
Ying Wie pergi ke kekaisaran kegelapan untuk menemui pangeran Ming Fan kakak keduanya. Tapi, saat dia sampai di kekaisaran kegelapan, belum ada satupun anggota keluarganya yang telah kembali karena mereka masih berada di kekaisaran iblis.
"Ah, giliran dia sangat dibutuhkan, dia malah tidak ada di kamarnya" kesal Ying Wie sambil menghantam keras pintu kamar kakaknya, membuat terkejut beberapa pelayan yang tidak ikut ke acara pertunangan pangeran mereka. Saat mendengar suara kesar, mereka langsung berlari ke arah kamar Fan, untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Tuan putri, ada apa?" terkejut salah satu pelayan yang duluan sampai dari pada pelayan lainnya.
"Apakah ayah dan yang lainnya belum kembali?" tanya Wie dengan aura kekesalan masih ada di sekelilingnya.
"B,,belum, tuan putri" gagap pelayan.
"Ah,,,," frustasi Ying Wie sambil berlalu pergi.
'Ada apa dengan tuan putri, kenapa dia seperti sangat marah sekali?' bingung para pelayan.
'Si*lan, kenapa juga aku marah dengannya. Padahal niatnya baik, tapi kenapa aku kesal saat dia bilang dia akan merebut kekaisaran malam milik kakak pertama, dan apa yang menjadi alasan lain yang katanya bahwa kakak kedua tahu apa alasannya' kesal Ying Wie dalam hatinya.
"Jika kakak sudah kembali, maka kabarin padaku karena ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya secepat mungkin" Ying Wie berbicara tepat di pintu gerbang halaman milik kakak keduanya dengan tatapan yang sangat mengerikan.
"B,,,b,,,,baik tuan putri" jawab semua pelayan yang mendengar ucapannya.
'Lebih baik aku tenangkan diriku dengan cara berendam di dalam air' batin Ying Wie sambil berjalan ke pavilium miliknya.
Setelah beberapa saat akhirnya Ying Wie sampai di kamarnya, dia langsung mengganti pakaiannya untuk berendam di kolam miliknya yang di penuhi dengan bunga lili putih yang dia ambil sendiri dari luar wilayah kekaisaran kegelapan, karena di kekaisaran kegelapan tidak ada bunga lili putih. Keluarga kaisar kegelapan telah kembali dari kekaisaran Iblis saat Ying Wie sedang berendam.
"Yang mulia pangeran" hormat para pelayan sambil membungkukkan badannya saat Ming Fan memasuki pavilium miliknya.
"Mmmmm" balas Ming Fan dengan sangat dingin.
"Maaf pangeran, tapi tuan putri tadi sangat ingin bertemu dengan anda" ucap salah satu pelayan.
"Ada apa dia mencariku?" bingung Ming Fan.
"Kami tidak tahu yang mulia pangeran. Tapi, sepertinya tadi putri sangat kesal" jawab tiga pelayan kompak.
"Kesal?" bingung Fan sambil membalikkan tubuhnya ke arah luar halaman pavilium miliknya.
"Ya, yang mulia" jawab para pelayan.
Pangeran Gong Ming Fan pergi ke pavilium milik putri Ying Wie. ' Apa yang membuat dia sangat kesal, dan ingin menemui diriku. Apakah aku ada membuat kesalahan, tapi kayaknya tidak ada. Ah, dari pada aku pusing-pusing memikirkan kenapa dia kesal, lebih baik aku cepat-cepat menemuinya agar aku bisa cepat sampai juga ke kekaisaran bulan untuk menemui wanitaku. Ah, salah, lebih tepatnya calon ibu dari anak-anakku' gumam Fan di dalam hatinya sambil senyum-senyum sendiri.
'Ada apa dengan pangeran kedua, kenapa pangeran senyum-senyum sendiri?' bingung para pelayan yang melihat Fan senyum-senyum sambil jalan sendiri tanpa ada satupun pengawalnya yang mengikuti.
