air terjun. Mereka memilih duduk di atas batu, yang air terjun mengenai tubuh mereka sedikit.
Tinggallah Mona dan Xian yang tidak berkultivasi. Xian begitu canggung karena dia mengingat segala kejadian yang pernah dia lakukan dan ucapkan pada kakaknya dahulu, saat dia mengenal kakaknya dengan nama Wang Yuan dan sebagai Queen kekaisaran bulan, bukannya sebagai saudari kandungnya.
__ADS_1
"Kemarilah" Mona menepuk batu yang berada di depannya namun berada di bawah dekat dengan dengkulnya, membuat Xian bingung kenapa kakaknya menyuruh dia duduk di bawah kakaknya.
"Kemarilah, aku akan memijat kepalamu, jika kau duduk di sampingku maka aku kalah tinggi darimu" senyum Mona sambil menepuk kembali batu yang di depannya dengan matanya menatap ke arah Xian.
"Baik" patuh Xian saat dia baru mengetahui alasan saudari kembarnya menyuruh dia untuk duduk didepannya.
Mona mengambil minyak dan melarutkan ke dalam telapak tangannya. Lalu, dia menggosokkan secara perlahan-lahan sambil memijat pelan kepala Xian.
"Boleh jijie bertanya padamu?" tanya lembut Mona sambil mengoles minyak ke rambut Xian.
"Emm, tentu".
"Kau harus menjawabnya dengan cepat. Anggaplah ini adalah sebuah permainan" senyum nakal Mona tanpa di sadari oleh Xian karena dia sedang menutup mata.
"Baiklah" jawab Xian. Namun, tanpa dia ketahui kalau Mona begitu semangat saat Xian telah menjawabnya dengan patuh.
"Kau menyayangi ayahanda dan ibunda?" tanya Mona masih dengan nada biasa saja.
"Iya".
"Kau menyukai bertarung demi membela kekaisaran?".
"Iya".
"Sudah dari hari aku mengenal jijie adalah jijieku" jawab Xian sambil menyentuh tangan kanan Mona yang sedang memijat keningnya.
"Siapa yang akan kau pilih jika seandainya pilihan datang padamu, kau ingin hidup bersama dan dekat denganku atau dengan Anchi?" pertanyaan Mona sukses membuat Xian melepaskan tangannya dari memegang tangan Mona.
Xian sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dari Mona jika soal memilih diantara keduanya. Hanya ada kerutan halus muncul di keningnya Xian yang matanya masih dia pejamkan karena dia tidak bisa menatap wajah Mona yang begitu cantik, terutama mata Mona karena beberapa alasan di masa lalu.
Xian mengepalkan sebelah tangan kirinya, Mona bisa melihat hal itu. "Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku dengan cepat, ini hanya sebuah permainan kau boleh menjawab asal-asalan bukan. Kenapa kau menganggap serius pertanyaanku hingga kau berpikir terlalu lama, hemmm,," senyum Mona dengan mengatakan hal demikian dengan nada bicara yang ceria agar Xian tidak serius memikirkan tentang ucapannya. Namun, faktanya ucapan Mona tetap tidak membuat Ming Fan tidak memikirkannya.
'Kau mungkin mengatakannya dengan niat bercanda jijie, tapi aku tetap tidak bisa memilih jika seandainya pilihan itu benar-benar datang' lirih Xian di dalam batinnya.
'Emmmm, lumayan bisa di selamatkan pikiranmu' senyum Mona saat dia bisa mendengar pemikiran Xian.
"Jika memang pilihan itu benar-benar akan datang suatu hari nanti, maka kau harus memilih seseorang yang jika kau kehilangan dirinya kau akan merasa kehilangan semangat hidupmu. Jadi, diantara kami berdua, siapakah orang yang jika kami tiada di sampingmu, kau menjadi begitu merindukannya?" tanya Mona sambil memegang kedua pipi Xian dan membuat kepala Xian yang tadi tertunduk ke bawah menjadi menengadah ke atas ke arah wajah Mona. Mona dan Xian saling menatap selama beberapa saat.
"Aku memilih jijie" jawab Xian sambil masih menatap ke arah wajah Mona.
"Alasannya?".
"Saat aku tidak bisa mendapatkan udang pada saat jijie hamil, aku merasa sangat bersalah. Perasaanku semakin tidak enak saat aku tahu bahwa jijie adalah jijie kandungku. Saat jijie pergi dua tahun lalu, setiap harinya aku selalu membayangkan wajahmu yang membuat aku selalu kesal dan kalang kabut saat kau menjadi Kim Mona yang ingin mendekati ayahanda. Aku memang egois karena langsung memutuskan hubunganku dengan putri Anchi yang selama delapan belas tahun lalu aku hidup bersamanya, tapi aku tidak merasa sedih sedalam diriku sedih saat jijie pergi ketika dia tidak ada di sampingku. Jadi, jika di suruh memilih, aku akan memilih jijie, karena aku tidak ingin jijie pergi lagi" lirih Xian sambil membenamkan wajahnya di pangkuan Mona karena dia tidak ingin Mona tahu bahwa matanya sudah mengeluarkan air mata.