"Kenapa kakak kedua senyum-senyum sendiri?" bingung pangeran ketiga yang berjalan beriringan dengan nenek dan kakak pertamanya ke arah pavilium neneknya yang kebetulan dari kejauhan dia melihat kakak keduanya tersenyum.
"Entahlah, mungkin saja dia sedang membayangkan pertunangan tadi" jawab neneknya.
"Sepertinya bukan karena itu" ucap kaisar malam.
"Apa maksud kakak pertama?" tanya pangeran ketiga.
"Dia tidak terlalu suka dengan pertunangannya dengan putri Yu Anchi karena dia telah memiliki wanita yang dulunya terikat dengannya saat dia berusia sepuluh tahun . Jadi, dia tidak mungkin tersenyum karena hal itu. Justru aku sangat yakin kalau dia tersenyum karena dia teringat atau apalah, yang jelas itu pasti bersangkutan dengan wanita yang lain bukan karena putri Yu Anchi" jawab kaisar malam yakin.
"Mungkin juga" gumam pangeran ketiga dan neneknya kompak.
"Baiklah, biarkan saja dia" ucap nenek sambil memegang tangan kedua cucu laki-lakinya, dan berlalu pergi.
"Salam yang mulia pangeran kedua" hormat para pelayan yang berada di pintu gerbang pavilium milik putri Ying Wie.
"Mmmm" balas Fan datar sambil berlalu pergi.
"Dimana putri?" tanya Fan kepada pelayan yang berada di depan kamar adiknya.
"Putri sedang berada di kamarnya, dan sepertinya putri sedang mandi" jawab pelayan itu sambil membungkukkan badannya.
"Oh,,," Fan masuk ke kamar dengan pandangan yang sangat datar.
__ADS_1
' Akankah ada orang yang bisa membuat kehidupan pangeran kedua dan tuan putri sedikit berwarna. Mereka berdua selalu memasang wajah datar dan aura yang sangat dingin. Entah siapa yang bisa mengubah kehidupan kakak beradik ini' gumam pelayan yang paling dekat dengan Ying Wie di pavilium milik Ying Wie, saat dia melihat punggung pangeran Fan yang telah masuk ke kamar tuan putrinya.
Di dalam kamar milik Ying Wie, Fan merebahkan dirinya di atas kasur milik adiknya sambil menunggu adiknya siap mandi. Sedangkan di kolam pemandian, Ying Wie menjadi waspada karena dia merasa kalau ada orang yang datang ke kamarnya. Namun, saat dia tidak mendengar suara langkah kaki orang itu lagi, dia menurunkan kewaspadaannya karena dia merasa kalau itu adalah kakak keduanya. Jadi, dia melanjutkan mandinya. Setelah beberapa saat, akhirnya Ying Wie selesai mandi.
"Enak sekali kakak tidur di atas tempat tidurku. Turun,,,," kesal Ying Wie.
"Hanya sebentar" gumam Ming Fan dengan matanya masih tertutup.
"Tidak, turun,,," marah Ying Wie.
"Ganti dulu bajumu" ucap Ming Fan saat dia membuka matanya sedikit. Lalu, Fan melihat kalau Ying Wie hanya memakai baju mandi yang bahannya terbuat dari bulu domba.
"Ah,,,,, keluarlah" teriak kesal Ying Wie, dan juga malu.
"Baiklah, aku tidak akan mengintip, karena tubuhmu tidak lebih seksi dari tubuh wanitaku" canda Ming Fan sambil berjalan ke luar kamar.
"Ah, keluar saja sana, kenapa juga kakak kedua kemari" kesal Ying Wie sambil melempar salah satu bantal kepalanya.
"Bukankah kau sangat ingin bertemu dengan ku tadi. Jadi, aku datang kemari" jawab pangeran Ming Fan sambil menutup kembali pintu kamar Ying Wie.
"Iya sih, tapi kaukan bisa duduk di halaman depan. Lalu, kenapa kakak harus masuk ke kamarku" teriak Ying Wie dari dalam ketika pintu telah tertutup.