Meskipun air mata itu belum tumpah, hanya baru di sekitar mata Xian, tapi Mona bisa merasakan kalau pria yang terikat tali hubungan kembar dengannya, saat ini sedang menangis. Namun, dia berusaha menutupinya dengan membenamkan wajahnya di pangkuan Mona ketika Xian membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arah Mona.
__ADS_1
"Maukah kau mendengar dan menuruti ucapan jijiemu ini?" pertanyaan Mona sukses membuat Xian menjadi menatap Mona dengan tidak menyadari waktunya.
Xian menatap Mona dengan tatapan mata yang masih berkaca-kaca karena efek perasaan yang dia tahan.
"Emm, kau tahu terkadang ada perasaan aneh yang tidak bisa kita ungkapkan kepada semua orang atau bahkan kepada satu orang saja" senyum Mona ke arah Xian sambil mengusap kedua mata Xian dengan menggunakan kedua jempol tangan Mona.
"Adakalanya seseorang membutuhkan teman dalam hidupnya untuk dia meluapkan semua perasaannya, yaitu mereka adalah keluarganya. Namun, adakalanya seseorang juga butuh teman yang bisa berbagi derita selain keluarga, teman itu adalah seorang pendamping hidup. Jadi, bisakah jujur pada jijie, apakah kau menginginkan putri Wang Anchi sebagai permaisurimu?" tanya Mona sambil menatap ke mata Xian yang menunjukkan rasa keterkejutan dirinya.
"Emm, i,,,itu" gagap Xian sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena dia tahu bahwa wanita yang di depannya saat ini bukanlah wanita yang begitu mudah dibohongi.
"Jawablah" pinta Mona sambil menarik dagu Xian ke arah dirinya membuat Xian kembali menatap ke arah dirinya.
"Haruskah aku menjawabnya sekarang?" tanya Xian dengan nada sedikit rendah.
"Hah,,,," Mona menghela nafasnya karena Xian yang tidak ingin langsung menjawab pertanyaannya, Xian malah memusang-musingkan ke arah lain.
Saat mendengar helaan nafas keluar dari mulutnya Mona, Xian hanya cengar-cengir tidak jelas ke arah Mona karena rasa canggungnya di depan saudari kembarnya.
"Aku hanya akan menerima putri pertama kekaisaran Wang menjadi adik iparku darimu, jika wanita lain yang kau pilih. Maka jangan salahkan aku jika aku membuat dia tidak pernah betah tinggal di kekaisaran Yu sebagai permaisurimu" ucap Mona dengan memberikan tatapan dinginnya ke arah Xian.
'Aduh, tatapan ini mirip dengan tatapan dingin Aina ketika menatap ke arahku' batin Xian sambil sedikit ngeri menatap ke arah mata kakaknya.
'Aish, kami ini adalah ibu dan anak, maka tentu saja kami akan sama' balas Mona di dalam hati.
"Apakah kau mendengar ucapanku?" tanya Mona dengan nada begitu datar.
"Mmm, baiklah, aku akan menjadikan putri pertama kekaisaran Wang sebagai permaisuriku" ucap Xian dengan nada pasrah. 'Ini bukanlah suatu paksaan, melainkan suatu berkah untukku karena jijie telah memudahkan jalanku untuk memiliki perasaan dengan wanita yang kurindukan' sambung Xian di dalam hatinya.
'Bocah tengik ini' kesal Mona hanya bisa melalui batinnya saja.
"Baiklah, berkultivasilah di dalam kolam air itu, rendamlah tubuhmu dan sedaplah semua tenaga alam yang ada di kolam itu. Setelah kalian bertiga selesai, kita baru kembali" perintah Mona sambil menunjuk ke arah kolam di samping mereka duduk.
"Baik" balas Xian sambil berjalan masuk ke arah kolam yang di samping batu yang mereka duduki tadi.
Selama tujuh hari mereka telah berada di dalam dimensi milik Mona. Lalu, Anshi dan Sima telah selesai dengan kultivasi mereka. Saat mereka berdua membuka mata, mereka bisa merasakan kalau penciuman mereka mencium aroma masakan yang begitu lezat menggoda hidung mereka.
"Eh, jijie dimana gege?" tanya kompak Sima dan Anshi saat keduanya melihat Mona sedang menghidangkan beberapa makanan-makanan lezat. Namun, mereka tidak melihat adanya gege mereka di sana.
"Sebentar lagi dia akan muncul, satu dua dan tiga" jawab Mona.
Blup,,,,, Suara gerakan air, lalu terlihatlah wajah tampan seorang pria yang begitu mereka kenal.
visual Xian yang baru keluar dari air
__ADS_1