"Aku ingin rebahan, jika aku rebahan di luar maka entah berapa orang yang akan memiliki pemikiran menjijikkan tentangku. Jadi, aku rebahan di atas kasurmu saja" balas pangeran Fan dari luar.
"Pemikiran menjijikkan, apa maksudnya?" gumam Ying Wie di dalam, dan hanya dirinya sendiri yang mendengarnya.
'Pemikiran menjijikkan untukmu pangeran, itu tidak mungkin. Justru mereka akan memiliki pemikiran mengagumimu atau mereka ingin meni,,,. Ah, aku tahu, maksud pangeran pemikiran menjijikkan adalah pemikiran untuk memilikinya bukannya mengaguminya' batin pelayan kepercayaan putri Ying Wie.
"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting bibi" tegur Fan saat melihat pelayan itu seperti sedang berpikir.
"Ah, pangeran" terkejut pelayan itu.
"Apakah bibi berpikir tentang ucapanku?" tanya Fan.
"Ya" jawabnya jujur.
"Aku sudah sering mengatakan bahwa aku sudah memilih wanitaku sendiri. Namun, tetap saja ada wanita menjijikkan yang berusaha mendekatiku, dan bermimpi menjadi wanitaku. Jadi, itu membuat aku risih saja" balas Fan.
"Kak,,,," panggil Ying Wie yang telah berganti pakaiannya.
"Kau sudah selesai" ucap Fan.
"Ya, jadi bisakah kita berbicara hanya berdua saja?" tanya Ying Wie.
"Bisa, mari pergi ke luar untuk menemui kakak perempuanmu" jawab Ming Fan sambil menarik tangan Ying Wie.
Pangeran Ming Fan dan putri Ying Wie keluar dari kekaisaran kegelapan menuju ke arah kekaisaran bulan. Ketika mereka melewati sebuah hutan yang tidak ada satupun orang di sana Ying Wie bertanya.
"Kakak, kenapa wanitamu ingin merebut kekaisaran milik kakak pertama?" tanya Ying Wie membuat Ming Fan bingung.
"Wanitaku? merebut?" bingung Fan.
"Ya, merebut, dia akan mengecoh kaisar siang dengan cara memperluas wilayah kekuasaannya, dan dia bilang dia akan merebut kekaisaran malam terlebih dahulu. Jadi, aku bertanya kenapa harus kekaisaran milik kakak pertama, dia bilang kakak tahu salah satu alasan dia menyerang kekaisaran malam terlebih dahulu. Jadi, apa alasannya?" tanya Ying Wie.
"Mmm, dia bilang aku tahu, tapi apa itu?" bingung Fan sambil memegang dagunya.
"Mana aku tahu, dia hanya bilang bahwa kakak tahu apa alasannya" jawab Ying Wie cemberut.
"Ah, sekarang aku tahu apa alasannya" senyum Fan.
"Apa itu?" bingung Ying Wie.
"Kita akan berputar ke kekaisaran malam terlebih dahulu" ucap Fan sambil menarik tangan Ying Wie ke arah kekaisaran malam.
"Kenapa harus ke kekaisaran malam?" bingung Ying Wie.
__ADS_1
"Karena hanya disanalah ada jawaban dari pertanyaan mu itu" jawab Fan.
Fan dan Ying Wie berjalan ke kekaisaran malam. Setelah kira-kira satu menit akhirnya mereka sampai di taman kunang-kunang yang dibuat sendiri oleh Fan. Namun, mereka tidak melihat ada satupun kunang-kunang.
"Tamannya indah, tapi apa yang ingin kakak tunjukan padaku disini?" bingung Ying Wie.
"Terakhir kali, ini adalah taman kunang-kunang. Tapi, aku tidak tahu dimana kunang-kunang itu sekarang. Bahkan saat ini satupun kunang-kunang tidak ada yang terlihat" bingung Fan sambil berjalan ke beberapa arah untuk melihat dimana kunang-kunang berada.
"Kakak, disana sangat terang" ucap Ying Wie sambil menunjuk ke arah tempat yang sangat terang. Mereka berdua berjalan ke arah yang sangat terang itu.
"Bukankah ini kunang-kunang?" tanya Ying Wie.
"Ya, ini kunang-kunang" jawab Fan.
"Lalu, kenapa ada banyak kunang-kunang disini, dan mereka seperti sedang membentuk lingkaran pelindung" bingung Ying Wie.
"Entahlah" Fan menaikkan bahunya. Tepat setelah ucapan Fan berakhir, semua kunang-kunang terbang ke berbagai arah. Lalu, terlihatlah seorang gadis berambut emas sedang berada di lingkaran Yin & Yang.
"Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya ku sambil membuka mataku menatap dua orang kakak beradik yang di depan ku.
"Semuanya baik-baik saja" jawab Fan.
"Kau, kenapa kau di sini?" tanya Ying Wie.
"Kau penasaran dengan alasan kenapa aku memilih menyerang kekaisaran malam terlebih dahulu bukan. Maka jawabnnya ada di sekeliling mu" jawab ku sambil menggerakkan tangan ku sekelilingku.
"Ini, sungguh sangat indah" terkejut Ying Wie ketika dia memutar tubuhnya ke segala arah.
"Inilah alasannya, ini adalah tempat yang di hadiahkan kakak keduamu untukku. Jadi, karena tempat ini sangat indah, dan juga hadiah dari kakak mu, maka aku ingin menyerang kekaisaran malam terlebih dahulu. Jadi, sekali tembak dua sasaran aku dapatkan" senyum ku saat Ying Wie menatap ke arahku.
"Sejak kapan tempat ini ada disini?" tanya Ying Wie sambil menatap kami berdua secara bergantian.
"Sudah sejak lama, tapi yang mengubah tempat ini menjadi seperti ini, itu adalah diriku. Bukankah aku sangat hebat" bangga Fan sambil menepuk dadanya membuat Ying Wie dan diriku menatapnya dengan sebelah alis mata yang kami naikkan.
"Narsis/sombong" gumamku dan Ying Wie kompak.
"Kalian,,,," teriaknya kesal.
"Apa?" teriak Ying Wie.
"Kau,,," kesal Fan. Mereka berdua saling menatap dengan sangat mengerikan seolah-olah mereka bisa membunuh hanya dengan menggunakan tatapan mata saja.
"Apakah kalian sudah makan?" tanya ku kepada mereka berdua agar mengalihkan fokus mereka.
"Belum" jawab keduanya kompak sambil menatap ke arah ku.
"Baiklah, maka silahkan makan" perintahku kepada mereka kedua dengan menggerakkan tanganku. Lalu, keluarlah beberapa macam makanan dari cincin dimensiku dengan beralaskan tikar dari bambu yang dibuat oleh kak Nana sendiri di waktunya yang senggang.
"Wah, ini pastinya enak sekali" teriak keduanya kompak, dan mereka berdua juga kompak di saat mereka ingin duduk.
"Giliran soal makanan kalian kompak" celetukku yang masih berada di dalam lingkaran Yin & Yang.
"Kakak tidak ikut makan bersama kami?" tanya Ying Wie sambil menatap ku.
"Makan, tapi sebentar lagi" jawab ku kepadanya.
"Kalau begitu, aku tidak akan makan dulu" ucap Ying Wie dan Ming Fan bersamaan. Ketidak sengajaan itu membuat keduanya saling memandang.
"Hahhaha" tawa keduanya setelah beberapa saat beradu pandang.
"Sebenarnya kalian sangat kompak, tapi kenapa kalian juga saling bertengkar pada hal-hal yang tidak penting" gumamku saat menatap keduanya.
"Beginilah kami, tidak ada hubungan yang akan berwarna tanpa sedikit selisih pendapat atau sebuah pertengkaran bukan" ucap Ying Wie.
"Setuju, kau memang adikku" bela Ming Fan.
__ADS_1
"Sampai kapanpun dia tetaplah adikmu" balas ku datar. Setelah satu menit berlalu, akhirnya lingkaran itu sudah bisa aku hilangkan. Lalu, kami makan bersama.